[gp2000]%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
              ++ Mailing List BPK Gerakan Pemuda GPIB ++
                   Forum Diskusi Antar Pemuda GPIB
           http://gp.gpib.or.id | http://milis.gp.gpib.org
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
          Milis gp2000 (1 Juli 1999 s/d 1 Juli 2003) 4 TAHUN
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%% I-KAN
BAGIAN III
Malam terakhir itu saya sempat bertukar cerita tentang banyak hal pergumulan
pelayanan jemaat, 2 MJ dan 1 jemaat secara bergantian menceritakan akan apa
yang mereka rasakan selama ini sebagai jemaat Pelkes yang jauh dari
perhatian jemaat induk. Tak berani saya mengumbar janji karena apalah arti
saya bagi pelayanan jemaat di Muara Wahau ini selain mencoba mendengarkan
apa yang bisa mereka rasakan.
Cukup lama kami bercerita hingga akhirnya kantuk pun memisahkan kami. Malam
itu pemandangan jemaat yang tidur bersama dengan kondisi apa adanya pun
terlihat, mereka tidak pulang karena pada esok hari akan beribadah bersama.

Minggu, 29 Juni 2003
Ibadah Minggu di percepat dari jadwal semula pkl 9 pagi jadi pkl 8 karena
rombongan akan pulang.
Ibadah Minggu dipimpin Pdt Paulus Tiwow, mulai minggu itu ibadah berjalan
berbeda karena semua keluarga telah memegang satu Kidung Jemaat, selama ini
mereka hanya berpegang pada lagu-lagu ouikumenis yang bisa mereka hapal.
Ibadah Minggu itu akhirnya yang jadi acara terakhir dari rangkaian kegiatan
Bulan Pelkes GPIB, setelah menerima berkat, secara bergilir jemaat peserta
menyampaikan pesan dan kesan terakhir dan kemudian pemberian secara simbolis
bantuan bahan pokok.
Bahan pokok yang diberikan berupa Beras 175 kg, Gula Pasir 91 kg, Gara, 78
bungkus dan Mie Instant 400 bungkus. Semua bantuan yang diberikan akan
dibagi merata bagi semua KK.
Itu juga termasuk dana pembangunan dan dana pergantian pengadaan konsumsi
bagi peserta.
Akhirnya tiba jugalah saat berpisah, sebelumnya KJ 346 didendangkan
mengawali salam perpisahan lalu tiga kali foto bersama rombongan dengan
warga jemaat di depan gereja akan menjadi kenangan tersendiri bagi dua pihak
yang mengunjungi dan dikunjungi.
Beberapa ibu melepas kami dengan mata berkaca-kaca, mungkin seperti yang
Penatua Lazarus sampaikan kalau belum tentu saat mendatang mereka bertemu
dengan peserta lagi. Ahh memang saat-saat perpisahan adalah saat-saat yang
paling mengharukan.
Lambaian tangan melepas kami yang bergerak pulang kembali, itu terjadi 10
lewat.

Empat kendaraan bergerak pelan, mengingat kondisi jalan yang becek karena
malam-malam sebelumnya hujan keras. Bak L300 yang tadinya berisi sembako
sudah berganti puluhan kelapa muda dan 6 tundun pisang, semua jadi buah
tangan untuk rombongan.
Belum setengah jam berjalan, sebuah truk Mitsubishi 120PS milik Pandu Siwi
Sentosa melintang masuk parit. Dari arah berlawanan beberapa kendaraan pun
telah antri menunggu, setengah jam kemudian baru kami bergerak kembali.
Selama satu jam perjalanan, L300 bergerak terhuyung-huyung dengan medan
jalan yang berlumpur itu, Rocky pun sempat terperosok lalu bus yang sempat
melintang namun semua bisa diatasi. Kami sempat was-was karena kabar ada
tronton yang terperangkap Lumpur dan menutup jalan,wah apakah kami harus
terlambat pulang ?
Kami menghadapi kenyataan bahwa jalan yang kemarin kami lalui cukup baik
walau debu dan berlubang kini menjadi menyeramkan karena Lumpur dan air.
Pelan namun pasti, kami terus bergerak hingga di sebuah turunan gunung, kami
kembali terhenti, sebuah Isuzu Elf bermuatan kayu curian terbalik nyaris
masuk jurang. Selesai melewati itu, rombongan mulai sedikit lega, kondisi
jalan telah berubah.
Di persimpangan Batu Ampar-Batu Redi, Bung Ino mewakili rombongan Sangatta
pamit pulang lebih cepat karena mereka masih harus bertugas dalam Ibadah
Minggu sore. Tersisalah 3 kendaraan yang bergerak secara beriringan. Etape
pertama perjalanan pulang kami lalui dengan aman. Makan siang pkl 15.30 di
warung-warung tempat istirahat para supir. Kami terus bergerak hingga pkl 6
petang kami baru tiba di Sangatta, sempat saling menunggu hingga baru
setengah jam kemudian kami bergerak lagi keluar kota.
Senja hingga malam itu kami habiskan hanya dijalan, kami bertemu lagi dengan
bus di sebuah rumah makan di pinggir jalan raya Bontang Samarinda Km 66 dan
dengan satu kesepakatan akhirnya kami bertugas mengantar Pen A Sihotang ke
Muara Badak.
Singkat cerita kami baru tiba di Samarinda pkl 23 lewat, berarti 12 jam
lebih kami tempuh untuk pulang ke kota kami.
Rasa lapar, capek dan ngantuk sudah menyerang kami, di tangga Immanuel
tercinta sudah menunggu bung Martinus Pattiwael dan beberapa anggota pemuda,
lengkap dengan teh panas, cake karamel dan panada. Bahagianya berangkat
seperti ini, pergi dilepas pulang pun disambut.
Halaman rumah saya kembali injak, saat jam sudah menunjuk hampir jam 1
tengah malam. saat papa membuka pintu saya bersyukur bisa kembali dengan
selamat. Terima Kasih Bapa !!!

Salam,
Roy Lolong
Immanuel Samarinda




%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%[gp2000]
  "... Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau 
  muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu,
  dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam 
  kesucianmu" -- 1Tim 4:12
I-KAN %%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
[.] Situs GPIB : http://www.gpib.or.id
[.] GPIB.NET   : http://www.gpib.net
---
Anda sekarang terdaftar di i-kan-untuk-gp2000 dengan: [EMAIL PROTECTED]
Untuk unsubscribe, forward message ini ke [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke