memang ada benanrya juga san, cuman ternyata tidak semua sekolah yg saya
anggap "bagus" kurikulum-nya profit oriented.
sekolah anak saya waktu tk bisa saya katakan tidak, karena kalau mereka mau
berbisnis pasti luar biasa. indikasinya mereka tidak pernah menambah
kapasitas kelas walaupun antriannya sekarang mungkin sudah lebih dari 3
tahun (tahun 2000 sudah sekitar 1-2 tahun) dan mereka tidak membuka cabang
(so far i know). bahkan secara itung-2an bisnis uang sekolahnya relatif
tidak mahal (mahal khan relatif tergantung penghasilan...). karena yg pasti
"uang sekolah" tersebut lebih banyak untuk membayar guru yg memang
berkualitas. salah satu pemilik sekolah ini adalah psikolog yg hidupnya
kayaknya sudah lebih dari berkecukupan.
yg pernah saya tahu juga adalah sekolah alam-nya lendo novo (tm itb '83) .
kalau gak salah malah sempat "ribut" karena share holder yg lain mau
sekolah tsb lebih komersil (mungkin ada yg lebih tahu dari saya tentang
ini....). sekolahnya madania anaknya ipul sepengetahuan saya masih termasuk
golongan ini, walau memang tidak menutup kemungkinan akan berkembang ke
arah komersil. tetapi adanya cak nur juga bisa menjadi jaminan adanya
ideliasme ke arah pendidikan yg benar. anak-2 saya sendiri sekarang sekolah
yg penasehat utamanya adalah cak nur. memang awalnya kami gambling (karena
mereka adalah angkatan pertama), tapi so far masih sesuai dengan harapan
kami. mereka belajar tanpa banyak beban seperti sekolah-2 "konvensional"
dengan mata pelajaran yg sangat sedikit.
memang sekarang banyak tumbuh sekolah yg (akhirnya) berorientasi bisnis,
tapi saya tetap percaya masih banyak orang yg punya idealisme termasuk di
bidang pendidikan ( terutama dasar, yg akan menjadi kunci perkembangan anak
selanjutnya)......sayangnya biaya sekolah-2 yg ber-kurikulum bagus tsb
memang tidak selalu murah....
salam.
hendra baskara
"selalu mencoba tidak apatis dengan situasi yang ada"
"Hasan Sidi"
<[EMAIL PROTECTED] To: <[EMAIL PROTECTED]>
ason.com> cc:
Subject: RE: [iagi-net-l] Profesor
termuda Nelson Tansu - pengalaman
17/03/04 16:20 Houst on
Please respond
to iagi-net
Itu dampak:
1) Marketing strategy si empunya sekolah. Makanya mereka bikin-nya dari
yang
kecil dulu biar anak-2 yang "terindoktrinasi" ini terperangkap.
2) Makin amburadulnya kurikulum. Kalau gak salah anak-2 yang di sekolah
plus
ini punya 2 rapor, internal dan external yang formalitas P&K.
Quick solution: jangan punya anak :-)
F. Hasan Sidi
Fugro-Jason Australia BV
Phone: +61 8 9420.6056
Fax: +61 8 9420.6060
> -----Original Message-----
> From: [EMAIL PROTECTED]
> [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Wednesday, March 17, 2004 3:32 PM
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: RE: [iagi-net-l] Profesor termuda Nelson Tansu - pengalaman
> Houst on
>
>
>
> Bener sih, Qi, aku belum tahu jawabannya. Yg jelas, kalau
> masih demen di
> Bogor, ya di SBI Madania hingga kelas 7-9 (setara smtp) dan
> 10-12 (setara
> smta).
> Kalau nggak salah, putra (atau putri) pak Sumardiman sekarang
> sudah kelas
> 7.
>
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif
Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------