Dear IA-ITB,
 
 
 
 
Kita nikmati cerita dari Agus Partono, lulusan Poltek Ciwaruga dan kerja di Schlumberger, India.
Kami tambahkan gambar Bombay dan Gate of India.
 
Silahkan kalau ada yang mau menambahkan atau punya network dg India.
 
 
Enjoy,
 
:-)
99Venus Team
 
 
 
----- Original Message -----
From: "Agus Partono"
Sent: Thursday, April 29, 2004 6:30 AM
Subject: Re: cerita India


> Apa yang terpikir oleh Anda ketika mendengar kata India? Film, goyang
> pinggul, nyanyian yang mirip dangdut? Ya, saya juga berpikir begitu.
> Tapi ketika Anda berkunjung ke negerinya, maka itu semua hanyalah
> kulit luarnya saja. Masih banyak yang beluim kita lihat. India adalah
> negeri yang indah, terlepas dari kekumuhan dan kemiskinan yang
> menghinggapi sebasgian besar dari satu milyar lebih penduduknya. Dari
> ujung ke ujung pelosok begeri itu, terbentang wariswan budaya yang
> tinggi, yangs empat menjadi panutan kerajaan di Asia jaman dulu, pun
> negeri kita yang pernah mengalami era Hindu. Kebudayaan itu masih
> terasa hingga sekarang, dalam kehidupan sehari2, meskipun bagi saya
> lebih suka melihat budaya Hindu Bali, tapi ini soal selera saja.
>
> Ketika mendengar dari boss bahwa saya harus meninggalkan Vietnam
> dan
> tempat persinggahan berikutnya adalah India, saya benar2 malas dan
> tidak ada gairah sama sekali utk bekerja di negeri yang penuh debu
> dan pengemis itu. Keyakinan dan gambaran saya ttg negeri India hampir
> terbukti ketika mendarat di Bombay (Mumbai) International Airport.
> Seperti mendarat di Bandara Soekarno Hatta era tahun 80'an. Masih
> banyak prasarana airport yang `ketinggalan jaman. Pun juga penampilan
> aparat dan petugas pendukung lainnya di sana, sama sekali jauh dari
> kesan modern. Saya hampir putus asa, dan berpikir untuk pulang
> kembali
> ke Indonesia saat itu juga.
>
> Namun hati yang baik selalu mengatakan sebaliknya ketika keinginan
> manusia tak mendapatkan sesuatu yang sesuai dgn gambarannya.
> "Cobalah dulu.." Begitu kata hati.
> Maka dengan bersusah payah saya mengumpulkan semangat yang
> sempat
> berserak serak, dan memutuskan utk mencoba mencari penghidupan di
> negeri yang kalo disebut di Indonesia berkonotasi rendah ini.
> Dan, here I am, in India.
>
> Dua minggu pertama di Bombay, kehidupan saya tak lebih dari hotel
> dimana saya menginap dan kantor baru yang masih berantakan karena
> dalam tahap pembangunan dan mobilisasi. Sempat juga saya mencoba
> mencicipi kehidupan malam Bombay, namun rasa kekhawatiran yang
> lebih
> besar yang saya jumpai daripada kesenangan yang saya peroleh, juga
> uang yang terkuras cukup banyak tanpa hasil yang memadai.
> Selanjutnya saya hanya kumpul2 sama teman2 di sekitar
> hotel/apartemen
> saja. Sesekali waktu diselingi dengan main Go Kart di sekitar kompleks
> Hiranandani, daerah Powai, Mumbai utara. Lumayan cukup membuat
> kesenangan, dan mengusir rasa bosan serta kepenatan.
>
> Secara umum Bombay adalah kota terbesar di India dengan populasi 18
> juta jiwa. Sebagai kota pusat perdagangan di India, Bombai terkenal
> dengan segala kemewahan yang tak kalah dengan Paris ataupun London.
> Yang menarik adalah, kemewahan itu sangat berimpit dengan
> kekumuhan
> dan kemiskinan sebagian besar penduduknya. Memang di Jakarta juga
> begitu, tapi tidaklah separah dan sekontras kota Bombay. Gate of India
> yang terkenal itu, letaknya di kota ini. Bangunan ini mengingatkan
> saya akan Arch de Triomphe-nya kota Paris.
>
> Jalan jalan di kota Bombay tidaklah gampang, terutama menyangkut
> transportasinya yang parah. Taksi meter pun banyak yang tidak ber-AC,
> belum lagi bentuk mobilnya yang mirip Fiat th 60-an. Unik, tapi tidak
> menarik spt taksi London. Alternatif lain adalah naik Oto (roda 3),
> inipun juga tidak saya rekomendasikan, mengingat debu kota Bombay
> yang
> sangat pekat. Ingat, Bombay adalah kota nomor satu dalam hal polusi,
> nomor dua Mexico city, dan nomor tiga.... Jakarta. Ada juga kereta,
> tapi kalau Anda tidak betah naik kereta ekonomi Jabotabek, lebih baik
> tinggalkan pilihan ini segera. Yang paling bagus adalah menyewa mobil
> sendiri dengan tarif harian plus sopirnya. Akan lebih aman jika Anda
> ditemani oleh seorang guide yang direkomendasikan oelh teman anda,
> jika ada. Seandainya tidak adapun, banyak tour agency di kota Bombay
> yang menawarkan akan hal itu. Umumnya masih reasonable price.
>
>
> Suatu hari boss baru saya menelepon, "Kamu pergi ke East Coast besok
> pagi ke Chennai". Chennai adalah nama baru dari Madras - Ibukota
> negara bagian Tamil Nadu, di bagian timur selatan anak benua India.
> Maka berangkatlah saya ke China, eh, Chennai. Selama 1.5 jam
> perjalanan, tak banyak yang bisa saya lihat kecuali saat pesawat lepas
> landas sempat melihat bagian2 dari kota metropolitan Bombay. Dan saat
> hampir mendarat di Chennai, kotanya terlihat jauh lebih bersih dan
> lebih hijau dibandingkan dengan Bombay. Lebih kecil memang, tapi rapi
> dan bersih. Hampir tidak ada saya jumpai kekumuhan di dalam kotanya,
> seperti yang biasa saya lihat di Bombay.
>
> Di Chennai berhenti selama 5 jam, beristirahat di sebuah staff house,
> utk kemudian berangkat lagi jam 17:45 menuju ke Rajahmundry di
> bagian
> timur-utara kota Chennai menggunakan kereta api yang ditempuh
> selama
> 13 jam,. Seperti yang saya duga, stasiun kereta dan keretanya sendiri
> mirip2 di dalam film India, kuno dan pelan, serta bertumpuk2nya
> manusia. Tapi yang membanggakan adalah, Anda bisa tidur pulas
> selama
> dalam perjalanan, karena desain tempat duduknya yang memungkinkan
> utk
> diubah menjadi tempat tidur. Anda bisa berselonjor 180 derajat tanpa
> menekuk badan seperti kalau kita menggunakan kereta ber-reclyning
> seat
> di Jawa. Anda benar2 dimanja dengan fasilitas seperti ini, alangkah
> bagusnya seandainya diterapkan oleh PT KA kita. Oya, fasilitas itu
> hanya akan anda dapatkan jika membayar di First Class, hehehe.
> Selama perjalanan, pemandangannya indah, hijau, mirip dengan
> pemandangan naik kereta Bima, Jakarta - Surabaya.
>
> Tiba di Rajahmundry. Sebuah stasiun kereta kecil seperti di
> Purwakarta. Dijemput oleh sopir yang tampangnya garang, seperti
> penjahat di film India, namun baik hati dan murah senyum saat berada
> di mobil. Seperti sopir lainnya di India, dia hobby sekali memencet
> klakson. Seolah-olah, hanya itu satu-satunya komunikasi berlalu lintas
> di negeri India.
> Makanya saya sarankan, jika Anda naik mobil/taksi di India, persiapkan
> juga tutup telinga (ear plug), akan sangat membantu kenyamanan
> perjalanan anda.
>
> Setelah melalui jalan2 desa dan diselingi dengan lenguhan kerbau serta
> kegiatan pagi khas alam pedesaan (duuhh jadi kangen masa kecil di
> dusun Gempol dulu.), tibalah kami di Heliport. Sekali lagi, jauh dari
> modern. Satu2nya petunjuk modern di ruangan tunggu tempat saya
> duduk
> adalah adanya sebuah radio dan alat sensor X-ray.
> Menunggu adalah pekerjaan yang menjengkelkan, tapi itulah yang saya
> lakukan di ruangan itu, menunggu sang pilot helicopter dan penumpang
> lainnya datang. Saya rupanya datang terlalu pagi di Heli base itu.
> Tidak lama juga, Cuma 2 jam saja. Setelahnya kita sudah berada di atas
> awan lagi bersama Bell 212 menuju `sawah ladang' saya yang berada di
> tengah lautan lepas.
>
> Salam,
> Agus


***

Referensikan alumni ITB lainnya untuk bergabung...
minta mereka kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Members: 1,465                   Last Updated: 1 May 2004
------------------------------------------------------------
                   ***** IA-ITB *****
            - Merajut komunitas alumni ITB -
  Persahabatan, Kesejahteraan, Bisnis, Iptek, Desain, Seni
         http://www.yahoogroups.com/group/IA-ITB

     Managed by: IA-ITB, ITB & 99Venus International
------------------------------------------------------------




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke