Kenyataannya pupuk yang disubsidi dengan harga gas yang murah, tujuannya lebih untuk eksport ketimbang dipergunakan untuk petani di Indonesia. Bila memang produksi pupuk adalah untuk kepentingan nasional, kenapa produk ini diproduksi terus menerus padahal pihak produser sudah tahu bahwa produk ini nggak cocok untuk keperluan domestik.
Pada akhirnya walaupun gas dikirim ke pabrik pupuk, pertanyaannya adalah apakah pupuk tersebut ditujukan untuk penggunaan domestik? Kalau tujuannya export, maka lebih baik gas tersebut dikirim sebagai LNG, bukan export pupuk Regards, Arifin Tak Bisa Dipasarkan, 170.000 Ton Pupuk Urea Menumpuk > http://www.kompas.com/kompas-cetak/0412/17/daerah/1443971.htm > > Bontang, Kompas - Sekitar 170.000 ton pupuk urea hasil produksi PT Pupuk > Kalimantan Timur di Kota Bontang tidak bisa dipasarkan. Akibatnya, pupuk > tersebut tak bisa lagi ditampung di gudang perusahaan yang berkapasitas > 145.000 ton. Pupuk yang tidak tertampung sekitar 25.000 ton atau setara > dengan 5.000 truk itu kemudian ditumpuk di lapangan, helipad, dan > beberapa tempat terbuka lainnya yang ada di sekitar pabrik pupuk seluas > 230 hektar tersebut. > > Berdasarkan pemantauan Kompas di kawasan PT Pupuk Kaltim, Kota Bontang, > Kamis (15/12), hampir semua areal terbuka di kawasan pabrik pupuk > tersebut dipenuhi tumpukan pupuk urea. Pupuk tersebut dikemas dalam > karung-karung berwarna putih. Kemudian, untuk menghindari guyuran air > hujan dan terpaan panas matahari, tumpukan pupuk urea ditutup terpal > plastik sangat besar berwarna oranye. > > Sementara untuk menghindari rembesan air hujan yang saat ini kerap > terjadi di Kota Bontang, bagian dasar tumpukan pupuk diberi papan > setinggi 20 sentimeter. > > Tumpukan pupuk terlihat bukan hanya di berbagai lapangan olahraga yang > terdapat di kawasan pabrik, tetapi juga di helipad yang terletak di > samping gedung Kantor Pusat PT Pupuk Kaltim. Bahkan, ruangan terbuka > yang terletak antara pabrik dan laut juga dipenuhi tumpukan pupuk > > Direktur Produksi PT Pupuk Kaltim Suhardi Rachman yang dikonfirmasi > mengatakan, penumpukan pupuk tersebut terjadi akibat musim tanam yang > mundur sekitar tiga bulan dari awal Oktober menjadi Desember sehingga > penyerapan pupuk oleh petani sangat sedikit. > > Hal ini masih ditambah lagi dengan larangan ekspor pupuk oleh pemerintah > untuk menjamin ketersediaan pupuk petani. Selain itu, produksi keempat > pabrik di PT Pupuk Kaltim selama ini tidak mengalami gangguan dan > berlangsung normal, yakni mencapai 2,6 juta ton pupuk per tahun atau > rata-rata 19.260 ton setiap hari > > "Menghentikan produksi sama sekali tidak mungkin karena untuk start-up > atau memulainya kembali dibutuhkan biaya dan energi yang sangat besar," > kata Suhardi. > > 15 provinsi > > PT Pupuk Kaltim, dengan kapasitas terpasang 2,9 juta ton per tahun, saat > ini ditugaskan pemerintah untuk memasok pupuk bagi kebutuhan petani di > 15 provinsi Indonesia bagian timur. Selain itu juga memasok 16 kabupaten > di Jawa Timur. > > Karena sebagian besar pupuk disalurkan ke daerah terisolasi, PT Pupuk > Kaltim mengalami kerugian akibat mahalnya biaya distribusi. Harga pupuk > di daerah-daerah tersebut hanya Rp 1.050 per kilogram, sedangkan di > pasaran internasional harga pupuk di pabrik (free on board/ FOB) 230-240 > dollar AS per ton, atau setara dengan Rp 2.070 per kilogram, dan > transportasi ditanggung pembeli. > > "Keuntungannya sangat besar jika pupuk yang menumpuk di gudang ini > diperkenankan untuk diekspor. Namun, sebagai BUMN, kami ditugaskan > menjamin kebutuhan pupuk petani," kata Suhardi. Sebagai konsekuensi, > Pupuk Kaltim memperoleh subsidi gas. > > Sementara itu, Hens Saputra, Ade Sholeh Hidayat, dan Anwar Mustafa, > ketiganya pakar kimia Badan Pengembangan dan Penerapan Teknologi (BPPT) > yang melakukan penelitian pupuk urea, mengatakan, kebutuhan pupuk petani> > saat ini sekitar 4,6 juta ton per tahun. Kebutuhan pupuk ini sangat > boros karena 70-80 persen pupuk urea yang dipasarkan saat ini mudah > larut dalam air sehingga penyerapan pada tanaman cuma 20-30 persen. > Akibatnya, petani harus memupuk tiga kali selama musim tanam. > > Untuk menghemat, lanjut Hens Saputra, BPPT mengusulkan agar urea > dicampur zeolit sehingga pelepasan nutrien pupuk bisa diatur sesuai > dengan umur tanaman. Penggunaan zeolit, berdasarkan penelitian BPPT, > bisa menghemat secara nasional. (THY) -----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Monday, December 20, 2004 9:52 AM To: [EMAIL PROTECTED] Subject: Re: [iagi-net-l] Nasib industri ketika gas 'menguap' ke luar negeri (1 of 2) > Vick Kali ini Anda berfikir sangat nasionalistis , sehingga tdak bisa melihat permasalahannya dengan komprehensif. Sebagaimana Anda saya sudah lama memikirkan perlunya suatu energy mixed policy dalam pemenuhan energi primer di Indonesia. Oleh karena itu waktu mendengar Tangguh agak sulit mendapatkan pasar untuk LNG - nya, saya sangat "bergembira" , dalam artian semestinya memang LNG tidak harus selalu diekspor. Kendalanya adalah setiap energi (termasuk listrik dsb) itu selalu diusahakan oleh Pemerintah (siapapun Presidennya)untuk dapat dinikmati oleh seluruh rakyat sesuai UUD 45 ayat 33. Tetapi kita terlena (kaya lagu dangdut itu lho) , subsidi jaln terus , semua menikmati tanpa memikirkan efesiensi yg lebih baik agar pada saat harga energi tidak disubsidi mmasih tetaap bisa survive. Padahal pada saat ini Pemerintah mmpunyai kepentingan dengan dana yang tidak sedikit untuk pembayar utangdan biaya APBN. Nah disinilaah letakl dilemmanya. Kelihatannya pelahan tpi pasti harga energi mau tidak mu harus disesuaikan dengan harga ekonominya , kalau tidak bangsa ini akan lebih collapse , memang akan ada ssedikit kesengsaraan , tetapi apabila tidak dilakukan sekarang maka akan lebih berbahaya . Nah sekarang terpulang kepada Pemerintah untuk memilih sektor mana yang akan di "sengsara" kan. Saya kira pupuk yang meerupakan kebutuhan poko petani (apa iya hanya pupuk kimia yang bisa menikan produktifitas beras ?( nah ini sedang jadi bahan perdebatan lho) Jadi Vick , kelihatannya sebagai geoscientist , paling tidak kita bisa memberikan suatu pemikiran al. melalui "Usulan" yang dihasilkan oleh para profesional sebagaimana saya usulkan. OKEY (Cwiiiiw , nah ini tereakan kebangsaan Anda kn !!!). Si Abah. --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

