\o/ \o/~~~~~~~~(((( Hidup oleh Roh, Dipimpin oleh Roh, Gal.5:25 ))))~~~~~~~\o/ 
\o/



Seperti telah kita ketahui bersama, saudara2 kekasih kita Fabianus Tibo,
Dominggus Da Silva serta Marinus Riwu telah di eksekusi Jumat dinihari
tanggal 22 September 2006. Meskipun sedih, kita percaya kematian mereka
sudah berada dalam rencana Tuhan dan akan menjadi satu benih sehingga
keadilan dapat ditegakkan di Indonesia.

Mari kita doakan agar keluarga yang ditinggalkan di berikan kekuatan dan
ketabahan.



Tibo Cs Tewas Dieksekusi Regu Tembak
Indra Subagja - detikcom

Jakarta  -  Akhirnya  Tibo Cs, terpidana mati kasus kerusuhan Poso,
menemui
ajal  di  tangan regu tembak. Kepastian kabar telah tewasnya Fabianus
Tibo,
Marinus  Riwu  dan  Dominggus  Da  Silva,  diperoleh dari pengacara
mereka.
Ketiganya tewas pada Jumat dini hari.

"Mereka  telah  dieksekusi.  Tubuh mereka sekarang sedang diotopsi di
rumah
sakit  polisi," kata pengacara Tibo Cs, Roy Rening seperti dikutip AFP
pada
pukul 01.04 WIB, Jumat (22//2006).

Rening  menambahkan  bahwa  eksekusi oleh regu tembak telah dilaksanakan
di
Palu, ibukota Sulawesi Tengah.

Menurut  informasi  yang  berhasil  dikumpulkan,  eksekusi terhadap Tibo
Cs
dilakukan  pada pukul 01.40 WITA di ujung landasan pacu bandara udara
Palu.
Eksekusi   dilakukan  hanya  dalam  waktu  1  menit  dengan  kondisi
lampu
dimatikan.  Sebelumnya para terpidana diangkut keluar dari LP Petobo
dengan
menggunakan mobil kijang.

Sementara  itu  Kapuspenkum  Kejaksaan  Agung  I  Wayan  Pasek Suartha
saat
dihubungi   detikcom  pada  pukul  02.00  WIB,  mengaku  belum
mendapatkan
informasi soal pelaksanaan eksekusi. "Saya belum dihubungi Kejati
Sulteng,"
tandasnya. (ndr/Indra Subagja)



Sumber            : Independent Media Center Jakarta
Menu        : Berita
Keterangan  : 21 September 2006

Kronologis Terjebaknya Tibo Cs

Fabianus  Tibo,  Dominggus  Da  Silva  dan  Marinus  Riwu  rencananya
akan
menghadapi  eksekusi  malam  hari  21  September 2006. Berbagai
kontroversi
menyertai   pelaksanaan  hukuman  mati  ini.  Berikut  ini  adalah
kutipan
kesaksian  yang  pernah  dinyatakan  oleh Fabianus Tibo dan dibenarkan
oleh
Dominggus  Da  Silva  serta  Marinus Riwu. Kutipan ini dibuat sebagai
press
release dari pihak terhukum dan disampaikan kepada berbagai pihak,
termasuk
Komisi  Hak  Asasi  Manusia  sebagai pembelaan dan juga informasi
bagaimana
ketiganya bisa ditahan dan dijadikan tersangka kasus kerusuhan Poso.

Kronologis  Terjebaknya  FABIANUS TIBO, DOMINGGUS DA SILVA dan MARINUS
RIWU
dalam kerusuhan Poso III

Menurut  Keterangan Fabianus Tibo dan Dibenarkan oleh Dominggus dan
Marinus
Riwu

Pada  pertengahan  Mei  2000,  kami  kedatangan seorang utusan dari
Tentena
yakni: Sdr.Janis Simangunsong, yang bersangkutan membawa kabar bahwa
Gereja
Sta.  Maria  Poso  akan  dibakar  dan  umatnya  akan dibunuh. Sebagai
orang
tua/wali  murid  kami  merasa kuatir dan gelisah memikirkan nasib
anak-anak
panti  asuhan,  para  guru,  suster, pastor dan lainnya. Pada saat itu
pula
kami mengadakan pertemuan sesama orang tua/wali murid. Hadir pada
pertemuan
itu 23 orang. Kami sepakat untuk secepat mungkin menjemput anak-anak
bahkan
seluruh  penghuni  yang  berada di Gereja Sta. Theresia, Desa Moengko
Baru,
Poso.

Tanggal  21  Mei  2000,  kami  17 orang berangkat menuju lokasi Gereja
Sta.
Theresia. Dalam perjalanan itu kami singgah di Tentena bertemu dengan
Janis
Simangunsong,  si  pembawa berita. Kami tanyakan kembali perihal
beritanya,
dan  sdr Janis menjawab: "Terserah Om Tibo mau pecaya atau tidak, tapi
yang
pasti  berita  itu  benar."  Sayapun  balik  menentang  Sdr.  Janis
dengan
mengatakan  seperti  : "Bila berita tersebut hanya issu kamu harus
menerima
resikonya,  kami  akan lapor ke kantor polisi sebagai provokator." Hari
itu
kami dan rombongan bermalam di Tentena.

Keesokan  harinya  pada  tanggal  22  Mei 2000 kami dan rombongan
berangkat
memakai  mobil  kijang  menuju Gereja St. Theresia Poso. Sekitar jam 3
sore
kami  tiba  dan  langsung  menanyakan  berita  tersebut kepada Pastor
serta
Suster  dan  para  Guru,  jawab  mereka  : "Kami belum tahu." Kalau
begitu,
bagaimana  kalau Pastur, Suster, Guru serta lainnya ikut kami saja
sekarang
kembali ke Beteleme bersama anak-anak, dan mereka katakan "tanggung"
karena
besok  hari  ujian  akan  berakhir, bagaimana kalau habis ujian? Kami
semua
menyetujui,  dan  kami  bermalam  di  asrama  Gereja karena baru besok
akan
kembali ke Beteleme.

Tanggal  23  Mei tahun 2000, sekitar jam 04.00 (jam 4 subuh) kami
terbangun
oleh  teriakan  histeris  minta  tolong  berlari  memasuki  halaman
gereja
langsung  naik  ke  gunung di belakang gereja. Ada yang memanggil nama
saya
seperti  "Om Tibo tolong kami, tolong kami!" Saya tidak habis pikir
kenapa,
sebagian massa ada yang memanggil nama saya.

Saat  itu pula saya keluar halaman, tiba-tiba lampu mobil mengena muka
saya
dan  terdengar  teriakan "siapa itu" (maksudnya saya), saya jawab "ini
saya
Om  Tibo."  Polisi-polisi langsung mendekat kepada saya, salah satunya
saya
kenal  yaitu  Bapak  Anton. Terjadi perbincangan dengan para polisi.
Mereka
mengira kamilah yang mengadakan penyerangan semalam, tetapi saya jawab
kami
semua  penghuni  yang  ada  di dalam tidak tahu apa-apa, kami
mempersilakan
bapak polisi memeriksa ke dalam.

Sementara  berbicara  dengan  para  polisi,  masa dari Kelompok Putih
sudah
mulai  memasuki  halaman  gereja, bahkan sudah mengelilingi saya di
hadapan
para  polisi.  Sekali lagi saya mencoba menjelaskan bahwa para suster,
guru
yang  ikut  keluar  asrama  mau  menjelaskan kepada polisi serta massa
dari
Kelompok  Putih,  tetapi  penjelasan  tersebut  sia-sia,  massa sudah
mulai
emosi,  sebagian  meneriaki  seperti  "Sudah  dia,  om  Tibo yang
melakukan
penyerangan  dan telah membunuh polisi serta mantan lurah Kaimanya,"
bahkan
ada  yang  mau  memukul dan sudah mengancam dengan parang kepada suster
dan
para  guru  yang  mau menolong menjelaskan duduk persoalan yang
sebenarnya.
Saat  itu  pula  saya  menyuruh  suster  dan para guru untuk masuk ke
dalam
karena  saya  berpikir  situasi  sudah lain. Saya mengenal salah satu
Tokoh
Islam  yang  saat  itu  ada di TKP bernama Abdul Gafar. Saya sempat
menyapa
sebagai seorang sahabat.

Selang,  beberapa saat para polisi mau membawa saya ke kantor polisi
dengan
alasan  perintah  langsung  Kapolres  lewat  HT  akan tetapi saya tidak
mau
karena  tujuan  kami dan para orang tua/wali termasuk Marinus dan
Dominggus
yang  berada  di  asrama  Gereja adalah membawa dan menyelamatkan
anak-anak
Panti  Asuhan.  Saat itu pula para polisi mulai meninggalkan saya
sendirian
di tengah massa Kelompok Putih. Polisi tidak membubarkan massa saat itu
dan
selang  beberapa  lama  polisi tinggalkan saya, mulailah massa
menjadi-jadi
bahkan  dengan beringasnya mereka merusak bahkan membakar semua
asset-asset
gereja, bahkan rumah Gereja Katolik itu sendiri.

Di  tengah-tengah amukan massa yang sudah tidak terkendali lagi, saya
tidak
bisa  berbuat apa-apa dan hanya berdoa supaya saya dan penghuni yang ada
di
dalam  bisa selamat dan oleh kemurahan Tuhan sajalah saya bisa menerobos
di
tengah-tengah  massa dan kembali ke dalam asrama, saat itu saya sudah
tidak
melihat  lagi  seluruh  penghuni asrama. Rupanya mereka sudah
menyelamatkan
diri  lewat belakang asrama naik ke gunung, tinggal saya sendirian di
dalam
asrama,  saya  tetap  hanya berdoa "Tuhan lindungilah kami." Tiba-tiba
saya
dikejutkan  oleh  seseorang  yang memakai sepati lars, berkaos loreng,
juga
bercelana  loreng  seperti  seorang tentara yang mengatakan kepada saya
"Om
cepat  lari  selamatkan diri," saya jawab terima kasih. Saat itu pula
lewat
belakang asrama saya menuju gunung menyelamatkan diri.

Tanpa  disangka kami bisa bertemu dan berkumpul di atas gunung. Puji
Tuhan,
teman-teman   lain   menyangka   bahwa   saya   sudah  mati,  tetapi
Tuhan
menyelamatkan  saya,  berkumpul  dengan  anak-anak, Pastur, Suster dan
Para
Guru,  kamipun  menengok  ke  bawah,  gumpalan-gumpalan  asap  tebal
sudah
menghanguskan  rumah  gereja, asrama tinggal, aula dan lainnya.
Selanjutnya
kami  mulai  berjalan  bersama  dengan  anak-anak Panti Asuhan berjumlah
85
(delapan  puluh lima) orang anak, tidak terhitung para wali/orangtua,
guru,
suster,  pastur.  Akan  tetapi  Pastur,  Suster  serta  Sopir  Pastur
sudah
terlebih dahulu berpisah di kebun milik Daeng Hulle.

Saya  dan  rombongan tetap berjalan walaupun belum sempat makan, kami
harus
selamat.  Dalam  hati saya berpikir bahwa jebakan-jebakan kepada kami
sudah
disusun  rapi.  Rupanya  mereka  ingin  supaya  kami  terlibat dalam
setiap
masalah   yang   terjadi.   Saya  yakin  Sdr.  Janis  Simangunsong,
bahkan
petugas-petugas  di  Tentena  terlibat  langsung dalam skenario
penyerangan
semalam!  Mereka  sengaja  mau melibatkan kami padahal kami hanya
pendatang
yang  mau mencari kehidupan buat anak-anak kami. Semakin jauh kami
berjalan
semakin  pula  menguras tenaga, hanya buah-buah dan makanan apa adanya
yang
kami dapati untuk menguatkan tubuh kami disertai Doa kepada Tuhan.

Akhirnya  kami  tiba  di  pinggir  kali.  Sambil melepas lelah kami
bertemu
dengan  seorang  masyarakat  yang  nama: Henry Mangkawa warga desa
Tambaru,
saya  katakan  tolong kami, karena kami dikejar oleh Kelompok Putih,
mereka
menuduh  kami  yang  menyerang  di desa Kaimanya semalam bahkan mereka
juga
mengatakan  bahwa kamilah yang membunuh polisi serta mantan lurah
Kaimanya.
Akibatnya  Gereja kami St. Theresia Poso dibakar oleh massa kelompok
Putih.
Tapi syukurlah anak-anak, serta Pastur, Suster dan Guru dapat
diselamatkan.
Bapak  Herry  katakan:  "Kami  akan  menolong  bersama  seluruh  warga
Desa
Tambaru,  akan  tetapi kami menolong dulu rombongan yang lebih dahulu,
yang
dipimpin  oleh  Ir.  Lateka,  itu  orangnya  yang lagi duduk di bawah
pohon
kelapa  yang  kepalanya  diikat  dengan  handuk." Rupanya Sdr. Lateka
sudah
terluka  parah  dan  seorang  perawat  di  desa Tambaru merawatnya.
Setelah
pertolongan  warga  kepada  Sdr.  Lateka  dan  anggotanya  selesai,
mereka
langsung  menuju  Tentena,  karena  mobil  mereka sudah datang. Sdr.
Lateka
selalu  memegang  Radio  (HT)  untuk  komunikasi.  Saya  yakin benar
dialah
orangnya yang menyerang semalam bersama anggota-anggotanya.

Sesudah  rombongan  Lateka  pergi  barulah saya dan rombongan ditolong
oleh
Bapak  Herry serta seluruh warga desa Tambaru. Saat itu pula seluruh
warga,
juga  Bapak  Herry  mengatakan bahwa penyerangan di desa Kaimanya
dilakukan
oleh  Saudara  Lateka  beserta  pasukannya,  terbukti 1 (satu) pucuk
pistol
milik anggota polisi yang terbunuh ada di genggaman Sdr. Lateka.

Selanjutnya  jam  menunjukkan  03.30 wita (subuh) tanggal 24 Mei tahun
2000
kami  meninggalkan desa Tambaru menuju Tentena, sampai di Tentena jam
06.00
wita,  sebelumnya  kami mampir di desa Kuku Umbu menurunkan anak-anak
Panti
Asuhan yang tinggal di desa Kuku.

Setelah  kami  tiba  di  Tentena  kami  langsung ditahan serta diancam
akan
dibunuh bila tidak mengikuti semua petunjuk yang dilakukan oleh Sdr.
Paulus
Tungkanan.  Rupanya  beliau  sangat  dihormati  oleh Kelompok Merah
sebagai
Panglima atau Pimpinan Perang yang sangat ditakuti. Kami tidak bisa
berbuat
apa-apa  apalagi  kami  hanya  sebagai warga pendatang yang tujuannya
untuk
mencari  hidup  untuk  masa  depan  anak-anak  kami. Syukur anak-anak
Panti
Asuhan  yang kami bawa dari Poso diperbolehkan pulang ke rumah beserta
para
guru,  suster,  pastur dan lainnya. Sedangkan kami tetap tinggal di
Tentena
dengan  maksud dan tujuan yang tidak jelas. Saya dan Marinus juga
Dominggus
saat  itu  sudah dipisah-pisahkan di Tentena, oleh Saudara Paulus
Tungkanan
sebagai Panglima Perang Kelompok Merah.

Suatu  ketika  saya ikut pertemuan di desa Kelei, kurang lebih 4 (empat)
km
dari  Tentena di rumah anaknya Sdr. Herman Parito. Hasil pertemuan
tersebut
saya  diperintahkan  untuk  menuju Desa Tagolu, saya sempat bertanya,
untuk
apa saya mau kesana? "Untuk apa tanya-tanya?" hardik Sdr. Paulus
Tungkanan.
Terus  terang saya sangat rindu berkumpul dengan keluarga saya, tetapi
saya
tidak  bisa  berbuat apa-apa, nyawa saya dan keluarga saya sangat
terancam.
Untuk  Marinus dan Dominggus saya sudah tidak tahu lagi keberadaannya.
Saya
mencoba  mengikut Petunjuk Sdr. Paulus Tungkaman apa maunya dia. Sekira
jam
jam 15.00 wita (jam 3 sore) saya berangkat ke desa Tagolu, saya mampir
dulu
di  desa  Sayo, oleh Bapak Lurah serta masyarakat memberi saya makan
bahkan
sempat didoakan oleh Ibu Pendeta Sayo.

Saya  berangkat  dari  Desa  Sayo jam 7 malam dan tiba di desa Tagolu
sudah
malam.  Nanti ketemu Ir. A. Lateka sudah larut malam. Di situ ada Sdr.
Erik
Rombot,  Soni Rumead yang sibuk bicara via HT. Sdr. Lateka berbicara
kepada
saya  yaitu menggantikan dia dalam melaksanakan tugas, tetapi saat itu
pula
saya  tidak  menerima tugas tersebut karena tidak ada kejelasan. Saya
tetap
waspada karena ternyata saat ke Tagolu hanya semata-mata untuk
menggantikan
tugas  dari  Sdr.  Ir.  A.  Lateka.  Saya tahu setelah saya menolak
tawaran
mereka  yang  bertentangan  dengan  hati  nurani,  gerak  gerik saya
selalu
dimonitor   oleh   Sdr.   Paulus   Tungkanan  beserta  anak  buahnya
serta
petinggi-tinggi kelompok Merah (Kristiani).

Pada  tanggal  28  Mei  2000 sekitar jam 07.30 di rumah Sdr. Bate Lateka
di
Desa  Tagolu,  kami  kedatangan  5  (lima)  orang  anggota Polres Poso
yang
dipimpin  oleh  Kapten  Mandagi dan 4 (empat) anak buahnya membawa
perintah
langsung  dari Bapak Kapolres Poso sekaligus memohon bantuan kelompok
Merah
(Kristiani)  yang  ada  di Desa Tagolu untuk mengevakuasi seluruh
perempuan
dan  anak-anak  yang berada di KM.9, Komp. Wali Songo dan akan diamankan
di
Asrama  Kompi  Kawu,  sedangkan  para  lelaki  tetap ditempat untuk
menjaga
lokasi  tersebut.  Bapak-Bapak  Polisi  tersebut diterima oleh Saudara
Erik
Rombot,  Bate  Lateka,  Angke Tungkanan, serta Ventje Angkouw.
Perbincangan
tetap berlanjut, saya mohon pamit karena mau menuju Desa Sayo atas
perintah
langsung  Panglima  Perang, Paulus Tungkanan via telepon yang diterima
oleh
Sdr. Erik Rombot.

Saya  dan  kurang  lebih 60 (enam puluh) orang berangkat ke Desa Sayo
untuk
menjemput  9  orang  yang  sudah  tak  berdaya  akibat  gempuran massa
dari
kelompok  putih. Sekembalinya saya dan teman-teman dari Desa Sayo, di
ujung
kampung   kami   dihadang  oleh  sebahagian  masyarakat  desa  Tagolu
yang
menyampaikan bahwa di Km.9, komp. Wali Songo sudah terjadi penyerangan
yang
dilakukan  oleh  kelompok  Merah  (Kristiani)  yang dipimpin oleh Sdr.
Erik
Rombot,  Bate  Lateka, Angki Tungkanan, Ventje Angkouw. Saya tidak
mengerti
mengapa bisa terjadi penyerangkan di Km.9 (komp. Wali Songo)?

Rupanya   perintah   langsung  Bapak  Kapolres  untung  mengevakuasi
massa
perempuan  dan  anak-anak  di  km.9  ternyata  merupakan suatu rekayasa
dan
permainan politik yang rapi, bahkan masyarakat mengatakan bahwa kejadian
di
km.9  (komp.  Wali  Songo)  adalah  perbuatan  Kapten Mandagi dan 4
(empat)
anggotanya  yang  telah memprovokasi massa kelompok Merah (Kristiani),
yang
saat  penyerangan  dipimpin  langsung  oleh  Sdr. Erik Rombot, Bate
Lateka,
Angki  Tungkanan,  dan  Ventje  Angkouw,  bahkan  sebelumnya ada salah
satu
anggota  polisi  bernama Peter Pasepe yang berteriak-teriak sambil
menangis
yang  tujuannya  mencari  simpati  massa kelompok Merah (Kristiani)
katanya
"rumahnya habis terbakar dibakar Kelompok Putih (Islam) di Poso. Mulai
saat
itu disertai emosi yang meluap-luap terjadi penyerangan di Km.9 (komp.
Wali
Songo)  mengakibatkan  pembunuhan,  pembakaran  rumah,  di Km.9 (komp.
Wali
Songo)  tidak  terelakkan  lagi,  tetapi  ada  sebahagian  masyarakat
yang
beragama  Kristiani di Desa Tagolu tidak mau mengikuti penyerangan
tersebut
yang  saya yakin semata-mata disuluh oleh api provokasi dari Kapten
Mandagi
dan  4  (empat)  anggotanya. Perintah langsung bapak Kapolres kepada
Kapten
Mandagi, saya bisa artikan yaitu Perintah Penyerangan.

Ada  beberapa  hal  yang  bisa  saya  sampaikan sehubungan dengan
peristiwa
penyerangan di Km. 9 (komp. Wali Songo), sebagai berikut :
1.  Apa betul Bapak Kapolres Poso (Pa Basaopu) memerintahkan Kapten
Mandagi
untuk  mengevakuasi  seluruh  perempuan  dan  anak-anak di Km.9 (komp.
Wali
Songo)  serta  harus  dibawa di asrama Komp. Kawua? Tetapi mengapa bukan
di
asrama  Polres,  karena  yang evakuasi tersebut adalah Bapak Kapolres?
Atau
kenapa pihak TNI tidak dilibatkan untuk pelaksanaan evakuasi?
2.  Mengapa  perintah  Bapak Kapolres hanya ditujukan kepada Massa
Kelompok
Merah  (Kristen)  sedangkan  yang  mau dievakuasi adalah kaum perempuan
dan
seluruh anak-anak yang beragama Islam?

Saya menduga lanjutan pembicaraan Kapten Mandagi dan 4 (empat) anak
buahnya
bersama  pimpinan  Kelompok  Merah  yang  bisa saya sebut Sdr. Erik
Rombot,
Angki  Tungkanan,  Bate  Lateka dan lainnya, setelah saya tinggalkan
menuju
Desa  Sayo,  merupakan  strategi  penyerangan  yang akan dilakukan di
km. 9
(komp. Wali Songo).

Perlu  saya  sampaikan  juga  bahwa  untuk  diketahui  kehidupan antar
umat
beragama  di  km.  9  (komp. Wali Songo) sebelumnya sangat damai, rukun
dan
tidak  konflik.  Akan  tetapi  mengapa  kehidupan  yang  damai  rukun
bisa
mengakibatkan  kehancuran?.  Apalagi  mayoritas  di km.9 (komp. Wali
Songo)
adalah     warga     pendatang.    Semua    ini    terjadi    karena
ada
kepentingan-kepentingan  tertentu baik pribadi maupun organisasi/
kelompok.
Begitupun  karena  api  provokasi yang sengaja diciptakan, orang-orang
yang
tidak  mau  bertangung  jawab  karena  tidak  suka  damai,  dan  hanya
mau
mementingkan diri sendiri.

Saya  sangat berharap apa yang saya sampaikan dapat dipertimbangkan,
karena
saya  yakin  jeritan  saya  ini merupakan jeritan begitu banyak
orang-orang
yang  tertindas,  teraniaya,  terancam  karena  tidak  bisa  bicara
tentang
kebenaran dan semuanya ditimpahkan dan dituduhkan kepada kami.

Sayapun  sangat  berterima  kasih  bila  penyampaian saya ini boleh
menjadi
pertimbangan  Bapak  guna  pengusutan  lebih  lanjut, dan saya tiap
menjadi
saksi apapun resiko yang akan saya terima demi keadilan dan kebenaran!!!

Sayapun  sempat  kecewa  karena  suara  hati kami mulai persidangan
tingkat
pengadilan  negeri,  sampai  peninjauan  kembali  ke  Mahkamah Agung,
belum
diperhatikan  secara hukum, semoga saatnya sekarang kebohongan publik
tidak
akan  terjadi  lagi.  Semua  yang melanggar hukum harus taat pada hukum
dan
perundangan yang berlaku di Negara Republik Indonesia.

Inilah  yang  dapat  saya  sampaikan dengan sebenarnya semoga teriakan
hati
nurani   kami   dapat  didengar  sehingga  bisa  terungkap  kebenaran
yang
sebenarnya.

Terima kasih.

Palu, April. 2005

Yang menyampaikan,
Fabianus Tibo

Dibenarkan oleh
Dominggus da Silva
Marinus Riwu

Terlepas  dari  benar  tidaknya  pernyataan  dan pembelaan yang
disampaikan
Fabianus  Tibo  Cs  di atas dan dalam persidangan selama ini, pemerintah
RI
memiliki  "hutang" untuk mengungkap 16 nama yang selama ini dinyatakan
Tibo
Cs sebagai saksi atau dalang kerusuhan Poso. Bila pemerintah tutup mata
dan
tidak  bertanggung jawab mengungkap semua ini, berarti pemerintah RI
berani
mencurahkan   darah   rakyatnya   tanpa   mau   membereskan   masalah
yang
sesungguhnya. Hanya itukah model dan nilai pemerintah Indonesia?.

Buat  Om Fabianus Tibo, Dominggus Da Silva, Marinus Riwu, nats firman
Tuhan
mengatakan bahwa jalan hidup manusia hanya 70 atau 80 tahun saja. Cara
mati
bukanlah  ukurannya,  setelah  kematianlah  yang  menjadi esensinya.
Ketika
Tuhan  sang  pengasih  berdiam  dalam  hati, mengampuni dosa dan
memberikan
janji  hidup  kekal,  percayalah  itu akan menjadi bagian kalian.
Kekekalan
menjadi  bagian  kalian karena sesungguhnya kita hanyalah pendatang di
bumi
ini. Perjuangan kalian tidak akan sia-sia.

--- End of Forwarded Message ---



o)----------------------[ Hapus dan Edit Pesan yang tidak perlu 
]----------------------(o

Haleluya, Glory to the Holly Lamb, Praise Jesus ! Our God is an Awesome God !
PROMOSI Toko Buku RDSB http://tokobuku.rdsb.org
+ Khotbah MP3 Harga Hemat + VCD Peter Youngren, Moris Cerullo, dan masih banyak lagi
o)---------------------------( Milis ini didukung oleh I-KAN 
)--------------------------(o

http://rdsb.org ; http://beritasorgawi.com ; http://ob.or.id ; 
http://revival.or.id
Berhenti dari Milis : [EMAIL PROTECTED] Langganan Milis : [EMAIL PROTECTED]
Administrasi & Teknis : [EMAIL PROTECTED] petunjuk nomail,mail,digest,gantiemail : [EMAIL PROTECTED]
Untuk info lebih lanjut kunjungi web kami di http://revival.or.id

Kirim email ke