Teman sekalian, thanks atas responsenya. Ini saya coba 'summary'kan hasil diskusinya, tapi cuman saya copy and paste saja, sama saya edit dikit-dikit. Summary tsb saya sudah coba sbg attachment sekalian (MS Word), tapi malah balik ke saya lagi. Siapa tahu ada yang tertarik dibaca-baca sambil ngerokok di halaman bawah kantor atau sambil ngopi sore-sore sebelum pulang kantor. Salam and have a nice weekend, Teguh P. (Teguh Prasetyo)- (TOPIC) : Kalau kita punya data thin section point count dan XRD analysis, diantara dua data itu yang mana lebih kita percaya utk mengetahui jumlah kandungan "CLAY"-nya ? (Z. Nurzaman)- (THIN SECTION VS XRD) : XRD! (Harry Alam)- (THIN SECTION VS XRD) : Kalau untuk clay type memang XRD yang lebih akurat. Sebetulnya dua2nya susah untuk dianggap akurat mengingat sampling prosedur dan sampling preparasinya yang berbeda. Untuk XRD cukup sejumlah kecil sample saja yang di ambil dan dihaluskan. Sedangkan TS pada umumnya membutuhkan sampel yang lebih besar, kecuali Sidewall core dimana tergantung sampel yang didapat. Selain itu tergantung apakah kita mengambil di bagian yang banyak claynya atau bisa mendapatkan point yang benar2 representative untuk batuan tersebut. Bila kita mengambil sampelnya di bagian yang sama biasanya hasil XRD dan TS tidak jauh berbeda, dan XRD sedikit lebih akurat karena ada sebagian clay yang tidak bisa terdeteksi oleh mata di TS. Seperti tiny grain coating clay. Jadi bila hasil persentasi claynya jauh berbeda ya sebaiknya di analisa ulang saja. Jadi kalau pertanyaan akurat mana kandungan claynya ya susah juga ya jawabnya. Untuk clay type ya pasti XRD,untuk clay percentage boleh di bilang XRD juga tapi ini juga di ragukan karena ada perhitungan interpolasinya dan untuk clay distributionnya TS lebih representative. (Kartiko Samodro) ? (XRD VS LOG) : XRD mengatakan kaolinite tapi data yang saya dapat dari log menyebutkan illite, demikian juga dengan thin section. Saya kira kita harus sangat hati - hati dalam melihat data XRD untuk clay ..karena setahu saya XRD hanya berdasarkan peak - peak yang sering overlay antar satu mineral dengan mineral lainnya. terutama untuk clay... (Bob Wikan) ? (XRD & THIN SECTION) : Menurut pengalaman saya, peak untuk setiap mineral nggak akan saling overlay, karena setiap mineral akan mempunya nilai tertentu. Justru XRD akan menguatkan hasil analisa dari thin section untuk deskripsi mineralnya. (Sanggam Hutabarat) ? (XRD & THIN SECTION) : Principally ke dua metoda berbeda jauh dan/sehingga keluarannya (outputnya)juga berbeda. Untuk jumlah secara kwantitatif XRD dapat diandalkan (dalam persen berat); ts, tergantung sampelnya, bila 'clean' mungkin bisa diandalkan (dalam persen volume--juga tergantung berapa banyak counting yang dilakukan/berhubungan dgn statistika error---250 points?, jam terbang di analis dsb sangat menentukan). Untuk orang penilai formasi, thin section salah-satunya berguna untuk menunjukkan keberadaan clay: apakah structural (glauconite?, clay-replaced grains, rip-up/shale clasts), dispersed (grain-coating, pore-filling, pore-bridging dll), laminar (related to bioturbation, burrowing, depositional dll), yang memberi implikasi tertentu kepada formation evaluation. Kecuali kaolinit, dan kadang2 illite atau chlorite, umumnya jenis clay nggak bisa ditentukan via ts (waktu drilling paling banter orang bisa kenali kaolinite itupun jenis yang gede-vermicular misalnya). My opinion, XRD adalah the best tool so far untuk merecord jenis clay minerals dan jumlahnya (cepat tapi cukup mahal). Tapi bisa menyesatkan juga bila XRD bilang 30weight % illite kita bilang sample itu shaly padahal illite tsb ngumpul sebagai structural clay (~framework grains) jadi perlu ts. Dgn XRD kita juga bisa menentukan keberadaan clay2 yang mixed-layer serta kandungan swelling clays e.g.smektit (ekspandibilitasnya). Orang pencinta XRD bilang XRD never lies.. Jadi ya tergantung kasus formasinya , kadang2 memang dibutuhkan kombinasi sem, xrd dan ts untuk mendapatkan kepercayaan yg lebih tinggi. (Rovicky Putrohari) ? (XRD & THIN SECTION) : Ada beberapa item yg dapat kita ambil disini. Selain adanya perbedaan method yang menyangkut kualitas presisi (ketepatan diskripsi/identifikasi), kuantitas akibat perbedaan kerapatan sampling yg ada dalam identifikasi mineralogy. Dalam hal ini tentunya akan ada pembobotan (weighting) yang berbeda. Pembobotan ini merupakan hal yang sangat penting sehingga penggunaan data ini tidak bias oleh pre-knowledge yg dimiliki oleh masing-2 expert. Kecenderungannya adalah "kepercayaan"terhadap apa yang diketahui sebelumnya. Sehingga diperlukan keterbukaan berpikir untuk menerima metode-metode lain yg mungkin akan lebih akurat dan sesuai dengan tujuan dari penelitian/riset yang dilakukan. Untuk keperluan reservoir modeling (mis utk membuat earth model) tentunya akan mempunyai pembobotan yg berbeda dengan keperluan drilling (untuk menentukan jenis lumpur yg akan dipakai sehingga tidak merusak formasi). Identifikasi clay ini akan berbeda pula kalau diperlukan untuk study sedimentology. Walaupun jelas semuanya tentu akan ada hubungannya. Hal yang mirip adalah ketika melihat data porositas. Banyak sekali metode untuk mengukur atau menghitung porositas. Nah, mana yang bisa "dipercaya" ? ... apakah pengukuran dengan core lebih dipercaya karena langsung berhubungan dengan batunya, ataukah dengan log, ataukah dengan seismic inversi ... mana yang lebih bisa "dipercaya" ? Problem "scaling" dan "weighting" ini akan selalu saja ada dalam semua bidang .... termasuk social science. (Kartiko Samodro) ? (XRD VS LOG) : Saya justru percaya sama log dibandingkan dengan XRD... caranya saya plot density neutronnya lalu saya tarik dry claynya dan kemudian berdasarkan referensi dari heron saya bisa memperkirakan jenis claynya... nah point shale yang saya dapatkan lebih mendekati ke iilite daripada kaolinite.... Setelah saya diskusikan dengan geologistnya terhadap perbedaan dari xrd , thin section dan lognya kemungkinan ada kaitan dengan perubahan dari kaolinite dan iilite karena faktor temperatur dan tekanan.... Nah mungkin karena sistem XRD yang hanya mengambil sample kecil dan kemudian membuat bubuk dan kemudian disinari dengan Xray dan kemudian intensitas dari refleksion radiationnya diukur dan kemudian dianalisa , ada kemungkinan bahwa sample yang diambil tidak representative . Sedangkan log karena continous dan sampling ratenya banyak lebih representative dibandingkan dengan XRD, masalah thin section saya kira juga sama saja dengan xrd , karena sample yang disayat kecil ada kemungkinan tidak representative, (Harry Alam) ? (XRD VS LOG) : Kalau masalah representative ya susah juga ya. Kan log itu sampling ratenya 0.5 feet tergantung batuannya kalau dia selang seling sand dan shale dengan ketebalan kurang lebih 0.5 ft, clay yang anda dapat merepresentasikan sample yang mana?. Kecuali reservoir anda uniform dan tebal. Jadi pinter2 kita memainkan kombinasinya. Tidak bisa kita bilang satu metoda jauh lebih akurat dari yang lain, tentu ada kurang lebihnya. Sebagai info saja kaolinit tidak terdeteksi di GR. (Kartiko Samodro) ? (XRD VS LOG) : Data yang kita pakai 12 spl/ft , vertical resolutionnya pex kita pakai xplot density neutron maka point shalenya ngumpul di satu sisi Kalau pakai spectral GR yang ada thorium,potasium dan uraniumnya mungkin masih bisa membedakan (Ukat Sukanta) ? (XRD & THIN SECTION) : Dikerjakan dulu thin sectionnya, perkirakan mineralnya apa saja. Kerjakan XRD nya, digerus-gerus sampai jadi tepung yang bagus halus, kalau tepung batunya jelek masih agak kasar bisa-bisa harus diulang. Pick-picknya menunjukan mineral tertentu. Bisa juga pengerjaannya ditambah SEM, sampel bisa lebih irit lagi, dan bisa dibesarkan ke scala yang kita inginkan,informasi yang kita dapatkan...akan lebih detil lagi. Saya belum pernah tahu/lihat ada orang yang bisa menetukan jenis/variasi mineral lempung tanpa XRD/SEM, .......kecuali kaolinite. (Slamet Riyadi) ? (XRD & THIN SECTION) : Seingat saya, setajam-tajamnya mata geos dalam mendiskripsi megaskopik tidak mampu mengidentifikasi jenis illite ataupun illite smectite kecuali oleh kombinasi XRD dan thin section. Apalagi atau lebih-lebih bisa sampai mengetahui "persentasi komposisi" . . . XRD WEBSITE: http://webmineral.com/X-Ray.shtml#1.019 ADDITIONAL DISCUSSION (Side Track) : (Shofiyuddin Thoha) ? (PEX Tool) : 12 spl/ft itu mungkin High Resolution mode dari PEX. Defaultnya sendiri mungkin gak sampai segitu, koreksi kalau salah ya. Resolution mode ini bisa dilihat dalam logging speed dimana high resolution mode memerlukan speed sekitar 1800 ft/hr, sedangkan defaultnya bisa mencapai 3600 ft/hr. Tapi kata ahli log, hati hati dalam memakai data pex. PEX ini katanya smart tool yang didisain dengan begitu banyak parameter dan analog data base. Apakah yang kita lihat di log itu hasil "mengukur" sesuatu dari formasi atau merupakan hasil " prediksi atau estimasi" dari tool berdasarkan programmed data basenya"? (Kartiko Samudro) - (PEX Tool) : Tepat sekali ... 1800 ft/hr... Apalagi pakai data densitynya harus hati - hati ...ada 3 jenisdensity berdasarkan detectornya ...yang vertical resolutionnya makin rendah dan depth investigationnya makin tinggi dari rhoi,rho8,rhoz.. Masalah dari rhoinya sangat dipengaruhi rugosity dari holenya.... rhoz bisa dicompare dengan reading tool yang lain / yang generasi lebih tua mis : LDT umumnya trendnya tidak banyak berbeda kalau mau test rhoinya ya harus dirun 2 tools yang punya vertical resolution yang sama, mis pex dengan fmi jadi bisa dilihat apakah respon di rhoinya terlihat juga di fminya... (Sanggam Hutabarat) ? (PHI) : Jadi memang 'rada' hati2 dan wise meng-handle data dari various methods/measurements.. Ngomong2 soal PHI..Seorang teman punya hitungan (hopefully we are already aware of it!) bila ada error 10% dari nilai PHI yang sebenarnya , maka -dengan asumsi parameter Archie yang lain correct- akan ada error hingga 30%an dalam perhitungan volume hidrokarbon in place (in contrast bila error 10% tsb melekat pada nilai resistivity, error vol.hcnya nggak sampai 10%...) (Kartiko Samudro) - (PEX Tool) : Hal itu apa karena formula HPM= H*PHI*(1-SW) ? dimana parameter PHI digunakan baik dalam menghitung SW dan menghitung HPM itu sendiri...? Jadi kalau ada error , errornya jadi dobel dobel... beda sama resistivity yang digunakan hanya untuk menghitung SW? --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

