Pertamina UP-VI Tolak Privatisasi Kilang Balongan

Pertamina UP-VI menolak tegas privatisasi Kilang Balongan yang dikelolanya, 
apabila program tersebut terjadi. Indikasi privatisasi itu menyusul mulai 
campur tangannya IMF dan World Bank (Bank Dunia) terhadap kebijakan 
perminyakan, khususnya manajemen Pertamina.

Menurut sumber yang layak dipercaya di Pertamina UP-VI mengemukakan hal 
tersebut, Senin (17/2). Dituturkan, jajaran manajer UP-VI kini tengah 
menyusun konsep penolakan terhadap kemungkinan upaya privatisasi ke Kilang 
Balongan. �Indikasi privatisasi itu mulai tercium. Kini, IMF dan Bank Dunia 
mulai campur tangan terhadap manajemen Pertamina. Mereka bahkan meminta ada 
restrukturisasi organisasi di Pertamina yang pada akhirnya juga akan 
merembet sampai ke Kilang Balongan,� tutur sumber yang menolak disebutkan 
namanya.

Penolakan jajaran Pertamina UP-VI akan disampaikan ke Pertamina Pusat dan 
Menteri ESDM. Sikap itu untuk mengantisipasi kemungkinan akan adanya campur 
tangan IMF dan Bank Dunia yang gelagatnya mengarah pada upaya privatisasi.
Penolakan privatisasi itu menyusul surat yang dilayangkan lembaga moneter 
internasional (IMF) dan Bank Dunia kepada Menteri Keuangan RI Boediono 
belum lama ini. Dalam surat tersebut, intinya, IMF dan Bank Dunia meminta 
agar Kilang UP-IV Cilacap dan Kilang UP-V Balikpapan dipisahkan ke dalam 
unit-unit tersendiri.

Alasan lembaga internasional itu, dengan pemecahan akan tercipta persaingan 
sehat pada bisnis perminyakan di Indonesia. IMF dan Bank Dunia menilai 
pemisahan kilang itu sebagai unit-unit mandiri lebih menguntungkan 
Pertamina.

Surat IMF dan Bank Dunia, tutur sumber �PR� tadi, bukan tidak mungkin juga 
akan mengarah ke Kilang Balongan. Dari gelagatnya, lembaga internasional 
itu pada akhirnya menginginkan agar pemisahan kilang ke dalam unit mandiri, 
yang pada akhirnya mengarah kepada privatisasi di tingkat kilang milik 
Pertamina.

�Ini yang kita antisipasi. Arahnya, IMF dan Bank Dunia menghendaki 
privatisasi antarkilang. Jika ini terjadi, cukup riskan. Kilang-kilang 
Pertamina akan dicaplok perusahaan migas internasional,� tuturnya.
Menentang tren internasional

Soal surat IMF dan Bank Dunia juga dikemukakan General Manager (GM) 
Pertamina UP-VI Ir. H. Bambang Rispandriyo. Pada acara malam keakraban 
dengan para pekerja di SDM, Umum, dan RSPB (Rumah Sakit Pertamina 
Balongan), dia mengemukakan kekhawatiran mulai campur tangannya IMF dan 
Bank Dunia.

Menurutnya, desakan IMF dan Bank Dunia kepada Menteri Keuangan soal 
pemisahan Kilang Cilacap dan Kilang Balikpapan ke dalam unit mandiri cukup 
mengkhawatirkan. Bila itu dipenuhi, pada akhirnya giliran Kilang Balongan 
yang harus dipisah. �Bukan tidak mungkin pada akhirnya merembet ke Kilang 
Balongan. Kekuatan Pertamina akan dipreteli satu per satu. � tutur Bambang.
Menurutnya, desakan IMF dan Bank Dunia itu terlihat bertentangan dengan 
kecenderungan bisnis perminyakan internasional. Sekarang ini, yang terjadi 
di kalangan pebisnis migas internasional justru berusaha untuk saling 
menggabungkan (merger).

�Ini ironis, saat pebisnis migas internasional saling menggabungkan 
kekuatan, Pertamina justru mau dipreteli. Contohnya Exxon dan Mobil Oil. 
Perusahaan migas raksasa internasional itu justru merger dan jadi Exxon 
Mobil Oil,� tuturnya.

Hal sama juga khabarnya mulai terdengar akan dilakukan perusahaan migas 
raksasa dunia lainnya, yakni antara British Petroleum (BP) dari Inggris 
dengan Shell Belanda. Tren (kecenderungan) penggabungan di antara pebisnis 
migas dunia itu cukup kuat. Bahkan, di tingkat dunia, kalau dulu dikenal 
istilah The Seven Sisters atau tujuh kekuatan perminyakan yang merajai 
dunia, seperti Exxon, Mobil Oil, Shell, BP, Caltex, dll., kini sudah tidak 
ada lagi.

�Exxon dan Mobil Oil melakukan merger hingga menjadi The Big Two. Ternyata, 
dengan merger kinerja kedua perusahaan raksasa itu makin efisien,� tutur 
Bambang.

Sikap IMF dan Bank Dunia juga bertolak belakang, Pertamina justru minta 
dipecah-pecah ke dalam unit kecil. Ditambah lagi, BUMN ini kini mulai 
berbenah diri dan efisiensi di antara unit Pertamina mulai terlihat. 

Sumber harian Pikiran Rakyat hari ini



---

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi

Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi 
Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke