dikirim ulang setelah diedit dikit biar enak dibaca
---
Aku FW diskusi seru soal CR di milist sebelah ....

hef e nais whik en ..
RDP


==============
Forwarded Message Follows:
From: Sritomo <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Fri, 1 Aug 2003 02:42:01 +0100
Subject: [Geologi UGM] Re: [oilgasprof] Re: Entertainment Costs Paid b y    Public 
Money
--------------

Sewaktu UU Oil& Gas yang baru dulu masih digodok, saya bersama 7 orang representatif 
dari oil kumpenis diundang Pak Iin & Kardaya (MIGAS).. waktu itu kalo gak salah saya 
bilang bahwa sistim PSC ini memang kelemahan utamanya di 'cost recovery' ... Gara2 CR 
telo ini maka kumpeni asing banyak yang memanfaatkannya antara lain dengan jalan :
>- bulenisasi
>- TSA
>- mark-up proyek
>- time sheet writers masukin ke CR biarpun yang dikerjakan sebenarnya proyek yang gak 
>CR..
>- intertainment gila-gilaan, salah satunya ya nge-golep, trekjing2 ninjau TSA 
>..dsb..dsb..
>- mark-up reserves biar di setujui commercialitynya... sehingga sampai minyaknya 
>habis terkadang government-nya gak kebagian..
>- CR termasuk sunk cost (juga sunk cost dari operator sebelumnya) ...
makanya kebanyakan kumpeni nyari2 untuk beli suatu blok dengan sunk cost yang guede .. 
Maxus / Repsol sekarang ngekek-ngekek beli 25% saham Kodeco dengan sunk cost yang 140 
juta itu ... atawa Premier beli Amoseas yang punya SC sekitar 80 juta ... sehingga 
biar kecil kami masih ngekek2 mubra-mubru dengan uang CR.. Lha daripada dikembalikan 
ke negara mending dipakai foya-foya dulu ... uang diputer diantara kita ... mungkin 
demikian pikiran management.

Hal ini karena system cost recovery yang sekarang ini mengganti operating cost hingga 
80% (yang 20% diambil pemerintah dalam bentuk FTP)... Pada hal sewaktu dulu pada 
mulanya dikenalkan oleh Ibu Sutowo th. 1966, yang di cost recovered cuma 40% .. 
kemudian naik hingga 100% ... turun lagi jadi 80%.. 

Waktu dimeeting itu kami usulkan sistim CR-nya ditinjau ulang .. misal dikembalikan 
dulu ke 60% saja .. atau secara perlahan diganti dengan sistim royalti yang glek .. 
Atau separo-separo .. CR tetapi begitu produksi pamarintah sudah harus dapat terus 
menerus, misal 20% dari produksinya ..
Atau sistim penalti mengenai usulan reservesnya ... misal reserves yang diusulkan agar 
di setujui untuk dikembangkan dan government masih dapat bagian adalah 50 MMBO ... 
maka kalo kenyataannya nanti baru 30 MMBO udah telo sisa 20 MMBO nya yang nanggung 
harus kumpeni sehingga Government masih tetep dapat bagian ... Dengan demikian si 
kumpeni gak bisa semena-mena mereka-reka itu  reservesnya... 

Tentu saja semua itu akan bisa berhasil apabila pengawasan BP-MIGAS betul2 tegas 
sesuai peraturan yang ada.. Dulu sewaktu setiap kali mau ada meeting RPTKA dengan 
MPS/BPPKA atau dengan MIGAS maka saya pasti ngontak mereka dulu dan bilang bahwa 
(misal) ini bule gak usah disetujui karena tenaga kita dipasaran udah bejubel 
..dsb..dsb.. Di meeting memang mereka keras .. di coret usulan bule-bule yang saya 
usulin untuk di libas ... namun gak tahu bagaimana prosesnya ... akhirnya mereka masuk 
juga .. Sewaktu saya datang ke MPS Eksplorasi dan protes kok itu bule2 petani Kiwi 
masuk juga ... beliau2 yang disana bilang : "Wah Pak Dhe' ... kami udah tolak itu ... 
cuma mungkin
bagian HR yang meluluskannya ....". Wah yo wis kalo gitu ... akibatnya lagi sekarang 
ini saya gak dilibatkan lagi kalau ada meeting RPTKA dan kena cap sebagai employee 
yang gak loyal di kumpeni ... Malah dalam diskusi appraisal beberapa tahun lalu si 
boss nanyain saya sebenarnya saya ini loyal ke kumpeni atawa ke Pertamina / MIGAS...? 
Saya jawab ya dua-duanya ... satunya sebagai ladang cari rejeki yang lainnya ya karena 
wajib untuk negara (sok
patriot gitu...).

>Wassalam,
>ST 

From: <[EMAIL PROTECTED]>
--------------

Memang cost recovery merupakan salah satu opsi untuk daya tarik
investor, tentunya masih banyak lagi( country
risk,fiskal,insensif,split dll). Selama ini ada kesan ( mungkin
kesan ini salah) bahwa adanya cost recovery ini menyebabkan
penafsiran yang berbeda beda, yang ujung ujungnya, bagaimana
setiap pengeluaran itu kalau bisa di cost
recoverykan.pertanyaannya apakah sistem cost recovery ini masih
layak dipertahankan, apakah tidak ada insentif lain yang lebih
cocok yang fix dan jelas peruntukannya. sehingga mudah sistem
pengontrolannya.Kalau tidak salah saat ini ada pembahasan pembahasan ttg aturan main 
(PP) ttg kegiatan hulu , sesuai dg UU yang baru.nggak tahugimana nanti kedepan sistem 
cost recovery ini masih atau tidak.

ISM
>
>-----Original Message-----
>From: Soejanto Poedjosoedarto [mailto:[EMAIL PROTECTED]
>Sent: Friday, August 01, 2003 7:58 AM
>To: '[EMAIL PROTECTED]'
>Subject: [Geologi UGM] Re: [oilgasprof] Re: Entertainment Costs Paid b y
>Public Money
>
>
>Jangan mengatakan "dikadali" dong......
>
>Cost recovery dalam system PSC kita dipakai sebagai salah satu daya tarik
>investasi di Indonesia.
>Cost recovery dalam definisinya adalah operating cost recovery.
>
>Sedangkan Community development, Company Phylantrophy, sponsorship dlsb
>adalah bagian dari operating cost semua bentuk bisnis dimuka bumi
>ini........Jadi apanya yang salah bagi sebuah kampeni yang memasukan
>operating cost tsb sebagi cost recovery........
>
>Yang perlu direview adalah system cost recovery itu masih relevan
>nggak..........
>
>Jangan sepotong2 dong melihatnya, dan juga jangan menyalahkan
>kumpeninya...........Semua kan diaudit..............
>
>Salam,
>Soejanto
>
>
>-----Original Message-----
>From: ismail [mailto:[EMAIL PROTECTED]
>
>Jadi perlu dipertanyakan kalau ada kampeni yang kelihatannaya suka memberi
>sesuatu , padahal uangnya sebetulnya uang negara juga, yang dibungkus dg
>cost recovery, jangan jangan kalau menseponsori suatu kegiatan kegiatan yang
>sampai puluhan juta itu uang cost recovery juga, Jadi ya dikadali terus,
>Perdebatan mengenahi cost recovery ini sudah cukup lama dan sering muncul,
>tapi kelihatannya cost recovery ini dipelihara terus oleh yang empunya,
>karena kelihatannya saling  "menguntungkan",
>ISM
>----- Original Message -----
>From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]>
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>> Everybody knows that entertainment cost always exists in all kind of
>> bussiness.
>>
>> The main reason of the considering 'public money' is "cost recovery
>> scheme".
>> If there is no cost recovery scheme, the PSC would not easily use
>> this entertainment cost, and it would not consider as 'public money'.
>> If we want to remove this cost recovery scheme, of course we should
>> recalculate the split.
>>
>> I believe "Cost recovery scheme" has created several inefficiency for
>> the host country.
>>
>> RDP
>> --- In [EMAIL PROTECTED], "Moderator Oilgasprof"
>> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>> > Jakarta Post, Monday July 28, 2003
>> >
>> > When an oil or gas production sharing contractor (PSC) receives a
>> visit by a
>> > high-ranking government official, the PSC normally pays the
>> official's
>> > expenses.
>> >
>> > Most PSCs cover the cost of airfare, accomodation and meals. Some
>> PSCs even
>> > give officials a dailly per diem, while others provide additional
>> > "entertainment" of the visiting official.
>> >
>> > All these expenditures are incorporated into a
>> PSC's "entertainment"
>> > spending,  and is recoverable under a cost recovery scheme.
>> >
>> > According to Bangun Usman Harahap, deputy chairman for general
>> affairs at
>> > upstream oil and gas authorithy BP Migas, any expenditures under
>> the cost
>> > recovery scheme would be considered using "public money", as the
>> bulk of the
>> > cost would eventually be shouldered by the government.
>> >
>> > .
>> > .
>> > .
>> > .
>> > .
>> > Bangun said that in a number of developed countries, giving money
>> to a
>> > guest, particularly a visiting government official, could be
>> classified as
>> > bribery.
>> >
>> >
>> > "What will they say if we allow such cash payments? They will
>> consider us as
>> > legalizing corruption, " he said.


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi

Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif 
Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke