Dari apa yang telah disampaikan para pejabat di proyek ini, pemahaman saya
( mungkin salah ), bahwa ada sungai bawah tanah yang mengalir dg debit
tertentu dan kedalaman 100 an meter ( Gua Bribin), Untuk memompa air ini
dibutuhkan tenaga listrik sebesar 220 KVA ( 220 KW), untuk mendapatkan
tenaga listrik tersebut dibikin PLTA bawah tanah ,dimana aliran sungai bawah
tanah tersebut dibendung dan kemudian dialirkan lagi untuk dapat memutar
turbin.Dari penjelasan nya proyek ini memakan biaya 70 M Rp.dan ini akan
dibantu oleh pemerintah Jerman.Karena PLTA tsb berada dibawah tanah ( sungai
bwh tanah) maka biaya investasinya sebsesar itu, Pertanyaannya kenapa hanya
untuk memenuhi energi listrik yang besarnya cuma 220 KW tsb mesti
mengeluarkan biaya sebesar itu, padahal kalau dg disel mungkin dg  1 M sudah
dapat disel dg kapasitas 500 KW - 1 MW.
ISM


> Adakah rekan-rekan dari Yogja atau Surabaya yang pernah terlibat atau
> bersinggungan dengan project ini yang tahu tentang perhitungan
> keekonomian-nya? (Pak Heru Hendrayana, Pak Widya, Bu Sari, Pak Gendoet???)
>
> Beberapa informasi yang membuat saya bertanya-tanya:
>
> Diesel bisa menaikkan air ke permukaan: 80liter/detik
> Integrated Mikrohidro bisa menaikkan air ke permukaan: 2000liter/detik
>
> Investasi diesel: Rp.150jt (?) ==> asumsi saya (termasuk pipa, bangunan,
> dsbnya)
> Investasi integrated mikrohidro: Rp.70milyar ==> konversi dari pak ismail
>
> Operational cost diesel: Rp.250.000,-/hari (asumsi) =  Rp. 2,89/detik =
> Rp.0,04/liter
> Operational cost integrated mikrohidro: Rp.100.000,-/hari (asumsi) =  Rp.
> 1,16/detik = Rp. 0,0006/liter
>
> Bagaimana menghitung revenue projek tsb? Apakah airnya dibagikan gratis ke
> masyarakat ataukah ada sejumlah ongkos yang harus dibayar masyarakat
> per-liter airnya?
>
> Bagi yang mengetahui, mohon pencerahannya.
>
> adb
>
>
>
> ----- Original Message -----
> From: "Fajar" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Wednesday, August 04, 2004 10:25 AM
> Subject: Re: [iagi-net-l] Masih soal bawah tanah di Jogja ... Pertama di
> Dunia, Bendungan di dalam Tanah
>
>
> > Sepertinya yang dimaksud pak menteri itu adalah studi isotop, bisa untuk
> > penjejak (tracer) atau kalibrasi umur. Perkembangan studi Bribin ini
> sangat
> > menarik dan investasinya besar, memang kalau hanya untuk PLTA sepertinya
> > secara ekonomi tidak "reasonable".
> >
> > Salam,
> > R. Fajar (2448)
> > NB : mengenai bendungan bawah tanah..mungkin bukan yang pertama di
dunia.
> > Indonesia bekerjasama dengan Jepang telah mengembangkan bendungan karet
> > untuk membendung airtanah di pelosok negeri ini. Saya pernah terlibat
> dalam
> > pekerjaan bendungan karet ini di Karang Asem, Bali untuk membendung
sungai
> > yang hilang (loosing stream) akibat patahan yang sangat
intensif..hasilnya
> > sangat memuaskan.
> >
> >
> > ----- Original Message -----
> > From: "ismail" <[EMAIL PROTECTED]>
> > To: <[EMAIL PROTECTED]>
> > Sent: Tuesday, August 03, 2004 10:18 PM
> > Subject: Re: [iagi-net-l] Masih soal bawah tanah di Jogja ... Pertama di
> > Dunia, Bendungan di dalam Tanah
> >
> >
> > > Dari studi yang pernah dilakukan pada tahun 70 -80 an ( Progo basin
> study
> > /
> > > Yogyakarta Ground water resources study ) diketahui bahwa potensi
sungai
> > > bawah tanah daerah in cukup banyak al di Gua Bribin dg debit 700l/dt (
> > yang
> > > sekarang lagi mau dikembangkan itu ) , Gua Ngobaran 220 l/dt , Gua
> Seropan
> > > 800 l/dt.Daerah yang merupakan dataran tinggi dr sistem Peg selatan
ini
> > juga
> > > banyak ditemui sumber - sumber air ( tealaga/luweng) yang tersebar dan
> > > sangat potensial dikembangkan, mengingat sedikitnya curah hujan
didaerah
> > ini
> > > ( kurang lebih 1700 MM dg pereode kemarau 5-7 bulan) Kalau diamati
pola
> > > penyebaran desa desa di daerah ini mengikuti pola keberadaan dari
luweng
> > > luweng ini.Sebetulnya pada pereode tsb di daerah ini telah banyak
> > dilakukan
> > > pemboran pemboran air tanah ( lebih 50 an sumur )dengan kedalaman
kurang
> > > lebih 100 an meter dan dimanfaatkan untuk air minum dan pengairan .
> > > Mengingat curah hujan yang relatif kecil, maka kemungkinan besar
sistem
> > air
> > > tanah didaerah ini disuplai dari sungai oyo yang melintasi daerah ini,
> > yang
> > > membentuk sungai sungai bawah tanah yang berpola sangat komplek.dan
> > mengalir
> > > kerah samodra hindia mengingat kemiringan tpografi yang mengarah ke
> > selantan
> > > dg kemiringan 10 an derajat.
> > >
> > > Dari rencana akan dibangunnya PLTA bawah tanah yang akan menghasilkan
> > > listrik 440 KVA ( 220 KVA akan dipakai untuk mengopersikan pompa),
> rasanya
> > > ini suatu proyek yang sangat besar dari segi investasinya, bayangkan
> > > bagaimana bikin bendungan dibawah tanah dan bangunan lainnya untuk
> > > menggerakan turbin. Kalau dilihat dari biayanya yang akan diberikan
oleh
> > > Pemerintah Jerman ( saya tidak tahu yang dimaksud bantuan itu apakah
ini
> > > dalam bentuk grant,softloan, atau kredit export ) sebesar Rp.70 M (
7,7
> > Juta
> > > dollar dg 1 $ = 9000,- ) ini sangat besar sekali, karena untuk
investasi
> > > pembangkit listrik itu biasanya biayanya antara 1 - 2 juta dollar/MW ,
> > jadi
> > > kalau kapasitas yang dihasilkan "cuma" 440 KVA atau 0,44 MW berarti I
MW
> > nya
> > > bisa 14 juta dollar.
> > > Jadi kalau secara ekonomi ( mungkin ada pertimbangan lain) kalau cuma
> > untuk
> > > mendapatkan daya listrik untuk menaikan air / memompa yang hanya 220
KVA
> > tsb
> > > , lebih praktis pakai disel saja.
> > > Mungkin ada yang tahu apa hubungannya PLTA ini dengan Nuklir tsb,
kalau
> > > tidak salah ilmu nuklir ( radio aktif) ini dapat dipakai untuk untuk
> > > mengetahui aliran aliran bawah tanah arahnya kemana, mengathui
kebcoran
> > > kebocoran bendungan, aliran aliran fluida dalam suatu reservoar  , (
> > > prisipnya untuk membantu mengetahui arah aliran fluida) disamping
untuk
> > > mengetahui umur batuan.atau ada yang lain mungkin.
> > > ISM
> > >
> > >
> > > ----- Original Message -----
> > > From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]>
> > > To: <[EMAIL PROTECTED]>
> > > Sent: Tuesday, August 03, 2004 5:53 PM
> > > Subject: [iagi-net-l] Masih soal bawah tanah di Jogja ... Pertama di
> > Dunia,
> > > Bendungan di dalam Tanah
> > >
> > >
> > > > Pertama di Dunia,  Bendungan di dalam Tanah
> > > >
> > > > Dengarkan Menristek Hatta Kertarajasa dan Gubernur DIY Sri Sultan
> > Hamengku
> > > > Buwono X mendengarkan Pimpinan Proyek "Pembangunan Pembangkit
Listrik
> > > dengan
> > > > Memanfaatkan dan untuk Eksploitasi Air Sungai Bawah Tanah Bribin,
> > > > Gunungkidul" Prof Dr Ing Franz Nestnjann saat menjelaskan
pembangunan
> > > proyek
> > > > tersebut. (Foto : SM CyberNews/Sugiarto)
> > > > Gunung Kidul, CyberNews. Menristek Hatta Kartarajasa mengatakan,
masih
> > > > banyak masyarakat kita yang belum tahu manfaat teknologi nuklir.
> Selama
> > > ini
> > > > yang mereka tahu, bahwa kata nuklir disamakan dengan 'Bom' yang
> meletus
> > di
> > > > Hirosima dan Nagasaki, Jepang.
> > > > Padahal apabila teknologi nuklir ini dikembangkan secara damai,
justru
> > > dapat
> > > > mensejahterakan rakyat banyak. Seperti pembuatan dam di bawah tanah
> pada
> > > > kedalaman 100 meter lebih di bawah tanah.
> > > >
> > > > ''Apabila teknologi nuklir ini dikembangkan secara damai, justru
> sangat
> > > > bermanfaat bagi kelangsungan hidup umat manusia,'' kata Menristek
> Hatta
> > > > Kartarajasa pada peresmian pengeboran Proyek Pembangunan Pembangkit
> > > Listrik
> > > > Dengan Memanfaatkan dan untuk Eksploitasi Air Sungai Bawah Tanah di
> > > Bribin,
> > > > Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Senin (2/8).
> > > >
> > > > Lebih lanjut Menristek mengatakan, salah satu contoh pengembangan
> > > teknologi
> > > > nuklir yang dilakukan secara damai adalah proyek pengeboran dan
> > > pembangunan
> > > > dam di dalam sungai bawah tanah. Dengan demikian, apabila teknologi
> > nuklir
> > > > itu dilakukan secara damai dan benar bisa menjadi tumbuhan hidup
umat
> > > > manusia.
> > > >
> > > > Apalagi, tambah Kartarajasa, air merupakan salah satu sumber
> > kelangsungan
> > > > hidup manusia yang harus kita lestarikan. Hal ini perlu disampaikan,
> > > karena
> > > > sumber air di dunia tidak lebih dari 3 persen. Untuk itu, kita
> bersyukur
> > > > bisa mengembangkan sumber air yang ada di sungai dalam tanah.
> > > >
> > > > Semua itu bisa terjadi, karena kemajuan teknologi dan sumber daya
> > manusia
> > > > yang mumpuni. Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan
kelangsungan
> > > hidup
> > > > manusia akan datang menggantungkan pada teknologi. Proyek yang
> > > dikembangkan
> > > > di Bribin ini, tambah Menristek, merupakan salah satu contoh
kemajuan
> > > > teknologi dengan memanfaatkan sumber alam.
> > > >
> > > > Sementara Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam kesempatan
> itu
> > > > mengatakan, proyek pengeboran dan pembangunan dam di bawah tanah
serta
> > > > pembuatan listrik tenaga air ini sepenuhnya dibiaya Pemerintah
Jerman
> > > > melalui Universtas Karlsruhe Jerman sebesar Rp 70 miliar. Proyek
kali
> > > > pertama di dunia ini, dikerjakan langsung oleh para ahli dari Jerman
> dan
> > > > Badan Tenaga Atom Nasional (Batan).
> > > >
> > > > Peresmian pengeboran tanah ke dalam dasar sungai bawah tanah dengan
> > > > disaksikan Menristek Hatta Kartarajasa, Gubernur DIY Sri Sultan
> Hamengku
> > > > Buwono X dan pejabat DIY sudah berhasil mengebor sedalam 19 meter
> > dibawah
> > > > tanah. Pengeboran ke dinding sungai bawah tanah diperkirakan akan
> > mencapai
> > > > 104 meter dengan diameter 2,4 meter.  Untuk menyelesaikannya
> dibutuhkan
> > > > waktu sekitar 4 bulan
> > > >
> > > > Pembangunan tahap awal hanya khusus pengeboran tanah ke dalam sungai
> > bawah
> > > > tanah. Sedangkan pembangunan tahap kedua, para ahli dari Jerman dan
> > > > Indonesia segera membuat dam sekaligus membangun listrik tenaga air
di
> > > > sungai bawah tanah. Nantinya air di sungai bawah tanah itu disedot
ke
> > atas
> > > > lalu didistribusikan ke masyarakat melalui jaringan pipa.
> > > >
> > > > Dalam sungai bawah tanah itu, menurut Sultan, akan dibangun
bendungan
> > air
> > > > dengan tinggi 4 meter dan panjang 10 meter. Bendungan ini
diperkirakan
> > > mampu
> > > > menampung air sungai Bribin 400 ribu meter kubik. Sedangkan turbin
> yang
> > > > digerakkan melalui aliran sungai Bribin mampu menghasilkan 440 KVA.
> > > > Sementara untuk mengoperasikan pompa air hanya membutuhkan 220 KVA,
> > > sehingga
> > > > kelebihanyya bisa dipergunakan penerangan jalan yang ada di daerah
> > > tersebut.
> > > >
> > > > Sebelumnya untuk menaikkan air sungai bawah tanah Bribin menggunakan
> > mesin
> > > > diesel. Namun biaya yang dikeluarkan terlalu besar tidak seimbang
> dengan
> > > air
> > > > yang dialirkan yang hanya sebesar 80 liter per detik. Sedangkan
dengan
> > > > teknologi modern ini, debit minimum yang tersedia sebesar 2000 liter
> per
> > > > detik pada musim kemarau. Sementara pada musim hujan debit air
> mencapai
> > > 4000
> > > > liter per detik. Apabila proyek ini nanti berhasil, maka akan
> > dikembangkan
> > > > ke daerah lain.( sugiarto/CN07 )
> >
> >
> >
> > ---------------------------------------------------------------------
> > To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
> > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> > Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan
> Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
> > Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
> > Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
> > Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
> > Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau
> [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
> > Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
> > ---------------------------------------------------------------------
> >
> >
>
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan
Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
> Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
> Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau
[EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
> ---------------------------------------------------------------------
>
>
>



---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif 
Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke