Originally from : Simon Mangande <[EMAIL PROTECTED]>
Originally dated: Thu, 31 May 2001 14:56:12 +0700
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~<e-WebAuthor>~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
~~~~~~~~~~~Forum Diskusi WebAuthoring untuk Kristen-Katholik~~~~~~~~~~~
Konon, kadangkala banyak kali manusia mempraktekkan Manajemen "Tikus" Siapa
Berani!
Ilustrasinya begini:
Dalam suatu Rapat Manajemen Tikus, agenda utama ialah bagaimana menghadapi
kucing garong, yg akhir-akhir ini banyak meresahkan para tikus.
Bahkan kucing garong itu telah melakukan pembunuhan "karakter" tikus.
Dalam Rapat itu,
Tikus pertama bilang, harus ada piket tikus bergantian setiap 8 jam. Jika kucing
garong itu
mendekati markas, maka tikus piket itu akan langsung berteriak, "Kucing garong
datang!"
Maka semua tikus akan sembunyi, termasuk segala rampasannya harus disembunyikan.
Entah di Singapura, Singaraja, atau Swiss. Dari Parangtritis sampai Perancis.
(Soalnya, para tikus itu tdk menanam, dan tdk menuai, ttp bisa menumpuk makanan
u/ tujuh turunan di dalam lu-bank-nya).
Tikus ke-2 bilang, jalan yg akan dilewati kucing harus dipasangi perangkap
kucing.
Istilah kerennya, "Gerakan pembasmian kucing garong"
Tikus ke-3 berkata, kita tdk punya kemampuan untuk membuat perangkap kucing
secanggih itu. Lagi pula, kucing garong itu sangat cerdas mendeteksi adanya
perangkap.
Karena itu, kita lebih baik menggantungkan "kring-kringan" di leher kucing.
Seperti yg digantung para petani Jawa di leher sapi-sapi itu.
Sehingga jika kucing garong itu lewat, akan ada bunyi "kring, kring, kring,"
maka semua tikus dan segala rampasannya pun disembunyikanlah.
Bagus, kata pemimpinan rapat tikus itu. Ini baru ide, ini ide baru brillian.
Maka diambillah keputusan, bahwa usul ke-3 yg harus dilakukan, segera!
Tetapi setelah, tiba pada pelaksanaan, lalu mencari tikus yg berani
memasang "kring-kringan" itu, ternyata tdk ada satu tikus pun yg berani,
bahkan mendekati kucing garong itu pun, apa lagi untuk sekedar kencan
dengan kucing garong itu, tidak ada yg berani!
Maka ide kring-kring-kringan itu pun, hanyalah sekedar ide baru brillyan
sangat sulit dilaksanakan dan dicapai.
Banyak kali kita manusia mempraktekkan "manajemen tikus".
Keputusan baru brilyan diambil, tetapi tdk ada yg berani atau
mampu melaksanakannya.
Maka yg terjadi hanyalah saling goyang kursi, menjadi kursi goyang
menjurus hanya goyang-goyang kursi. Tidak ada apa-apa dikerjakan.
Hanya mampu membiarkan masalah itu menyelesaikan problemnya sendiri.
Shalom
Simon Mangande.
I-KAN %%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%% e-WebAuthor
Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN! Mazmur 111:10a / Amsal 9:10a
-----------------------------------------------------------------------
WEB--> http://hub.xc.org/scripts/lyris.pl?enter=i-kan-webauthor
SUBSCRIBE--> To: [EMAIL PROTECTED], Isi/Body: kosong
UNSUBSCRIBE--> To: [EMAIL PROTECTED], Isi/Body: kosong