Pak Andang Yth.
Permasalahan seperti ini tidak akan ada hasilnya kalau pendekatan yang
dilakukan sifatnya ad-hoc dan bersifat proyek semata. Ini memang sudah
sindrom bangsa Indonesia, bila ada masalah atau pun opportunity, maka yang
dilakukan adalah membuat tim ad-hoc dan memperlakukannya sebagai proyek.
Dimana dengan adanya proyek2 tersebut, maka akan banyak keuntungan
substansial baik finansial atau pun opportunity lain, bagi pihak2 yang
melaksanakannya. Hal lain yang tersirat adalah tidak adanya pemerintahan
yang efektif untuk memberikan layanan pada masyarakat.
Dengan demikian, tidak ada gunanya kita membuat sesuatu yang baru, lebih
baik kita memberdayakan instansi yang sudah ada. Untuk peringatan dini
sudah ada BMG dengan pencatatan seismiknya, tinggal hal ini dikomunikasikan
pada jajaran pemerintah dari pusat ke daerah dan media massa sehingga
kewaspadaan bencana gempa bisa tersalur pada masyarakat dengan tepat waktu.
Begitu juga dengan tata ruang, sudah ada Direktorat Geologi Tata Lingkungan
dengan seluruh jajaran geologistnya dan para doktor-doktornya. Mereka lah
seharusnya tulang punggung perencaan ulang tata ruang di Aceh dan Nias.
Untuk pembagian tanahnya sudah ada BPN yang sepatutnya bekerja bersama
pemerintah daerah untuk menyelesaikan hal ini. Pemetaan daerah rawan
bencana sudah seharusnya dijalankan Direktorat Volkanologi dlsb.
Jalur-jalur evakuasi, pembangunan jalan dan jembatan sudah menjadi
kewajiban Departemen PU atau apalah sekarang namanya. Mereka bertanggung
jawab untuk membuat prasarana jalan, jembatan dan fasilitas umum lainnya,
bukan hanya untuk evakuasi tapi untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Yang menjadi masalah adalah tidak adanya pemerintahan yang efektif di
Indonesia, kalau pun ada, maka Indonesia tidak akan sengsara seperti
sekarang ini. Pembangunan berjalan lancar dan ekonomi berdenyut untuk
seluruh rakyat.. Belum lagi ditambah dengan rakusnya orang-orang yang duduk
di pemerintahan, bahkan aktivis hukum semacam Mulyana W Kusuma pun tidak
kurang ganasnya menggerogoti uang rakyat..
Salah satu masalahnya adalah negara Indonesia ini terlalu besar, terlalu
luas, dan terlalu banyak penduduknya. Seharusnya kita realistis dengan hal
ini, dan kita harus sadar kemampuan kita bahwa kita tidak mampu mengurusi
negara sebesar Indonesia ini. Kalau pun dibuat otonomi, itu hanya menjadi
ajang pertarungan policy antara pusat dan daerah saja. Mungkin sudah
saatnya kita berpikir untuk memecah saja Indonesia menjadi beberapa negara,
sehingga negara-negara baru tersebut lebih kecil, lebih sedikit penduduknya
sehingga lebih bagus untuk diatur dan pemerintah menjadi lebih efektif
untuk menyejahterakan rakyat. Ini akan lebih bagus daripada kita
mempertahankan negara besar tetapi tidak mampu mengurusinya. Nah, dengan
pemerintahan baru yang lebih kecil tapi efektif, tentunya
persoalan-persoalan bangsa ini bisa diselesaikan tuntas.
Salam -
"Andang
Bachtiar" To: <[EMAIL PROTECTED]>,
<[email protected]>,
<[EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>, <[EMAIL
PROTECTED]>,
et.id> <[EMAIL PROTECTED]>
cc:
11/04/2005 11:53 Subject: [iagi-net-l] Khabar
dari Padang
AM
Please respond
to iagi-net
Kawan-kawan,
Nampaknya segala macam himbauan, usulan, tekanan, dan sejenisnya kepada
penanggung-jawab kehidupan kolektif kita di level negara, provinsi,
kabupaten/kota tentang keharusan untuk segera ACTION dg mitigasi bencana
(khususnya gempa) tidak kunjung bisa MERASUK ke jiwa (bahkan
himbauan/tulisan-tulisan itu sudah dilakukan sejak sebelum Gempa Aceh).
Diperlukan ritual dengan korban besar dari Nabire, Alor, Aceh dan Nias,
ditambah dengan tarian kepanikan dari Palu, Jawa Timur, Medan, Mentawai,
Padang, Bengkulu....... itupun masih belum membuat kita semua TRANCE,.....
Buktinya apa? Kita semua masih sibuk dengan pertanyaan: KAPAN terjadi Gempa
dan Tsunami lagi? Padahal seharusnya pertanyaannya adalah SEBERAPA SIAP
kita
semua menghadapinya. Karena Gempa (dan Tsunami) di seluruh daerah pantai
barat Sumatra, selatan Jawa, Nusatenggara, Banda, Sulawesi, dan Irian
tengah
dan utara,... adalah suatu KENISCAYAAN, seperti halnya keniscayaan bahwa
kita semua akan MATI. Seberapa siap kita mengahadapi MATI? "Sholat,
beramal,
berzakat, tawakkal, berbuat kebaikan" itu adalah bagian2 dari persiapan
menghadapi mati. Apakah kita sibuk dengan prediksi-prediksi kapan kita akan
mati? Tidak, khan? Kita sudah tahu bahwa umur kita normalnya berakhir dari
70-100 tahunan; and that's it. Yang kita butuhkan persiapan-persiapannya.
Sama juga dengan gempa-gempa dan tsunami-tsunami besar itu: umur siklusnnya
untuk tiap segmen berbeda-beda tapi berkisar dari 150-300 tahunan. Hanya
saja karena saat ini kita sedang berada di UJUNG dari siklus-siklus itu di
segmen-segmen barat Sumatra, maka menjadi sangat kritislah
persiapan-persiapan yg kita lakukan. Sama saja dengan kalau kita sudah
berumur sekitar 60an.... mustinya kita makin bersiap menghadapi kematian...
nah, seharusnya saat ini KITA SEMUA musti cepat-cepat mengubah paradigma
hidup berkegiatan didaerah gemap-gempa ini. MITIGAS!! MITIGASI!!MITIGASI!!
(sama dengan Sholatlah!! Beramallah!! Berbuatlah Kebajikan!!!).
Boleh saja kita semua berkonsentrasi untuk membangun Aceh, menyelamatkan
Nias, blue-print, proyek-proyek, dsbnya,.... tapi itu bukan berarti
melupakan persiapan HAJARAN dari gempa-gempa dan tsunami-tsunami berikutnya
di daerah-daerah lainnya. Apakah kita mau mengulangi kesalahan yang sama
dengan ketidaksiapan Aceh dan Nias? Tentu semua akan menjawab TIDAK!!! Oleh
karenanya, wahai SBY, Kalla, Alwi, Poernomo, Agung Laksono, dengarkanlah
kami, selamatkan Indonesia, MITIGASIkan gempa dan tsunami!!!
1. Review dan revisi segera Rencana Tata Ruang Wilayah daerah Potensi
Gempa/Tsunami.
2. Petakan segera secara rinci daerah2 tersebut termasuk percepatan gerakan
tanahnya dari sejarah gempanya
3. Bikin dan terapkan kode bangunan dengan ENFORCEMENT yang benar. Karena
semua korban gempa meninggal karena infrastruktur yang tidak
memperhitungkan
soal gempa tersebut.
4. Bikin jalur-jalur evakuasi, tempat-tempat evakuasi SEGERA berdasarkan
input topografi, jaringan jalan existing, dan sejarah gempa/tsunaminya.
5. Turun ke masyarakat, sampai ke level RT/RW untuk membagikan leaflet
cara-cara menghadapi gempa,.. bikin pelatihan-pelatihan / simulasi-simulasi
untuk sleuruh masyarakat daerah gempa spt kita dulu pernah ditatar P4
bertahun-tahun....
6. Beresi ORGANISASI BAKORNAS PB untuk bisa bertindak cepat, akurat, dan
benar setiap kali gempa terjadi
7. ..... kalau punya uang lebih,.. boleh, silakan mulai beli
perlatan-peralatan baru untuk deteksi dini gempa/tsunami... (ini sengaja
saya masukkan di prioritas akhir,... karena lebih penting yang nomer 1
sampai 6 diatas saat-saat ini)
Yang Gemes
Andang Bachtiar
Ketua Umum IAGI
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]),
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------