Ada beberapa point yg dapat dipakai sebagai argumen dalam "menahan" masuknya WSG dari luar negeri.
1. Ketersediaan tenaga ahli WSG di dalam negeri. A. Daftar (list) tsb mungkin dapat sebagai data awal yg menunjukkan bahwa kita (Indonesia) sudah mampu menyediakan tenaga ahli tsb. Sertifikasi sebagai salah satu "prove" kompetensi keahlian ini sudah ada (sayangnya jumlahnya masih terbatas). Juga beberapa WSG yg saat ini dapet job di LN merupakan bukti bahwa WSG kita sudah kualified (termasuk mas Dahlini dahlan yg di Murphy, My) B. Jumlah tenaga WSG yg "beredar" yg sedang menunggu pekerjaan vs yg sedang 'on the job', sedang naik RIG. Ini akan menunjukkan bahwa kita bisa memenuhi kebutuhan. Btw, saat ini banyak RIG yg sedang giat2nya ngebor. Jadi kelangkaan ini mesti dilihat juga sebagai 'lubang' masuknya WSG dari LN. C. Jumlah lulusan Geologi yg sangat 'berlimpah' ini sangat mungkin memerlukan "pengalaman" sehingga perlu ditampung sebagai "trainee". Kesempatan ini harus diutamakan dan diberikan ke mereka. Ini wajib utk "future need". 2. DEVISA . Walau bagaimanapun juga masuknya WSG dari luar merupakan ancaman hilangnya atau mengalirnya devisa keluar ke LN. Ini sangat jelas dan mudah menjelaskannya. Ini dapat juga dianggap atau dimasukkan sebagai bagian dari "local content". 3. New Drilling (Operations) Technology. Seandainya keahlian khusus bagi WSG memang sangat diperlukan dalam sebuah operasi pengeboran, misal HPHT di TOTAL, Deepwater, dll. Maka paling tidak harus ada WSG lokal yg endampingi sebagai syarat utk alih tehnologi. Partnership ini sudah terbukti efektif dimana WSG yg dulu semua dari luar saat ini sudah mampu diisi oleh WSG dari lokal. Disini kita harus mampu menjelaskan bahwa mana yg new tech dan mana yg bukan. Disini akan terjadi 'pertarungan'.... disini titik lemah kita menyatakan mana yg baru mana yg sudah biasa atau lazim. Sangat mungkin kumpeni2 cenderung menyatakan sesuatu yg baru.. :) 4. COST atau BIAYA Dengan menggunakan tenaga lokal tentunya costnya lebih rendah. Tetapi ini bisa menjadi bumerang dengan menekan harga WSG kita ... please consider this ! Apalagi kalau 'dipertandingkan' dengan India dan Cina. Dengan demikian point 1B dan 3 yg merupakan 'lubang' yg mesti harus ditutup. Dan kita harus meyakinkan bahwa kita sudah mampu mengisinya sendiri. Nah buat temen-temen di oil Company yg masih muda, jangan enggan untuk kelapangan (ke rig) walopun uang lapangannya kecil :(), karena banyak sekali data-data yg dipakai di kantor berasal dari kegiatan WSG sebagai bagian 'data collecting'. Bagaimana memilih sample utk biostrat, sample utk geochem dll ini semua memerlukan pengetahuan ttg WSG. Tentunya sangat jelas terlihat bahwa kursus WSG bukan hanya utk menjadikan anda sebagai WSG ataupun operation geologist ... upst ! kok malah iklan kursus WSG .... salam RDP On Mon, 31 Jan 2005 09:53:27 +0800, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Saya fowardkan ke iagi-net biar diskusinya diketahui masyarakat > pergeologian :-). > > Saya ada beberapa tambahan. > > Total sendiri masih menggunakan 2 wellsite expat, untuk sumur HPHT. > Hal ini atas 'aturan' Total HQ untuk sumur eksplorasi, (utk. sementara > sumur HPHT masih dianggap eksplorasi). > > Memang profesi wellsite bukan merupakan profesi dengan job security > tinggi. Tergantung aktifitas pengeboran. > Umumnya pekerjaan ini dibebankan ke new recruit geologist untuk 'magang' > sementara sebelum menjadi > development geologist/ eksploration geologist, hal ini terjadi hampir di > setiap oil company. > > Jadi tidak heran kalau tidak banyak yang berada di jalur ini lebih dari 5 > th. Karena lebih > senang menjadi 'arm chair geologist', apalagi kalau tunjangan lapangan > nggak menarik (tul enggak?). > > Soal serbuan Indian Wellsite Geologist, memang harus diantisipasi. > Kelebihan mereka yang jelas bahasa Inggris, > dan pendidikan. Umumnya bergelar MSc (mengingat sistem & biaya pendidikan > di India mendukung utk. itu). > Kalau dari sisi pengetahuan teknis geologi/ wsg dan cost bisa diadu. > > Cost nya bisa ditinjau dari administratif, daily rate dan social cost. > Yang mungkin bisa dilakukan IAGI adalah menonjolkan parameter 'social > cost', bisa dilihat dari jumlah lulusan geologi > dan penyerapannya di Indonesia. Mungkin persentase geologist pengangguran > bisa diketahui. > Pengangguran disini berarti : memang pengin menjadi geologist, tetapi > tidak ada lowongan. > Karena banyak juga lulusan yang tidak mau menjadi kuli terus. :-) > > Regards, > > ============================= > AMIR AL AMIN - DKS/OPG/WGO > TOTAL E&P INDONESIE > BALIKPAPAN > (62-542)-534283 - (62)-811592277 > ============================= --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

