FYI, untuk yang bergerak di dunia Amdal, berita dibawah ini cukup menarik untuk disimak dan diadikan acuan yang positif untuk proyek2 mendatang....
Wassalam, Yudi Jurnalis ----- Original Message ----- From: Nuriman, Harry (kem) <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Saturday, March 08, 2003 8:09 AM Subject: [pekerjatambang] FW: [cdesdm] 80% Dokumen Amdal tidak Berkualitas > > dari milis tetangga > > -------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------- > Be kind. Remember everyone you meet is fighting a hard battle (T.H. Thompson) > > > -----Original Message----- > > From: ICSD [SMTP:[EMAIL PROTECTED] > > Sent: Saturday, March 08, 2003 1:00 AM > > To: [EMAIL PROTECTED] > > Subject: [cdesdm] 80% Dokumen Amdal tidak Berkualitas > > > > > > Jumat, 7 Maret 2003 > > > > 80% Dokumen Amdal tidak Berkualitas > > > > JAKARTA (Media): Sebanyak 80% dokumen analisis mengenai dampak lingkungan > > (amdal) yang dikeluarkan di Indonesia antara 1987-2001 tidak berkualitas, > > tetapi tetap diloloskan. Akibatnya terjadi kerusakan lingkungan yang > > berlanjut pada bencana alam. > > > > Asisten Deputi Urusan Kajian Dampak Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup > > (KLH) MR Karliansyah menyatakan hal tersebut kepada wartawan di Jakarta, > > Selasa. Amdal merupakan dokumen untuk menilai apakah suatu proyek layak > > dari sisi keselamatan lingkungan atau tidak. > > > > Menurut Karliansyah, antara 1984-2001 Indonesia meloloskan 7.570 dokumen > > amdal. ''Dari jumlah itu kita sudah meneliti 33 dokumen amdal yang dipilih > > secara acak. Dan hanya 20% yang berkualitas dan sisanya tidak layak,'' > > tegasnya seraya menyatakan penelitian 33 dokumen amdal itu sudah dilakukan > > sejak empat bulan terakhir. > > > > Pengambilan sampel sebanyak 33 dokumen amdal, tutur Karliansyah, sudah > > mencukupi untuk melihat gambaran amdal yang ada selama ini. Hanya saja > > ketika diminta secara detail, amdal proyek mana saja yang layak dan tidak, > > Asisten Deputi Urusan Kajian Dampak Lingkungan KLH ini menolak. > > > > ''Akhir bulan ini Menteri LH akan mengumumkan nama proyek dan siapa-siapa > > yang terlibat dalam penyusunan dokumen amdal yang kita nilai. Penilaian > > dokumen amdal ini akan menjadi program tahunan,'' tambahnya. > > > > KLH sendiri mengukur ketidaklayakan amdal antara lain dari sisi konsistensi > > seluruh dokumen amdal yang terdiri dari empat dokumen, yaitu Kerangka Acuan > > Analisis Dampak Lingkungan, Analisis Dampak Lingkungan (Andal), Rencana > > Pengelolaan Lingkungan (RKL), dan Rencana Pemantuan Lingkungan (RPL). > > > > Kajian amdal dilakukan KLH karena selama ini ternyata dokumen ini tidak > > efektif mencegah kerusakan lingkungan di Indonesia. Terbukti banyaknya > > bencana alam yang terus muncul di Indonesia. Karliansyah mencontohkan, > > rusaknya lingkungan membuat Indonesia selalu tertimpa bencana, saat musim > > hujan dengan banjir dan kemarau dengan kekeringan. > > > > Karliansyah mengaku KLH merasa malu dengan negara-negara lain. Pasalnya, > > saat KTT Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg, Afrika Selatan pada > > 2002 yang diikuti 180 negara, mayoritas negara menyatakan amdal efektif > > mencegah kerusakan lingkungan akibat pembangunan. > > > > ''Kita prihatin kenapa di Indoneisa tidak bisa. Lebih menyedihkan amdal > > sudah dipandang sekadar formalitas. Untuk itu dengan diumumkannya dokumen > > amdal proyek beserta konsultan penyusunnya, masyarakat akan tahu proyek dan > > konsultan yang kredibel.'' > > > > Banyaknya dokumen amdal yang tidak layak disebabkan sebelum 1999 di > > pemerintahan pusat terdapat 14 departemen dan tiga nondepartemen, yaitu > > Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT), Badan Tenaga Atom > > Nasional (Batan) serta Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) yang > > memiliki Tim Komisi Penilai Amdal. Akibatnya, jika sebuah departemen > > memiliki proyek, departemen tersebut akan menggunakan Komisi Penilai Amdal > > dari departemennya sendiri. > > > > ''Sudah tentu akan terjadi konflik kepentingan. Makanya sejak 1999 Komisi > > Penilai Amdal hanya ada di KLH,'' tegasnya seraya menyatakan sejak > > 2001-2003, KLH tidak menyetujui dua dokumen amdal, yaitu amdal Proyek Semen > > Langkat, Sumut dan Proyek Reklamasi Pantai Utara Jakarta. > > > > Selain itu, lanjut Karliansyah, juga banyak konsultan penyusun amdal yang > > tidak berkualitas.> > > > > Menurut pengajar Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan > > Alam (MIPA) Universitas Indonesia Jatna Supriatna, banyak konsultan amdal > > tidak profesional karena tidak melakukan pengawasan. (MD/V-2) > > > > [pekerjatambang] adalah forum komunikasi para pekerja tambang di Indonesia (Mahasiswa tambang atau orang 'awam' lain yang berminat kerja di tambang juga tidak dilarang). Silakan bergabung untuk bertukar informasi, lowongan pekerjaan, cerita2 lucu/menyentuh, foto2 menarik, puisi kesepian, jadual events/kegiatan, kursus dan pelatihan, atau apapun yang berhubungan dengan pertambangan di Indonesia. > > Untuk ikut bergabung, silakan kirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED] > > Kalau anda sudah berhenti jadi penambang dan ingin melupakan semua kenangan yang anda dapat di lokasi tambang, atau menganggap bahwa milis ini tidak ada gunanya (lagi), silakan kirim email ke: > [EMAIL PROTECTED] > > Jangan lupa kunjungi Arena Bermain Pekerja Tambang Indonesia http://www.nuriman.net dan dapatkan layanan email gratis [EMAIL PROTECTED] > > MINERS, LET US DIG THE PAST TO BRIGHTEN THE FUTURE > > Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/ > > --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

