Seharusnya Indonesia yang alamnya sangat potensial terjadi bencana alam,
seperti longsor, gunung meletus, gempa maupun tsunami, seharusnya
mempunyai badan yang dapat mengsosialisasikan ERP (Emergency Response
Plan) seperti di negara-negara maju. Disini ahli geologi selayaknya
berperan memberitahukan ke khalayak ramai lokasi-lokasi yang berpotensi
terjadi bencana dan kemungkinan besarnya serta mencarikan lokasi-lokasi
yang aman. Meskipun kita tahu knowleged/pengetahuan/ilmunya, namun kalau
tidak dilatih/diuji/diterapkan, sama saja dengan masih nggak tahu.
Dengan melakukan ERP secara rutin, misalnya setahun atau dua tahun
sekali, masyarakat diharapkan dengan cepat dan tanggap menyadari akan
bahaya yang mengancam. ERP ini dapat dilakukan pada skop
RT/RW/Kelurahan/Kecamatan/Kabupaten sampai negara (mis. Perang).


>Gantok Subiyantoro, 


-----Original Message-----
From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Monday, January 03, 2005 1:02 PM
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; Himpunan
Ahli Geofisika Indonesia (HAGI); [email protected];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; AhliKeuangan-Indonesia;
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; sugeng wibowo
Subject: [iagi-net-l] Kapan waktu tepat memberikan pelajaran waspada ?
atau beritahukan saja prediksinya ?


Prediksi gempa atau bencana seolah-olah menjadi sesuatu yg ditunggu2
oleh siapa saja. Bahkan tulisan di Kompas dan IAGI-Web 2003 tahun lalu
menjadi buah bibir dibeberapa milist. Berita ini menjadi "the most read
news" di www.iagi.or.id

http://www.iagi.or.id/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=
25&mode=thread&order=0&thold=0

Seberapa pentingya sih prediksi ini untuk menyelamatkan korban ?
Tentunya orang akan tertarik dengan 'what next', apa yang akan terjadi,
berapa nomer nomer buntut yg bakalan keluar, atau siapa yg bakalan
menang sepak bola nanti .... Ramalan emang sesuatu yg sering dan selalu
ditunggu-tunggu dan dicari oleh orang tertentu, termasuk anda kah ?.

Apakah iya prediksi ini paling berperan mengurangi korban ? 
Saya rasa akan lebih bermanfaat jika masyarakat sendiri sudah mampu
membekali diri dengan "pengenalan gejala bencana" ketimbang menunggu
pengumuman si tukang perintah (pemerintah :) tentang akan munculnya
bencana dengan early warning, maupun ramalan/prediksi dari ahli
geofisika/geologi.

Seperti yg aku gemborkan di beberapa milist ---> "Prediksi dan
peringatan dini (early warning)" itu konsumsinya orang- orang "diatas"
sedangkan sosialisasi "kewaspadaan" pada bahaya di lingkungan sendiri
itu konsumsinya orang "awam", macem kita-kita lah ... :).

Skali lagi kuncinya --> Knowledge / Pengetahuan / Ilmu !!!

Prediksi gempa yg keterjadiannya bisa puluhan tahun sekali, dan tsunami
besar ini bisa sekali dalam ratusan tahun. Sehingga prediksi ini mungkin
hanya bermanfaat utk perencanaan bendungan, jembatan, gedung2 tinggi,
serta bangunan2 dan perencanaan strategis lainnya. Kesalahan
prediksinyapun bisa meleset puluhan tahun, tempatnya
(epicenternya) juga bisa meliputi ratusan Km persegi. Kejadiannyapun
bisa sepuluh tahun lagi, seratus tahun lagi, bulan depan, atau bahkan
nanti sore !

Peringatan dini ("Early warning") merupakan serangkaian sistem alat utk
memberitahukan akan timbulnya kejadian alam. Bisa bencana maupun tanda2
alam yg menarik utk dinikmati. Sistem peringatan dini (early
warning) akan melibatkan dan membutuhkan 'hardware' (alat) dan
technology, juga prosedur penyampaian (software), termasuk otoritas
siapa yg berhak/wajib menyampaikan (brainware). Bahkan ketika
disampaikanpun belum tentu orang akan menghindar setelah tahu. Beberapa
tulisan aku baca di web cukup menarik yg intinya "Apakah yg terjadi
ketika kau beritahu bakalan akan ada tsunami ? .... beberapa orang akan
berjejer di pantai untuk melihatnya !".

Pada kenyataannya yang selamat dari bencana kemarin banyak yg sudah
mengetahui gejala-gejala akan datangnya "bencana" tsunami. Sepupu saya,
salah seorang dokter AD yg sedang bertugas di Aceh sana waktu kejadian,
ketika mengetahui ada gempa kekuatan besar langsung melarikan diri ke
tempat lain (naik gunung) dengan mobil, dan selamat. Salah seorang teman
anak saya juga berceritera hal yg sama ttg selamatnya pamannya yg ada di
Aceh, yaitu mengenal kemungkinan tsunami setelah merasakan gempa sempet
menjemput anaknya yang akhirnya selamat.

Beberapa korban adalah yg tidak tahu dan yg tidak waspada, juga terlihat
dari video2 amatir. Misalnya : 1. Crita2 di media menyebutkan bahwa
ketika terjadi surut sebelum tsunami justru banyak yg lari menjorok
kelaut mencari ikan yg terjebak namun dirinya sendiri yang  akhirnya
terjebak -> karena tidak tahu. 2. Yang lainnya akibat menonton tsunami
karena ada badai tsunami pertama yg relatif lebih kecil.--> yg ini
karena tertarik. Kalau anda denger apa yg terjadi di rekaman video2
amatir ini terdengar kata-kata " ... here the bigger one ... here coming
again ... wow, now its huge ...etc, etc" ... artinya mereka sudah tahu
sebelumnya. Namun di video itu nampak orang yg berjejer di pinggir
pantai, dan terhempas !.

Saat ini saya masih lagi kepingin memberikan "pengetahuan" ke masyarakat
tentang bagaimana terjadinya bencana serta tanda2nya, terserahlah mereka
dengan pengetahuan ini mau menonton atau menghindar, itu pilihan
mereka... thats beyond my control !.

Nah aku pingin bertanya kepada ahli-ahli pendidikan di negeri ini.
Kapankah saat yg tepat memberikan pelajaran ttg bahaya ?
- Saat inikah atau segera setelah kejadian.
- Atau menunggu nanti (tahun depan) kalau sudah tenang.

Perlu diingat keterjadian bencana ini puluhan tahun bahkan ratusan tahun
sekali, namun rakyat Indonesia ini mnurutku termasuk yg malas belajar
dan "pelupa" ... maaf.

Kejadian gempa yg sekali dalam ratusan tahun ini memiliki dampak khusus
dalam proses belajar umat manusia  ... its part of learning proccess.
Belajar tidak harus dengan mengalami sendiri ... ini penting !! Kakek
nenek saya tidak megalaminya ... Cucu saya mungkin juga tidak
mengalaminya ... Tapi cicit serta cicit-cicitnya .... dalam artian
"human race" ... mesti dan harus tahu dan belajar ini. Karena "cascading
knowledge" atau "getok tular" inilah salah satu cara "manusia"
mempertahankan rasnya. Atau manusia akan punah dimakan bencana yg tidak
pernah dipelajarinya turun menurun ...

"Ilmu yg disampaikan" ... skali lagi ilmu yg disampaikan
turun-menurunlah yg menyelamatkan "umat manusia " dari kepunahan !!

RDP
-- 
my blog :
http://putrohari.tripod.com/Putrohari/

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] To
subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI
Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1:
http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy
Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst :
Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M.
Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan
Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi
Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A.
Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------




---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL 
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke