Menurut rekan, di TV pernah ada pembahasan kalau gelombang air,diatas
titik gempa (pulau simeuleu?), akan mempunyai tinggi gelombang : pendek
tetapi panjang gelombang : panjang. (mungkin karena kedalaman air sangat
dalam/ di daerah penunjaman).
Sementara gelombang akan merambat ke daerah sekitar pantai dangkal
(meulaboh, Banda Aceh, Calang) dan berubah menjadi gelombang yang
mempunyai tinggi gelombang : tinggi, dan panjang gelombang : pendek.
Kemudian gelombang di daerah yang jauh (srilangka), terjadi penguatan
gelombang karena massa air yang membesar (disebandingkan efek bola salju).
Benarkah demikian?, mungkin para ahli gelombang (geophysicist,
oceanography), yang bisa berkomentar.
"O.K Taufik" <[EMAIL PROTECTED]>
03/01/2005 07:22 AM
Please respond to iagi-net
To: <[email protected]>
cc:
Subject: RE: [iagi-net-l] Update Gempa Aceh 2 januari 2005
Senin, 03 Jan 2005,
Tradisi Selamatkan Pulau Simeulue
Terdekat Episentrum, Tersedikit Korban
JAKARTA - Pulau Simeulue adalah keajaiban. Pulau ini amat dekat dengan
episentrum gempa pemicu tsunami di Aceh dan Sumut. Namun, korban jiwanya
paling sedikit. Kabupaten berpenduduk sekitar 65 ribu orang itu hanya
sekitar 60 km dari episentrum gempa. Jauh lebih dekat dibandingkan dengan
Meulaboh atau Banda Aceh yang lebih dari 140 km.
Korban di sini tidak ribuan atau ratusan. Tercatat 6 orang meninggal dan
satu hilang. Hanya nama-nama korban di pulau dengan 135 desa itu yang bisa
diidentifikasi satu demi satu. Tidak anonim seperti di tempat-tempat lain
yang tewas masal. Warga memang banyak mengungsi, yakni 73.015 orang.
Keselamatan warga itu menjadi yang terpenting, meskipun banyak rumah
rusak, yakni 7.263 unit. Sebanyak 62 unit gedung pemerintah dan sekolah
hancur. Begitu pula 168 unit masjid rusak. Jembatan dan jalan belum
terdata dan kendaraan roda empat tidak bisa masuk ke pedalaman.
Salah seorang warga Pulau Simeulue, Drs Yusman, membenarkan korban tsunami
di Pulau Simeulue tergolong kecil. Dia menyebut, ini karena ada pengalaman
sejarah yang membuat warga di pulau yang dihuni 70 ribu penduduk itu
bersikap antisipatif terhadap badai tsunami.
"Ada semacam pelajaran turun-temurun jika ada gempa diikuti air laut
surut, pasti akan diikuti gelombang besar. Kami di sini menyebutnya
smong," kata Yusman yang dihubungi koran ini dari Jakarta kemarin. Istilah
smong seolah menjadi tradisi yang wajib diajarkan turun-temurun secara
informal sejak terjadi musibah tsunami pada 1907.
Karena kisah ini melekat dalam kehidupan masyarakat, maka anak kecil pun
pasti memahami isyarat alam tersebut. Dengan demikian, pada 26 Desember
lalu, warga Pulau Simeuleu spontan melakukan aksi penyelamatan dengan cara
naik ke lokasi perbukitan begitu merasakan getaran gempa.
"Anak kecil, dewasa, dan orang tua langsung naik ke bukit. Pokoknya, cari
dataran lebih tinggi sebab mereka tahu air laut akan pasang," jelas pria
yang berdinas sebagai Kasi Haji di Kantor Depag Kabupaten Simeulue ini.
Ini berbeda dengan reaksi warga Pulau Nias. Saat mereka berada di pantai
dan melihat air surut, malah banyak yang sibuk menangkapi ikan yang
menggelepar-gelepar. Selain itu juga tak ada refleks kewaspadaan seperti
di Simeulue. Karena itulah, 227 warga Nias tewas.
Karena itulah, dahsyatnya kerusakan di Pulau Simeulue tidak sebanding
dengan jumlah korban yang relatif sedikit. Menurut Yusman, nyaris semua
rumah di pesisir di enam ibu kota kecamatan di Pulau Simeulue dapat
dikatakan sudah rata dengan tanah, bahkan tidak tersisa lagi bangunan yang
tegak.
Kecamatan tersebut adalah Teluk Dalam, Tepa Barat, Kampung Air, Naserehe,
Simeuleu Barat, dan Alafan. Desa Gudang/Kawat, Labuhan Bajau, Ulul Asin,
Nasrehe, Salang (kondisinya habis), Maodil, Lantik, Salur (tersisa satu
masjid dan satu MCK), Laayon (tinggal masjid dan dua rumah), Desa Ganting
dan Kuala Makmur nyaris hancur total.
Sedangkan ibu kota Kabupetan Simeulue, Sinabang, dikabarkan relatif aman
mengingat kawasan tersebut dikeliling pulau-pulau kecil.
Ada yang yang lebih aneh lagi. Menurut Yusman, penghuni Pulau Simeuleu
menganggap air laut pasang pada musibah tsunami dianggap sebagai kejadian
biasa. Sebab itu, sekitar 78 calon jemaah haji asal Pulau Simeuleu tetap
saja berangkat ke embarkasi Banda Aceh untuk terbang ke tanah suci selang
tiga hari setelah kejadian tsunami. Mereka menumpang kapal cepat yang
memakan waktu satu hari perjalanan.
"Warga tetap berangkat dan tidak tahu bahwa terjadi penundaan
pemberangkatan, karena hubungan telepon dari dan ke Pulau Simeulue putus
tanpa alasan yang jelas. Sedang siaran televisi kami tidak tahu," beber
Yusman.
Sesampai di Pelabuhan Uleule, rombongan melihat pelabuhan rusak berat.
Akhirnya mereka merapat di Pelabuhan Sabang. Untungnya, di Pelabuhan
Sabang kerusakannya tidak terlalu parah, sehingga mereka langsung
beristirahat di kawasan Indonesia paling ujung tersebut.
Dan, hingga kemarin, mereka tetap bermalam di Sabang karena nahkoda merasa
trauma untuk memberangkatkan kapal cepat balik ke Pulau Simeulue. Apalagi,
ratusan warga di Sabang ingin berangkat ke Pulau Simeuleu untuk mengetahui
keadaan keluarganya apakah selamat atau tidak akibat musibah tsunami.
Kerabat Cemas
Semula banyak orang yang mempunyai kerabat di Simeulue dilanda kecemasan
luar biasa. Misalnya, Safruddin Ngulma, direktur LSM Peduli Indonesia,
yang tinggal di Trawas, Mojokerto, Jatim. Selama sepekan dia mencari
informasi ke sana kemari. Dia nyaris pasrah karena belum berhasil
mengontak keluarganya di tengah kekalutan pemberitaan media.
Minggu kemarin usaha Safruddin membuahkan hasil. "Saya benar-benar
mendapat rahmat Allah yang teramat besar, berhasil berbicara lewat telepon
dengan adik saya (Ibnu Aban G.T. Ulma Simeulue, wakil bupati Simeulue),"
katanya. Adiknya dikontak ketika sudah di Sabang, menjelang berangkat
haji.
Keduanya berbicara cukup lama, sekitar 15 menit. Dari pembicaraan
tersebut, dia mendapat gambaran yang lengkap dan pasti tentang korban dan
kerugian di pulau yang berada di lepas Pantai Meulaboh itu akibat
diterjang tsunami pada Minggu pagi, 26 Desember 2004.
"Keluarga besar kami, baik di Kota Sinabang (ibu kota Kabupaten Simeulue)
dan di Desa Ulul Mayang (Kecamatan Teupah Selatan), tidak ada yang menjadi
korban dalam musibah tersebut. Di Desa Ulul Mayang juga tidak ada bangunan
yang hancur," kata aktivis lingkungan itu.
Keajaiban terjadi di Kota Sinabang. Air masuk ke kota tidak dalam bentuk
gelombang, tetapi naik seperti air pasang. Yang membedakan, pergerakan air
naik cepat dan ketinggian air mencapai dua meter. Tidak seperti air pasang
biasa sehingga relatif tidak merusak kota. Ada beberapa bangunan rusak,
termasuk sentral telepon. Tetapi, kerusakan itu disebabkan gempa
berkekuatan 8,9 skala richter sebelum tsunami datang.
Kabupaten beribu kota Sinabang itu memang langganan gempa. Gempa
sebelumnya, misalnya, pernah terjadi pada November 2002. Gempa berskala
6,5 skala richter ini juga tak menimbulkan korban jiwa, meski banyak
bangunan yang rusak serta memaksa penduduk mengungsi. Waktu itu, tak
terjadi tsunami.
Kini kabupaten dengan 135 desa itu menghadapi problem karena ribuan
pengungsi tersebut. Mereka pun membutuhkan pertolongan segera untuk
pasokan kebutuhan sehari-hari, BBM, obat-obatan, serta perbaikan fasilitas
umum. (agm/jpnn)
-----Original Message-----
From: hilman sobir [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, January 03, 2005 5:36 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Update Gempa Aceh 2 januari 2005
Vicky...!!!
Adakah informasi mengenai nasib kep Andaman dan
Nicobar paska gempa Aceh yang besar itu?
Bagaimana dengan penghuni kepulaauan ini...dan milik
siapaka pulai ini...? wah banyak naya nih ???
Salam
Hilman Sobir
--- Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Pada tanggal 2 januari 2005 hanya tercatat satu
> gempa di
> Aceh-Nicobar-Andaman area. Gempa ini berkekuatan 5.3
> SR tepatnya pada
> Sunday, January 2, 2005 at 7:12:13 PM = local time
> at epicenter.
> Kedalaman gempa 35 Km. Ada 2 getaran tambahan dari
> yg tanggal 1 jan 05
> kemaren.
>
> Jumlah gempa yg tercatat sejak 26 Dec 2004 disekitar
> Aceh-Nicobar
> sebanyak 94 kali. Jumlah ini berbeda dengan
> informasi2 lain mungkin
> karena USGS hanya menyampaikan getaran gempa2
> penting atau gempa
> sedang-besar (diatas 5 SR). Gempa2 dibawah 5 SR
> mungkin hanya akan
> dirasakan oleh orang-orang yg berada disekitar
> daerah bencana ini.
>
> Hasil pengukuran secara statistik menunjukkan
> penurunan intensitas gempa sbb :
>
> Hari ke-1 (26 Des 2004) = 33 Getaran (Main shock 9.0
> SR, after shock 7.1SR)
> Hari ke-2 (27 Des 2004) = 29 Getaran (max 6.1 SR)
> Hari ke-3 (28 Des 2004) = 8 Getaran (max 5.8 SR)
> Hari ke-4 (29 Des 2004) = 5 Getaran (Max 6.2 SR)
> Hari ke-5 (30 Des 2004) = 6 Getaran (Max 5.9 SR)
> Hari ke-6 (31 Des 2004) = 7 Getaran (Max 6.3 SR)
> Hari ke-7 (1Januari 2005) = 4 Getaran (Max 6.5 SR)
> Hari ke-8 (2 Januari 2005) = 1 Getaran (max 5.3 SR)
>
> Penurunan intensitas gempa ini menunjukkan mulai
> stabilnya daerah ini.
>
> RDP
>
> Gambar juga dapat diperoleh di my blog :
> http://putrohari.tripod.com/Putrohari/
>
> ATTACHMENT part 2 image/pjpeg name=Slide1_2Jan04.JPG
>
---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to:
> [EMAIL PROTECTED]
> To subscribe, send email to:
> [EMAIL PROTECTED]
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> IAGI-net Archive 1:
> http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2:
> http://groups.yahoo.com/group/iagi
> Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy
>
Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
> Komisi SDM/Pendidikan : Edy
> Sunardi([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
> Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED]
> atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi
> Dahlius([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Database Geologi : Aria A.
> Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
>
---------------------------------------------------------------------
Find local movie times and trailers on Yahoo! Movies.
http://au.movies.yahoo.com
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy
Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau
[EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy
Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau
[EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------