Beberapa hari lalu saya ngobrol dengan seorang geologist Singgih Widagdo, yg
saat ini menjadi marketing Mgr Berau Coal. Beliau bercerita tentang
bagaimana perkembangan coal di Indonesia, mulai dari teknologi hingga harga
yg melejit akhir-2 ini.
Sepertinya tidak banyak yg mengamati perkembangan harga batubara dunia ini.
Karena batubara toh seperinya bukan merupakan komoditi terbesar dalam hal
energy resources. Minyak masih mendominasi. Namun kalau dilihat perkembangan
pemanfaatannya saat ini teknologi batubara sudah banyak berubah dibanding
puluhan tahun kebelakang dimana minyak sangat-sangat mendominasi.
Kekhawatiran kelangkaan minyak menjadikan batubara menjadi salah satu
alternatif pengganti sumber energi. Perkembangan teknologi telah berusaha
dan berhasil memperkecil emisi hasil pembakaran batubara sampai tingkat
bagus. Walopun demikian emisi ini masih saja menjadi penghambat dalam
perbincangan efek pencemaran lingkungan.
Kenaikan harga coal kali ini banyak sekali berkait dengan kelangkaan kapal.
Ya benar ... "kelangkaan kapal". Impor cina besar-besaran untuk konstruksi
bangunan (terutama baja) untuk penyelenggaraan Olimpiade 2008 serta impor
bahan baku lain lain telah menyedot pemanfaatan kapal pengangkut dunia yg
juga menjadi media transportasi untuk batubara. Kesulitan penyedian kapal
ini akhirnya menyebabkan ketersediaan batubara (spot market) menjadi rendah.
Dan sesuai dengan hukum ekonomi sederhana (supply-demand) maka menyebabkan
harga batubara meningkat. Menurut Pak Singgih, harga batubara Kalimantan
sajasaat ini bisa menapai diatas 40 USD/Tonne. Bahkan kalau di Eropa dapat
mencapat lebih dari 60 USD/Tonne. Dan belaiu juga cerita soal yang
memprihatinkan ttg pengangkutan ini, yaitu bahwa Indonesia yang menyatakan
dirinya sebagai negara maritim ternyata sangat sedikit (?tidak) memiliki
kapal berbendera Indonesia utk mengangkut hasil buminya.
Diramalkan kenaikan harga batubara ini akan terus bertahan hingga 4-5 tahun
lagi, karena pembuatan kapal pengangkut tidak dapat dilakukan dalam orde
bulanan bahkan dapat saja tahunan.
Sebagai pengingat bahwa perpindahan pemanfaatan energi batubara ke migas
dalam abad terakhir ini bukan dikarenakan berkurangnya penyediaan batubara
(bukan akibat habisnya cadangan batubara), sehingga sebenernya cadangan
batubara didunia ini masih sangat melimpah. Pemanfaatan migas yg sudah
terlanjur "lock-in" dengan hampir semua mesin pembangkit ini akhirnya
"menggeser" kedudukan batubara sebagai penyedia sumber energi.
Pak Singgih Widagdo ini seorang sarjana geologi namun sudah malang melintang
di pemasaran batubara. Beliau pernah ikut rombongan negara mendampingi Ibu
Megawati ketika berkunjung ke Amerika beberapa tahun lalu. Mungkin beliau
sangat cocok untuk menjadi pembicara luncheon talk IAGI. Bagi yg tertarik
soal energi alteratip (selain migas) tentunya energi batubara yg cukup
melimpah ini punya moment yang bagus utk "merebut kembali" pasaran (market)
sumber energi alternatip. Salah satu kandidatnya adalah pembangkit listrik
ukuran menengah (kabupaten) yg mungkin akan selaras dengan perkembangan
otonomi daerah.
RDP
_________________________________________________________________
MSN 8 with e-mail virus protection service: 2 months FREE*
http://join.msn.com/?page=features/virus
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

