Kegerahan Pak Sofyadi Roezin ini cukup geli menggelitik aku nih .... :)

Soal pengakuan hasil karya si "kaki tangan" ini cukup menarik kalo kita amati dari sisi profesionalitas serta kemungkinan impact yg ditimbulkannya .....
Ini kasusnya mungkin ngga sederhana atau malah cukup pelik --> siapa yg "berhak" atau boleh mengklaim ini hasil karya 'si Anu' atau 'Aku' ? Penting ngga sih ?


aku coba buat ilustrasi sederhana
Ketika membuat tulisan/paper/presentasi dari hasil penelitian paleontologi yg dilakukan oleh Corelab atau Robertson research (Service Co), seringkali nama kedua perusahaan atau orangnya sekalipun tidak nongol dalam publikasi apalagi sebagai co-author. Hanya nama si penulis utama (terutama pihak Oil Co) yg terpampang didepan. Hal ini emang bukan hal sederhana, bahkan seringkali terjadi di sini. Yang lebih sering dirasakan parah adalah hasil penelitian doktor yg diklaim sebagai penemuan sang promotor ... ini malah dinilai lumrah :( ... karena Sang Promotor sebagai pencetus idea. Bahkan ilustrasi dan lain-lain digambar oleh promovendusnya juga.... disini masih banyak yg mau menrima sbg kewajaran.


Dalam hal ini studi paleontologi (ngeliat 'bugs'/kutu dan nano-nano) di Service kumpeni dapat saja merupakan bagian dari data akuisisi, mirip dan percis kayak wireline logging .... jadi bagi si Oil Company, pekrjaan ini bukan sebuah hasil karya yg perlu pengakuan. Toh hampir semua wirele logs maupun laporan dari service co selalu ada kalimat yg menyatakan mereka tidak bertanggung jawab terhadap isi serta kerugian yg timbul karenanya, jadi buat apa kalo ini adalah ditulis karya mereka?
Buat saya pribadi kalimat ini merupakan deklarasi lepasnya segala "hak" dan "tanggung jawab" pihak Service Co terhadap apa yg dibuatnya .... masih wajar juga, kah? ... Mungkin saja masih wajar .... jadi kalo sampai di klaim milik bangsa Malay masih wajar juga ?
<canda on>
(psssst dulu wektu mapping ada yg minta tolong utk mengayak utk paleontologi ngga ? ... hayooo banyak looh yg "ndanndakke" (pesen) sampai keluar umur juga kan .... : ) Nama orangnya yg ngeliatin sampel kita juga ngga nongol di thesis kan ? .. coba kalo brani ...!!
<canda off>


Karena rutinitas pekerjaan maka membuat peta dari seismic pada akhirnya akan bernasib sama dengan studi paleontologi ini ... dapat saja dianggap sebagai bagian dari data akuisisi seperti wireline logging ... sedih ya ? :(

Kalo toh yang begini ini juga masih wajar .... maka kalo sekedar peta yg "dirampas" sebagai pengakuan hasil karya bisa juga dianggap wajar.

Dan ternyata juga sama seperti kita (bangsa ini) dulu juga melakukan hal yang sama saja, bahkan mungkin lebih dari itu ... kita klaim Timor hasil karya anak bangsa , Tetuko pernah juga di klaim sebagai hasil jerih payah anak petani , Ada juga klaim bahwa Kijang adalah produksi Indonesia .. dan banyak lagi dah ... Kita melakukan hal yg sama juga .... Karma kali yee :(

Jadi kalo sekedar hasil karya dibajak oleh pemberi proyek yg "merasa" sudah membayarnya ... buatku hal kecil yg tentunya bisa juga kalau mau dibesar-besarkan ... aku sih hanya pasrah nerima ya itulah konsekuensi kalo bekerja untuk orang lain, termasuk sebagai tenaga konsultan yg dikontrak sana-sini ... Kalo ngga bisa menerima hal ini, jangan kerja di Service apalagi jadi Konsultan kontrakan .... ya kerja saja sebagai employee (pegawe tetap) di Oil Co ... atau punya perusahaan sendiri ... :)

Tapi benarkan ini sepele ?

Dalam kasus ini ... Yang lebih penting ternyata bukan sekedar perampasan hasil karya ilmiah (author) yg dibeberapa sudut bisa saja dianggap wajar dan sepele, namun kalo dicermati maka secara mental "impact"nya bisa saja sangat jauh berbeda antara kita di Indonesia dan Malay ...

Bagaimana dengan Malay apakah mereka akan mengakui hasil ini sebagai hasil karya anak negeri Jiran ? .... itu yang mahal ... Malay akan dengan bangga menyatakan hal sebagai hasil Anak Negeri Jiran .... Mereka akan mengambil keuntungan lain, dan bangsa jiran ini semakin memiliki "rasa bangga" terhadap hasil karya anak bangsanya, mereka akan semakin bangga berbangsa Jiran ... sebagai bangsa Jiran

Namun ternyata ...
Juga Korea santai-santai saja Hyundainya "dibajak"dengan made in Indonesa ... Toh SantaFe sudah masuk ke Indonesia akhirnya
Thailand sama saja tetep santai saja dianggap bangsa petani ... tapi berhasil juga mengirim Honda New City-nya ke Indonesia, padahal yg kita tahu sebelumnya Thailand "cuma" petani kebon jambu dan duren Bangkok ...:(
Cessna juga tetep laku keras, dan mereka tenang-tenang saja dibajak oleh Tetuko ...
Toyota juga punya Harier yg jua diimport ke Indonesia walopun Kijang di'cap'produk Indonesia.


Bagaimana dengan kita di Indonesia ? ... kita sudah merasakan bagaimana nyinyirnya sebagian bangsa ini yang tidak mengakui hasil karya sendiri seperti Tetuko, banyak yang tidak mengakui di dalam Kijang terkandung hasil dan ada nama Indoensia, Juga banyak yang tidak mengakui mau mengakui Timor, lebih karena 'bau' kknnya .... Walopun apa saja argumentasi yg dikemukakan mungkin ada juga benarnya ... Namun "rasa bangga" ini tetap saja tenggelam ...

Bukan sekedar pengakuan ilmiahnya yg ada dalam hasil karya olah pikir dan keringat ini. Namun akibat 'perampasan' ini bisa saja berbeda dalam kasus yg sama ....

kenapa ?
barangkali ini masalah kebanggaan sebagai anak bangsa ....
kalau segelintir kebanggaan saja sudah ngga ada, apalagi yang kau punya ?

Be proud to be you !

Right or wrong this is my country
If it is right, keep it right
If it is wrong, make it right

Right is right
Wrong is wrong
Indonesia still my country

RDP
"aku lagi bergaya nasionalis ... :p"


(fyi, "kaki tangan" dlm bhasa Indonesia artinya anak buah :)
kalo ada yg njiplak, ngeklaim, ngaku-ngaku hasil karyaku, tulisanku ideku dll ... silahkan saja ... karena kebanggaanku masih ada disini ... :)



-----Original Message----- From: IAGI Pusat [mailto:[EMAIL PROTECTED]

Jangan terlalu bangga bisa bekerja dinegara jiran, walaupun dibayar lebih
tinggi. Informasi terbaru yang saya terima, tenaga ahli dari Indonesia
dinegara jiran hanya dianggap sebagai "kaki-tangan". Hasil karya dari
tenaga ahli Indonesia akan dicaplok dan disebut sebagai hasil karya tenaga
lokal. Nama tenaga ahli Indonesia itu akan hilang dari Laporan Proyek. Hal
ini telah terjadi pada beberapa orang Indonesia. Kesimpulan umum dari
seorang teman, sejak kejatuhan Suharto, orang Indonesia sangat dilecehkan
dinegara jiran. Mreka berani kurang ajar atau sewenang-wenang terhadap
orang Indonesia, mungkin karena tahu tidak akan dibela oleh pemerintah.


Sofyadi Roezin

_________________________________________________________________
The new MSN 8: smart spam protection and 2 months FREE* http://join.msn.com/?page=features/junkmail



--------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi

Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif 
Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------



Kirim email ke