Setiap bayi yang lahir akan membutuhkan 1.390 lbs tembaga, 32.810 bijih besi,
1.55 juta pasir dan batu, 772 lbs seng, 4.864 lbs aluminium, 1.209 toy oz emas,
573.036 batubara, 81.518 gallon bbm dan seterusnya�.. demikian data untuk warga
Amerika Serikat, bagaimana dengan untuk konsumsi warga Indonesia? yaaa..
silahkan di-adjust sendiri lah
Ilustrasi orang amerika tentang perlunya bahan tambang bagi umat manusia yang
dilansir oleh kata awal dalam kolom editorial bulletin Mineral Watch No.2 Vol.
1 Des, 2004. Dalam bulletin tersebut, rasanya tak pernah ada laporan tambang
Indonesia selain bahan mineral emas, perak, timah, tembaga dan nikel serta
batubara. Hampir tak pernah melihat laporan adanya tambang besi dari negeri
ini. Apakah memang tak ada, apakah memang tak ekonomis, apakah bahan mineral
tersebut bukan komoditas strategis atau kenapa.
Kita punya Krakatau Steel, tapi hampir seratus persen bahan bakunya impor.
Padahal Indonesia juga sangat butuh besi untuk pengrajin pompa, keperluan
pagar, tiang-tiang listrik, rel-rel, gerbong kereta api, untuk industri di
Tegal, di Surabaya, pengrajin di Yogya dan seterusnya dan seterusnya. Namun
hampir seratus persen kebutuhan bahan baku bagi besi didatangkan dari impor.
Kenapa mineral logam satu itu tak menarik untuk ditambang, sementara kebutuhan
demikian tinggi, apakah laporan-laporan dari p3g, pptm tak pernah sampai ke
rekan-rekan di dept. perindustrian? ke bkpm, ke pemda-pemda ataukah
masing-masing laporan suberdaya dan kebutuhan berada tetep dalam tempurung
masing-masing? (pinjem istilah mas Rovicky).
Banyak disitir bahwa sepinya investasi sektor pertambangan adalah akibat
political risk, tax and policy regional autonomy yang tumpang tindih. Laporan
investasi dunia pertambangan tak bergerak dari pengeluaran ijin peningkatan
dari tahap eksplorasi ke produksi, namun semua adalah untuk mineral-mineral
sweety saja. Namun, pada sisi lain terdapat beberapa laporan seperti pulau
Sebuku, Kalsel dan sebuah kawasan di Lampung yang sudah menjadi kontrak area
tambang besi yang didanai oleh investor dari China. KP-KP baru yang dikeluarkan
oleh pemda-pemda setempat, sayangnya outlook dunia pertambangan negeri hanya
didominasi oleh laporan dari pusat.
Economic growth China yang demikian spektakuler dalam masa lewat satu decade
terakhir, terus haus dengan berbagai sumberdaya. Bukan hanya gas, batubara yang
China perlukan, namun juga bijih besi. Konon dua pertambangan besi di Australia
sudah diambil alih oleh negeri raksasa ini, juga satu tambang besi yang sangat
besar di Brazil juga dilahap oleh China. Kini kita rasakan, betapa banyak
pembangunan pabrik di Indonesia yang terpaksa melakukan evaluasi ulang atas
biaya investasinya, tak lain disebabkan harga besi dan baja yang terus meroket,
dan sebagai kambing hitam adalah kehausan China. Sampai-sampai Menteri Rini
Suwandi kala dulu pernah menurunkan tax impor untuk merangsang besi dan baja
jadi murah di negeri ini. Market sangat haus, market demand bahan tambang pun
menjadi booiming oleh drive pertumbuhan negeri seberang. Sejauh mana kaum earth
resources dapat menerima tantangan ini, dapat memberikan masukan bagi
rekan-rekan lain, rekan industri. Sayangnya, hampir-hampir sepi
laporan
investasi tambang besi, tak ada khabar tentang eksplorasi besi, kecuali pasir
besi Cilacap, Cipatujah, Lumajang yang lebih banyak dimanfaatkan oleh industri
semen.
Rekan dari perindustrian juga mengabarkan bahwa kebutuhan Indonesia akan timah
hitam juga sangat besar, baik untuk aki yang jumlahnya jutaan, untuk baterei
dll. Tantangan lagi bagi geolog untuk semestinya dapat menginformasikan dimana
saja sebaran galena dan kawan2nya. Ataukah kembali kita asyik berada dalam
tempurung masing-masing.
Kokas. Seratus persen kokas yang ada di Indonesia adalah barang impor,
sementara kokas yang bahan utamanya adalah batubara kita datangkan terbesar
dari China. Pada hari yang sama negeri ini melakukan ekspor batubara sebejibun
ke China, net foreign earning ratio-nya bisa anda hitung sendiri, untung
kemana. Kebutuhan kokas sebagai pemanas sangat dibutuhkan oleh rekan-rekan
peternak ayam, perikanan dan sebagainya. Apakah kita akan terus memanfaatkan
booming China, negeri tetangga hanya dengan menjual raw material? Pada laci
mana masing-masing riset disimpan, hingga susah diaplikasi oleh publik.
Adakah yang bisa memberi pencerahan tentang bahan galian A, B dan C. mana saja
mineral logam yang strategis, mana yang vital dan bagaimana sih sebenarnya
strategi besar mineral Indonesia ini. Kalo visinya kan sudah jelas : tongkat
kayu dan batu jadi makanan.
Salam,
ar-.
(masih ada �drain� bagi geologist untuk menerima tantangan inventarisasi
sumberdaya alam lokal dari pemda-pemda�..
ismail <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Seorang ahli ekonomi yang hanya ahli ekonomi saja adalah sangat berbahaya
bagi masyarakat dan seorang ahli fisika atau ahli geologi yang hanya ahli
fisika atau geologi saja bisa sangat berguna bagi masyarakatnya.........
Nah.. kagak salah jadi geologist itu....... .....bisa memberikan manfaat
tanpa harus menambah ilmunya.lagi...........
( maaf blm bisa nulis semua nya ttg diskusi tsb, krn panjang sekali , keburu
ngantuk.........)
ISM
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Take Yahoo! Mail with you! Get it on your mobile phone.