Tanggapan lain dr milist lingkungan
===

--- In [EMAIL PROTECTED], AGA DAKO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Teman-teman,

Saya kira kurang tepat kalo ada yang bilang 'tambang rakyat' tidak
diutak-atik oleh LSM.  Seingat saya sewaktu masih tinggal di Manado
sekitar tahun 2000, bersamaan dengan perang melawan Newmont,
teman-teman NGOs di Manado juga berkali-kali melakukan warning kepada
Pemerintah Daerah tentang
bahaya tambang rakyat (katakanlah PETI seperti kata
R.P.Koesoemadinata).  Pernah 'tambang rakat' didemo oleh warga Tatelu,
Talawaan dan sekitarnya karena mengakibatkan kerugian bagi kolam ikan
mas dan nila disana.  Salah satu yang ngotot waktu itu adalah Bapak
Daniel Limbong dan Inneke Rumengan (saya lupa nama NGO-nya) yang
bahkan melakukan pengambilan sampel merkuri pada masyarakat sekitar
lokasi tersebut.  Salah satu staf KELOLA Manado (Ita Teteregoh) yang
berasal dari sana juga terlibat dalam investigasi kegiatan tambang
rakyat ini.

Pemerintah Daerah pada waktu itu tidak bisa berbuat banyak karena
didalam segala bentuk pekerjaan yang menghasilkan duit, pasti terlibat
polisi, tentara, preman, bahkan pemerintah juga yang mengambil untung
atau 'upeti' dari kegiatan tersebut, selain sebagian 'rakyat' yang
juga menjadi pekerja disana.  Dan memang gaung kampanyenya tidak sampe
nyaring terdengar di Jakarta karena
advokasinya di tingkat daerah.  Dinas Pertambangan Minahasa maupun
Porvinsi terkesan mempermasalahkannya karena dari segi administrasi
memang 'susah diatur' dan dari segi finansial tidak ada apa-apanya.

Mengenai kebenaran, menurut saya selalu saja kebenaran itu relatif. 
Sekarang menurut penelitian IAGI bahwa Newmont bukan penyebab adanya
penyakit aneh di masyarakat Buyat, karena kadar merkurinya masih
diambang batas dan arsen itu datangnya dari alam, tetapi akan datang
lagi kebenaran yang lain yang bilang bahwa memang Newmont yang
'meracuni' rakyat, dan seterusnya....
Senantiasa yang selalu 'benar' itu adalah yang ilmiah dan yang punya
kuasa.  Kalo rakyat biasa menemukan fakta dan data-data, biasanya
dianggap tidak ilmiah.  Harus ada Professor atau Doktor dari bidang
itu yang berbicara, barulah itu benar.  Tidak semua Professor atau
Doktor akan berbicara 'benar' atau paling tidak 'menyembunyikan' hal
yang lain yang dianggapnya benar atau
mencari alasan pembenaran, karena pasti akan melihat siapa yang
menjadi sponsor penelitiannya, workshopnya, organisasinya, termasuk
pekerjaannya.  Dan ingat, dimana-mana penjajahan di atas bumi ini
disponsori oleh orang-orang 'pintar' dan menganggap hanya mereka yang
benar.

Newmont menjadi sasaran empuk bagi teman-teman NGO karena adanya
ketidakadilan dalam penguasaan sumberdaya alam.  Bahwa penghancuran
sumber mata pencaharian rakyat di hutan dan laut itu hanya akan
bergelantungan di kuping, tangan, leher dan bangunan megah orang-orang
yang berduit, yang
senantiasa bangga mempertontonkan kemewahannya pada orang-orang
miskin.  Ini juga karena pengambil kebijakannya di Jakarta, dan yang
punya persahaan Amerika, yang selalu merasa paling benar di atas bumi
ini, maka gaungnya sampe di KOMPAS dan New York Times.

Kalo teman-teman di IAGI bisa bicara benar, mengapa STD di larang di
Amerika?  Mengapa negara-negara maju tidak membuang tailingnya sedalam
82 m di laut?  Mengapa justru Buyat dan NTB jadi kelinci percobaan? 
Bisa dijelaskan secara 'ilmiah'?

Salam,
AGA

===

From:  Roberth Andrew <[EMAIL PROTECTED]> 
Date:  Thu Dec 2, 2004  11:48 am 
Subject:  Re: [Lingk] PRESS RELEASE IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) - BUYAT

 

Wah.... sungguh bijak Sdr Fajar ini dalam menyikapi permasalahan yg ada. Saya
sangat setuju bahwa nilai-nilai ilmiah harus dijadikan basis dalam menyelesaikan
masalah ini. Jangan berpikiran negatif dulu terhadap nilai2 keilmuan di negara
kita ini. Saya sangat yakin di negara kita masih banyak kawan-kawan kita yang
punya nurani dan moral yang baik.

Buktinya apa, kita sudah berpikiran negatif bahwa dengan adanya verifikasi
pemerintah akan bernuansa politis, buktinya... eh... malah pemerintah juga
mendukung.... ingat mereka2 juga tidak bodoh seperti apa yang kebanyakan orang
kira....

Namun tetap kita waspada karena masih banyak orang yang suka memanfaatkan
keadaan untuk mencari keuntungan pribadi atau golongan.

Intinya, gak usah banyak omong dulu klo memang kita tidak tahu... jadilah
pendengar yang baik saja dulu.. biar yang pinter-pinter itu yang memberi
komentar. Mereka itu pasti belajar apa yang kita tidak tahu... dan mencoba
ngasih tahu ke kita. Kita khan sudah punya bagian masing-masing...
Orang sosial ngomong geologi, orang hutan ngomong ikan, orang pertambangan
ngomong hukum, ya... ga bakalan nyambung... bunyinya aja nyaring... klo pun tau
ya... cuma kulitnya. Pasti omongannya: "katanya menurut ini..."

Salam,
RA

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL 
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke