Setelah tanggal 15 Pebruari di Makasar yang membludak, berikut laporan dari
Surabaya dan Mataram. Sementara dari Bengkulu yang dilakukan pada tanggal 23
Pebruari 2005, dihadiri tidak kurang dari 160 orang yang mencatatkan diri pada
panitia, ada unsur dari LSM, TNI, Polri, mahasiswa, Pemprov, Pemkab, Perguruan
Tinggi, Pers, wawancara radio, dan kalangan masyarakat luas yang bertahan
hingga jelang maghrib. Barangkali kalo pak Ketum sempat menyisihkan waktu untuk
bercerita akan disampaikan pada media ini.
Road show IAGI-HAGI
Catatan I, Dalam rangkaian sosialisasi bencana gempa dan tsunami Aceh dan Sumut
yang diselenggarakan IAGI � HAGI dengan tujuan memberikan pencerahan kepada
masyarakat akan kesadaran hidup di daerah rawan bencana dan membangun
kewaspadaan dini bahwa kita harus belajar dari rangkaian bencana kecil untuk
lebih siap bila bencana besar akan tiba pada saatnya, pada tanggal 17 Februari
2005 di Ruang Rektorat lantai III kampus ITS dilangsungkan semir sehari Potensi
Gempa Tsunami Indonesia, Studi kasus Jawa Timur. Kendala koordinasi dan alokasi
waktu meyebabkan seminar yang diprakasai HAGI-IAGI dan bekeja sama dengan Pusat
Studi Bencana ITS ini pembiayaan diambilan dari pos dana kas IAGI HAGI pengda
Jatim dan partisipasi peserta. Penyelenggaraan seminar ini tidak terlepas dari
kerja keras voluntary mahasiswa mahasiswi ITS terutama dari jurusan Geofisika.
Seminar dibuka Prof. Sutantra selaku ketua LPM ITS mewakili rector ITS, dengan
pemateri Bapak Binsar Siregar selaku perwakilan Kesba
ng
Jatim, Bapak BagusJaya Santosa dari ITS selaku pakar seismic,
Bapak Wahyudi dari ITS&IAGI selaku pakar kelautan , Bapak Haryo D.Armono dari
ITS selaku pakar hydro dynamic , Bapak Danny Hilman dari LIPI selaku pakar
gempa dan Bapak M. Soffian Hadi dari IAGI selaku pemerhati mitigasi bencana
alam. Singkatnya waktu publikasi menyebakan seminar ini �hanya� dihadiri 80 an
peserta. Namun dari respon interaktif peserta nampak sekali tumbuhnya kesadaran
akan potensi bencana, kemauan akan perlunya kerja sama antar disiplin ilmu dan
di pangkasnya ego sectoral yang secara akumulatif memperparah efek destructive
dari bencana alam yang terjadi, dalam forum ini disepakati bahwa rangkuman
forum dimana hadir stake holder mulai dari Ilmuwan ,LSM, praktisi, birokrat,
masyarakat awam dan militer ini sepakat menyampaikan rumusan hasil seminar
kepada pemerintah.
Surabaya February 23, 2005
Soffian 2794
Catatan II, Seminar IAGI bekerja sama dengan Dinas Pertambangan NTB
Masih dalam rangkaian road show IAGI � HAGI , pada tanggal 19 February 2005 ,
di Hotel Sahid Legi Mataram dilaksanakan seminar sehari dengan topic Gempa bumi
Tsunami, antisipasi dan mitigasi. Acara ini dihadiri peserta terdaftar sebanyak
120 orang dengan 50% peserta bertahan hingga akhir acara. Pendahuluan oleh DR
Andang Bachtiar MSc selaku ketua IAGI melandasi format seminar tentang gempa
dan tsunami pada betapa pentingnya merubah paradigma penanganan bencana dari
sikap reaktif menjadi main set antisipatif dalam aktifitas nyata yang bernama
mitigasi Acara dibuka oleh gubernur yang dalam hal ini diwakili oleh Sekda
bapak Anang Samudra dilanjutkan pemaparan mendalam mengenai potensi regional
kegempaan dan tsunami di Indonesia oleh legenda hidup ilmu kebumian kita Prof
DR. Adjat Sudradjat, Pemaparan berikutnya oleh VIP most wanted Danny Hilman PhD
, detail kejadian, metode penelitian pada kasus gempa Aceh dan masih sangat
minimnya data penunjang di sebagian besar lokasi rawa
n gempa
di Indonesia membuka mata hadirin akan sangat perlunya penelitian lanjut yang
terintegrasi., Penampilan segar namun berbobot dari Gegar Sapta Prasetya PhD
menaikkan antusias hadirin akan diperlukannya langkah mitigasi tsunami secara
modeling dan dalam satuan angka kwantitatif bagi keperluan tata ruang., Heryadi
Rachmat dari Pengda IAGI NTB memaparkan prototype langkah penanganan bencana di
Nusra yang bisa dikembangkan untuk model penanganan di daerah lain. Paparan
berikutnya oleh Putu Setya PhD menggambarkan ketidak berimbangan sumber daya
potensial geofisikawan dan masih sangat tidak memadainya peralatan yang
dimiliki BMG kita . Pemaparan terakhir oleh bapak Thabrani memberi gambaran
akan begitu besarnya skala bencana yang melanda kita, meskipun sudah didapati
kebijaksanaan tertulis akan langkah mitigasi namun masi masih dirasa perlu
terdapatnya payung hukum untuk dilaksanakannya langkah nyata/ operasional yang
tidak dilakukan hanya berdasar keberadaan suatu kejadian benc
ana
temporal.
Soffian 2794
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Read only the mail you want - Yahoo! Mail SpamGuard.