\o/ \o/~~~~~~~~(((( Hidup oleh Roh, Dipimpin oleh Roh, Gal.5:25 ))))~~~~~~~\o/
\o/
Seperti telah kita ketahui bersama, saudara2 kekasih kita Fabianus Tibo,
Dominggus Da Silva serta Marinus Riwu telah di eksekusi Jumat dinihari
tanggal 22 September 2006. Meskipun sedih, kita percaya kematian mereka
sudah berada dalam rencana Tuhan dan akan menjadi satu benih sehingga
keadilan dapat ditegakkan di Indonesia.
Mari kita doakan agar keluarga yang ditinggalkan di berikan kekuatan dan
ketabahan.
Tibo Cs Tewas Dieksekusi Regu Tembak
Indra Subagja - detikcom
Jakarta - Akhirnya Tibo Cs, terpidana mati kasus kerusuhan Poso,
menemui
ajal di tangan regu tembak. Kepastian kabar telah tewasnya Fabianus
Tibo,
Marinus Riwu dan Dominggus Da Silva, diperoleh dari pengacara
mereka.
Ketiganya tewas pada Jumat dini hari.
"Mereka telah dieksekusi. Tubuh mereka sekarang sedang diotopsi di
rumah
sakit polisi," kata pengacara Tibo Cs, Roy Rening seperti dikutip AFP
pada
pukul 01.04 WIB, Jumat (22//2006).
Rening menambahkan bahwa eksekusi oleh regu tembak telah dilaksanakan
di
Palu, ibukota Sulawesi Tengah.
Menurut informasi yang berhasil dikumpulkan, eksekusi terhadap Tibo
Cs
dilakukan pada pukul 01.40 WITA di ujung landasan pacu bandara udara
Palu.
Eksekusi dilakukan hanya dalam waktu 1 menit dengan kondisi
lampu
dimatikan. Sebelumnya para terpidana diangkut keluar dari LP Petobo
dengan
menggunakan mobil kijang.
Sementara itu Kapuspenkum Kejaksaan Agung I Wayan Pasek Suartha
saat
dihubungi detikcom pada pukul 02.00 WIB, mengaku belum
mendapatkan
informasi soal pelaksanaan eksekusi. "Saya belum dihubungi Kejati
Sulteng,"
tandasnya. (ndr/Indra Subagja)
Sumber : Independent Media Center Jakarta
Menu : Berita
Keterangan : 21 September 2006
Kronologis Terjebaknya Tibo Cs
Fabianus Tibo, Dominggus Da Silva dan Marinus Riwu rencananya
akan
menghadapi eksekusi malam hari 21 September 2006. Berbagai
kontroversi
menyertai pelaksanaan hukuman mati ini. Berikut ini adalah
kutipan
kesaksian yang pernah dinyatakan oleh Fabianus Tibo dan dibenarkan
oleh
Dominggus Da Silva serta Marinus Riwu. Kutipan ini dibuat sebagai
press
release dari pihak terhukum dan disampaikan kepada berbagai pihak,
termasuk
Komisi Hak Asasi Manusia sebagai pembelaan dan juga informasi
bagaimana
ketiganya bisa ditahan dan dijadikan tersangka kasus kerusuhan Poso.
Kronologis Terjebaknya FABIANUS TIBO, DOMINGGUS DA SILVA dan MARINUS
RIWU
dalam kerusuhan Poso III
Menurut Keterangan Fabianus Tibo dan Dibenarkan oleh Dominggus dan
Marinus
Riwu
Pada pertengahan Mei 2000, kami kedatangan seorang utusan dari
Tentena
yakni: Sdr.Janis Simangunsong, yang bersangkutan membawa kabar bahwa
Gereja
Sta. Maria Poso akan dibakar dan umatnya akan dibunuh. Sebagai
orang
tua/wali murid kami merasa kuatir dan gelisah memikirkan nasib
anak-anak
panti asuhan, para guru, suster, pastor dan lainnya. Pada saat itu
pula
kami mengadakan pertemuan sesama orang tua/wali murid. Hadir pada
pertemuan
itu 23 orang. Kami sepakat untuk secepat mungkin menjemput anak-anak
bahkan
seluruh penghuni yang berada di Gereja Sta. Theresia, Desa Moengko
Baru,
Poso.
Tanggal 21 Mei 2000, kami 17 orang berangkat menuju lokasi Gereja
Sta.
Theresia. Dalam perjalanan itu kami singgah di Tentena bertemu dengan
Janis
Simangunsong, si pembawa berita. Kami tanyakan kembali perihal
beritanya,
dan sdr Janis menjawab: "Terserah Om Tibo mau pecaya atau tidak, tapi
yang
pasti berita itu benar." Sayapun balik menentang Sdr. Janis
dengan
mengatakan seperti : "Bila berita tersebut hanya issu kamu harus
menerima
resikonya, kami akan lapor ke kantor polisi sebagai provokator." Hari
itu
kami dan rombongan bermalam di Tentena.
Keesokan harinya pada tanggal 22 Mei 2000 kami dan rombongan
berangkat
memakai mobil kijang menuju Gereja St. Theresia Poso. Sekitar jam 3
sore
kami tiba dan langsung menanyakan berita tersebut kepada Pastor
serta
Suster dan para Guru, jawab mereka : "Kami belum tahu." Kalau
begitu,
bagaimana kalau Pastur, Suster, Guru serta lainnya ikut kami saja
sekarang
kembali ke Beteleme bersama anak-anak, dan mereka katakan "tanggung"
karena
besok hari ujian akan berakhir, bagaimana kalau habis ujian? Kami
semua
menyetujui, dan kami bermalam di asrama Gereja karena baru besok
akan
kembali ke Beteleme.
Tanggal 23 Mei tahun 2000, sekitar jam 04.00 (jam 4 subuh) kami
terbangun
oleh teriakan histeris minta tolong berlari memasuki halaman
gereja
langsung naik ke gunung di belakang gereja. Ada yang memanggil nama
saya
seperti "Om Tibo tolong kami, tolong kami!" Saya tidak habis pikir
kenapa,
sebagian massa ada yang memanggil nama saya.
Saat itu pula saya keluar halaman, tiba-tiba lampu mobil mengena muka
saya
dan terdengar teriakan "siapa itu" (maksudnya saya), saya jawab "ini
saya
Om Tibo." Polisi-polisi langsung mendekat kepada saya, salah satunya
saya
kenal yaitu Bapak Anton. Terjadi perbincangan dengan para polisi.
Mereka
mengira kamilah yang mengadakan penyerangan semalam, tetapi saya jawab
kami
semua penghuni yang ada di dalam tidak tahu apa-apa, kami
mempersilakan
bapak polisi memeriksa ke dalam.
Sementara berbicara dengan para polisi, masa dari Kelompok Putih
sudah
mulai memasuki halaman gereja, bahkan sudah mengelilingi saya di
hadapan
para polisi. Sekali lagi saya mencoba menjelaskan bahwa para suster,
guru
yang ikut keluar asrama mau menjelaskan kepada polisi serta massa
dari
Kelompok Putih, tetapi penjelasan tersebut sia-sia, massa sudah
mulai
emosi, sebagian meneriaki seperti "Sudah dia, om Tibo yang
melakukan
penyerangan dan telah membunuh polisi serta mantan lurah Kaimanya,"
bahkan
ada yang mau memukul dan sudah mengancam dengan parang kepada suster
dan
para guru yang mau menolong menjelaskan duduk persoalan yang
sebenarnya.
Saat itu pula saya menyuruh suster dan para guru untuk masuk ke
dalam
karena saya berpikir situasi sudah lain. Saya mengenal salah satu
Tokoh
Islam yang saat itu ada di TKP bernama Abdul Gafar. Saya sempat
menyapa
sebagai seorang sahabat.
Selang, beberapa saat para polisi mau membawa saya ke kantor polisi
dengan
alasan perintah langsung Kapolres lewat HT akan tetapi saya tidak
mau
karena tujuan kami dan para orang tua/wali termasuk Marinus dan
Dominggus
yang berada di asrama Gereja adalah membawa dan menyelamatkan
anak-anak
Panti Asuhan. Saat itu pula para polisi mulai meninggalkan saya
sendirian
di tengah massa Kelompok Putih. Polisi tidak membubarkan massa saat itu
dan
selang beberapa lama polisi tinggalkan saya, mulailah massa
menjadi-jadi
bahkan dengan beringasnya mereka merusak bahkan membakar semua
asset-asset
gereja, bahkan rumah Gereja Katolik itu sendiri.
Di tengah-tengah amukan massa yang sudah tidak terkendali lagi, saya
tidak
bisa berbuat apa-apa dan hanya berdoa supaya saya dan penghuni yang ada
di
dalam bisa selamat dan oleh kemurahan Tuhan sajalah saya bisa menerobos
di
tengah-tengah massa dan kembali ke dalam asrama, saat itu saya sudah
tidak
melihat lagi seluruh penghuni asrama. Rupanya mereka sudah
menyelamatkan
diri lewat belakang asrama naik ke gunung, tinggal saya sendirian di
dalam
asrama, saya tetap hanya berdoa "Tuhan lindungilah kami." Tiba-tiba
saya
dikejutkan oleh seseorang yang memakai sepati lars, berkaos loreng,
juga
bercelana loreng seperti seorang tentara yang mengatakan kepada saya
"Om
cepat lari selamatkan diri," saya jawab terima kasih. Saat itu pula
lewat
belakang asrama saya menuju gunung menyelamatkan diri.
Tanpa disangka kami bisa bertemu dan berkumpul di atas gunung. Puji
Tuhan,
teman-teman lain menyangka bahwa saya sudah mati, tetapi
Tuhan
menyelamatkan saya, berkumpul dengan anak-anak, Pastur, Suster dan
Para
Guru, kamipun menengok ke bawah, gumpalan-gumpalan asap tebal
sudah
menghanguskan rumah gereja, asrama tinggal, aula dan lainnya.
Selanjutnya
kami mulai berjalan bersama dengan anak-anak Panti Asuhan berjumlah
85
(delapan puluh lima) orang anak, tidak terhitung para wali/orangtua,
guru,
suster, pastur. Akan tetapi Pastur, Suster serta Sopir Pastur
sudah
terlebih dahulu berpisah di kebun milik Daeng Hulle.
Saya dan rombongan tetap berjalan walaupun belum sempat makan, kami
harus
selamat. Dalam hati saya berpikir bahwa jebakan-jebakan kepada kami
sudah
disusun rapi. Rupanya mereka ingin supaya kami terlibat dalam
setiap
masalah yang terjadi. Saya yakin Sdr. Janis Simangunsong,
bahkan
petugas-petugas di Tentena terlibat langsung dalam skenario
penyerangan
semalam! Mereka sengaja mau melibatkan kami padahal kami hanya
pendatang
yang mau mencari kehidupan buat anak-anak kami. Semakin jauh kami
berjalan
semakin pula menguras tenaga, hanya buah-buah dan makanan apa adanya
yang
kami dapati untuk menguatkan tubuh kami disertai Doa kepada Tuhan.
Akhirnya kami tiba di pinggir kali. Sambil melepas lelah kami
bertemu
dengan seorang masyarakat yang nama: Henry Mangkawa warga desa
Tambaru,
saya katakan tolong kami, karena kami dikejar oleh Kelompok Putih,
mereka
menuduh kami yang menyerang di desa Kaimanya semalam bahkan mereka
juga
mengatakan bahwa kamilah yang membunuh polisi serta mantan lurah
Kaimanya.
Akibatnya Gereja kami St. Theresia Poso dibakar oleh massa kelompok
Putih.
Tapi syukurlah anak-anak, serta Pastur, Suster dan Guru dapat
diselamatkan.
Bapak Herry katakan: "Kami akan menolong bersama seluruh warga
Desa
Tambaru, akan tetapi kami menolong dulu rombongan yang lebih dahulu,
yang
dipimpin oleh Ir. Lateka, itu orangnya yang lagi duduk di bawah
pohon
kelapa yang kepalanya diikat dengan handuk." Rupanya Sdr. Lateka
sudah
terluka parah dan seorang perawat di desa Tambaru merawatnya.
Setelah
pertolongan warga kepada Sdr. Lateka dan anggotanya selesai,
mereka
langsung menuju Tentena, karena mobil mereka sudah datang. Sdr.
Lateka
selalu memegang Radio (HT) untuk komunikasi. Saya yakin benar
dialah
orangnya yang menyerang semalam bersama anggota-anggotanya.
Sesudah rombongan Lateka pergi barulah saya dan rombongan ditolong
oleh
Bapak Herry serta seluruh warga desa Tambaru. Saat itu pula seluruh
warga,
juga Bapak Herry mengatakan bahwa penyerangan di desa Kaimanya
dilakukan
oleh Saudara Lateka beserta pasukannya, terbukti 1 (satu) pucuk
pistol
milik anggota polisi yang terbunuh ada di genggaman Sdr. Lateka.
Selanjutnya jam menunjukkan 03.30 wita (subuh) tanggal 24 Mei tahun
2000
kami meninggalkan desa Tambaru menuju Tentena, sampai di Tentena jam
06.00
wita, sebelumnya kami mampir di desa Kuku Umbu menurunkan anak-anak
Panti
Asuhan yang tinggal di desa Kuku.
Setelah kami tiba di Tentena kami langsung ditahan serta diancam
akan
dibunuh bila tidak mengikuti semua petunjuk yang dilakukan oleh Sdr.
Paulus
Tungkanan. Rupanya beliau sangat dihormati oleh Kelompok Merah
sebagai
Panglima atau Pimpinan Perang yang sangat ditakuti. Kami tidak bisa
berbuat
apa-apa apalagi kami hanya sebagai warga pendatang yang tujuannya
untuk
mencari hidup untuk masa depan anak-anak kami. Syukur anak-anak
Panti
Asuhan yang kami bawa dari Poso diperbolehkan pulang ke rumah beserta
para
guru, suster, pastur dan lainnya. Sedangkan kami tetap tinggal di
Tentena
dengan maksud dan tujuan yang tidak jelas. Saya dan Marinus juga
Dominggus
saat itu sudah dipisah-pisahkan di Tentena, oleh Saudara Paulus
Tungkanan
sebagai Panglima Perang Kelompok Merah.
Suatu ketika saya ikut pertemuan di desa Kelei, kurang lebih 4 (empat)
km
dari Tentena di rumah anaknya Sdr. Herman Parito. Hasil pertemuan
tersebut
saya diperintahkan untuk menuju Desa Tagolu, saya sempat bertanya,
untuk
apa saya mau kesana? "Untuk apa tanya-tanya?" hardik Sdr. Paulus
Tungkanan.
Terus terang saya sangat rindu berkumpul dengan keluarga saya, tetapi
saya
tidak bisa berbuat apa-apa, nyawa saya dan keluarga saya sangat
terancam.
Untuk Marinus dan Dominggus saya sudah tidak tahu lagi keberadaannya.
Saya
mencoba mengikut Petunjuk Sdr. Paulus Tungkaman apa maunya dia. Sekira
jam
jam 15.00 wita (jam 3 sore) saya berangkat ke desa Tagolu, saya mampir
dulu
di desa Sayo, oleh Bapak Lurah serta masyarakat memberi saya makan
bahkan
sempat didoakan oleh Ibu Pendeta Sayo.
Saya berangkat dari Desa Sayo jam 7 malam dan tiba di desa Tagolu
sudah
malam. Nanti ketemu Ir. A. Lateka sudah larut malam. Di situ ada Sdr.
Erik
Rombot, Soni Rumead yang sibuk bicara via HT. Sdr. Lateka berbicara
kepada
saya yaitu menggantikan dia dalam melaksanakan tugas, tetapi saat itu
pula
saya tidak menerima tugas tersebut karena tidak ada kejelasan. Saya
tetap
waspada karena ternyata saat ke Tagolu hanya semata-mata untuk
menggantikan
tugas dari Sdr. Ir. A. Lateka. Saya tahu setelah saya menolak
tawaran
mereka yang bertentangan dengan hati nurani, gerak gerik saya
selalu
dimonitor oleh Sdr. Paulus Tungkanan beserta anak buahnya
serta
petinggi-tinggi kelompok Merah (Kristiani).
Pada tanggal 28 Mei 2000 sekitar jam 07.30 di rumah Sdr. Bate Lateka
di
Desa Tagolu, kami kedatangan 5 (lima) orang anggota Polres Poso
yang
dipimpin oleh Kapten Mandagi dan 4 (empat) anak buahnya membawa
perintah
langsung dari Bapak Kapolres Poso sekaligus memohon bantuan kelompok
Merah
(Kristiani) yang ada di Desa Tagolu untuk mengevakuasi seluruh
perempuan
dan anak-anak yang berada di KM.9, Komp. Wali Songo dan akan diamankan
di
Asrama Kompi Kawu, sedangkan para lelaki tetap ditempat untuk
menjaga
lokasi tersebut. Bapak-Bapak Polisi tersebut diterima oleh Saudara
Erik
Rombot, Bate Lateka, Angke Tungkanan, serta Ventje Angkouw.
Perbincangan
tetap berlanjut, saya mohon pamit karena mau menuju Desa Sayo atas
perintah
langsung Panglima Perang, Paulus Tungkanan via telepon yang diterima
oleh
Sdr. Erik Rombot.
Saya dan kurang lebih 60 (enam puluh) orang berangkat ke Desa Sayo
untuk
menjemput 9 orang yang sudah tak berdaya akibat gempuran massa
dari
kelompok putih. Sekembalinya saya dan teman-teman dari Desa Sayo, di
ujung
kampung kami dihadang oleh sebahagian masyarakat desa Tagolu
yang
menyampaikan bahwa di Km.9, komp. Wali Songo sudah terjadi penyerangan
yang
dilakukan oleh kelompok Merah (Kristiani) yang dipimpin oleh Sdr.
Erik
Rombot, Bate Lateka, Angki Tungkanan, Ventje Angkouw. Saya tidak
mengerti
mengapa bisa terjadi penyerangkan di Km.9 (komp. Wali Songo)?
Rupanya perintah langsung Bapak Kapolres untung mengevakuasi
massa
perempuan dan anak-anak di km.9 ternyata merupakan suatu rekayasa
dan
permainan politik yang rapi, bahkan masyarakat mengatakan bahwa kejadian
di
km.9 (komp. Wali Songo) adalah perbuatan Kapten Mandagi dan 4
(empat)
anggotanya yang telah memprovokasi massa kelompok Merah (Kristiani),
yang
saat penyerangan dipimpin langsung oleh Sdr. Erik Rombot, Bate
Lateka,
Angki Tungkanan, dan Ventje Angkouw, bahkan sebelumnya ada salah
satu
anggota polisi bernama Peter Pasepe yang berteriak-teriak sambil
menangis
yang tujuannya mencari simpati massa kelompok Merah (Kristiani)
katanya
"rumahnya habis terbakar dibakar Kelompok Putih (Islam) di Poso. Mulai
saat
itu disertai emosi yang meluap-luap terjadi penyerangan di Km.9 (komp.
Wali
Songo) mengakibatkan pembunuhan, pembakaran rumah, di Km.9 (komp.
Wali
Songo) tidak terelakkan lagi, tetapi ada sebahagian masyarakat
yang
beragama Kristiani di Desa Tagolu tidak mau mengikuti penyerangan
tersebut
yang saya yakin semata-mata disuluh oleh api provokasi dari Kapten
Mandagi
dan 4 (empat) anggotanya. Perintah langsung bapak Kapolres kepada
Kapten
Mandagi, saya bisa artikan yaitu Perintah Penyerangan.
Ada beberapa hal yang bisa saya sampaikan sehubungan dengan
peristiwa
penyerangan di Km. 9 (komp. Wali Songo), sebagai berikut :
1. Apa betul Bapak Kapolres Poso (Pa Basaopu) memerintahkan Kapten
Mandagi
untuk mengevakuasi seluruh perempuan dan anak-anak di Km.9 (komp.
Wali
Songo) serta harus dibawa di asrama Komp. Kawua? Tetapi mengapa bukan
di
asrama Polres, karena yang evakuasi tersebut adalah Bapak Kapolres?
Atau
kenapa pihak TNI tidak dilibatkan untuk pelaksanaan evakuasi?
2. Mengapa perintah Bapak Kapolres hanya ditujukan kepada Massa
Kelompok
Merah (Kristen) sedangkan yang mau dievakuasi adalah kaum perempuan
dan
seluruh anak-anak yang beragama Islam?
Saya menduga lanjutan pembicaraan Kapten Mandagi dan 4 (empat) anak
buahnya
bersama pimpinan Kelompok Merah yang bisa saya sebut Sdr. Erik
Rombot,
Angki Tungkanan, Bate Lateka dan lainnya, setelah saya tinggalkan
menuju
Desa Sayo, merupakan strategi penyerangan yang akan dilakukan di
km. 9
(komp. Wali Songo).
Perlu saya sampaikan juga bahwa untuk diketahui kehidupan antar
umat
beragama di km. 9 (komp. Wali Songo) sebelumnya sangat damai, rukun
dan
tidak konflik. Akan tetapi mengapa kehidupan yang damai rukun
bisa
mengakibatkan kehancuran?. Apalagi mayoritas di km.9 (komp. Wali
Songo)
adalah warga pendatang. Semua ini terjadi karena
ada
kepentingan-kepentingan tertentu baik pribadi maupun organisasi/
kelompok.
Begitupun karena api provokasi yang sengaja diciptakan, orang-orang
yang
tidak mau bertangung jawab karena tidak suka damai, dan hanya
mau
mementingkan diri sendiri.
Saya sangat berharap apa yang saya sampaikan dapat dipertimbangkan,
karena
saya yakin jeritan saya ini merupakan jeritan begitu banyak
orang-orang
yang tertindas, teraniaya, terancam karena tidak bisa bicara
tentang
kebenaran dan semuanya ditimpahkan dan dituduhkan kepada kami.
Sayapun sangat berterima kasih bila penyampaian saya ini boleh
menjadi
pertimbangan Bapak guna pengusutan lebih lanjut, dan saya tiap
menjadi
saksi apapun resiko yang akan saya terima demi keadilan dan kebenaran!!!
Sayapun sempat kecewa karena suara hati kami mulai persidangan
tingkat
pengadilan negeri, sampai peninjauan kembali ke Mahkamah Agung,
belum
diperhatikan secara hukum, semoga saatnya sekarang kebohongan publik
tidak
akan terjadi lagi. Semua yang melanggar hukum harus taat pada hukum
dan
perundangan yang berlaku di Negara Republik Indonesia.
Inilah yang dapat saya sampaikan dengan sebenarnya semoga teriakan
hati
nurani kami dapat didengar sehingga bisa terungkap kebenaran
yang
sebenarnya.
Terima kasih.
Palu, April. 2005
Yang menyampaikan,
Fabianus Tibo
Dibenarkan oleh
Dominggus da Silva
Marinus Riwu
Terlepas dari benar tidaknya pernyataan dan pembelaan yang
disampaikan
Fabianus Tibo Cs di atas dan dalam persidangan selama ini, pemerintah
RI
memiliki "hutang" untuk mengungkap 16 nama yang selama ini dinyatakan
Tibo
Cs sebagai saksi atau dalang kerusuhan Poso. Bila pemerintah tutup mata
dan
tidak bertanggung jawab mengungkap semua ini, berarti pemerintah RI
berani
mencurahkan darah rakyatnya tanpa mau membereskan masalah
yang
sesungguhnya. Hanya itukah model dan nilai pemerintah Indonesia?.
Buat Om Fabianus Tibo, Dominggus Da Silva, Marinus Riwu, nats firman
Tuhan
mengatakan bahwa jalan hidup manusia hanya 70 atau 80 tahun saja. Cara
mati
bukanlah ukurannya, setelah kematianlah yang menjadi esensinya.
Ketika
Tuhan sang pengasih berdiam dalam hati, mengampuni dosa dan
memberikan
janji hidup kekal, percayalah itu akan menjadi bagian kalian.
Kekekalan
menjadi bagian kalian karena sesungguhnya kita hanyalah pendatang di
bumi
ini. Perjuangan kalian tidak akan sia-sia.
--- End of Forwarded Message ---
o)----------------------[ Hapus dan Edit Pesan yang tidak perlu
]----------------------(o
Haleluya, Glory to the Holly Lamb, Praise Jesus ! Our God is an Awesome God !
PROMOSI Toko Buku RDSB http://tokobuku.rdsb.org
+ Khotbah MP3 Harga Hemat
+ VCD Peter Youngren, Moris Cerullo, dan masih banyak lagi
o)---------------------------( Milis ini didukung oleh I-KAN
)--------------------------(o
http://rdsb.org ; http://beritasorgawi.com ; http://ob.or.id ;
http://revival.or.id
Berhenti dari Milis : [EMAIL PROTECTED] Langganan Milis : [EMAIL PROTECTED]
Administrasi & Teknis : [EMAIL PROTECTED]
petunjuk nomail,mail,digest,gantiemail : [EMAIL PROTECTED]
Untuk info lebih lanjut kunjungi web kami di http://revival.or.id