> kalau iya ...dan kita merasa keberatan ya tolak saja......kalau perlu di
> blow up di media masa bahwa kita menolak bantuan tersebut karena ada embel
> - embel di belakangnya...
Surri kalo judulnya kayaknya kok gimanaaa geitu yak ..
Tapi emang kayaknya mesti begitu kalau mau mengahadapi masa depan yg
mulai serba lugas apa adanya. Negara serta perusahaan raksasa kayak
apapun ndak kenal kata "ikhlas". Negara tahunya melindungi rakyatnya,
perusahaan tahunya profit (gain-loss).
Nah kalau menghadapi mereka kita juga mesti "tegar", walopun prihatin
kita sedang mengalami bencana namun banyak hal yg harus dilihat dengan
logika "ansich". Misalnya, apakah kita akan menolong 50000 pengungsi
tetapi mengorbankan 300 juta rakyat lain. ... ("ini kasarannya aja
loo").
Aku rasa bagus kalau ada keterbukaan seperti yg ditulis Ferdi, kalau
emang bermebel2, ya kasih tau aja apa embelnya.
Apakah bantuan Amrik itu termasuk biaya kapal induknya yg berlayar
extra diluar skedul hariannya ?
Apakah bantuan si A itu grant, atau pinjaman ?
RDP
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]),
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------