Maaf lewat jalur umum...

ada yang mengetahui info mengenai konferensi shallow tethys yang akan
diadakan di Bandung dalam waktu dekat ini. Mohon info-nya (lewat japri)
saja.

Terima kasih sebelumnya,


salam,
Chandra



----- Original Message ----- 
From: Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, May 04, 2004 2:46 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] Lupar Mersing Line-Kutei Basin-Meratus Range - part 1


> Pak Andang,
>  
> Terima kasih atas diskusinya yang menarik. Beberapa catatan lanjutan dari saya 
> adalah seperti di bawah ini.
>  
> 1. Mungkin saya salah dengar kalau begitu bahwa Meratus terangkat karena Mersing 
> subduction, maklum hanya mendengar dari luar he2... Docking Banggai-Sula di Sulawesi 
> Timur pun atau mungkin lebih tepat Buton-Tukang Besi di SE Sulawesi pun rasanya 
> masih sulit dipakai untuk menerangkan terangkatnya Meratus sebab banyak buffer untuk 
> itu, yaitu ofiolit zone Sulawesi Timur, Teluk Bone, Sulawesi Barat, dan Makassar 
> Strait yang luas. Saya di sebuah paper di PIT IAGI 1994 pernah menyebut asal gaya 
> itu dari Sesar Adang yang reactivated lalu mengangkat northern massifs of Meratus 
> Mts (Halat-Misi-Panaan-Kesale-Sihung highs), sementara bagian selatan Meratus tidak 
> terangkat tapi plunging ke Florence Ridge di Laut Jawa. Untuk itu Adang Fault harus 
> nyambung ke Walanae Fault di Sulawesi Selatan, kemudian nyambung lagi ke sisa-sisa 
> Sumba Fracture. Dan, pada saat Australia collided Timor, maka ada propagasi gaya 
> lewat retakan-retakan besar itu yang sekaligus mengubah slip geser Adang. Tapi ini 
> hanya
>  mekanisme alternatif, saya melihat uplift Meratus itu kompleks tectonic origin-nya. 
> Semoga kapan-kapan bisa dipecahkan dengan memuaskan.
>  
> 2 dan 3. Sebuah low-angle Wadati-Benioff zone mestinya akan terjadi pada saat umur 
> kerak oseanik masih muda dan bukannya tua. Kerak yang tua akan cenderung mengalami 
> roll-back dan membuat sudut Wadati-Benioff zone akan curam, sehingga memicu 
> pertumbuhan sel konveksi yang akan menyebabkan marginal basin spreading. Maka, 
> pernyataan Soeria-Atmadja et al (1999) dan Hutchison (1996) akan sangat terkait 
> dengan umur volkanik yang ditelitinya. Hanya, di Upper Kutei Basin kebanyakan umur 
> volkanik adalah Mio-Pliosen, saat SCS sudah berhenti spreading; dan ini jadinya 
> bertentangan dengan keberadaan low-angle subduction zone; saat-saat itu mestinya 
> oceanic crust sudah menunjam dengan curam, atau malah patah oleh desakan collision 
> mikrokontinen Luconia-Reed Bank dkk, dan ini akan sangat berefek ke komposisi 
> volkaniknya. Rasanya banyak implikasi memberatkan yang butuh dukungan banyak data 
> kalau Kutei pernah jadi back-arc basin; dibanding passive margin aulacogen yang 
> sangat simple dan
>  well-resolved. Tapi, bagaimanapun, ini menarik. Menyebut suatu basin tipe apa pun 
> akan banyak dibutuhkan sekian banyak pemikiran. Tipenya simpel tapi prosesnya tidak 
> ternyata. 
>  
> Bertentangan dengan Soeria-Atmadja (1999) dan Hutchison (1996), sebuah low-angle 
> subduction zone mestinya akan membuat volkanism muncul di tepi timur Rajang flysch 
> zone, bukan di tengahnya (lebih ke barat), kalau di tengahnya justru itu 
> mengindikasi normal atau malahan high-angle subduction zone. Pernyataan ini harus 
> masih dibuktikan dengan umur anomali magnetik di kerak oseanik SCS, kalau ada, 
> sekaligus untuk membuktikan apakah dua fase pemekaran SCS itu menghasilkan kerak 
> oseanik baru atau tidak.
>  
> 4. Ini harus didukung oleh umur-umur tektonik : Meratus Uplift, Samarinda 
> Anticlinorium, dan reaktivasi Sesar Adang. Apa yang membuat Adang bergerak harus 
> jelas dulu. Kutei-Gravity High dari dulu sudah disebut2, tetapi ini barang apa, 
> masih tidak diketahui, oceanic crust seperti Meratus ? Tidak tahu, belum pernah ada 
> sumur2 yang menembusnya. Sumur2 zaman dulu di Blok Semayang, Ritan, Maruwai (Elf 
> Aquitaine dan Mobil) tidak ada yang menunjukkan barang "high" ini apa. Barangkali 
> surface geology di Upper Kutei Basin ? 
>  
> 5. Kelihatannya, efek dua sesar regional itu tidak ke seluruh transpression dan 
> transtension Cekungan Kutei, tetapi hanya di sebatas kejadian sesar-sesar itu. 
> Coupling dua sesar memang bisa terjadi, tetapi sejauh dan seluas batas-batas Kutei 
> dipertanyakan, di samping keaktifan kedua sesar ini hanya lebih disebabkan propagasi 
> gaya dari tempat regional lain. Katakanlah Mangkalihat Fault dari Palu-Koro, dan 
> Adang dari Walanae-Sumba Fracture, ini pun mesti dipertanyakan.
>  
> Terima kasih, semoga diskusi memperkaya pengetahuan dan problema di Kutei Basin - 
> the home of the giants...
>  
> Salam,
> awang
>  
> ANDANG BACHTIAR <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Pak Awang,
> Terimakasih atas kehadirannya dalam sidang terbuka saya. Walaupun hanya
> mendengarkan dari luar, jelas-jelas pengertian anda tentang Kutai jauh
> melebihi apa yang sempat saya sampaikan dalam presentasi "ngebut" 35 menit
> tersebut.
> 
> Beberapa hal yang bisa saya terangkan sehubungan dengan
> pertanyaan-pertanyaan kritis sampeyan adalah sebagai berikut:
> 
> 1. Dalam dissertasi saya tidak menyebutkan bahwa Mersing subduction
> mengangkat Meratus Mts. Saya sebutkan bahwa Mersing subduction berakhir di
> akhir Miosen Awal karena "docking"nya Reed-Palawan Bank ke zona penunjaman
> menyebabkan pengangkatan Tinggian Kuching (BUKAN Meratus Mts.). Kebetulan
> dari arsitektur sedimen terutama di Barito Basin (yaitu Fm. Warukin / Miosen
> Tengah - Miosen Awal), kita mendapatkan kesimpulan bahwa Meratus Mts juga
> mulai terangkat pada saat itu. Alternatif penyebab pengangkatannya adalah
> dimulainya "docking" Banggai-Sula di zona penunjaman Sulawesi Timur (jadi,
> bukan karena Mersing Subduction). Saya sangat setuju dengan anda bahwa:
> terlalu jauh untuk menghubungkan penunjaman Mersing dengan pengangkatan
> Meratus.
> 
> 2. Soal Kutai pernah menjadi "back-arc" basin, saya merujuk pada publikasi
> Soeria-atmadja, dkk, 1999 pada Special Edition dari Journal of Southeast
> Asia Research dimana dalam edisi tsb anda juga menulis tentang perbandingan
> Kutai-Tarakan-Barito. Di dalam paper itu mereka mendokumentasikan semua
> fenomena batuan volkanik yang ada di Kalimantan (termasuk Cekungan Kutai
> Hulu) dan merekonstruksi posisi tektonik lempengnya dalam suatu sistim
> penunjaman (dalam hal ini Lupar Subduction dan Mersing Subduction). Dari
> situlah istilah "back-arc" basin untuk Kutai saya munculkan. Fasa singkat
> aulacogen juga saya masukkan dalam alternatif evolusi Cekungan Kutai
> tersebut, seperti pernah saya presentasikan dalam "Kutai Basin Potpourri".
> 
> Khusus buat nomer 3 s/d 5 saya beri catatan singkat dulu, nanti setelah
> acara sarasehan saya akan uraikan lebih rinci:
> 
> 3. Intrusi-intrusi yang ada di Upper Kutai dalam skenario evolusi tektonik
> Kutai yang saya buat TIDAK bertentangan dengan sejarah pemekaran SCS (South
> China Sea) yang mengalami 2 fasa pemekaran. Selain itu, tidak semua intrusi
> tersebut terletak "ditengah" Rajang Flysch zone. Khusus untuk intrusi yang
> terletak di tengah Rajang Flysch zone, baik Hutchison (1996) maupun
> Soeria-atmadja (1999) menginterpretasikan sebagai "low-angle subduction"
> beneath the old/previous subduction zone.
> 
> 4. Kutai gravity high sebagai batas antara Upper dan Lower Kutai kemungkinan
> merupakan kemenerusan dari jalur Meratus (Wain & Berod, 1989).(yang
> kemungkiinan tergeserkan ke Barat oleh sesar sinistral Adang #ADB)
> 
> 5. Saya tidak secara apriori menerangkan inversi Cekungan Kutai hanya dengan
> mekanisme Coupling/Wrenching. Secara khusus saya menuliskan bahwa kondisi
> transpression-transtension pada Mio-Pliosen sampai Resen diakibatkan oleh
> mekanisme Coupling/Wrenching tersebut. Kalau anda membaca Bab IV dissertasi
> saya disitu diterangkan bahwa inversi terjadi karena berbagai macam sebab di
> berbagai posisi daerah dari Cekungan.
> 
> DALAM ABSTRAK saya tuliskan: " Dari Miosen Tengah sampai Resen Cekungan
> Kutai mengalami inversi regional yang dilanjutkan dengan kondisi
> transpression - transtension akibat gaya tekanan wrenching dua sesar mengiri
> utama di batas utara dan selatan cekungan". Nah,...... dalam abstrak
> tersebut saya tidak menerangkan secara khusus penyebab inversi
> regional,..... ,... kalimat selanjutnya menerangkan bahwa: wrenching itu
> menyebabkan kondisi transpression-transtension (bukan secara khusus
> menerangkan bahwa INVERSI diakibatkan oleh WRENCHING).
> 
> 
> Mungkin segitu dulu,....
> Thx banget atas diskusinya.........
> 
> ADB
> 
> ----- Original Message -----
> From: "Awang Satyana" 
> To: 
> Sent: Thursday, April 29, 2004 12:52 PM
> Subject: [iagi-net-l] Lupar Mersing Line-Kutei Basin-Meratus Range - part 1
> 
> 
> > Menyaksikan sidang terbuka promosi doktor pak ketum kita, sekarang sudah
> resmi boleh disebut Dr. Andang Bachtiar, dengan pimpinan sidang Ibu Emmy
> Suparka, para promotor Pak Soejono, Pak Sukendar, Pak Ong; tim penyanggah
> Pak Koesoemadinata, Pak Bona Situmorang, dan John Decker (Unocal), Sabtu 24
> April 2004 dari jam 13.00-15.00 di Gd. Pasca Sarjana ITB, dengan mayoritas
> yang hadir adalah para mahasiswa S2 dan S3 ITB, dan dinyatakan lulus;
> menyisakan beberapa pertanyaan dalam diri saya, pertanyaan-pertanyaan klasik
> yang sudah sering dimasalahkan dan mungkin menjadi "debate of decades" tanpa
> jawaban yang memuaskan.
> >
> > Kebetulan Pak Andang sembilan tahun menggumuli Kutei Basin untuk
> disertasinya, saya ingin menanyakan beberapa pertanyaan klasik di bawah ini,
> yang kebetulan saya dengar di sidang itu (walau saya duduk di luar, untung
> pak ketum kita bersuara lantang)dan saya baca di ringkasan disertasi.
> Kebetulan dalam sidang itu tidak diberikan kesempatan bertanya buat para
> penonton, selain kepada para promotor dan penyanggah, maka saya lewat jalur
> IAGI-net saja.
> >
> > 1. Bagaimana bisa Mersing subduction mengangkat Meratus Mts ? Kalau
> melihat sekuen sedimen Barito Basin, maka proper Meratus Mts. naik intra
> Warukin Atas di sekitar Miosen Atas dan pre Dahor molassic deposits di
> Pliosen. Katakanlah pengangkatannya Mio-Pliosen. Maka ini lebih muda dari
> Mersing subduction. Saya percaya Mersing subduction mengangkat Kuching High
> di Oligo-Miosen yang memulai delta progradation di Kutei Basin pada Early
> Miocene. Bagaimana mekanisme yang tepat agar Meratus bisa terangkat oleh
> Mersing sebab selain waktunya tidak cocok juga ada Schwaner Core yang sangat
> stabil yang bisa menghalangi propagasi gaya kompresif dari Mersing
> subduction.
> >
> > 2. Kutei pernah menjadi back-arc basin ? Kedudukan ini dihubungkan dengan
> tectonic/volcanic element yang mana ? Bila terhadap Lupar-Mersing Subduction
> Line rasanya Kutei adalah oceanic basin, fore-arc pun bukan. Katakanlah
> intrusi2 di Schwaner adalah hasil Mersing subduction, walaupun proper
> volcanic arc seperti di Sumatra-Jawa tidak pernah muncul di sini dan umurnya
> pun harus dicek dulu, maka yang back-arc basin lebih cocok adalah Barito
> walaupun untuk ini perlu banyak argumen. Di Kutei ada Sembulu volcanics,
> tetapi hanya spotted di sekitar Bungalun dan rasanya tidak bisa dipakai
> sebagai reference untuk tipe basin sebesar Kutei. Di bawah Meratus ada Alino
> Arc yang pre-Tertiary, tetapi tidak bisa dipakai sebagai referensi
> basin-basin Tertiary seperti Barito dan Kutei. Kutei, saya pikir, lebih
> cocok sebagai tipe basin yang berkembang di passive margin yang divergent
> (relatif terhadap North Makassar spreading), walaupun ini kemudian jadi
> failed/aborted rift basin.
> >
> > 3. Intrusi-intrusi Neogen (Mio-Pliosen) di Upper Kutei Basin itu dari mana
> atau berasosiasi dengan subduction Mersing ? Ini kontradiktif dengan sejarah
> pemekaran dan terhentinya South China Sea spreading dan collisionnya
> microplates Luconia, Reed Bank, Dangerous Ground, dan Palawan Ridge. Hampir
> semua intrusi itu terjadi di tengah Rajang flysh-melange, ini mengindikasi
> suatu migrasi antara subduction zone dan mungkin volcanic arc, ini bisa
> berhubungan dengan pertanyaan ke-2 di atas.
> >
> > 4. Apa sebenarnya yang memisahkan Upper dengan Lower Kutei Basin ?
> Tinggian basement pre-Tertiary mestinya kalau mau ideal. Kalau sekedar
> intrusi Neogen apa bisa ? Dulu, oleh Hank Ott (1987) katanya ada Kutei
> "Gravity High" yang suka dipakai sebagai batas itu walaupun apakah high ini
> berasosiasi dengan basement tidak dielaborasi lebih jauh, hanya dipakai
> sebagai origin of present Kutei lakes di aliran Sungai Mahakam sekarang.
> Menurut Pak Andang, High ini terangkat sezaman dengan Meratus Uplift pada
> 17.5 Ma. Jadi pertanyaan, apa High ini ? Kalau sezaman dengan Meratus dan
> jadi tempat Kutei Lakes sekarang, kenapa "high" ini tergeser lebih ke barat
> dibanding Meratus, seolah-olah ada sesar mendatar sinistral (ini akan
> berantai ke pertanyaan : origin dan reaktivasi Adang-Lupar Fault, slipnya;
> dan apa hubungan antara Samarinda Anticlinorium dengan Meratus uplift, sebab
> di tempat Meratus berakhir, di situlah Samarinda Anticlinorium mulai).
> >
> > 5. Asal inversi di Kutei Basin. Ini benar2 "debate of decades" Dari paper2
> yang pernah terbit saya bisa golongkan menjadi 7 mekanisme : (1) vertical
> diapirism, (2) gravitational gliding, (3) stress couple of regional
> wrenching, (4) micro-continental (East Sulawesi) collision, (5) detachment
> folding above overpressured sediments, (6) differential loading within
> deltaic sediments, dan (7) inverted deltaic growth fault system. Kalau saya
> ikuti, mekanisme no. 5 - 7 belakangan banyak diikuti dan banyak eksperimen
> analog dengan sand box modelling. Mekanisme no. 1 terjadi di beberapa
> tempat, tetapi tidak regional. Mekanisme no. 2 diawali oleh van Bemmelen
> (1949), Rose & Hartono (1978), dan didetailkan Ott (1987) dan jadi dasar
> berpikir mekanisme no. 5-7. Mekanisme no. 4 yang sempat disebut oleh van de
> Weerd dan Armin (1992) dan no. 3 tidak mendapat evaluasi dan pengujian lebih
> jauh. Pak Andang memilih mekanisme no. 3 untuk asal inversi di Kutei Basin,
> menggunakan Adang dan Mangkalihat
> > Faults. Suatu stress couple dari dua regional wrenching bisa bikin
> pop-pup structure yang kelihatannya tidak mirip dengan karakter struktur
> Samarinda anticlinorium (juga tidak cocok dengan karakter struktur Lengguru
> Belt di Kepala Burung Papua kalau dibilang sebagai disebabkan Sorong dan
> Tarera-Aiduna Faults). Pertanyaannya, kanapa Pak Andang memilih no. 3 ini,
> dan apa keberatan-keberatan dengan mekanisme2 lainnya.
> >
> > Itu dulu pertanyaan2/komentar2 di sekitar regional tectonics yang sempat
> menyelinap di pikiran saya sambil mendengarkan presentasi Pak Andang.
> Pertanyaan2 tentang sedimentologi dan geokimia selanjutnya di part-2. Mohon
> jawaban/komentar Pak Andang.
> >
> > Salam,
> > awang
> >
> >
> >
> > ---------------------------------
> > Do you Yahoo!?
> > Win a $20,000 Career Makeover at Yahoo! HotJobs
> 
> 
> 
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> 
> Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
> Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
> Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif 
> Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
> ---------------------------------------------------------------------
> 
> 
> ---------------------------------
> Do you Yahoo!?
> Win a $20,000 Career Makeover at Yahoo! HotJobs

Kirim email ke