RANGKUMAN

SIMPOSIUM KAJIAN

SANDI STRATIGRAFI INDONESIA 1996

Jogjakarta, 28-29 Agustus 2002

Penyelenggara:

Teknik Geologi  UPNVY

Pengda IAGI DIY-JATENG

PP IAGI





2002



DAFTAR ISI



A.   Hasil Rangkuman Presentasi Pemakalah

B.   Diskusi Lapangan

C.   Rekomendasi







A. HASIL RANGKUMAN PRESENTASI PEMAKALAH



1. PERKEMBANGAN KLASIFIKASI STRATIGRAFI

(R.P.Koesoemadinata)



International Stratigraphic Guides, 1994 dan International Subcommission for
Stratigraphic Classification
1.      Perkembangan klasifikasi stratigrafi dalam dunia internasional
memperlihatkan kecenderungan untuk memisahkan kategori klasifikasi
deskriptif dan interpretatif. Stratigrafi didasarkan pada fakta yang
terlihat di lapangan dan tidak secara interpretatif.

2.      Penamaan satuan yang bersifat interpretatif sebaiknya dihindari,
satuan tersebut dinyatakan sebagai satuan tidak resmi (contoh: Seismik
Stratigrafi, Sikuen Stratigrafi).

3.      Kategori deskriptif dibatasi pada kriteria litologi dan kandungan
fosilnya,  sedangkan kriteria sifat-sifat fisik, kimia cenderung hanya
dibatasi pada sifat yang dapat menentukan waktu atau umur, seperti
paleomagnetic polarity. Satuan berdasarkan karakteristik log, penampang
seismik tidak dapat dinyatakan sebagai satuan resmi, walaupun diakui
keberadaannya.

4.      Kategori yang bersifat interpretatif : penafsirannya dibatasi pada
hal-hal yang menyangkut waktu/ umur. Kategori satuan stratigrafi yang
bersifat interpretatif seperti lithogenetic units, satuan lingkungan
pengendapan, cyclothems tidak dapat diterima sebagai satuan stratigrafi
resmi.

5.      Keberadaan satuan tidak resmi dapat diakui walaupun sangat tidak
dianjurkan.



Permasalahan stratigrafi nasional sekarang

1.      Pada kebanyakan makalah dalam publikasi IPA, IAGI menggunakan nama
tidak resmi, karena penulis umumnya tidak sanggup mengajukannya secara
resmi, karena peraturannya sangat banyak. Hal tersebut mendorong semakin
banyaknya satuan tidak resmi terutama dalam kalangan industri.

2.      Tidak konsisten dalam penamaan formasi. Dalam satu cekungan dinamai
2 atau 3 nama satuan resmi oleh peneliti yang berbeda.

3.      Pada cekungan yang berbeda (yang lain), masih ada pemeta yang
menggunakan nama formasi yang sama dengan cekungan di tempat lain.

4.      Penyusunan satuan stratigrafi gunungapi dalam SSI, didasarkan pada
genesa bukan secara diskriptif. Pembagian secara genesa tersebut
mengakibatkan hanya berlaku untuk gunungapi Kuarter yang masih terlihat
bentuk-bentuknya.

5.      Konsep stratigrafi tradisional masih lebih banyak digunakan,
walaupun secara eksplisit. Sikuenstratigrafi sudah tercantum dalam SSI 1996.

6.      Sandi Stratigrafi Indonesia 1996 mengandung pembagian satuan yang
bersifat diskriptif dan genetik. Hal ini berarti tidak mengidahkan anjuran
dari International Stratigraphic Guides, 1994.



Saran

1.      Kita seyogyanya mengikuti Guide stratigrafi Internasional Contoh:
Litostratigrafi, Litodemik, Magnetostratigrafi, Biostratigrafi,
Pedostratigrafi dan Allostratigrafi.

2.      Kategori satuan stratigrafi hasil pengamatan secara tegas harus
dipisahkan dengan kategori satuan stratigrafi hasil penafsiran.

3.      Namun demikian karena tuntutan berbagai kepentingan, tidak mudah
mengabaikannya. Pada kenyataannya banyak lembaga, perorangan yang
memanfaatkan kategori satuan stratigrafi secara interpretasi.







SANDI STRATIGRAFI INDONESIA 1996

(Soejono Martodjojo)



Pencantuman Satuan Stratigrafi Gunungapi (BAB 111), merupakan wujud
keprihatinan terhadap tidak adanya wadah penamaan yang dapat dipakai untuk
gunungapi di Indonesia.  Di negara maju, sistem penamaan dalam pemetaan
gunungapi sudah mampu memberikan sumbangan terhadap peramalan kegiatan dan
bahayanya.



v     Ada keinginan dibuat unit-unit stratigrafi lainnya dalam SSI-1996,
seperti Tektonostratigrafi, Stratigrafi Kuarter, dan lain-lain sayangnya
draft dari para pengusul atas satuan tersebut tidak terselesaikan dalam
batas waktunya.

v     Mendukung dibuatnya Lexicon Stratigrafi di Indonesia bagi
masing-masing satuan stratigrafi.  Dengan catatan bahwa Lexicon ini lebih
bersifat literatur resmi, tetapi masih terbuka bagi perubahan sesuai dengan
perkembangan ilmu dan akumulasi data yang ada.

v     Panitia Sandi Stratigrafi Indonesia perlu dilestarikan dan diluaskan
sehingga mencakup organisasi lain yang bersangkutan dengan stratigrafi di
Indonesia.

v     Tujuan penggolongan Stratigrafi perlu menjadi bahan pertimbangan.





SANDI STRATIGRAFI INDONESIA 1996:

Suatu Catatan Perkembangan Sandi Stratigrafi Indonesia

(Djuhaeni)



v     SSI-1996,  merupakan hasil penambahan tiga satuan stratigrafi baru ke
dalam Sandi Stratigrafi Indonesia 1973.  Tiga satuan stratigrafi baru:
Satuan Litodemik, Satuan Stratigrafi Gunungapi, dan Sikuenstratigrafi, atau
perbandingannya :

1.      SSI 1973 : memuat Litostratigrafi, Biostratigrafi, Kronostratigrafi

2.      SSI 1996 : Litostratigrafi, Biostratigrafi, Kronostratigrafi,
Litodemik, Gunung api, Sikuen Stratigrafi.



Satuan Litodemik, untuk pembagian unit batuan beku dan metamorf.  Satuan
Litodemik dibedakan dengan Satuan Litostratigrafi karena mempunyai kaidah
yang berbeda dengan Hukum Superposisi, terutama hubungan kontak dan
pelamparannya.



v     Dihimbau bagi pengguna-akademisi-pakar mineral untuk  berperan aktif,
mengkaji ulang, mengembangkan dalam memperbaiki satuan litodemik yang
disesuaikan dengan                perkembangan, baik secara konsep maupun
aplikasinya di Indonesia.

v     Satuan Stratigrafi Gunungapi, masih perlu dikembangkan, dan
disesuaikan dengan perkembangan penerapannya di Indonesia.



Satuan Sikuenstratigrafi :

v     Satuan Sikuenstratigrafi perlu disempumakan, misalnya untuk keperluan
korelasi di Ladang Migas; order parasikuen perlu dikembangkan lebih lanjut.,
sesuai perkembangan konsep dan penerapannya di Indonesia.



Sosialisasi SSI-1996

v     Wacana tentang usulan Satuan Tektonostratigrafi dan Satuan Stratigrafi
Kuarter untuk dimasukkan ke dalam SSI-1996, sampai saat belum terwujud.

v     Sosialisasi SSI-1996 setelah PIT-IAGI 1996 di Bandung, kurang mendapat
perhatian.



Perkembangan Penelitian Stratigrafi di Indonesia : 3 Era

1.      Era Pra-SSI..  Satuan stratigrafi lebih didasarkan kepada kerangka
waktu, dan penamaannya diikuti oleh kata "series" atau "beds", sebagai
contoh Halang Series, Cidadap Beds.

2.      Era SSI-1973. Ada perubahan nama, contoh "Halang Series/Beds"
menjadi Formasi Halang.

3.      Era SSI-1996. Perkembangan satuan stratigrafi sangat mencolok,
munculnya Satuan "Sikuenstratigrafi" dan Satuan "Tektonostratigrafi".



Adanya kemajuan penelitian geologi dan perkembangan tatanama satuan
stratigrafi menimbulkan dampak kerancuan penyebutan nama satuan stratigrafi
dan pelamparannya :

v     Formasi Kujung menjadi "Kujung Time" (Kujung 1, Kujung 11, dan Kujung
111), tetapi tidak jelas  pemerian waktunya.  Akan membingungkan lagi
apabila yang akan datang, ada penyebutan Sikuen Kujung.

v     Distribusi/pelamparan Satuan Stratigrafi perlu dijelaskan lebih
lanjut, tidak terbatas "dapat dipetakan dalam skala 1 : 25.000" saja,
sehingga timbul problem "terlalu banyak nama-nama satuan litostratigrafi".
Di sisi lain justru menimbulkan pertanyaan: "sejauh mana validitas
pelamparan suatu formasi itu", sebagai contoh Formasi Talangakar dikenal
dari Sumatra Selatan sampai Jawa  Barat bagian Utara (NW Java Basin).

v     Munculnya penamaan satuan stratigrafi (Unit Allostratigrafi) yang
mengacu kepada "Sandi Stratigrafi Asing" yang pernah muncul dalam Procceding
PIT-IAGI sangat tidak diharapkan untuk dikembangkan.  Bila dianggap perlu,
satuan stratigrafi yang tidak mengacu pada SSI agar diusulkan kepada Komisi
SSI-IAGI, untuk dimasukkan menjadi salah satu ayat dalam SSI (Pasal 12
SSI-1996).



Untuk mengatasi kerancuan dan problematika tatanama dan penamaan satuan
stratigrafi, Komisi SSI-IAGI perlu memperhatikan setiap perkembangan satuan
stratigrafi yang ada di Indonesia, dan mendokumentasikan di dalam bentuk
"Lexicon Stratigrafi Indonesia".

v     Komisi SSI 1996 juga  memberi peluang apabila ada usulan perubahan,
penambahan, dan lainnya, sesuai dengan Pasal 12 SSI-1996, selanjutnya dapat
disampaikan secara tertulis kepada Komisi SSI, IAGI. Pembahasannya
dilaksanakan bersamaan PIT-IAGI.

v     Dengan adanya kepedulian dan peran aktif para Ahli Geologi di
Indonesia, diharapkan SSI selalu dapat mengikuti perkembangan satuan
stratigrafi pada setiap waktu.







STATUS PENERAPAN LITHOSTRATIGRAFI DALAM RENCANA PENERBITAN LEKSIKON
STRATIGRAFI INDONESIA

(Suudi Gafoer & B.H. Harahap)



1.      Pada prinsipnya Leksikon yang dirintis oleh P3G mengacu pada SSI
1996.
2.      Perkembangan kegiatan penelitian dan pemetaan geologi hingga kini,
menghasilkan nama satuan stratigrafi baru yang banyak bermunculan baik resmi
ataupun tidak resmi.

3.      Di antara nama yang diusulkan, terdapat ketidaksesuaian dengan
kaidah-kaidah SSI, seperti perbedaan pemerian dan usulan nama yang berbeda
untuk satuan batuan yang sama.

4.      Hasil penelitian dan pemetaan geologi oleh P3G hingga kini
menghasilakan  lebih dari 2000 nama satuan batuan di Indonesia.

5.      Penyusunan dan penataan kembali tatanama stratigrafi akan dilakukan
oleh Puslitbang Geologi dengan tahapan pertama menerapkan litostratigrafi ke
dalam bentuk leksikon.

6.      Leksikon Stratigrafi Indonesia, menguraikan butir-butir nama satuan,
umur, nomenklatur/tatanama, lokasi tipe, pemerian, kandungan fosil, hubungan
stratigrafi, ketebalan, penyebaran, lingkungan pengendapan, tataan tektonik,
aspek ekonomi, catatan dan acuan, serta dilengkapi dengan peta geografi yang
memuat lokasi tipe masing-masing satuan.

7.      Diharapkan, di masa mendatang, leksikon ini dapat diakses melalui
suatu sistem informasi geologi.



KENDALA PENERAPAN SATUAN STRATIGRAFI GUNUNGAPI
(Sutikno Bronto)


Ada 4 kendala penerapan satuan stratigrafi gunungapi dalam lingkup ilmu
geologi di Indonesia :



1.        Kendala Lingkup Penerapan

 Selama ini Satuan Stratigrafi Gunungapi hanya diterapkan pada gunungapi
Kuarter dan aktif dan penelitian tidak begitu cepat memberikan nilai ekonomi
tinggi, maka sangat sedikit ahli geologi yang tertarik untuk mempelajari
ilmu gunungapi.

2.         Kendala Pendidikan Dasar Geologi

Pendidikan dasar geologi belum sepenuhnya mengacu pada kondisi geologi
Indonesia yang berhubungan dengan cekungan sedimentasi busur magma dan
gunungapi, menyebabkan pemahaman ilmu gunungapi sangat minim. Akibatnya Ilmu
stratigrafi gunungapi terasa menjadi semakin sulit untuk dipelajari.

3.         Kendala Kesampaian Medan

Kesampaian medan gunungapi yang sangat sulit, terjal  menyebabkan keengganan
para ahli geologi untuk melakukan penelitian di daerah gunungapi.

4.         Kendala Atmosfer Penelitian

Belum terciptanya atmosfer penelitian di Indonesia secara optimal, apalagi
yang menyangkut ilmu dasar dan dalam jangka pendek tidak langsung
berorientasi ke ekonomi.


Adanya kendala-kendala tersebut " Para ahli geologi Indonesia semakin tidak
memahami kondisi geologinya sendiri". Di masa mendatang, sangat mungkin ahli
geologi luar negeri akan menjadi lebih tahu geologi gunungapi Indonesia dan
lebih mampu/ cepat memanfaatkan potensi sumber daya geologi Indonesia
daripada 'tuan rumah'nya.  Akhirnya kita hanya akan menjadi penonton/
pelayan di negaranya sendiri.   Apakah kita ingin seperti itu nantinya?


Usaha Penyelesaian:


1.      mendorong iklim penelitian pemanfaatan sumber daya gunungapi yang
diawali dengan penelitian-penelitian dasar geologi gunungapi,

2.      memperluas lingkup penerapan satuan stratigrafi gunungapi hingga
batuan berumur Tersier atau yang lebih tua,

3.      mengubah secara bertahap bahan pendidikan dan pengajaran geologi
disesuaikan dengan kondisi geologi Indonesia, serta

4.      memperkenalkan dasar-dasar geologi Indonesia kepada guru dan anak
didik sejak pendidikan dasar hingga menengah atas.













POSISI SIKUENSTRATIGRAFI DI DALAM SSI 1996:

BEBERAPA PERSOALAN YANG TIMBUL

(Wartono Rahardjo)



Konsep Sikuenstratigrafi telah banyak diterapkan dan terbukti mampu
memecahkan sejumlah masalah eksplorasi / produksi pada industri minyak dan
gas bumi.



Pendekatan


v     Analisis stratigrafi dengan pendekatan Litostratigrafi prinsipnya
berdasarkan pemerian lapisan yang diamati. Penafsiran didasarkan atas
kriteria yang teramati, yang sekaligus menjadi pembatas dari penafsiran
tersebut. Kriteria tersebut bisa  bersifat litologi (Litostratigrafi), fosil
(Biostratigrafi) atau kombinasi keduanya sehingga muncul satuan
Kronostratigrafi dan Geokronologi.

v     Analisis Sikuenstratigrafi mulanya juga bersifat deskriptif seperti
pada Litostratigrafi namun kemudian telah berkembang menjadi ilmu yang
sangat deterministik bahkan bersifat prediktif.



Beberapa Perubahan Pada Konsep Dasar

Ada beberapa konsep dasar Litostratigrafi yang tidak sesuai lagi bila
diterapkan dalam pembahasan Sikuenstratigrafi, sehingga perlu pandangan baru
dalam pemahaman konsep-konsep dasar yang ada di dalam Litostratigrafi.



Permasalahan Sikuenstratigrafi dalam SSI 1996

Secara eksplisit sikuenstratigrafi sudah tercantum dalam SSI 1996, namun
dalam praktek belum banyak digunakan, terutama pada penelitian geologi
permukaan. Konsep stratigrafi tradisionil masih lebih banyak digunakan.



Kesimpulan



1.      Pendekatan Sikuenstratigrafi yang berakar dari Seismikstratigrafi
secara nyata telah membenkan hasil yang lebih baik dalam penafsiran
stratigrafi detail daripada pendekatan stratigrafi konvensional..

2.      Banyak praktisi geologi non stratigrafi menjadi ketakutan dan enggan
mendalami Sikuenstratigrafi karena banyaknya istilah baru yang khas
Sikuenstratigrafi.

3.      Keberadaan ketidakselarasan dalam berbagai ujudnya sangat penting
dalam Sikuenstratigrafi tetapi masih kurang diperhatikan peranannya pada
satuan stratigrafi yang lain, terutama pada satuan Litostratigrafi.

4.      Saran yang dapat diajukan sebagai akibat dari diakuinya Satuan
Sikuenstratigrafi adalah perbaikan dalam pendefinisian dari korelasi (pasal
7 SSI 1996) serta penambahan pasal tentang ketidakselarasan.











Litostratigrafi vs Biostratigrafi di Cekungan Kutai Hilir : Masukan bagi
Penyempurnaan SSI'96

(Andang Bachtiar)



Perlunya tinjauan ulang penggunaan litostratigrafi untuk menerangkan
stratigrafi endapan delta di semua cekungan di Indonesia, terutama apabila
dimensi deltanya ekivalen dengan Delta Mahakam purba. Hal ini menjadi sangat
penting karena keragaman fasies litologi endapan delta, baik secara lateral/
vertikal yang diakibatkan oleh proses naik-turunnya muka air laut relatif
dapat sangat ekstrim, yaitu dari dominan batupasir fluvial sampai ke endapan
laut dalam, sehingga satu penamaan formasi saja tidak cukup untuk memerikan
stratigrafinya.







Kontribusi Seismik Stratigrafi pada Pembenahan "Satuan Resmi Bawah
 Permukaan" Sandi Stratigrafi Indonesia 1996.

(Awang H. Satyana & Brahmantyo K. Gunawan)



1.      SSI 1973 dan 1996, kurang mengakomodasi masalah stratigrafi bawah
permukaan.

2.      SSI 1996 telah memuat Satuan Sekuen Stratigrafi, tetapi belum
berdasarkan kepada data bawah permukaan khususnya data seismik.



Kesimpulan dan Saran Untuk Pembenahan Satuan Bawah Permukaan SSI 1996



1.      Bab I Pasal 11 : Satuan Resmi Bawah Permukaan (dalam Asas-Asas Umum)

Evaluasi: pasal ini perlu ditinjau lagi khususnya tentang bahasan satuan
bawah permukaan.

2.      Bab II Pasal 20 : Satuan Resmi Bawah Permukaan (dalam Satuan
Litostratigrafi)

Evaluasi: pasal ini perlu ditambahkan data seismik sebagai persyaratan
tambahan.

3.      Bab V Satuan Sekuen Stratigrafi

Evaluasi: Bab ini perlu ditambahkan bahwa pemakaian data seismik (data bawah
permukaan) harus menjadi salah satu aturan di dalam satuan
sekuenstratigrafi.

4.      Perlu disediakan aturan-aturan di dalam SSI yang  mengakomodasi
secara lebih lengkap Satuan Bawah Permukaan.

5.      Dengan  semakin luasnya cakupan eksplorasi minyak dan gasbumi,
pentingnya dalam pemahaman evolusi cekungan sedimen / penelusuran
formasi-formasi yang produktif maka data bawah permukaan sudah saatnya kalau
mendapatkan perhatian lebih di dalam SSI 1996.

6.      Perlu komisi khusus yang akan mengkoordinasi semua  kritik dan saran
dari masyarakat geologi Indonesia tentang hal ini dan mengolahnya sehingga
SSI revisi mencapai hasil yang optimal.





B. HASIL DISKUSI



1.      Dunia industri sering menggunakan data sifat fisika batuan yang
bersifat interpretatif ( seismik, log) dalam pembagian satuan stratigrafi.
Dengan berbagai pertimbangan data diskriptif satuan batuan seringkali belum
didapatkan. Satu-satumya cara adalah memanfaatkan perangkat yang ada untuk
melakukan pendeteksian dalam pembagian satuan. Untuk itu agar pembagian
satuan stratigrafi secara interpretatif (seperti dengan data seismik, log,
dll.) tetap diterima.



2.      Diakui oleh anggota Komisi Sandi Stratigrafi Indonesia bahwa
pencanangan SSI 1996 di Bandung terasa kurang greget dan kurang mendapatkan
respon yang memadai bahkan blueprintnya pun belum tercetak. Agar Sandi
Stratigrafi Indonesia 1996 disosialisasikan lebih luas.



3.      Pada kenyataannya syarat-syarat pembakuan satuan resmi stratigrafi
terlalu rumit (pasal 19; 20, SSI 1996) sehingga banyak peneliti yang enggan
mengangkat satuan stratigrafi daerah yang ditelitinya menjadi satuan resmi,
hanya sebagai satuan tak resmi (pasal 4; 5; 14, SSI 96).



4.      Paper bidang geologi di berbagai media publikasi mengindikasikan
ketidak seragaman kaidah dalam penulisan berkaitan dengan stratigrafi. Baik
paper bidang kebumian internal dalam masyarakat geologi (MGI; Majalah FOSI;
Berita IAGI, Prosiding PIT IAGI) maupun penerbitan profesional terkait
(Prosiding IPA; API; HAGI; IMA) seyogyanya berpatokan pada SSI 1996. Oleh
karena itu PP IAGI hendaknya mendorong dan mengusulkan agar Sandi
Stratigrafi Indonesia 1996 menjadi pedoman bagi penyusunan stratigrafi oleh
para penulis, redaksi buletin majalah kebumian.



5.      Agar IAGI  mengusulkan SSI sepatutnya diputuhi oleh dunia industri
(perminyakan, pertambangan, airtanah dll. Terkait). Melalui Badan Pelaksana
Migas PP IAGI dapat mengusulkan hal tersebut. Jika perlu bahkan menjadi
bagian/persyaratan perundangan di bidang Industri bidang kebumian yang
beroperasi di Indonesia.



6.      Akhir-akhir ini banyak peneliti berkesempatan menyusun Leksikon
stratigrafi. Penyusunan Leksikon tersebut yang dilakukan baik oleh beberapa
ahli geologi dan atau institusi agar mengacu pada SSI 1996 dan
didikoordinasi oleh PP IAGI.



7.      Keberadaan prosedur amandemen SSI (pasal 12) memberi peluang
penyempurnaan SSI dari tahun ketahun. PIT IAGI merupakan wadah yang tepat
untuk ini sebagaimana tertera dalam pasal tersebut. Pengaktifan dan
pengembangan Komisi Stratigrafi Indonesia, merupakan hal penting dalam
melakukan pembenahan SSI didasarkan pada perkembangan geologi. Untuk tahap
awal Komisi SSI sekarang dapat menyiapkan rencana kerja termasuk merangkum
saran, usulan dan kritik, perbaikan dan aspirasi berkenaan dengan SSI. Untuk
itu agar PP IAGI memfasilitasi pertemuan secara berkala demi penyempurnaan
dan sosialisasi SSI dan Leksikon Stratitrafi Indonesia.



8.      Untuk itu seyogyanya kita pergunakan SSI 1996 secara konsisten
sebagaimana teratur di dalamnya. Apa lagi International Subcommission for
Stratigraphic Classification menyerahkan masalah stratigrafi pada Kode
Stratigrafi Nasional masing-masing negara, sesuai dengan kebutuhan
masing-masing.





C. REKOMENDASI



1.      Diadakan sesi khusus tentang SSI dalam PIT IAGI di Surabaya, antara
1 - 1,5 jam.

2.      SSI 1996 diperbanyak dan dibagikan bagi para ahli geologi, mahasiswa
geologi dan ilmu serumpun di dalam lingkup Ilmu kebumian (jika perlu).

3.      Leksikon Stratigrafi Indonesia dikoordinasikan  oleh IAGI.

4.      SSI agar menjadi acuan bagi penulisan profesional/publikasi ilmiah
geologi dan penerbitan profesional kebumian lainnya yang terkait, dan
dipatuhi oleh penulis, redaksi publikasi, mahasiswa.

5.      Pengaktifan kembali Komisi SSI.

6.      Mendorong pembuatan Leksikon Stratigrafi Indonesia yang berbasis
SSI.

7.      Memanfaatkan SSI secara konsisten sebagaimana tersurat dalam Sandi
tersebut.

8.      SSI menjadi salah satu aturan dalam kesepakatan Kontrak Karya.




---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
=====================================================================
Indonesian Association of Geologists [IAGI] - 31st Annual Convention
September 30 - October2, 2002 - Shangri La Hotel, SURABAYA

Kirim email ke