Itu keputusan pada tahun 1970-an (mohon dikoreksi oleh para saksi mata..karena 
saya juga hanya berdasarkan studi literatur)... Pada saat itu belum ada 
pemukiman disekitar sana (hanya rumah sementara para perajin batako... karena 
itu adalah tambang rakyat) dan juga pemikiran bahwa lapisan dibawahnya adalah 
tras yang clay dominated (padahal lapisan ini telah habis ditambang :).
 
Leuwigajah dibangun diatas lapisan lava dan pada saat itu cukup terisolir. 
Hipotesa saya... setelah TPA itu menjadi TPA utama maka berkembang pesat 
pemukiman di sekitarnya oleh warga yang mengandalkan hidup di TPA atau 
memanfaatkan akses jalan menuju TPA yang pasti memiliki kualitas yang baik 
(karena peruntukannya untuk truk sampah dengan frekuensi yang tinggi) dan harga 
tanah yang pasti..murah.
 
TPA ini pernah ditutup karena longsor yang serupa (masih ingat kasus Bandung 
Lautan Sampah)..hanya pada saat itu pemukiman disekitarnya belum sepadat 
sekarang..sehingga tidak ada korban jiwa. Sampai saat ini kota Bandung belum 
memiliki alternatif TPA utama selain Leuwi Gajah (padahal sampah kota ini, 
setiap hari besarannya cukup fantastis)
 
Ada mahasiswa Teknik Geologi ITB yang mengambil tugas akhir di TPA ini 
berkaitan dengan kondisi hidrogeologinya (dipresentasikan sebagai poster sesion 
di PIT IAGI Jakarta 2003)..bimbingan Pak Lambok. Mungkin beliau bisa lebih 
memberikan pencerahan...
 
Salam,
Fajar Lubis

"O.K Taufik" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pak Fajar apa benar alasan pemda membuka TPA seperti itu??, masak sih untuk 
lubang peninggalan penambangan tras yg tak enak di pandang mata dan menghindari 
longsor ditimbun pakai SAMPAH?? (apa enaknya melihat sampah)??, juga untuk 
menghindari sarang nyamuk ditutup juga pakai SAMPAH??..apa setypikal begitu 
juga pembukaan TPA di Leuwigajah? 


                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Read only the mail you want - Yahoo! Mail SpamGuard.

Kirim email ke