Bo abo ... Madura lariss tak iya ... Shell masuk Indonesia lagi ? semoga ... :) Herman Darman jadi punya rumah lagi deh ....
RDP --- In [EMAIL PROTECTED], Indo Energy <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Senin 28 Juni 2004 23:32:18 WIB Sejumlah Investor Incar Tiga Blok Migas MinergyNews.Com, Jakarta-Dari 10 blok migas yang ditawarkan pemerintah, ternyata hanya tiga blok yang betul-betul diminati investor. Demikian hal itu dikemukakan Dirjen Migas Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Iin Arifin Takhyan, hari ini (28/6) di Jakarta. Menurut Iin, tiga blok migas yang diminati oleh investor yaitu Blok Northeast Madura III, Northeast Madura IV, dan Northeast Madura V di Jawa Timur. Investor yang tertarik antara lain, Sheel, ExxonMobil, Total E&P, Santos, CNOOC dan Amerada Hess. Selain tiga blok migas tersebut, pemerintah juga menawarkan tujuh blok lainnya, yakni Blok Lhoksumawe di Aceh, Ujung Kulon di Banten, blok di Pulau Rote I dan Rote II di Nusa Tenggara Timur, Blok Babar, Blok Selaru di Maluku Tenggara serta Blok Manokwari di Papua. Selain itu, sambung IIn, delapan perusahaan juga telah membeli data paket dan data hasil spekulatif survei di beberapa wilayah kerja yang tawarkan tersebut. Kedelapan perusahaan itu antara lain Exxon Mobil Oil, Santos, Total, Chevron, Exaco, Caltex, dan CNOOC. Lebih lanjut, Iin mengatakan, pengambilan dokumen penawaran bisa dilakukan mulai tanggal 6 Juli mendatang dan akan berakhir 20 September. Sedangkan penyerahan kembali dokumen penawaran tersebut paling lambat 30 September. Penawaran 10 wilayah kerja migas oleh pemerintah kali ini sebenarnya merupakan penawaran tahun 2003 lalu. Semula dijadwalkan dokumen penawaran bisa diambil akhir Desember tahun 2003 sampai pertengahan Juni 2004. Sedangkan pengembalian dokumen seharusnya paling lambat akhir Juni 2004. Namun, karena ada beberapa masalah seperti masalah perpajakan, maka dokumen penawaran baru bisa disediakan bulan depan. Dalam penawaran 10 blok migas ini, pemerintah menentukan besaran term and condition berdasarkan potensi geologi dan paket intensif yang telah dikeluarkan, baik dalam bentuk pola bagi hasil atau kredit investasi. Insentif berupa pola bagi hasil (split) diberikan untuk blok-blok yang terpencil dan kurang strategis. Insentif unit ini diberikan untuk wilayah kerja yang tingkat kesulitannya tinggi seperti di laut dalam. Jika umumnya split 85 persen untuk pemerintah dan 15 persen untuk investor, kini pemerintah menentukan split baru yaitu 75 persen bagian pemerintah dan 25 persen bagian investor. Sementara insentif juga diberikan berupa kredit investasi khusus untuk mengembangkan lapangan gas sebesar 100 persen. "Artinya kalau investor menanamkan modalnya US$1 maka dia akan menerima US$2," kata Iin. Pemberian perlakuan khusus terhadap sektor gas ini dikarenakan pengembangan lapangan gas dinilai lebih sulit daripada lapangan minyak. Selain itu, investor harus mendapatkan pasar terlebih dahulu, sebelum lapangan gas dikembangkan. Iin optimis pemberian sejumlah insentif itu akan menarik investor untuk menanamkan modalnya di sektor migas. Menurutnya, pemerintah tidak akan rugi atas pengeluaran insentif itu karena akan ada pengembangan lapangan migas baru beberapa tahun ke depan. Dia menilai ini sebagai investasi jangka panjang untuk memenuhi pertumbuhan permintaan migas yang terus meningkat. Iin mengakui, pembukaan penawaran blok migas ini dilakukan kendati masalah perpajakan belum terselesaikan. Hingga saat ini belum ada kesepakatan antara Departemen ESDM dengan Departemen Keuangan mengenai pajak bea masuk atas barang industri migas. Depkeu memungut pajak bea masuk atas impor barang industri migas. Namun dalam waktu dekat akan dilakukan pertemuan antara Menteri ESDM dengan Menkeu untuk menyelesaikan masalah tersebut. (MNC-6)

