Rekan-rekan IAGI netter, Saya senang sekali perihal Karangsambung masuk dalam perbincangan di milis ini.
Tentang Kampus Karangsambung: Sejak Juni 2002 LIPI mereoraganisasi Kampus Karangsambung menjadi UPT Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung. Salah satu tugas- fungsinya adalah memberikan pelayanan jasa dan informasi kebumian dan menyebarluaskan ilmu kebumian (Yang dalam pelaksaanaannya menyediakan fasilitas bagi kegiatan diklat lapangan mahasiswa dan menyelenggarakan diklat ilmu kebumian). Saat ini ada 14 perguruan tinggi yang menggunakan Kampus Karangsambung. Selain itu Siswa TK hingga SLTA juga sudah bisa 'nyantren' ilmu bumi (biasanya 3 hari 2 malem) di Kampus Karangsambung. Tentang Kondisi kawasan geologi Karangsambung sekarang ini: - Frekuensi banjir pada DAS Luk Ulo lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya (ini perlu penelitian seksama). - Air tanah di beberapa tempat mulai menyusut. (Mata air di kaki Gunung Parans yang airnya biasa digunakan oleh Kampus kini sudah mengering). Kini Kampus membuat sumur bor di tepian Sungai Luk Ulo untuk memperoleh air bersih). - Penghijauan? Tidak selurhnya hijau. Di hulu sungai Luk Ulo pada perbukitan yang merupakan batas administratif Kab. Kebumen dan Banjarnegara sudah tidak ada lagi hutan jati dan hutan mahoni. Pohon-pohon ini habis ditebang pada kurun 1997-1999. - Boulder batuan seukuran kerbau dari anak-anak sungai di hulu Luk Ulo sudah banyak yang diangkut keluar Karangsambung. Sebagian masyarakat mengerti batuan ini bila di ambil akan mengerosi sawah mereka yang dekat tepian sungai. Sebagian kecil mereka mengerti batuan ini sebagai tanggul alam yang berfungsi menahan laju air yang berlebihan. Sebagian mereka hanya tahu bahwa batuan ini laku dijual. (Karena - ini yang menarik- mereka tahu batuan mana yang 'bagus' justeru dari para ahli geologi i.e. dosen/mahasiswa yang biasa mengorder batuan seperti Rijang, Basalt, Gabro, Eklogit dll.). Kini mereka sudah pintar ilmu batu, dan pasar mereka bukan lagi dosen/mahasiswa tapi real estate/ hotel-hotel di kota besar. Tentang berita Suara Pembaruan: Berita itu sebagian ada benarnya. Yang tidak benar, saya tidak pernah bertemu dengan wartawan Suara Pembaruan (Wahyu Mandoko?). Berita itu bisa jadi mengutip dari berita di Suara Merdeka yang wartawannya Wardopo datang ke Kampus untuk meliput Diklat Basis data Spasial. Banyak pernyataan yang benar dan yang tidak pas benar, tidak seluruhnya dari saya. Itu hasil olahan/simpulan dari wartawan. Alumni Karangsambung merasa prihatin dengan Karangsambung? Sumbangsih apa kira-kira yang bisa kita berikan kepada masyarakat Krangsambung? Bikin monumen batuan? Mengajari mereka melakukan diversifikasi usaha selain menambang dan merusak batuan? Saya pikir ngga usah repot-repot mikir itu. Kalau memang punya niat membantu, pikir ini saja: Di seputaran Kampus terdapat 7 sekolah setingkat SLTP. Pada tahun ajaran 2003 lalu 7 sekolah itu meluluskan 581 siswa. Dari jumlah itu tidak separuhnya yang bisa melanjutkan ke SLTA di Kebumen. Kemana mereka? Seandainya di Karangsambung ada dibangun SLTA, mungkin bisa lebih banyak lagi saudara-saudara kita di Karangsambung yang bisa sekolah. Bantu mereka, bantu bagaimana agar di Karangsambung ada SLTA. Silakan mikir yang ini saja. (Lakukan yang kita katakan, katakan yang kita lakukan he..he..) Thanks to RDP yang membawa masuk berita ini Salam, Munasri ----- Original Message ----- From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Tuesday, June 22, 2004 7:33 PM Subject: [iagi-net-l] Kondisi Laboratorium Alam Karangsambung Memprihatinkan > SUARA PEMBARUAN DAILY > Kondisi Laboratorium Alam Karangsambung Memprihatinkan > Wahyu Mandoko > TERBENGKALAI - Dasar Sungai Luk Ulo di Kecamatan Karangsambung, Kabupaten > Kebumen, Jateng, yang mengandung berjuta jenis bebatuan yang bernilai > ilmiah, kini terancam punah akibat penambangan liar yang dilakukan > masyarakat sekitar, yang semakin tak terkendali. Tampak sebagian dasar > Sungai Luk Ulo kering dan separo lagi masih dialiri air. > NASIB laboratorium alam di Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Jawa > Tengah, milik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang menyimpan > berjuta jenis batu-batuan, kini dalam kondisi yang memprihatinkan. Kawasan > yang termasuk langka di dunia ini semakin bertambah rusak. > "Batu-batuan yang bernilai ilmiah di laboratorium alam itu terancam punah > karena ditambang secara liar oleh masyarakat sekitarnya, terutama yang > berada di sepanjang Sungai Luk Ulo," kata Kepala UPT Balai Informasi dan > Konservasi Kebumian (BIKK) Karangsambung Kebumen Dr Ir Munasri. > Berbagai jenis bebatuan dengan berbagai ukuran, mulai dari yang kecil sampai > besar, banyak terdapat di sepanjang dasar Sungai Luk Ulo. Lapisan bebatuan > yang bisa menyingkap misteri terbentuknya bumi berjuta tahun yang lalu itu > sering menjadi ajang penelitian para mahasiswa maupun para ilmuwan dari > dalam dan luar negeri. > Namun sayang, dengan banyaknya penambangan liar itu, lokasi bebatuan yang > bernilai ilmiah menjadi semakin rusak dan terancam punah. > Menurut Munasri, bebatuan itu ditambang untuk dijual ke kota-kota besar > untuk ornamen rumah di perumahan mewah. Setiap hari, beberapa truk > mengangkut bebatuan tersebut ke Purwokerto, Semarang, dan Jakarta serta > kota-kota besar lainnya. > Padahal bebatuan yang ditambang itu, merupakan jenis basalt, granit, dan > ekslogit merupakan bebatuan yang terdapat dalam perut bumi yang paling > dalam. Kalau dilihat sekilas, batu-batuan tersebut tampak biasa-biasa saja. > Namun dari sisi ilmiah sebenarnya mempunyai arti yang sangat penting untuk > penelitian dan pengetahuan alam. > "Bebatuan tersebut dalam ilmu gelogi bisa menyingkap kronologis terjadinya > bumi, kejadian-kejadian alam di bumi, patahan bumi, dan proses alam semesta > ini, sampai bencana alam dan gempa bumi" kata Munasri pula. > 300 Km > Menurut pakar kebumian ini, bebatuan yang muncul di permukaan bumi itu ada > yang berasal dari kedalaman bumi dari 50 sampai 300 km dari permukaan bumi. > "Penampakan bebatuan tadi hanya ada di Karangsambung," kata doktor geologi > lulusan universitas di Tokyo Jepang itu. > Bebatuan itu sangat langka, tapi penambangan liar terus berjalan setiap > hari. Bila dibiarkan terus, laboratorium alam kebumian satu-satunya di dunia > itu akan musnah. > Selain itu, dengan penambangan bebatuan di dasar Sungai Luk Ulo tadi, akan > mempercepat sedimentasi sehingga pada saat musim hujan, selalu terjadi > banjir yang cukup besar. > Menurut Munasri, ketidaksadaran masyarakat akan arti pentingnya bebatuan > tersebut harus segera diatasi melalui pendekatan sosial dan penjelasan yang > semua dengan daya pikir mereka. Hal ini penting, agar masyarakat yang secara > tidak sadar mau menghentikan penambangan liar tadi. > Dalam kesempatan terpisah, Deputi Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI Dr Ir Jan > Sophaheluwakan MSc mengingatkan, dampak kerusakan ekosistem bumi di berbagai > daerah sangat terkait dengan aktivitas manusia. > Jan mengatakan, faktor utama yang mengakibatkan kerusakan bumi dan degradasi > ekologi itu antara lain akibat kemiskinan, ketidaktahuan, dan keserakahan > manusia. > "Yang paling sulit adalah mengatasi keserakahan manusia," kata Jan saat > membuka acara Diklat Pembentukan Basis Data Spasial Kebumian (BDSK) di > Karangsambung belum lama ini. > WAHYU MANDOKO > Last modified: 4/6/04 > > ___________________________________________________________ > Sent by ePrompter, the premier email notification software. > Free download at http://www.ePrompter.com. > > _________________________________________________________________ > MSN 8 with e-mail virus protection service: 2 months FREE* > http://join.msn.com/?page=features/virus > > > --------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > > Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id > Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) > Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) > Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) > Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) > Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) > --------------------------------------------------------------------- > > --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

