dari diskusi kecil kami, ini sedikit data dari Kurtubi-analis minyak.
87 % energi dunia masih ditopang oleh energi fosil, tentunya minyak bumi jadi andalan utama paling tidak hingga 2030. Produksi minyak dunia dalam 40 tahun terakhir bergeser dari 7.1 milyar barel/anum (1960) menjadi 29 milyar barel pada tahun 2003 kemarin. Permintaan akan tumbuh terus, dan pada tahun 2025 diperkirakan dunia akan mengkonsumsi 38 milyar barel dalam setahunnya. Jumlah cadangan minyak yang dikuasai OPEC lebih 78%. Kondisi diatas, plus beberapa hal lainnya akan mengarah pada harga yang relative tinggi, mengingat beberapa determinan harga minyak menggiring ke arah tersebut : - Demand US dan China yang relative tinggi (puluhan ribu kilometer tol/highway di China marak dibangun, harga mobil2 murah di negeri 1.3 milyar manusia itu) - Dolar (sebagai denominasi export minyak opec) terhadap euro terus menurun hingga 30% dalam 2 tahun terakhir. - gangguan suplai minyak di Irak, Venezuela - mulai menurunnya lapangan minyak di Ghawar, Arab Saudi - anjloknya produksi minyak Indonesia (300 mbopd under quota) - penemuan minyak dunia yang relative rendah Prediksi harga minyak mendatang menjadi sangat penting, terutama bagi para penghitung keekonomian suatu prospek, dengan asumsi harga minyak yang terlalu rendah akan mengakibatkan lesunya dunia eksplorasi, lesunya dunia investasi sector hulu dan tentunya rendahnya temuan. Maka memasang patokan 28 dolar/barel untuk mostlikely rasanya masih cukup wajar. Bagaimana dengan Indonesia yang menguasai hanya sekitar 1% cadangan dunia, sementara ketergantungan Indonesia pada minyak cukup tinggi (53%). Dengan pola konsumsi energi yang mengalami pergeseran dari sector rumahtangga dominant pada era 70an ke industri pada 80an dan sejak 1996 pemakai terbesar menjadi sector transportasi. Sementara laju pertumbuhan energi rata2 : 8.7% per tahun (sementara laju pertumbuhan ekonominya diseputaran 4%, apakah ini artinya energi yang kita gunakan tidak produktif, Wallahualam. musim kampanye je) [EMAIL PROTECTED] wrote:Senin, 29 Maret 2004 - 12:53 WIB (SERI INFO TENTANG PERKEMBANGAN INDUSTRI MIGAS PADA BEBERAPA NEGARA PRODUSEN UTAMA DUNIA) PERKEMBANGAN INDUSTRI MIGAS DI ARAB SAUDI Arab Saudi memiliki cadangan minyak bumi terbesar di dunia dengan jumlah cadangan terbukti 264,2 milyar barel (lebih dari seperempat cadangan minyak dunia) dengan kapasitas produksi sebesar 10-10,5 juta bph. Produksi tersebut sebagian besar dihasilkan dari 8 lapangan produksi termasuk dari lapangan produksi onshore Ghawar (terbesar di dunia dengan cadangan diperkirakan sebesar 70 miliar barel) dan Safanya yang merupakan lapangan minyak lepas pantai terbesar dengan cadangan diperkirakan sebesar 19 miliar barel. Industri perminyakan Arab Saudi mengalami pasang surut dimana pada tahun 1980 produksi mencapai lebih dari 10 juta bph dan kemudian turun hingga di bawah 4 juta bph pada tahun 1984 dan naik secara signifikan mencapai 9 juta bph pada tahun 1992. Tingkat produksi stabilk pada besaran tersebut sampai tahun 2002, dan pada akhir 2003 yang lalu produksi kembali mencapai 10 juta bph dimana hampir seluruh kapasitas produksi digunakan. Arab Saudi memproduksi berbagai jenis minyak mentah mulai dari jenis heavy sampai super light dimana 65%-70% dari kapasitas produksi tersebut menghasilkan minyak jenis light gravity. Arab Saudi merupakan eksportir minyak utama untuk Amerika, Eropa, dan Jepang. sementara 40% pasar Asia juga diisi oleh minyak dari Arab Saudi. Pada tahun 2003 ekspor minyak Arab Saudi ke Amerika sebesar 1,8 juta bph yang sebagian besar adalah crude oil yang mencapai 19% dari total impor crude oil AS (naik dibandingkan tahun 2002 yang sebesar 16,8%). Peningkatan ekspor ini untuk menutupi suplai dari Venezuela, Irak, dan Nigeria yang sedang menghadapi masalah di dalam negeri. Pada tahun 1999, Arab Saudi menyampaikan kebijakan pengembangan industri perminyakan yang berdasarkan empat faktor yaitu; jumlah cadangan minyak yang besar dan biaya produksi yang rendah (US$ 1- 2 per barel); memelihara kapasitas produksi cadangan; keterkaitan yang kuat antara perkonomian nasional dengan industri perminyakan; dan stabilitas politik dan ekonomi. Pada tahun 2000 Arab Saudi menerbitkan UU untuk menarik lebih banyak investasi asing di sektor energi yang memberikan izin bagi kepemilikan asing secara penuh atas proyek dan property , mereduksi pajak atas keuntungan perusahaan dari 45% menjadi 30%, dan membentuk one stop shop GIA (General Investment Authority) untuk memfasilitasi para investor di bidang perminyakan. Disamping itu, juga akan dilakukan privatisasi atas beberapa unit usaha yang selama ini dimonopoli oleh perusahaan-perusahaan milik pemerintah Arab Saudi. Sebagaimana halnya dengan negara-negara produsen minyak lainnya, maka perekonomian Arab Saudi sangat tergantung kepada hasil dari ekspor minyaknya (90%-95% dari total ekspor) yang memberikan kontribusi 70%-80% dari penerimaan negara dan sekitar 40% dari GDP. Naiknya harga minyak selama tahun 2003 yang lalu dan terjadinya berbagai permasalahan dalam negeri pada beberapa negara produsenu utama yang berakibat kepada terhentinya pasokan memberikan keuntungan yang sangat besar bagi arab Saudi dengan memanfaatkan kapasitas produksinya yang ada untuk menaikkan produksi yang diperkirakan menaikkan GDP sebesar 4,6%. Dan surplus anggaran sebesar US$ 13,6 milyar. Namun pertumbuhan ekonomi tersebut masih dibayang-bayangi oleh tingginya tingkat pengangguran yang mencapai 15%-20% yang antara lain disebabkan oleh tingginya pertumbuhan populasi (lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun1980). Transportasi minyak dari kilang utama Abqaiq (yang memproses dua pertiga dari minyak yang diproduksi) menuju pasar ekspor dilakukan melalui Teluk Persia dari beberapa terminal yang ada dengan total kapasitas handling sebesar 14 juta bph (lebih besar dari kapasitas produksi). Disamping transportasi menggunakan tanker, juga digunakan jalur transportasi pipa Petroline yang utamanya membawa minyak jenis Arabian Light dan Super Light dari kilang menuju propinsi di bagian Barat dan Red Sea terminal untuk pasar Eropa dengan kapasitas angkut sebesar 5 juta bph. Industri perminyakan Arab Saudi didukung oleh 8 unit pengilangan minyak dengan kapasitas mendekati 2 juta bph. Disamping minyak, Arab Saudi juga memiliki cadangan gas yang besar, diperkirakan berjumlah 224,7 Tcf (ke empat terbesar di dunia setelah Rusia, Iran, dan Qatar). Kebijakan pemanfaatan energi untuk memenuhi konsumsi dalam negeri yang terus naik menempatkan gas sebagai sumber energi utama menggantikan minyak terutama untuk pembangkit listrik, petro kimia, dan desalinasi. Dan pada tahun 2003, pemerintah Arab Saudi menawarkan pengembangan 3 lapangan gas kepada lebih dari 40 perusahaan. Sejalan dengan peningkatan populasi, peningkatan konsumsi listrik naik sekitar 4,5% per tahun, dan untuk mendukung pengembangan industri ketenagalistrikan telah dibentuk ERA (Electricity Regulatory Authority) sebagai bagian dari restrukturisasi sector ketenagalistrikan. --------------------------------- Do you Yahoo!? Yahoo! Finance Tax Center - File online. File on time.

