> Ar, Saya tidak apriori sama KKG , tetapi daari satu sisi harus dipertim -bangkan bahwa dia itu politikus (walupun saya yakin dia bukan "tikus") dari partai oposisi lagi . Jadi memang dia mencari angka angka yang mungkin pling masuk akal agar posisinya sebagai oposisi kelihatan baik. Memang dia bukan ahli ekonomi perminyakan , jadi yang dia hitung itu adalah arus cash flow tanpa memperhitungkan "sunk cost" yang tlah keluar selama masa eksplorasi.
Berangkali , akh aku juga ndak tahu pasti. Mungkin Pak Kurtubi lebih maklum. Si - Abah. Beberapa komen untuk KKG yang bermain dengan angka (tanpa disebutkan jelas > sumber2 angkanya) : > 1. Cost X+Y+Z yang disampaikan oleh KKG sebagai 10 dolar per barel atau > 540 perak per liter adalah cost crude dan cost fuel, dianggap sebagai > total dari angka cost oil (dari crude jadi BBM). Angka 10 dolar ini dari > mana, kita gak begitu jelas - konon dari pemilik otoritas atas migas > Indonesia.(Kawan2 BP Migas barangkali bisa memberi gambaran berapa cost > per barel CRUDE untuk production, untuk finding di Indonesia ini) > 2. Untuk cost yang non production, non finding , tapi masih dalam > rangkaian untuk membuat BBM atau disebut dengan cost FUEL (BBM) , > diperlukan biaya pengadaan yang mencapai 93% sendiri, sisanya sekitar 7% > yang terdiri dari cost refinery, distribusi, angk. laut, dll. > > Penyederhanaan angka2 dari tulisan KKG bisa bikin misleading. Yang pasti > angka crude hak pemerintah republik ini sebagai intake untuk Refineries > Indonesia tidak lebih dari 60%, artinya diperlukan impor CRUDE sebesar > +40% untuk memenuhi intake kapasitas kilang yang 1 jt barel crude/hari > (dengan asumsi hak pemerintah berjumlah sampe 600an ribu barel dan > digunakan semua untuk kilang tanpa ada yg di ekspor). Untuk angka hak > crude bagian Indonesia barangkali kawan2 dari BP Migas yang valid untuk > menjelaskan, demikian pula dengan arus yang masuk untuk ekspor dan arus > untuk kilang-kilang Indonesia. Pada sisi lain keluaran BBM dari kilang > adalah sekitar 75% dari crude yang masuk, jadi diperlukan impor BBM > langsung sekitar +300 ribu barel setiap hari. > > Faktor2 besar dalam pengadaan yang memerlukan dolar untuk price crude > internasional tersebut yang terlewat oleh KKG, mungkin beliau yang mantan > Komisaris Pertamina lupa bahwa untuk pengadaan crude itu bukan ambil dari > sumur belakang rumah, KKG lupa berapa banyak produksi Indonesia saat ini > (KKG pake angka 1.125 jt). Namun angka2 yang dimunculkan bikin kaget > rakyat, dan cap beliau adalah mewakili rakyat Andai beliau mau sedikit > ruwet dengan memisahkan peristilahan Oil dengan Crude dan Fuel mungkin > akan lebih memberikan penilaian yang fair. > > lam-salam, > ar-. > > > > > [EMAIL PROTECTED] wrote: > > Kompas, hari ini.. > ---------------------------------------------------------------------------- > > Menaikkan Harga Bensin Premium > > > Kwik Kian Gie > > > JUDUL tulisan ini tidak seperti lazimnya, yaitu "Mencabut Subsidi BBM". > Mengapa? Pertama, lebih dimengerti rakyat jelata menggunakan istilah > "bensin" ketimbang bahan bakar minyak atau BBM. Kedua, dengan harga bensin > premium yang berlaku sekarang, yaitu Rp 1.810 per liter, pemerintah sama > sekali tidak memberi subsidi. Sebaliknya, pemerintah memperoleh kelebihan > uang tunai. > > > MINYAK mentah yang ada di bawah permukaan bumi disedot sampai ke atas > permukaan bumi. Untuk itu ada biayanya, yaitu Rp X per liter. Minyak > mentah > yang sudah ada di atas permukaan bumi diproses sampai menjadi bensin. > Biayanya Rp Y per liter. Bensin itu harus diangkut ke pompa-pompa bensin. > Biayanya Rp Z per liter. Rp X + Rp Y + Rp Z = 10 dollar AS per barrel. > Satu > barrel sama dengan 159 liter. Kalau nilai tukar rupiah satu dollar AS sama > dengan Rp 8.600, maka keseluruhan biaya untuk 1 liter adalah (10 x Rp > 8.600) : 159 = Rp 540,88, dibulatkan menjadi Rp 540 per liter. Seperti > kita > ketahui, bensin premium dijual dengan harga Rp 1.810 per liter. Jadi, > untuk > setiap penjualan satu liter bensin premium, pemerintah kelebihan uang > sebanyak Rp 1.270, yaitu kemasukan uang dari menjual bensin sebanyak Rp > 1.810 per liternya dikurangi dengan pengeluaran uang sebanyak Rp 540 itu > tadi. > > > Ditinjau dari sudut keluar masuknya uang, pemerintah kelebihan uang tunai. > Mengapa dikatakan pemerintah memberi subsidi ? > > > Pengertian subsidi > > > Pemerintah merasa memberi subsidi kepada rakyat yang membeli bensin > premium > karena seandainya bensin premium itu dijual di luar negeri, saat ini > harganya 50 dollar AS per barrel. Dengan kurs yang sama, yaitu Rp 8.600 > per > dollar AS, harga minyak mentah di luar negeri per barrel sebesar 50 x Rp > 8.600 = Rp 430.000. Per liternya dibagi 159 atau sama dengan Rp 2.704,4, > dibulatkan menjadi Rp 2.700. Ini harga minyak mentah di luar negeri. Kalau > dijadikan bensin, ditambah dengan tiga biaya itu tadi, yakni biaya > penyedotan, pengilangan, dan transportasi yang keseluruhannya berjumlah Rp > 540 per liter, maka harga bensin di luar negeri Rp 2.700 + Rp 540 = Rp > 3.240 per liter. > > > Selisih harga bensin di luar negeri yang Rp 3.240 per liter dengan harga > bensin di Indonesia yang Rp 1.810 per liter ini, atau Rp 1.430 per > liternya, ini disebut subsidi. Pemerintah merasa memberi subsidi karena > tidak bisa menjual bensin dengan harga dunia, gara-gara adanya kewajiban > memenuhi kebutuhan rakyatnya akan bensin premium dengan harga yang rendah, > yaitu hanya Rp 1.810 per liternya. > > > Pemerintah jengkel, merasa sial benar tidak dapat menjual bensinnya di > luar > negeri dengan harga Rp 3.240 per liter. Seandainya tidak perlu menjual > kepada rakyatnya sendiri dengan harga Rp 1.810, pemerintah akan memperoleh > tambahan pendapatan sebesar selisihnya yang disebut "subsidi" itu tadi > sebesar Rp 3.240 - Rp 1.810 atau Rp 1.430 per liternya. Bayangkan, berapa > kesempatan yang hilang. Ya, kesempatan itulah yang hilang, bukan uang > tunai. > > > Jadi, jelas kiranya, yang dinamakan subsidi itu pengertian abstrak yang > sama sekali tidak berimplikasi adanya uang keluar. Dalam kenyataan > pemerintah mendapatkan kelebihan uang. Hanya, kelebihannya tidak sebesar > seandainya rakyat Indonesia diharuskan membeli bensin produksi dalam > negeri > dengan harga dunia. > > > Berapa kelebihan uang pemerintah? > > > Angkanya yang pasti tidak dapat saya peroleh karena saya tidak berhasil > mendapatkan kuantitas minyak mentah yang menjadi haknya bangsa Indonesia. > > > Sekitar 92 persen dari minyak mentah kita disedot oleh kontraktor asing. > Hasilnya dibagi antara kontraktor asing dan bangsa Indonesia yang memiliki > minyak mentah karena terdapatnya di dalam perut bumi Indonesia. > Perhitungannya ruwet sekali. > > > Yang sering kita dengar hanyalah kontrak bagi hasil antara pemerintah yang > diwakili oleh Pertamina dan kontraktor asing dalam perbandingan 85 persen > untuk bangsa Indonesia dan 15 persen untuk kontraktor asing. Tetapi, ada > faktor-faktor lain yang membuat ruwet seperti apa yang dinamakan cost > recovery, pro rata, dan in kind dasehingga kita sulit mendapatkan angkanya > yang eksak. Maka, kita katakan saja minyak mentah yang menjadi haknya > bangsa Indonesia netonya sebesar Q liter per tahunnya. Kelebihan uangnya > per tahunnya ya Q liter dikalikan dengan Rp 1.270 itu tadi. Jumlah ini > banyak sekali. Kalau kita andaikan bersihnya 70 persen dari produksi > minyak > mentah yang 1,125 juta barrel per hari hak bangsa Indonesia, ini sama > dengan 70 persen x 1.125.000 barrel atau 787.500 barrel per hari atau > 125.212.500 liter per hari, yaitu 787.500 barrel dijadikan liter dengan > mengalikannya dengan 159 (1 barrel = 159 liter). Per tahunnya dikalikan > 365 > menjadi 45.702.562.500 liter. Kelebihan uang per liternya Rp 1.270. Jadi, > kelebihan uang per tahunnya adalah 45.702.562.500 x Rp 1.270 atau Rp > 58.042.254.375.000 > > > Harus impor > > > Kebutuhan bensin kita 60 juta kiloliter per tahunnya atau 60.000.000.000 > liter. Produksinya seperti kita lihat tadi, hanya 45.702.562.500 liter. > Maka, kita harus impor sebesar 14.297.437.500 liter. Ini harus dibayar > dengan harga dunia sebesar Rp 3.240 per liternya, atau Rp > 46.323.697.500.000. > > > Jadi, ada kelebihan uang sebesar Rp 58.042.254.375.000. Tetapi, ada > kebutuhan impor dengan jumlah uang sebesar Rp 46.323.697.500.000. Alhasil > masih ada kelebihan uang sebesar Rp 11.718.556.875.000. Masih kelebihan > uang > > > Jadi, walaupun sebagian dari kebutuhan bensin harus diimpor dengan harga > dunia, masih ada kelebihan uang tunai sebesar Rp 11.718.556.875.000 > > > Harga bensin terlampau murah > > > Apakah harga bensin premium yang Rp 1.810 per liternya itu tidak terlampau > murah? Rasanya ya karena satu botol Coca Cola di restoran dijual Rp 10.000 > sampai Rp 15.000. Maka, kalau mau dinaikkan memang pantas, asalkan > kenaikannya tidak terlampau memberatkan. > > > Dengan menaikkan harga bensin premium, pemerintah memang mendapat > pemasukan > lebih besar yang dapat dipakai untuk tujuan-tujuan baik atau dikorupsi. > > > Tetapi, kalau dikatakan bahwa harga bensin premium tidak dinaikkan, > pemerintah harus keluar uang sekitar Rp 10 triliun per bulannya jelas > tidak > betul. Yang betul malah kelebihan uang sebesar Rp 11,73 triliun per tahun. > > > Keseluruhan gambaran dari tulisan ini sangat amat disederhanakan dari > kenyataan. Demikian juga angka-angkanya. Tulisan ini adalah model untuk > mendapat pengertian yang sebenarnya. Jadi, bukan angka-angka eksak yang > dipentingkan. Maksudnya hanya menjelaskan bahwa tanpa menaikkan harga > bensin premium, pemerintah sudah kelebihan uang tunai dari keseluruhan > eksploitasi minyak mentah untuk dijadikan bensin premium. > > > Apakah harganya terlalu rendah sehingga perlu dinaikkan adalah urusan lain > lagi. Tetapi, jangan menakut-nakuti rakyat dengan mengatakan kalau tidak > dinaikkan sampai harga dunia, pemerintah harus keluar uang Rp 10 triliun > per bulannya, dan karena itu keuangan negara menjadi bangkrut. > > > Artikel ini hanya membahas bensin premium, belum bensin pertamax dan > pertamax plus serta gas yang semuanya surplus lebih besar lagi > > > Kwik Kian Gie Mantan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan > Nasional/Kepala > Badan Perencana Pembangunan Nasional > > > > --------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] > To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy > Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id > Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) > Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) > Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) > Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau > [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) > Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) > --------------------------------------------------------------------- > > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

