From: "Musakti, Oki" <[EMAIL PROTECTED]>
Masalahnya Ful, sekolah model tempat anakmu itu menerus jenjangnya. Maksudnya kalau dia lulus dari SD Madania , apakah tidak akan mengalami hambatan untuk masuk dan mengikuti pelajaran di SMP atau SMU yang 'klasik' (baca banyak hafalan dll). Sedangkan kalau mau masuk SMP/SMU yang 'plus' biasanya biayanya juga plus.
Teman2 saya yang sedang study disini banyak yang pusing. Jadinya aku ikut pening juga. Takut kalau pulang nanti, anakku bakal keteteran untuk mengikuti pelajaran SD di INA. Maklum, disini anak kelas 1 baru mulai di ajar baca dengan mengeja dan sampai kelas 4 SD pelajarannya masih banyak main-mainnya. Gimana kalau nanti disuruh menghapal Magna Charta dan HAM segala macam......?
Nah ini Kang OKI
aku dah punya pengalaman balik ke ngIndo dari manca, skalian sharing buat yg nanti nak-kanaknya mau balik ke sekolah 'klasik' lagi di Indon. Dua anakku sudah pernah balik (hehe tapi sekarang pergi lagi ... :) dan kemaren boleh masuk sekolah lamanya di Labskul Rawamangun .. :p.
Ketika balik ke Indon jangan lupa surat-2 Ijazah kalau ada, atau surat pengantar pindah dari sekolahannya. Kebetulan dia melampaui masa klas 3 SMP ... jadi kalau utk yg lulus SMP spt anakku anakku hanya mendapatkan selembar surat tanda lulus (ini nanti yg akan diberi lampiran sebagai "pengganti Ijazah SMP). Ini diperoleh sewaktu dia mengikuti Test GSE (?? Examination ... lupa artinya). Jadi anakku yg gede ga punya ijazah SMP (kalo nyalonin DPR kali bisa bikin ribut :).
Nah karena anak ini pindahan dari luar negeri maka ijinnya sampai ke Diknas Pusat di Senayan (sebelah utara Ratu Plaza), disini lah dia diberi surat pensetaraan ijazah itu serta perkiraan kelas utk masuk ke sekolah setaranya di Indonesia.
Setelah itu baru boleh mencari sekolahan yg akan dituju.....Kemudian akan ditest ujian masuk apa engga dan juga melihat ketersediaan "kursi" di sekolah itu ..... Setelah dapet "kursi" baru menuju ke DikNas DKI (Jl Gatot Subroto) utk administrasi ijin. Baru membayar iuran masuk utk mulai sekolah ..... Ini prosedur bakunya.
Tapi lagi-lagi Indonesia, kita musti nyari2 sekolah dulu yg "kira-kira" akan menerima anak tersebut (biasalah .... kasak-kusuk ke sekolah yg dituju dengan kepala sekolah atau ketua yayasan). Nah aku dulu dapat perhatian khusus dari sekolahnya karena orang tua ikut mengantar anak tersebut. Jadi sekolah ini menghargai kehadiran ortu sewaktu mendaftar. Karena sekolahnya swasta (Yayasan) maka aku diminta utk mendatangi ketua Yayasannya utk melihat ketersediaan tempat. Sebelumnya juga sudah kasak-kususk sama murid-2nya, adakah kursi kosong dikelasnya ? ... :).
KArena dengan wajah memelas kali ya ... Akhirnya diberi ijin utk dapat mengikuti test masuk ! .... Nah disini nih .... nilainya amblas semua !!! ... anakku sutress. Dikiranya sudah tertinggal jauuh ... Shock !!
Namun ternyata soal yg diberikan emang disengaja utk test akhir semester tahun sebelumnya (ini diketahuinya setelah sebulan masuk kelas) ..... blaik dikerjain pulak ane !! :( .... Dan walopun nilainya mepet tetap diberikan kesempatan oleh kep sek utk mencoba masuk dengan catatan kalau ngga bisa mengikuti terpaksa tinggal kelas.
Nah utk mengejar ketertinggalannya akhirnya aku mengundang guru privat ke rumah ... biasanya anak mahasiswa MIPA UI maupun IKIP banyak yg mau jadi guru kerumah. Setelah dikejar alhamdulillah anak ini mudah saja mengikuti pelajarannya.
Dan sewaktu sesester kemaren malah masuk 10 besar !! .... , tapi pelajaran Fisika nilainya 9 .... walopun tidak sekelas Nelson ... wong disini hobi main gitar sama bolanya masih diterusin ... :)
Jadi Buat Kang Oki, mnurutku anak-anak yg sekolah di LN (maupun yg di"taman bermain") kalau masuk ke 'sekolah klasik' di Indon masih bisa mengikuti pelajaran formalnya asalkan dengan usaha extra (les privat), logikanya tetep aja jalan kok. Cuman urusan latihan pernik2 hitung2an yg jauh lebih banyak di Indo.
Untuk anakku yg kecil yg sekolahnya masih primary (kelas 5) ini malah tambah suantai .... Masuk SD labskul ya "ngglenter" saja ...
.... malah test bahasa Inggris sepuluh teruss ... Anakku yg kecil ini setelah 1,5 th di Jkt skrg masuk Int Skul lagi di KL juga tanpa kesulitan ...
btw saran saja, Ki ..... kalau balik ke ngIndo ikutlah langganan Indovision (Kabelvision) atau semacamnya supaya 'listening' bhasa Inggrisnya ngga hilang...... Dan dia ngga akan lihat acara "dunia lain" yg penuh darah ... buser, brutal, patroli dll ....
Saran yg berikutnya, terusin aja sekolahnya di LN ... upst !! .... :)
RDP
_________________________________________________________________
The new MSN 8: smart spam protection and 2 months FREE* http://join.msn.com/?page=features/junkmail
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

