Wah....
Harga nilam di tingkat trader (eskportir) lagi naik ya smp 200rb/kg. 
Padahal sekitar 6 bulan lalu masih 150an ribu utk Nilam Jawa, 170an 
utk nilam Aceh. Tahun 1998 pernah sampai 1,2 juta lho :) Lalu pernah 
turun lagi hanya 60 ribu :( Fluktuasi harga minyak nilam memang gila-
gilaan, karena bertanam nilam itu cepat. 6 bulan bisa langsung 
panen, selanjutnya dapat dipanen setiap 4 bulan selama masa 
produktif (sekitar 4 th). Petani gampang ikut2an menanam hingga 
akhirnya terjadi over supply (harga DOWN!!). Beda dengan minyak pala 
yg harganya relatif konstan (kisarannya sekitar 270 rb - 320 rb). 
Karena bertani pala itu lama panennya, 7-8 th baru pertama bisa 
dipanen. Itupun kuantitas buah per pohon masih kecil. Masa 
produktifnya memang bisa mencapai 60-70 th. Jadi petani pala 
sifatnya turun temurun (dari keluarga dan wilayah itu-itu juga). 
Bukan petani dadakan seperti nilam atau sereh wangi. 

Tapi apa benar ya Mas Sulis kalau trader jual ke agent (broker int) 
harganya sampai 500rb, karena FOB-nya (Maret 2004) masih sekitar 25 -
 27,5 US$/kg (setidaknya itulah yg saya lihat di Market Newsletter : 
Flavor and fragrance Ingredient).
Sejauh pengetahuan dan pengalaman saya, eksportir itu mengambil 
margin sekitar 20-30% dari harga international utk crude essential 
oil. 
Rantai perdagangan nilam (dan atsiri lain pd umumnya) sangat panjang.
Dari penyuling kecil --> tengkulak kecil --> tengkulak besar --> 
eksportir --> (skala global) agent/broker int --> purifier --> end 
user.

Mas Sulis, saya belum memulai bisnis minyak atsiri. Memang selama 
hampir 1,5 tahun saya mempelajari seluk beluk minyak atsiri dari 
proses, bahan baku, sampai pemasaran. JUga melakukan studi kelayakan 
untuk penyulingan minyak pala di Bogor. Kita sempat membuat pilot 
plant-nya dan sempat menjual minyak pala hasil sulingan kami ke 
beberapa tengkulak (kalau menjual ke eksportir harus di atas
200 kg sekali kirim). 

Khusus minyak nilam, ada beberapa permasalahan yg dapat saya amati. 
Yang paling mendominasi tentu saja masalah teknologi proses dan
informasi pasar yang kurang.
- Sudah jelas, nilam rakyat dihargai sangat murah oleh tengkulak 
karena kualitasnya sangat buruk (warnanya coklat kehitaman, PA-nya 
tidak sampai 30%). Ini disebabkan oleh sebagian besar penyuling kecil
menggunakan ketel suling dari bahan besi biasa, sehingga minyak 
terkontiminasi Fe hingga warnanya gelap. Bahkan beberapa di 
antaranya (seperti di Bengkulu dan SumBar), mereka hanya menggunakan 
drum bekas aspal atau minyak sayur baik sebagai boiler atau ketel 
sulingnya. Ada metode pemurnian untuk minyak-minyak berkualitas 
jelek ini (tentu tanpa proses vaccum fractionation yg mahal). 
- Ketidaktahuan penyuling itu sendiri terhadap informasi pasar 
hingga harga bisa ditekan seenak perutnya tengkulak.
- Kebiasaan buruk beberapa penyuling yg sering mencampur2kan minyak 
nilam dengan bahan-bahan lain yg hanya bisa teridentifikasi
oleh gas chromatography. Bahkan saya pernah mendengar cerita 
menggelikan, ada penyuling Nilam di Aceh yang memasukkan potongan2
angsa ke dalam ketel suling (bercampur daun nilam). Alasannya agar 
minyaknya lebih banyak karena lemak angsa dapat
terbawa dan bercampur dengan minyak nilam ...:)

Dari sisi optimasi proses, ada beberapa faktor yang harus 
diperhatikan seperti :
- jenis nilam (nilam Aceh rendemen dan PA-nya lebih baik dr nilam 
Jawa).
- permainan tekanan operasi.
- Kepadatan bahan di dalam ketel.
- kombinasi pengeringan dan pelayuan bahan sebelum disuling.
- umur panen.
- efisiensi energi.
Ampas penyulingan daun nilam selama ini masih dimanfaatkan untuk 
sumber energi. Perlu dijajaki kemungkinan pemanfaatan ampas ini 
sebagai aromatherapy atau campuran2 produk tertentu (misalnya obat 
nyamuk bakar).
 
Kalau kita berfikir secara global, apa yang dikatakan Mas Sulis 
benar adanya. Sejak zaman penjajahan Bangsa kita didaulat sebagai 
penghasil nilam terbesar di dunia (selain nilam, ada minyak pala dan 
akar wangi yg mendominasi pasar). 80% nilam yg beredar di dunia 
berasal dari Indonesia. Nilam Aceh (Pogostemon Cablin BENTH) adalah 
primadonanya. Tapi sampai saat ini belum ada industri pemurnian 
minyak nilam di Indonesia. Saya tidak tahu apakah pabrik pewangi di 
Ind seperti IFF (International Flovour and Fragrance) atau PT 
Indesso Aroma memiliki unit ini. Kabar yg saya dengar, beberapa
eksportir memiliki alat purifier minyak atsiri (skala kecil). Namun 
hanya digunakan untuk memperbaiki kualitas minyak kemudian iblending 
dengan minyak2 jelek agar bisa dijual dengan harga standar, engingat 
minyak jelek ini jumlahnya cukup melimpah. Informasi pemasaran 
minyak atsiri ini memang sangat tertutup. 

Maaf kepanjangan :)
Salam,
-ferry-


   --- In [EMAIL PROTECTED], "Achmad N Hidayat" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Rekan-rekan,
> 
> Melanjutkan kisah tentang Nilam.
> Barangkali gambaran berikut cukup menarik untuk diketahui:
> - Harga per liter nilam oil (Patchouli oil) dengan spesifikasi 
kisaran nilam oil content adalah 30 sd 35 %, dijual dengan harga 
sekitar 200 ribu/liter kepada para trader.
> - Spesifikasi yg sangat diminati adalah dengan purity nilam oil 
pada kisaran 40 sd 45%, makin bagus purity makin mahal harganya, dan 
makin susah pula menjualnya.
> - Para trader ada yang langsung menjual kepada USA/European buyer 
(bulk quantity) dg purity dari Indonesia (30 sd 35%) dengan kisaran 
harga min. Rp. 500 ribu/liter 
> - Para Bulk buyer di USA/Eropa menjual kepada Essential Oil House, 
peramu aromaterapi, dengan kisaran harga min. Rp. 700 ribu/liter
> - Para Essential oil house/peramu aromaterapi, memurnikan dg mini 
destiller dan menghasilkan purity kisaran 40 sd 45%, menjual kepada 
konsumen dg harga USD 5.42/10 ml (dan yang ini tidak bisa dijadikan 
harga per-liter, karena konversi-nya beda).
> 
> So, berapa margin yg hilang...what's we do next?
> Barangkali kita bisa berbagi strategi disini, dengan berbagai pros 
and cons dari tiap langkahnya...
> Memang tidak mudah, tapi kalau tidak dicoba bagaimana mana bisa 
berhasil...iya ndak.
> 
> Salam,
> Sulis
> 
> 
> 
>   ----- Original Message ----- 
>   From: Jansen H Sinamo 
>   To: [EMAIL PROTECTED] 
>   Sent: Wednesday, June 02, 2004 12:00 PM
>   Subject: Re: [IA-ITB] Masalah Minyak Nilam untuk Essential Oil
> 
> 
>   Kawan-2 Pencinta Nilam,
> 
>   Penghasil utama nilam di Indonesia adalah Aceh, utamanya Aceh 
Singkil, P.
>   Simeulue, Aceh Selatan, Aceh Barat, dan sedikit di Kabupaten 
Pakpak Bharat
>   di Sumut. Jika ada yang minat nanti saya bisa bantu cari 
hubungan ke
>   sumbernya. Soal kualitas saya belum faham.
> 
>   Salam,
>   Jansen H Sinamo



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/wf.olB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***

Referensikan alumni ITB lainnya untuk bergabung, 
minta mereka kirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED]

Members: 1,508                   Last Updated: Jun 1, 2004
------------------------------------------------------------
                   ***** IA-ITB *****
            - Merajut komunitas alumni ITB -
  Persahabatan, Kesejahteraan, Bisnis, Iptek, Desain, Seni
         http://www.yahoogroups.com/group/IA-ITB

     Managed by: IA-ITB, ITB & 99Venus International
------------------------------------------------------------ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke