Awang Satyana
<[EMAIL PROTECTED] To: [email protected],
[EMAIL PROTECTED]
oo.com>
cc:
02/04/2005 12:38
PM Subject: Re: [iagi-net-l]
Krakatau
Please respond to
iagi-net
Dari magma ke minyak ke arang ke mie rebus. Wah..wah..kesimpulannya : jadi
laper, he2..
Sulit Pak, mencari kaitan baik/buruk minyak ke magma asam/basa,
kelihatannya gak pernah nyambung. Kalau baik/buruk minyak kriterianya
adalah kandungan belerangnya, maka ia hanya ditentukan oleh lingkungan
pengendapan kerogen (pembentuk minyak). Belerang akan tinggi di lingkungan2
marin yang tertutup macam enclosed basins yang banyak di daerah Timur
Tengah dan batuan induknya karbonat. Minyak juga jadi bisa buruk kalau
terbiodegradasi, dirusak bakteri, belerang meninggi, minyak mengental, dll.
Magma memang sedikit terhubung ke minyak, tapi hanya di pematangan batuan
induksaja, itu pun tak signifikan dan sifatnya regional, yaitu meningkatkan
heat flow di daerah itu. Intrusi2 magma yang menembus batuan induk (di
beberapa cekungan di Indonesia terjadi), ternyata tak signifikan
mematangkan batuan induk, artinya secara lokal peranan magma ini tak besar.
Tetapi, kita wajib berhati2 mengerjakan prospek gas di wilayah banyak
intrusi magma. Gas CO2 mengintip siap mengisi prospek2 itu, menggantikan
gas hidrokarbonnya. Apalagi kalau reservoirnya karbonat, wah...mesti ekstra
hati2.
Maka sebaiknya petroleum geologist juga tak anti volkanologi kalau bekerja
di Sumatra dan Jawa, apalagi di pinggir Barisan...
Salam,
awang
Iwan Nugraha <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Akur Pak Awang saya ganti Krakatau saja, terimakasih.
Sebetulnya kuliah dulu juga dapet tapi karena sudah 18 th tidak di asah
jadi lupa semua, saya jadi ingat waktu itu Alm Pak Muzil dosen saya.
Saya sedang berpikir juga apakah komposisi magma yg asam - basa itu
mempengaruhi baik buruknya jenis minyak, karena temperatur pematangan saya
kira juga dipengaruhi oleh magma. soalnya mie rebus yang dimasak pakai
arang akan lain rasanya kalau dimasak dengan kompor gas, saya lebih suka
yang pakai arang.
Terima kasih.
Awang Satyana wrote:
Sebaiknya kita gunakan saja "Krakatau" daripada "Krakatoa" karena
"Krakatoa" adalah salah tafsir kode telegraf pertama saat berita letusan
Krakatau dikirim ke Inggris (untuk pertama kalinya itulah dirasakan
pentingnya penemuan telegraf, berita cepat tersebar, walau masih
salah-salah, maklum baru saja ditemukan).
Magma yang asam akan lebih kuat dibanding yang basa sebab magma asam sering
membeku di jalan menyumbat lubang kepundan, sehingga bila tekanan gas sudah
cukup kuat, sumbat magmatis akan ditekan dilempar ke atas menjadi letusan
tipe Perret yang katastrofik. Magma basa, kan meleleh efusiv saja menjadi
shield volcano tanpa letusan yang paroxysmal. Antara magma granitik atau
riolitik, kan sama saja, riolitik produk lelehannya, kalau dengan dasit
yang merupakan lelehan andesit, mestinya lebih kuat yang riolitik sebab
dasit intermediate saja in composition.
Saya senang menggunakan referensi dari Kuno (1976) : Volcanoes and volcanic
rocks. Komprehensif dan jelas tidak kuno, atau yang lebih tua lagi tapi
masih banyak diacu orang : Rittmann (1962) : Volcanoes and their activity.
Dua referensi ini termasuk yang banyak diacu publikasi2 yang lebih baru.
Yang semi populer ada juga, tulisan dua volcanologist Hawaii, enak diikuti,
maaf saya lupa penulisnya, saya pernah pinjam di British Council Library,
mereka terkenal, tetapi dua penulis ini (suami isteri) tewas diterkam lava
Kilauea... Tetapi masalah komposisi magma dan intensitas erupsi adalah hal
biasa jadi bisa ditemukan di buku manapun. Buku tulisan Pak Muzil Alzwar
(alm.) dan dua rekannya pun (Pengantar Dasar Ilmu Gunungapi, Nova-Bandung
1988), bagus diikuti dan rasanya baru satu itu textbook volkanologi karya.
Saya sih berharap Pak Tikno Bronto atau Mas Atje Purbawinata atau Pak Adjat
Sudrajat atau Pak MT Zen menulis textbook volkanologi juga...
Menarik mengikuti evolusi komposisi magmatik Krakatau dengan intensitas
letusannya. Refrensi tentang ini bisa ditemukan di van Bemmelen (1949), de
Neve (1981), Verbeek (1885) atau Stehn (1929). Semua buku ini bisa ditemui
di perpus GRDC Bandung cari di katalog pengarang. Sebenarnya Krakatau punya
tiga siklus utama erupsinya. Siklus pertama yang membuat Pulau Rakata : ini
magma basaltik, siklus kedua yang membuat Perbuwatan dan Danan, ini magma
andesitik, siklus ketiga : ini yang menghancurkan Rakata dan sekitarnya via
erupsi 1883, dan ini magmanya asam riolitik, terbukti dari begitu banyaknya
pumis yang dilontarkan. Perubahan komposisi magmatis ini mencerminkan
proses diferensiasi magma di magma chamber-nya.
Mewaspadai bahwa letusan akan hebat bila magma mengasam, maka abu volkanik
(ejecta) Anak Krakatau rutin dicek komposisinya. Tahun 1960 ada peningkatan
pasti menuju semakin asam, tapi katanya, gak perlu terlalu waspada sampai
ejectanya menjadi riolitik, bila sudah begitu : volcanic alarming
berbunyi.....! Saat letusan 1883, % SiO2 pumisnya 70 %, tahun 1980 masih
sekitar 52 %, ia meningkat terus memang menuju asam, tapi sekarang masih di
batas basal-andesit. Saat letusan 1930 (Anak Krakatau) ia punya komposisi
62 % SiO2, lalu turun lagi. Kelihatannya masih aman beberapa puluh tahun ke
depan, riolitik masih jauh. Ah...tapi itu kalau belajar dari plotting data
historis dan semua dianggap linier. Kalau tidak... hm...siapa yang tahu
dengan pasti Mother Earth bekerja ? Makanya, cek saja terus dengan rutin.
Dan kita lihat...
Salam,
awang
Iwan Nugraha wrote:
Pak Awang, jadi kalau komposisi magma yang ryolitik, akan mempengaruhi
kekuatan letusan ?, letusan apa yang paling kuat Pak ? granitik, dasitik
atau yg lainnya.
Mohon referensi buku apa yg bisa saya baca mengenai komposisi magma yg
mempengaruhi kekuatan letusan.
Trima kasih
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Search presents - Jib Jab's 'Second Term'
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Search presents - Jib Jab's 'Second Term'
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Search presents - Jib Jab's 'Second Term'
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Search presents - Jib Jab's 'Second Term'
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]),
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------