> >DEPARTEMEN PERHUBUNGAN >BADAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA >JL. ANGKASA I NO. 2, KEMAYORAN, JAKARTA (10720) >TEL. 4209103, 4246321(ext 195) FAX . 6546316 >http://www.bmg.go.id ; http://aeic.bmg.go.id > >BERITA GEMPA BUMI >No: 54/NSC/VII/2000 >Sifat : Pendahuluan > >1. Telah terjadi GEMPA BUMI TEKTONIK, > > Pada hari : Rabu, 12 Juli 2000 > Waktu Gempa : 08 10 36.0 WIB > Pusat Gempa : 6.9 LS - 106.9 BT > Kedalaman : Normal > Kekuatan : 5.1 SR > Keterangan : Daerah Sukabumi, lebih kurang 100 km Selatan Jakarta. > > Dirasakan di : > >? Jakarta : II - III MMI >? Bandung : II - III MMI >? Bogor : II - III MMI >? Sukabumi : III-IV MMI > > >2. Demikian berita gempabumi yang dapat kami sampaikan untuk dipergunakan >sebagaimana mestinya. > > >Jakarta, 12 Juli 2000 > >BADAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA >Ka. Humas > > > >Drs. Waan Tarmin > > > >============= >-Chandra- >Sekretariat IAGI >Gedung Geologi dan Sumber daya Mineral Lt.4 >Jl. Prof.DR. Supomo SH No. 10 Telp/Fax : (021) 83702848 > >-----Original Message----- >From: Noor Syarifuddin <[EMAIL PROTECTED]> >To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> >Date: Wednesday, July 12, 2000 10:34 AM >Subject: RE: IAGInet: Gempa LAGI > > >>Kalau melihat safety procedures di kantor saya (Kuningan Plaza), justru >pada >>saat gempa kita tidak perlu lari-lari dan panik keluar gedung. Yang harus >>dilakukan adalah menjauhi jendela atau kaca (supaya kalau pecah tidak kena) >>serta kalau perlu berlindung di bawah meja kerja.... Banyak kejadian justru >>karena panik, maka timbul korban (contohnya ya jatuh di tangga atauketabrak >>temannya dll.dll). >> >>Saya kadang-kadang 'malu' juga sama rekan-rekan expatriate yang negaranya >>tidak masuk rawan gempa. Mereka tenang-tenang saja dan mengikuti safety >>procedures tsb, sementara kita-kita yang nota-bene-nya "sleepng with >>earthquake" selalu panik kalau ada kejadian gempa. Kali memang "nerve" kita >>gak sekuat mereka ya......he...he... >> >>Mungkin ini PR juga buat IAGI tentang membuat kita-kita atau masyarakat >bisa >>memahami dan hidup bersama kondisi geologi kita. >> >>salam, >> >> Noor Syarifuddin >> VICO Indonesia >>> * [EMAIL PROTECTED] >>> * +62-21-523-6290 >>> Fax +62-21-523-6044 >>> >Reza Sasanto wrote: >Dear all, > > Saya ingin sedikit membahas gempa, bangunan tinggi > dan perilaku masyarakat. > > Sangat menarik jika mengamati perilaku masyarakat pada saat > gempa bumi terjadi di Jakarta. > > Masyarakat yg bekerja dan tinggal di bangunan > tinggi berlomba-lomba turun ke lantai dasar dan berusaha > sesegera mungkin keluar dari gedung/apartemen. > > Pertanyaannya, apakah perilaku demikian tepat? > > Saya yakin hampir semua arsitek, building constructor, dll > tidak ada yg pernah memberi pengetahuan praktis kepada > clientnya atas perilaku darurat yg harus dilakukan pada > saat terjadi bencana semacam gempa bumi. > > Perilaku terstruktur yg sudah menjadi bagian dari budaya > bisa dilihat pada masyarakat Jepang. Pada saat gempa bumi > terjadi beberapa bulan yg lalu (pd saat jam kantor), hampir > seluruh pekerja kantor lokal di sepanjang bangunan Sudirman > Thamrin turun dan keluar bangunan dan tidak berani masuk ke > gedung untuk beberapa saat. > > Apa yg dilakukan oleh expatriat Jepang? > > Pada saat gempa, mereka dengan cepat lari ke bawah meja. > Tidak ada satupun yg lari keluar bangunan. Kalau persoalan > takut mati dan sebagainya saya pikir sama saja dengan orang > Indonesia. Tapi perilaku terhadap gempa bumi sangat berbeda. > > Karena sering diguncang gempa bumi, di Jepang, sejak kecil > (dari sekolah dasar), masyarakat sudah dididik untuk > melakukan perilaku yg 'paling aman'. Dan 'drill' di kelas > misalnya, dilakukan secara terus menerus secara rutin. > > Berebut keluar bangunan dan berada di luar bangunan ternyata > mempunyai resiko yg paling tinggi dibanding berada di dalam > ruangan (bagaimana di Indonesia, kelihatannya belum ada > penelitian). > > Berebutan keluar; mempunyai resiko terinjak-injak dan > membuat ketidakstabilan bangunan bertambah. Keluar >bangunan > mempunyai resiko terkena jatuhan kaca/material bangunan lain > yg lepas, maupun robohan bangunan itu sendiri. > > Berada di dalam bangunan pun sebenarnya tidak aman. >Kejatuhan > lemari, plafon yg lepas, maupun tertimpa elemen struktur >lainnya. > > Kita bisa belajar dari 'safety procedure' perilaku orang > Jepang pada saat terjadinya gempa bumi : > > Jika berada di dalam bangunan: tetap berada di dalam > bangunan, masuk ke kolong meja (bukan meja gambar atau >meja > kaca). Kalau tidak ada meja, lari ke bawah kusen pintu. Di > bawah meja, jika meja bergerak, pegang kaki meja. > > Jika berada di luar bangunan: berusaha mencari lapangan atau > menjauhi bangunan. > > Saya tidak tahu apakah 'safety procedure' orang Jepang cocok > diterapkan di Indonesia (bila rekan-rekan ada > yg lebih tahu, mohon dishare disini). Saya pikir ini bukan > sekedar persoalan 'sudah takdir' atau lainnya, tapi kesiapan atas > bencana/keadaan darurat demi keselematan dan keamanan > bersama. > > Tampaknya pendidikan popular (yg mudah dimengerti) oleh > masyarakat mengenai keamanan bangunan dan perilaku yg >sesuai > dengan segala situasi darurat perlu segera dirumuskan dan > di-didik-kan ke publik oleh para profesional yg bekerja di > bidang perancangan dan konstruksi maupun masyarakat lain > pendidik dan profesional lainnya. > > Demikian juga pada level perusahaan. Walaupun sudah banyak > perusahaan yg memiliki 'standard procedure' untuk 'emergency > plan', masih banyak juga yg belum punya dan tidak peduli. > > Tidak ada salahnya kita mulai mempopulerkan tindakan darurat > yg benar mulai dari lingkungan terdekat (keluarga, rekan > kerja, dst) karena bencana alam tak pernah bisa diduga. > >salam, >Reza Sasanto > >Mailing List BDG <[EMAIL PROTECTED]> >
