Dear IAGI netter,
Metoda K-Ar (40K-39Ar) memang saat ini sudah dianggap ketinggalan zaman,
karena adanya masalah
potensial "excess argon" atau "argon loss" sangat besar, karena unsur K
sangat rentan perubahan terhadap alterasi atau perubahan kimiawi/fisik.
Metoda yang lebih baik dari K-Ar adalah Ar-Ar (40Ar-39Ar), dimana potensial
excess/loss argon dapat
dipantau dengan diagram age spectra, walaupun sebenarnya Ar-Ar juga rentan
terhadap kontaminasi.
Selain itu yang harus diperhatikan adalah cara analisa sampelnya, apakah
berupa whole rock atau mineral terpisah (mika, amfibol, atau plagioklas),
karena sangat berhubungan closure/blocking temperatur dari mineral tersebut.
Jadi kalau kita dating batuan granit menggunakan metoda K-Ar/Ar-Ar dengan
menggunakan mineral biotit, rasanya belum tentu umur tersebut mewakili
"crystallization age" dari granit, tetapi merupakan "cooling age"
dari granit tersebut, disebabkan closure temperatur dari biotit adalah
sekitar 300-410 C, sedangkan kristalisasi dari granit mulai dari temperatur
700-600 C.
Jadi umur yang didapatkan dari mineral biotit tsb merupakan umur alterasi
atau fase kristalisasi yang terakhir.

Metoda penentuan umur batuan yang sangat "dipercaya" adalah berturut-turut
dari yang paling akurat:
(i) zircon U-Pb, (ii) zircon Pb-Pb, (iii)Sm-Nd mineral age, (iv) Rb-Sr
mineral age dsb.
Selain itu instrument yang digunakan sangat menentukan validasi suatu
penentuan umur,
untuk saat ini yang dijadikan kiblat untuk penentuan umur batuan adalah
zircon U-Pb/Pb-Pb menggunakan
ion probe (SHRIMP), yang dikembangkan oleh research School of Earth Sciece,
AustralianNationa University.

Jadi bagaimana dengan posisi umur K-Ar sekarang :
Saya pernah  dua kali melihat presentasinya Prof. Robert Hall ketika
mempresentasikan
Reconstructing Cenozoic SE Asia, beliau "excused" dengan data-data umur yang
digunakan dalam rekonstruksinya yang sebagian besar (90%) berdasarkan K-Ar
age dating. Padahal umur batuan sangat penting dalam suatu rekonstruksi,
selain posisi geographis dari data paleomag. Jadi dengan bertambahnya
data-data umur baru, saya yakin rekontsruksi dari beliau akan berubah total.
Jadi selama belum ada data age dating baru  yang lebih bisa dipercaya (dgn
metoda yg canggih), kita masih valid menggunakan data age dating dari K-Ar
untuk acuan umur geologi batuan tsb, tentu saja dengan "caution".

Gitu aja, salam
Ade Kadarusman

> Pak Ade Kadarusman,
> Lalu bagaimana . . . kalau tidak begitu akurat?
> Padahal beberapa koleksi hasil dating "Metoda K-Ar" yang saya lakukan
lebih dari 10 tahun yang lalu untuk beberapa conto batuan beku di Sumatra
Selatan dan di beberapa Pulau Jawa, apakah berarti "gugur" untuk acuan umur
geologi batuan daerah tersebut?
>
> Sudah lama sekali saya tidak mengikuti 'kelemahan' Metoda tersebut.
> Mohon penjelasannya?
>
> Terima kasih.
>
> Salam,
>
> SLAMET RIYADI
>



---------------------------------------------------------------------

To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/

IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi



Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id

Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])

Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])

Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])

Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif 
Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])

Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])

---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke