Laut Indonesia ternyata bukan hanya kaya ikan dan sumber daya hayati lainnya. Lebih dari itu, perairan ini juga menyimpan kandungan emas. Sebuah harapan baru tentunya. Dibutuhkan pengetahan yang maha luas untuk mengeksplorasinya.
Pada Agustus 2003 lalu, Ekspedisi Geologi Laut, dengan sandi Bandamin II, seperti dikutip dari harian Suara pembaruan dilaksanakan oleh Tim Indonesia- Jerman di wilayah Laut Flores-Laut Banda, di sekitar Pulau Komba, Nusa Tenggara Timur. Ekspedisi Bandamin II digelar sebagai hasil kesepakatan Pertemuan Komite Pengarah Riset Kelautan Indonesia-Jerman yang berlangsung Oktober 2002 lalu di Batam. Hasil analisis awal Tim Ekspedisi Bandamin II cukup menakjubkan. Kalau pada Ekspedisi Bandamin I berhasil ditemukan dua gunung api bawah laut; Anak Komba dan Abang Komba maka Ekspedisi Bandamin II berhasil ditemukan lagi sebuah gunung api bawah laut pada posisi 7 derajat, 58 menit Lintang Selatan (LS), dan 123 derajat, 47 menit Bujur Timur (BT). Temuan itu diberi nama Gunung Baruna Komba. Di samping itu, jenis batuan dasar laut, dari kedalaman 500-600 meter yang berhasil diangkat ke permukaan terdiri dari andesit, tracy-andesit, dan basalt. Batuan itu umumnya telah mengalami perubahan akibat proses hidrotermal melalui proses silisifikasi dan kloritifikasi. Di samping itu, tim juga berhasil menganalisis kehadiran mineral-mineral sulfida pirit (FeS2), barit (BaSO4), dan markasit (FeS2) pada batuan-batuan yang diangkat dari dasar laut tadi. Ini berarti ada proses epitermal di dasar laut wilayah Gunung Baruna Komba. Kehadiran mineral-mineral logam tadi bisa dipakai sebagai indikator kehadiran mineral-mineral logam lainnya, khususnya emas dan perak. Oleh sebab itu, para ilmuwan segera menghimpun sebanyak mungkin contoh-contoh batuan dasar laut tadi. Lalu dibawa ke darat guna dianalisis melalui laboratorium geokimia agar dapat diketahui potensi kadar mineral logam mulianya. Sebagai perbandingan, hasil analisis awal potensi emas di dasar laut di sekitar kepulauan Sangihe Talaud, melalui Ekspedisi II ASHA-2001 Indonesia- Australia, diprakirakan kehadiran potensi emas sekitar 1 gram per 1 ton batuan. Hasil selengkapnya dari Ekspedisi Bandamin II ini akan digelar pada Seminar Internasional IFMS 2003 di Balai Sidang Senayan Jakarta, pada Desember 2003 bersamaan dengan Peringatan Hari Nusantara 2003. Menanggapi hal itu, Menteri Kelautan dan Perikanan, Prof Dr Rokhmin Dahuri, meminta agar beragam informasi potensi sumber daya nonhayati kelautan Indonesia ini dapat segera dihimpun dan disebarluaskan kepada para stake holder. Hal itu, lanjut Rokhmin, dimaksudkan agar dapat dipakai untuk membuka kesempatan-kesempatan bagi investor, khususnya untuk mengeksploitasi mineral logam mulia dari dasar laut. Menurut Kepala Pusat Riset Wilayah Laut BRKP, Dr Safri Burhanuddin, ekspedisi serupa akan dilanjutkan pada masa mendatang. Syaratnya, kata Safri, Jerman bersedia menambah beasiswa bagi ilmuwan-ilmuwan Indonesia untuk mengambil program magister (MSc) dan doktor (PhD) di Jerman lewat hasil riset dan analisis data yang dihimpun dari ekspedisi-ekspedisi Bandamin. Pada Kegiatan Ekspedisi Bandamin II, tim Indonesia yang berpartisipasi terdiri dari ahli-ahli geologi/geofisika laut dari BRKP, BPPT, LIPI, PPGL, ITB, Universitas Padjadjaran, Universitas Trisakti, dan Universitas Pembangunan Nasional (Veteran). Tim ini dipimpin Ir Lili Sarmili MSc dari PPGL. Sedang Tim Jerman datang dari Freie Universitat Berlin yang dipimpin Dr Pieter Halbach. Kegiatan Ekspedisi Bandamin II mencakup survei batimetri, pengukuran konduktivitas, suhu dan kedalaman (CTD), pengambilan contoh batuan dari dasar laut, serta pemotretan kondisi bawah laut.* --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

