Sebetulnya masalah ilmu ini sudah cukup banyak, coba siapapun yg belajar
geosains pasti sudah diajari bagaimana teori teori ttg bencana alam ini (
gempa,sunami,,tanah longsor dll ), dan dimana saja yg mempunyai potensi
bencana tsb. Adapun cara yang paling sederhana untuk mensosialisasikannya,
dipasang saja papan papan reklame disetiap sudut kota/daerah yg punya
potensi benjana dg tulisan " Kalau Ada Gempa lari Keluar Rumah Cari Tempat
Yg Lapang", untuk daerah yg ada potensi tsunami " Ada Gempa Cepat Lari dan
Menjauh Dari Pantai", dll ( kata kata yg praktis dan mudah dicerna). Coba
kalau hal itu dijumpai disusut sudut kota, mungkin dapat mengurangi kurban
( seperti diketahui antara gempa dan tsunami di Aceh kemarin masih ada
beberapa waktu,dan mereka yg sudah menyadari langsung lari ketempat tinggi
dan banyak yg selamat) padahal siapapun geosains sudah tahu kalau di NAD itu
rawan dg gempa dan tsunami, bahkan semua pantai barat sumatra dan selatan
jawa.bahkan sudah diketahui berpuluh puluh tahun lalu sejak teori lempeng
digulirkan.
Pemasangan reklame/tulisan tsb bisa kerjasama dg para sponsor sponsor.
Mungkin cara ini yg paling sederhana dan mudah dipahami oleh awam, daripada
mensuguhi mereka dg teori teori yg jlimet yg hanya bisa dipahami oleh mereka
yg punya pengetahuan geosains yg sebetulnya sudah tdk membutuhkan lagi.
Moment gempa Aceh ini bisa sebagai titik awal untuk memulai program tsb,
misalnya mulai dari Padang, Bengkulu, Lampung, Banten, Sukabumi,pelabuhan
Ratu sampai Bali, lombok.Irian. Pasti banyak sponsor yg mau. Jadi nanti Kita
lihat pojok pojok kota kita lihat tulisan tsb di papan papan reklame , dan
dibawahnya gambar HP Nokia atau Mobil Kijang Inova sebagai sponsornya, dll.
Hal ini dilakukan sambil ' menunggu para pakar berdiskusi ttg bencana dan
segala aspeknya. Karena Bencana alam tidak mau menunggu terus terusan.
Inilah cara yg paling praktis dan mengena tanpa biaya mungkin , karena pakai
sponsor .

ISM



Sent: Monday, January 03, 2005 1:01 PM
Subject: [Geologi UGM] Kapan waktu tepat memberikan pelajaran waspada ? atau
beritahukan saja prediksinya ?


> Prediksi gempa atau bencana seolah-olah menjadi sesuatu yg ditunggu2
> oleh siapa saja. Bahkan tulisan di Kompas dan IAGI-Web 2003 tahun lalu
> menjadi buah bibir dibeberapa milist. Berita ini menjadi "the most
> read news" di www.iagi.or.id
>
>
http://www.iagi.or.id/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=25&m
ode=thread&order=0&thold=0
>
> Seberapa pentingya sih prediksi ini untuk menyelamatkan korban ?
> Tentunya orang akan tertarik dengan 'what next', apa yang akan
> terjadi, berapa nomer nomer buntut yg bakalan keluar, atau siapa yg
> bakalan menang sepak bola nanti .... Ramalan emang sesuatu yg sering
> dan selalu ditunggu-tunggu dan dicari oleh orang tertentu, termasuk
> anda kah ?.
>
> Apakah iya prediksi ini paling berperan mengurangi korban ?
> Saya rasa akan lebih bermanfaat jika masyarakat sendiri sudah mampu
> membekali diri dengan "pengenalan gejala bencana" ketimbang menunggu
> pengumuman si tukang perintah (pemerintah :) tentang akan munculnya
> bencana dengan early warning, maupun ramalan/prediksi dari ahli
> geofisika/geologi.
>
> Seperti yg aku gemborkan di beberapa milist ---> "Prediksi dan
> peringatan dini (early warning)" itu konsumsinya orang- orang "diatas"
> sedangkan sosialisasi "kewaspadaan" pada bahaya di lingkungan sendiri
> itu konsumsinya orang "awam", macem kita-kita lah ... :).
>
> Skali lagi kuncinya --> Knowledge / Pengetahuan / Ilmu !!!
>
> Prediksi gempa yg keterjadiannya bisa puluhan tahun sekali, dan
> tsunami besar ini bisa sekali dalam ratusan tahun. Sehingga prediksi
> ini mungkin hanya bermanfaat utk perencanaan bendungan, jembatan,
> gedung2 tinggi, serta bangunan2 dan perencanaan strategis lainnya.
> Kesalahan prediksinyapun bisa meleset puluhan tahun, tempatnya
> (epicenternya) juga bisa meliputi ratusan Km persegi. Kejadiannyapun
> bisa sepuluh tahun lagi, seratus tahun lagi, bulan depan, atau bahkan
> nanti sore !
>
> Peringatan dini ("Early warning") merupakan serangkaian sistem alat
> utk memberitahukan akan timbulnya kejadian alam. Bisa bencana maupun
> tanda2 alam yg menarik utk dinikmati. Sistem peringatan dini (early
> warning) akan melibatkan dan membutuhkan 'hardware' (alat) dan
> technology, juga prosedur penyampaian (software), termasuk otoritas
> siapa yg berhak/wajib menyampaikan (brainware). Bahkan ketika
> disampaikanpun belum tentu orang akan menghindar setelah tahu.
> Beberapa tulisan aku baca di web cukup menarik yg intinya "Apakah yg
> terjadi ketika kau beritahu bakalan akan ada tsunami ? .... beberapa
> orang akan berjejer di pantai untuk melihatnya !".
>
> Pada kenyataannya yang selamat dari bencana kemarin banyak yg sudah
> mengetahui gejala-gejala akan datangnya "bencana" tsunami. Sepupu
> saya, salah seorang dokter AD yg sedang bertugas di Aceh sana waktu
> kejadian, ketika mengetahui ada gempa kekuatan besar langsung
> melarikan diri ke tempat lain (naik gunung) dengan mobil, dan selamat.
> Salah seorang teman anak saya juga berceritera hal yg sama ttg
> selamatnya pamannya yg ada di Aceh, yaitu mengenal kemungkinan tsunami
> setelah merasakan gempa sempet menjemput anaknya yang akhirnya
> selamat.
>
> Beberapa korban adalah yg tidak tahu dan yg tidak waspada, juga
> terlihat dari video2 amatir. Misalnya :
> 1. Crita2 di media menyebutkan bahwa ketika terjadi surut sebelum
> tsunami justru banyak yg lari menjorok kelaut mencari ikan yg terjebak
> namun dirinya sendiri yang  akhirnya terjebak -> karena tidak tahu.
> 2. Yang lainnya akibat menonton tsunami karena ada badai tsunami
> pertama yg relatif lebih kecil.--> yg ini karena tertarik.
> Kalau anda denger apa yg terjadi di rekaman video2 amatir ini
> terdengar kata-kata " ... here the bigger one ... here coming again
> ... wow, now its huge ...etc, etc" ... artinya mereka sudah tahu
> sebelumnya. Namun di video itu nampak orang yg berjejer di pinggir
> pantai, dan terhempas !.
>
> Saat ini saya masih lagi kepingin memberikan "pengetahuan" ke
> masyarakat tentang bagaimana terjadinya bencana serta tanda2nya,
> terserahlah mereka dengan pengetahuan ini mau menonton atau
> menghindar, itu pilihan mereka... thats beyond my control !.
>
> Nah aku pingin bertanya kepada ahli-ahli pendidikan di negeri ini.
> Kapankah saat yg tepat memberikan pelajaran ttg bahaya ?
> - Saat inikah atau segera setelah kejadian.
> - Atau menunggu nanti (tahun depan) kalau sudah tenang.
>
> Perlu diingat keterjadian bencana ini puluhan tahun bahkan ratusan
> tahun sekali, namun rakyat Indonesia ini mnurutku termasuk yg malas
> belajar dan "pelupa" ... maaf.
>
> Kejadian gempa yg sekali dalam ratusan tahun ini memiliki dampak
> khusus dalam proses belajar umat manusia  ... its part of learning
> proccess. Belajar tidak harus dengan mengalami sendiri ... ini penting
> !!
> Kakek nenek saya tidak megalaminya ...
> Cucu saya mungkin juga tidak mengalaminya ...
> Tapi cicit serta cicit-cicitnya .... dalam artian "human race" ...
> mesti dan harus tahu dan belajar ini. Karena "cascading knowledge"
> atau "getok tular" inilah salah satu cara "manusia" mempertahankan
> rasnya. Atau manusia akan punah dimakan bencana yg tidak pernah
> dipelajarinya turun menurun ...
>
> "Ilmu yg disampaikan" ... skali lagi ilmu yg disampaikan
> turun-menurunlah yg menyelamatkan "umat manusia " dari kepunahan !!
>
> RDP
> --
> my blog :
> http://putrohari.tripod.com/Putrohari/
> *****
> Gabung Milis, email ke [EMAIL PROTECTED] isi subject
subscribe
> Keluar, email ke [EMAIL PROTECTED] isi subject unsubscribe
> Situs Teknik Geologi UGM di http://www.geologi.ugm.ac.id
>
>
>
>
>



---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL 
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke