DERITA TANAH RENCONG NESTAPA IBU PERTIWI Minggu, 26 Desember 2004, kota serambi mekah itu tumpas. Tanah mulai retak, bangunan mulai runtuh Orang-orang berlarian mencari perlindungan
Kemudian, begitu tiba-tiba dan tak terduga Datang ombak menggulung bagai gunung raksasa yang bergerak Suara gemuruh mangantarkan setiap langkahnya Menghancurkan semua yang disentuhnya Rumah-rumah runtuh Seluruh permukaan rumpang, gemuruh air yang menggelora. Peristiwa itu terus berlangsung - berlangsung - berlangsung - dan berlangsung Orang terus berhadapan dengan sapuan tak terbendung .. panik dan tergulung Hantaman-hantaman yang lebih besar kembali terjadi Ada jerit terakhir, teriak seorang anak Ia jatuh, gelombang bah mnyeretnya, dengan cepat ia-pun tenggelam. Seperti yang lain: nenek, ibu bapak, saudara-saudaranya, tenggelam, ratapan tangis, erang kesakitan, teriakan tolong dari seluruh penjuru kota menggema tertelan suara gemeratak gelombang, memekik, . sunyi. Yang Allah, tak ada yang bisa menentang kehendakmu, Dalam hitungan detik, dalam hitungan menit, Ribuan orang belum jelas nasibnya Ribuan orang berjuang dalam maut Ribuan orang meninggal Jutaan orang kehilangan tempat tinggal Jutaan orang kehilangan harta Sesaat . seperti tak ada kehidupan Tinggallah kota yang kembali sunyi Kota rata jadi hamparan tinggal puing kehancuran dan derita memilukan Memang, Ombak tak lagi besar Memang curah hujan tak lagi deras, Gelombang tak lagi ganas, Gempa tak lagi bergetar Naga tsunami yang kenyang menelan 90.000 nyawa Lihat mereka disana Mati tertimbun diantara reruntuhan Dan di sisa kota itu, mayat bergelimpangan di jalan, terapung, teronggok bagai sampah, menggelembung, hampir hitam. Jenazah2 yang terlunta' Beribu-ribu, seperti menantikan sesuatu. Kota itu akan segera jadi payau Tak ada lagi rumah Tak ada lagi tawa Tak ada lagi canda Panik, Anak bingung mencari ibunya Bapak histeris kehilangan istri dan anaknya Sanak keluarga pun tak tahu dimana Ada cerita, Ridha, anak perempuan umur 11 tahun . Terlunta sendiri dengan baju compang camping berdiri di sudut jalan Memegang sepasang sandal merah dengan isak tangis pelan Tak tahu harus kemana.. tak ada tempat berlindung Ia hanya ingat terlempar saat bapak yang menggendongnya tersapu ombak .. adik dan ibunya tertinggal di belakang sudah tergulung duluan.. Ia terlempar .. Lapar . Sorot matanya . hanya air mata Kepada engkau yang menyimpan kesengsaraan dan kebisuan Kepada engkau yang menangis dalam batin karena ditinggalkan dalam kesendirian Airmata telah habis .. tergenang . menjadi sungai kepedihan tinggal sisa airmata yang tersembunyi menggoreskan luka dan trauma yang tidak akan pernah hilang . Suara mereka habis menjerit, tapi bantuan tak kunjung datang Airmata mereka habis, tapi pertolongan terasa lamban Kesedihan sudah pada titik terakhir Sedih tak terungkap dalam kalimat Kota hanya basah, diam, mereka tidur tak beratap bersama mayat Bertahanlah, dalam doa kami Semoga menguatkan Jl. Sumba D1 no 6 - Soroako, 30 Desember 2004 (revisi 3 January 2005) Hati-ku untuk saudaraku di tanah rencong Didik F

