Untuk rekan yang mungkin punya niatan untuk mengadopsi anak....
Regards
Ferdinandus Kartiko Samodro
TOTAL E&P Indonesie Balikpapan
DKS/TUN/G&G
0542- 533852
----- Forwarded by Ferdinandus KARTIKO-SAMODRO/BPN/ID/EP/Corp on
06/01/2005 08:02 AM -----
pratiwi sulanjari <[EMAIL PROTECTED]>
05/01/2005 08:55 AM
To:
cc:
Subject: Personal : Cerita seorang Putri Aceh
Putri, Anak Adopsi dari Aceh: "Mama Jangan Tinggalin Ade Ya.."
31 Desember 2004 .. suatu siang di tenda penampungan pengungsi di Blang
Bintang, Banda Aceh. Seperti hari-hari lalu, banyak orang lalu lalang
diantara barisan pengungsi yang tercerai berai dari keluarganya. Ada
pejabat-pejabat yang menghibur dan membesarkan hati mereka. Juga relawan
yang hilir mudik mengemasi sumbangan para penderma. Diantara kesibukan
itu, suara tangis terdengar lamat-lamat. Seorang gadis kecil duduk di
pojok tenda, berbaju tidur motif kembang. Wajahnya suram, air matanya
mengalir bak sungai kecil. Kepalanya dililit perban, menutupi rambutnya
yang pendek. Diantara tangisnya, berulang kali gadis itu menyebut "Papa
... Mama" dan air matanya berurai deras lagi setelahnya.
Hari memang tiba-tiba amat cepat bergulir bagi Putri. Sepuluh tahun masa
lalunya di Lampasah, Banda Aceh, digulung ombak dalam waktu setengah jam,
di sebuah hari menjelang pagi lima hari sebelumnya.
Sekejap saja, gadis kecil bermata bulat itu kehilangan semuanya. Rumah,
boneka, empat saudara dan sepasang orang tua. Juga mal di Banda Aceh
tempatnya makan ayam KFC jika akhir pekan bersama keluarganya, yang hancur
diterjang gelombang tsunami.
"Ada boneka banyak ..juga terbawa. mama dan papa juga," bisiknya lirih.
Matanya menatap tayangan televisi. Minggu (2/1), ketika sebuah stasiun
televisi menayangkan gambar Banda Aceh dengan hiruk pikuk terakhir,
Youlanda Putri, justru sudah ribuan kilo jauh dari sana. Tangisannya di
pengungsian, memilukan banyak orang yang mendengarnya. Beruntung,
tiba-tiba seseorang mendekat, mengajaknya ikut terbang ke Jakarta.
"Melihatnya nangis terus, saya tanya itu anak siapa. Katanya anak polisi
juga, tapi sudah nggak ada semua. Entah gimana, saya merasa ada sesuatu
disini dan lalu ingin membawanya," kata Didi Widayadi, menunjuk dadanya.
Selama bertahun-tahun, ia dan Siti Aisyah, istrinya, berangan memiliki
anak perempuan, setelah putra semata wayangnya, Endi, beranjak dewasa.
*****
Siapa nyana, anak perempuan itu 'disiapkan' Tuhan bagi keluarga Didi, di
pengungsian. Gadis kecil yang kurus dengan luka menganga di dahi sampai
pangkal kepala.
Luka itu justru baru diketahuinya ketika sudah membawa Putri ke Jakarta.
Sabtu (1/1) malam ketika sampai di Jakarta, Didi curiga melihat cairan
yang terus meleleh di dahi Putri. Meski anak adopsinya itu tak mengeluh,
rasa penasaran membuatnya ingin tahu seperti apa luka di dahi Putri.
"Ketika dibuka perbannya, lukanya begitu dalam. Ketika disana katanya
sudah dijahit, jadi saya tenang. Nggak tahunya lukanya hanya disumpel
kapas lalu diperban. Ketika kita buka, luka itu sudah busuk dan bau,
nanahnya juga banyak sekali sampai habis tisue di kamar," urai Didi
sembari menggeleng-gelengkan kepala. Putri juga nangis terus sambil
menjerit-jerit "Papa, tolong Ade. Papa nggak sayang Ade. Papa nggak sayang
Ade!"
Putri pun dilarikan ke rumah sakit Soekanto, Kramat Jati Jakarta Timur.
Hasil rontgen, Sabtu (2/1) siang memperlihatkan ada sebuah paku sepanjang
3 cm di pelipis kanan Putri. "Menurut ceritanya, ketika badai itu kepala
Putri terhantam meja yang melaju deras digulung ombak. Mungkin paku dari
situ yang masuk kepalanya," kata dr. Harry Sugiarto SpB, ahli bedah yang
mengoperasi kepala dan kaki Putri di rumah sakit Soekanto Kramat Jati,
Jakarta Timur.
Khawatir ada infeksi yang bisa menjalarlah yang membuat kepala Putri di
rontgen. Ternyata, tengkorak kepalanya bagus, hanya dahi sampai pangkal
kepala yang terluka parah. Beberapa jam setelah rontgen, meski resminya
hari itu libur, diputuskan untuk mengoperasi kepala Putri, mengeluarkan
paku di pelipis kanan dan menjahit luka menganga di dahinya.
*****
"Beberapa kali ada bayi di rumah sakit, gemuk, lucu. Anak saya bilang 'Ma,
lucu bayinya. Adopsi aja.' Tapi saya selalu bilang 'Nggak ah, saya belum
sreg,'" kenang Siti Aisyah.
Tapi Jum'at (31/12) itu, ia merasa takdir menyiapkannya bertemu Putri,
gadis yang selamat karena susah payah 'menunggang' bantal ketika gelombang
air dahsyat hendak menggulungnya. Melihat gadis itu begitu ketakutan,
menderita dan butuh perlindungan, hatinya luluh.
"Saya nggak ada pikiran apa-apa lagi. Tahu-tahu hati kecil saya bilang
'iya' dan kami bulat membawa anak itu ke Jakarta," lanjutnya.
Dalam waktu beberapa jam saja, ia merasa Putri bagai terlahir sebagai anak
kandungnya. Setiap kali, tangan Putri seperti tak ingin lepas bertautan
dengan tangan orang tua barunya. "Mama jangan tinggalin Ade ya," bisik
Putri selalu. Beberapa kali, kalimat itu sempat membuat mata Siti Aisyah
berkaca-kaca.
Diakuinya, banyak penyesuaian yang harus dilakukan. Sifat Putri yang keras
kepala, rasa trauma yang dalam karena kehilangan keluarga asalnya, menjadi
masalah yang kelak harus dihadapi pasangan ini terhadap anak adopsinya.
"Tapi saya sudah ikhlas mengambilnya sebagai anak saya. Selama ini sama
Endy, nggak pernah sekalipun saya nangis. Tapi pas liat dia (Putri)
kesakitan, saya betul-betul sedih dan nangis," kata Didi. Apalagi ketika
ia tanya apa yang bisa membuat Putri bahagia, gadis kecil itu menjawab
"Aku ingin Mama dan Papaku. Mereka sudah ketemu belum?" .
*****
Meski dalam kondisi tertekan, Putri cenderung tenang untuk ukuran anak
seusianya. Sepintas, kecepatannya beradaptasi di keluarga barunya seperti
menjelaskan gadis kecil itu cukup cerdas.
Syahdan, anak keempat dari lima bersaudara itu selalu ranking di
sekolahnya di Lampasah, Banda Aceh. Ayahnya, Brigadir Sudirman, adalah
anggota Intel Polda NAD. Ibunya, Juariah, lebih sering menemaninya main
boneka di rumah. Kini, hanya kenangan yang hidup dalam dirinya, setelah
kelaurganya hilang belum tentu rimbanya.
"Mama pintar bikin asam manis. Ikan asam manis. Kita juga suka ke mal
makan KFC (Kentucky Fried Chicken)," kata Putri sambil tersenyum kecil.
Sesekali, tangannya sibuk berkonsentrasi memencet tombol-tombol handphone
barunya. "Lagi sms-an sama kak Sasha," lanjutnya ketika ditanya asyik
ngobrol sama siapa.
Kadang, ketika rasa kehilangannya muncul, Putri yang semula pendiam
berubah menjadi rewel dan keras kepala. Ia merengek-rengek minta boneka
atau makanan kesukaannya. "Tapi setelah dibelikan, boneka itu cuma
diliatin. Makanan juga cuma beberapa sendok lalu dia nggak mau lagi,"
keluh Siti Aisyah. Jika sudah begitu, yang bisa dilakukan hanya bersabar.
Karena kini, cuma itu satu-satunya jalan. "Saya cuma ingin menolongnya.
Semoga saya mampu menyekolahkannya sampai selesai," bisik Siti Aisyah,
Senin (3/1) siang itu. Sesekali, ia mengintip Putri yang terbaring tenang
dalam tidur
"Memang harus sabar, ini menyangkut kondisi psikisnya juga. Untuk luka di
kepalanya itu butuh waktu 1 bulan. Tapi operasi kosmetiknya lebih baik
dilakukan nanti 6 bulan lagi setelah benar-benar pulih," ujar dr. Harry
Sugiarto, ahli bedah yang menangani Putri. Pun demikian, garis luka di
dahi Putri diyakini tak bisa hilang benar. Kalaupun bisa, hanya disamarkan
dengan bedak.
Daging di ujung pergelangan kaki kiri Putri pun sebagian harus di buang
karena sudah busuk. Pertumbuhan kulit barunya juga harus menunggu 1 sampai
2 bulan lagi.
******
"Papa sayang Ade nggak?" kalimat pelan itu seperti memecah malam. Padahal
saat itu, Minggu (2/1), Putri sedang nonton film kartun di televisi,
sambil tangan kirinya memegang erat tangan kanan Didi Widayadi, papa
barunya.
"Sayang sekali dong. Ade 'kan anak Papa," Didi tersenyum, menyembunyikan
rasa haru yang mulai terlihat di matanya. Diluar, malam mulai merayap
tanpa suara. Setelah beberapa tamu datang menjenguk Ade, panggilan sayang
Putri, gadis kecil itu tampak lelah. Makan malam dari rumah sakit hanya
dicicipinya sedikit.
"Asin. Nasinya lembek," keluhnya sambil menjauhkan mulutnya dari piring
makannya. Sekilas, bibirnya cemberut. Lalu tersenyum lagi ketika
disinggung umurnya.
"11 tahun ... mmm ... 8 Mei nanti. Masih lama ya?" katanya sambil matanya
sekilas menerawang. Mungkin ia sadar, ketika tiba saat yang empat bulan
itu, umurnya bertambah dalam kesendirian. Tanpa Sudirman dan Juariah,
orangtua sedarahnya. Tanpa empat saudara kandungnya.
Tapi Putri punya orang tua dan saudara-saudara baru, yang mungkin belum
dimiliki anak-anak lain di tempat pengungsian Aceh, sampai saat ini. Ada
boneka pink berbentuk tulang yang hangat menyangga kaki kirinya yang masih
sakit dibelit perban. Juga kawanan boneka lain yang mulai berdatangan di
kamar sejuknya di rumah sakit.
Malam itu, Putri tidur mengapit tangan papa barunya. Ayah dan anak itu
sama-sama baru mengakhiri penantian. Di tempat tidur yang hangat, tanpa
takut kedinginan dan kehilangan perlindungan lagi, mata Putri beberapa
kali mengerjap, lalu tidur lagi. Masa kecilnya masih bisa ditempuhnya
dengan indah, segera setelah pulih lahir dan bathin.
Sementara itu ribuan kilo dari sisinya, ribuan anak menanti nasib baik,di
berbagai pelosok Aceh. Mereka pasti menanti suatu malam dimana mereka bisa
tidur dalam pelukan hangat orang tua - orang tua yang tulus, yang membuat
masa kecil mereka bisa berlanjut. Seperti Putri. (Lily Bertha Kartika)
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]),
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------