[gp2000]%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
              ++ Mailing List BPK Gerakan Pemuda GPIB ++
                   Forum Diskusi Antar Pemuda GPIB
       http://gp.gpib.or.id | http://milis.gp.gpib.org
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%% I-KAN
                  <>< "Jesus is the reason for season" <>< 
lanjutan...(http://www.time.com/time/personoftheyear/2002/poyintro.html)

Terlepas dari interpretasi yg muncul terhadap latar belakang & tindakan
Rowley, Watkins & Cooper, dari yg objektif sampai yg sinis & skeptis (yg
jelas semua ini bukan rekayasa majalah Time untuk mengkomersialkan kisah
hidup mereka), mau tidak mau kita melihat mutiara kepemimpinan DALAM
menghadapi KONFLIK yg terlalu berharga untuk tidak dihiraukan.

Konflik Internal: Penjara Ketakutan
Rowley, Watkins, & Cooper dengan berani memilih untuk menyuarakan kebenaran.
Sebenarnya mereka takut. Meski ketiganya sadar bahwa motivasi mereka adl.
untuk menyelamatkan organisasi, bahkan stakeholders organisasi yg lebih
luas, mereka tetap takut akan konsekuensi aksi mereka. Namun ketika
kegentaran itu harus beradu dengan hati nurani, mereka memutuskan untuk
mendengar & mentaati hati nurani daripada dipenjara oleh ketakutan mereka
sendiri. Meskipun untuk itu mereka harus membayar harga yg mahal:
mengorbankan pekerjaan, kesehatan, privacy, & keseharian hidup mereka.
Ketika memikirkan 62,000 orang pegawai WorldCom yg bekerja dengan keras &
jujur dirugikan oleh segelintir eksekutif elite perusahaan, Cooper mengambil
ownership terhadap issue yg ia hadapi & menjadikan itu tanggung jawab
pribadinya. Demikian pula halnya dengan Watkins & Rowley. Bahkan dampak aksi
Rowley di FBI memiliki magnitude luas & signikansi tinggi terhadap
keselamatan publik Amerika. Dalam kultur korporat yg begitu korup secara
moral dimana �tujuan menghalalkan segala cara' menjadi pola operasional
sehari-hari, skandal-skandal diatas menjelaskan bagaimana rasa percaya
masyarakat luas terhadap institusi publik & privat seperti FBI, Enron, &
WorldCom (dan puluhan lainnya di seluruh dunia) rontok secara drastis. Dan
ini tidak mengejutkan. Karena dalam dunia yg telah jatuh ini, evil bekerja
semakin canggih menyusup dengan halus & masuk ke dalam struktur, sistem, &
kultur organisasi. Sekaligus ia mempedaya manusia untuk berkompromi sambil
merasa nyaman.

Pertanyaan utama bagi kita adl., apakah kita akan berdiam diri atau bersuara
menyampaikan kebenaran dengan hikmat bijaksana. Our lives begin to end the
day we become silent about things that matter, demikian tulis Martin
LutherKing, Jr.

Bagi Anda yg pernah berada dalam posisi Rowley, Watkins & Cooper, tentu Anda
akan berempati dengan dilema yg mereka hadapi. Sungguh tidak mudah! Dilema
ini seringkali menjadi defining moments, karena kita dipaksa untuk
berhadapan dengan diri kita sendiri. Bukan dengan 'diri' yg kita proyeksikan
di umum, namun 'diri' sendiri. The real me!

Saya kira inilah hal yg membedakan pemimpin dengan non-pemimpin: Reaksi
terhadap konflik internal dalam diri kita. Reaksi terhadap ketakutan.
Ketakutan ini yg seringkali saya bungkus rapat dengan berbagai retorika yg
kedengarannya sangat rasional, "Itu bukan bagian dari tanggung jawab saya.
Ada orang lain yg lebih kapabel & terpanggil untuk hal-hal semacam itu" atau
"Saya sedang mencoba untuk lebih terbuka & toleran terhadap posisi orang
lain & tidak gegabah bertindak" atau "Sebenarnya saya sendiri berani, tetapi
saya harus ingat akan resikonya terhadap karir saya, keluarga saya, & banyak
hal lain lagi", & seterusnya.

Memang pemimpin & non-pemimpin keduanya sama penakut. Ketiga wanita diatas
juga ketakutan. Cooper dari WorldCom berulang kali membaca Mazmur 23 tatkala
ia merasa sedang berada dalam lembah kekelaman yg begitu gelap. Namun
bedanya disini: Pemimpin bergelut dengan rasa takut tsb, & memilih untuk
tidak tunduk padanya. Karena ia tahu hidupnya ada ditangan Tuhan yg telah
mati & bangkit baginya. Dilandasi pergumulan inilah, pemimpin berani
menyatakan bukan saja what they stand for, tetapi juga, yg tidak kalah
penting, what they won't stand for.

Dalam pledoi yg ia bacakan di depan majelis hakim berkaitan dengan
keberpihakan & perjuangannya membela para korban kasus Mei 98 & mencari
keadilan ditengah rejim pemerintahan yg begitu korup, Romo Sandyawan menulis
kalimat-kalimat berikut: "...maka kalau memang semua [penderitaan] ini
merupakan konsekuensi perwujudan iman saya...dan sekarang itu berarti secara
nyata saya akan dilemparkan ke balik jeruji penjara, menjadi bagian dari
tumpukan para korban, saya siaga & iklas. Memang saya merasa lemah, namun
saya tak sudi tunduk mengabdi kepada ketakutan?"

"Saya tak sudi tunduk mengabdi kepada ketakutan."

Biarlah kalimat kristalisasi iman ini menguatkan kita melakukan tugas
kepemimpinan yg kita emban.

See...part 3/3(konflik eksternal)





%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%[gp2000]
  "... Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau 
  muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu,
  dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam 
  kesucianmu" -- 1Tim 4:12
I-KAN %%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
<>< Situs GPIB : http://www.gpib.or.id
<>< iuf.GPIB : http://iuf.gpib.or.id/forum/
<>< Chat In IRC : Server DALNET -Channel #gpib #gp-gpib

---
Anda sekarang terdaftar di i-kan-untuk-gp2000 dengan: [[email protected]]
Untuk unsubscribe, forward message ini ke [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke