Berikut ini saya postingkan feature IPTEK Kompas Minggu 8 September 2002 halaman 22 yang memuat tentang Riset Laut Dalam BPPT-IAGI-HAGI.
adb Penjelajahan ke Palung Jawa Mencari Satwa Langka hingga Tambang Emas Indonesia yang memiliki ribuan pulau dan dua pertiga wilayahnya berupa lautan, hampir seluruh wilayahnya dibatasi laut. Perairan di kawasan timur dan selatan negeri Nusantara ini bahkan tergolong laut dalam, yaitu 200 meter lebih dari permukaan laut. Laut yang terdalam diketahui berada di Laut Banda. Selain di perairan Maluku itu, di selatan Pulau Jawa yaitu di Samudera Hindia juga ditemukan jurang di dasar laut disebut Palung Jawa yang kedalamannya mencapai 7.727 meter. Jurang di dasar laut ini memang merupakan satu dari 22 palung di Bumi yang tersebar di Samudera Pasifik, Atlantik, Lautan Antartika, Lautan Artik, dan Lautan Hindia. Di antaranya yang terdalam adalah Palung Mariana dengan kedalaman 11.022 meter dari permukaan laut. Kedalamannya itu lebih tinggi dari puncak Gunung Everest yang tertinggi di dunia. Seperti juga palung-palung lainnya, Palung Jawa terbentuk akibat pertemuan lempeng benua, yaitu lempeng Australia dan Euroasia. Adanya dinamika geologis ini menyebabkan daerah di sekitarnya kaya bahan tambang. Penelitian menyebutkan, jebakan hidrokarbon berada di Samudera Hindia, bahkan diduga 40 persen produksi minyak lepas pantai di dunia berada di kawasan ini, seperti uraian Deputi bidang Teknologi Pengembangan Sumber daya Alam BPPT, Bambang Setiadi. Hal ini yang membuat Palung Jawa bukan sekadar bernilai strategis untuk tujuan ilmiah, namun untuk eksplorasi potensi sumber daya alam yang mempunyai nilai ekonomis. Penelitian geologi Penelitian kelautan di Samudera Hindia telah banyak dilakukan selama ini, di antaranya yang melibatkan kapal riset dan peneliti Jepang. Ekspedisi dengan kapal riset Jepang Yokosuka pada Januari hingga Februari 2001 di antaranya menghasilkan temuan yang tergolong besar, yaitu terusan dari patahan geser Sumatera yang berlanjut ke selatan melalui Selat Sunda. Ujung patahan ini berada pada jarak sekitar 200 km sebelah selatan Kota Pelabuhan Ratu. Dari penelitian ini dapat diketahui mekanisme aktivitas tektonik dan kaitannya dengan bahaya gempa dan tsunami yang diakibatkan oleh aktivitas patahan ini. Penemuan penting lainnya di Samudera Hindia adalah adanya sumber gas metan. Di daerah basin perairan selatan Jawa Barat ditemukan rembesan gas metan yang muncul ke permukaan dasar laut melalui patahan. Hal ini ditandai dengan kehadiran jenis kerang yang hanya mengonsumsi metan. Tahun ini penelitian geologi dan geofisika kelautan lanjutan akan dilakukan Indonesia, dalam hal ini Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia), HAGI (Himpunan Ahli Geofisika Indonesia) bekerja sama dengan Jepang yaitu Japan Marine Science and Technology Center (Jamstec). Kerja sama penelitian kelautan antara kedua negara kali ini memasuki babakan yang penting. Dalam ekspedisi selama 28 hari sejak 6 Oktober mendatang yang diberi nama Indonesia-Japan Deep Sea Expedition "Java Trench" 2002 ini, akan digunakan kapal selam Shinkai yang dapat menyelam hingga kedalaman 6.500 meter dari permukaan laut. Ekspedisi laut dalam dengan kapal selam Shinkai 6500 di Palung Jawa merupakan penelitian pertama di Indonesia yang dilakukan hingga ke dasar laut, yaitu sampai kedalaman 4.500 meter dari permukaan laut. Penyelaman dengan kapal selam mini ini akan dilaksanakan di sekitar Palung Jawa yang terletak di perairan selatan Lampung, Selat Sunda, dan selatan Jawa Barat. Kapal selam riset berawak dalam ekspedisi itu akan diangkut Kapal Riset Yokosuka sebagai kapal induk untuk ekspedisi itu. Shinkai 6500 merupakan generasi kedua kapal selam riset Jepang yang dapat diawaki oleh satu peneliti dan dua operator untuk setiap penyelaman. Shinkai saat ini merupakan satu-satunya kapal selam di dunia yang mampu menyelam pada kedalaman 6.500 meter. Tujuan dari ekspedisi dasar laut di Palung Jawa itu adalah untuk meningkatkan pemahaman terhadap fenomena di Palung Jawa secara umum. Ekspedisi kali ini merupakan kelanjutan dari ekspedisi sebelumnya yang telah mengidentifikasikan adanya potensi minyak dan gas bumi. Ekspedisi laut dalam juga dimaksudkan untuk mempelajari proses geodinamika bagian barat dan implikasi terhadap sejarah pembentukan cekungan dan mineralisasi yang terjadi, dan mengamati kehidupan laut dalam. Kawasan laut dalam merupakan salah satu tempat di permukaan Bumi yang masih sedikit diketahui tentang gejala fenomena yang ada di dalamnya. Di Indonesia sendiri, hingga kini belum pernah ada penelitian laut dalam, ujar Ridwan Djamaluddin, Direktur TISDA (Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam). Padahal, laut dalam diketahui merupakan kawasan kaya akan sumber daya alam dan sumber daya energi. Pada masa yang akan datang laut dalam akan memiliki manfaat sangat strategis untuk memenuhi kebutuhan sumber tersebut sehubungan dengan semakin menipisnya cadangan sumber daya alam dan energi di daratan dan laut dangkal. Menurut Menristek Hatta Radjasa, ekspedisi ini penting untuk membantu memahami fenomena geologi laut dalam di perairan bagian barat Indonesia, khususnya di wilayah laut selatan Jawa Barat yang merupakan bagian dari Palung Jawa. Dalam ilmu geologi, daerah ini dikenal aktif dan merupakan salah satu bagian laut terdalam di Indonesia. Informasi ini sangat bermanfaat dalam mengembangkan iptek dan peningkatan daya guna sumber daya alam, baik sumber daya geologi yang berupa mineral dan migas maupun sumber daya hayati. Selain itu, keuntungan yang akan didapatkan dari pengamatan terhadap fenomena-fenomena di laut dalam antara lain dapat mengetahui sejarah kerak bumi. Ekspedisi Palung Jawa Ekspedisi Palung Jawa akan melibatkan 15 ilmuwan, yaitu 9 peneliti dari Indonesia, 4 dari Jepang, dan 2 dari Jerman. Tim Indonesia terdiri dari Tim Inti dan Tim Pendukung. Tim Inti terdiri dari empat peneliti yang akan turut dalam penyelaman (Oceanot). Mereka itu adalah Yusuf Surachman, Agus Guntoro, Hananto Kurnio, dan Mufti P Patria. Yusuf Surachman Dj (44), peneliti di Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Inventarisasi Sumberdaya Alam BPPT ini, mendalami bidang geofisika di ITB (S1) dan Geologi Kelautan di Institut Riset Kelautan Universitas Tokyo (S2) Jepang. Agus Guntoro (40) dari Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Trisakti, menamatkan S1 di FT Mineral Usakti dan melanjutkan program doktor ilmu geologi di University of London. Hananto Kurnio (44) dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral. Pendidikan sarjana S1 ia tempuh di Jurusan Geologi FT Unpad dan masternya bidang geologi lingkungan di University Wollongong, New South Wales, Australia, tahun 1993. Mufti P Patria (40) dosen di Jurusan Biologi FMIPA UI. Menempuh pendidikan S1 di jurusan yang sama. Sedangkan masternya diraih dari Departement of Marine Science and Coastal Management University Newcastle Inggris dan doktor dari Zoologiesches Institute Universitas Hamburg Jerman. Tim Pendukung adalah Dr Ir Ridwan Djamaluddin MSc, Direktur Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT, Ir Andri Slamet Subandrio Mubandi Dipl Geol dari Departemen Geologi Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral ITB; Ir Ichwan Makmur Nasution MSc dari Pusat Riset Wilayah Laut & Sumber Daya Nonhayati, BRKP-DKP; Ir Adriansyah PhD dari Divisi Hulu, Geofisika Jasa Teknologi Pertamina; Dr Chaidir dari Pusat D2 TFM Deputi Bidang TAB-BPPT. Ekspedisi di atas merupakan kelanjutan dari dua ekspedisi kelautan terdahulu, yaitu kerja sama BPPT dengan Jerman (Bundesanstalt fur Geowiesenschaften und Rohstoffe, BGR) pada tahun 1999 dan dengan Jamstec pada tahun 2001. Selain ditemukannya gas hidrat dan terusan patahan sesar Sumatera dari dua ekspedisi itu, jelas Yusuf Surachman, ditemukan beberapa hipotesa-hipotesa baru yang berkaitan dengan fenomena tektonik serta implikasinya terhadap kandungan sumber daya alam kelautan. Tujuan dari ekspedisi ini adalah untuk menguji hipotesa tersebut di atas dengan melihat secara langsung kenampakan obyek, dengan menggunakan wahana kapal selam penelitian Shinkai 6500. Untuk menguji hipotesa tersebut, panitia ekspedisi telah menerima 13 proposal penelitian yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu kelautan seperti dinamika kebumian, sumber daya alam, dan biogeologi. (yun)

