Sahabat,
Saya teruskan artikel dari milis tetangga yang baik
yang menjelaskan kebiasaan yang salah yang diterima
ketika kita (anak kita) masih belajar di SD. Kesalahan
fundamental ini harus diperbaiki dengan tanggung jawab
kita bersama.
Wassalam.
TAM
--- Prananto Setiawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
----- Original Message -----
From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: <undisclosed-recipients:;>
Sent: Monday, 25 April, 2005 4:11 PM
Subject: Fwd: 1 ONS BUKAN 100 GRAM
1 ONS BUKAN 100 GRAM.
PENDIDIKAN YANG MENJADI BOOMERANG.
Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan
asing, di PHK akhir tahun lalu. Penyebabnya adalah
kesalahan menerapkan dosis pengolahan limbah, yang
telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini
terkuak ketika seorang pakar limbah dari suatu negara
Eropa mengawasi secara langsung proses pengolahan
limbah yang selama itu dianggap selalu gagal.
Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam
buku petunjuknya menggunakan satuan pound dan ounce.
Kesalahan fatal muncul karena yang bersangkutan
mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100
gram, sesuai pelajaran yang ia terima dari sekolah.
Sebelum PHK dijatuhkan, teman saya diberi tenggang
waktu 7 hari untuk membela diri dgn. cara menunjukkan
acuan ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g.
Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan
Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan ons
(bukan ditulis ounce) adalah satuan berat senilai 1/10
kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi
yang berlaku sah atau dikenal secara internasional
tidak bisa ditemukan.
SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN.
Prihatin dan penasaran atas kasus diatas, saya mencoba
menanyakan hal ini kepada lembaga yang paling
berwenang atas sistem takar-timbang dan ukur di
Indonesia, yaitu Direktorat Metrologi . Ternyata,
pihak Dir.Metrologi-pun telah lama melarang pemakaian
satuan ons untuk ekivalen 100 gram. Mereka justru
mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam
Sistem Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi
di Indonesia. Untuk ukuran berat, satuannya adalah
gram dan kelipatannya. Satuan Ons bukanlah bagian dari
sistem metrik ini dan untuk menghilangkan kebiasaan
memakai satuan ons ini, Direktorat Metrologi sejak
lama telah memusnahkan semua anak timbangan (bandul
atau timbal) yang bertulisan "ons" dan "pound".
Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 ons =
100 gram dan 1 pound = 500 gram, ternyata tidak pernah
ada acuan sistem takar-timbang legal atau pengakuan
internasional atas satuan ons yang nilainya setara
dengan 100 gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang
diakui dunia internasional, tidak pernah dikenal
adanya satuan ONS khusus Indonesia. Jadi, hal ini
adalah suatu kesalahan yang diwariskan turun-temurun.
Sampai kapan mau dipertahankan ?
BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI ?
Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini
ketika masih di bangku sekolah dasar. Namun, ketika
saya memasuki dunia kerja nyata, kebiasaan salah yang
nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh karena
akan menyesatkan.
Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat
sejauh mana penyadaran akan penggunaan sistem
takar-timbang yang benar dan sah dikemas dalam materi
pelajaran secara benar, dan bagaimana para murid
(anak-anak kita) menerapkan dalam hidup sehari-hari.
Sungguh memprihatinkan. Semua sekolah mengajarkan
bahwa 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, dan
anak- anak kita pun menggunakannya dalam kegiatan
sehari-hari. "Racun" ini sudah tertanam didalam otak
anak kita sejak usia dini.
Dari para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa
semua buku pegangan yang diwajibkan atau disarankan
oleh Departemen Pendidikan Indonesia mengajarkan
seperti itu. Karena itu, tidaklah mungkin bagi para
guru untuk melakukan koreksi selama Dep. Pendidikan
belum merubah atau memberi- kan petunjuk resmi.
TANGGUNG JAWAB SIAPA
Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas,
Departemen Pendidikan kita jangan lepas tangan.
Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama kepada
para guru yang mengajarkan kesalahan ini, salah satu
alasannya agar tidak menjadi beban psikologis bagi
mereka ; "acuan sistem timbang legal yang mana yang
pernah diakui / diberlakukan secara internasional,
yang menyatakan bahwa :
1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram."?
Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya,
mengapa hal ini diajarkan secara resmi di sekolah
sampai sekarang ?
Pernahkan Dep. Pendidikan menelusuri, di negara mana
saja selain Indonesia berlaku konversi 1 ons = 100
gram dan 1 pound = 500 gram ?
Patut dipertanyakan pula, bagaimana tanggung jawab
para penerbit buku pegangan sekolah yang melestarikan
kesalahan ini ?
Kalau Dep. Pendidikan mau mempertahankan satuan ons
yang keliru ini, sementara pemerintah sendiri melalui
Direktorat Metrologi melarang pemakaian satuan "ons"
dalam transaksi legal, maka konsekwensinya ialah harus
dibuat sistem baru timbangan Indonesia (versi
Depdiknas). Sistem baru inipun harus diakui lebih dulu
oleh dunia internasional sebelum diajarkan kepada
anak-anak. Perlukah adanya sistem timbangan Indonesia
yang konversinya adalah 1 ons (Depdiknas) = 100 gram
dan 1 pound (Depdiknas) = 500 gram. ? Bagaimana "Ons
dan Pound (Depdiknas)" ini dimasukkan dalam sistem
metrik yang sudah baku diseluruh dunia ? Siapa yang
mau pakai ?.
HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI.
Contoh kasus di atas hanyalah satu diantara sekian
banyak problema yang merupakan akibat atau korban
kesalahan pendidikan. Saya yakin masih banyak
kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita
dengar. Salah satu contoh kecil ialah, banyak sekali
ibu-ibu yang mempraktekkan resep kue dari buku luar
negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana
kesalahannya.
Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini
sebenarnya merupakan masalah nasional pendidikan kita
yang mau tidak mau harus segera dihentikan.
Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi
diplomatis mengenai hal ini. Mari kita pikirkan
dampaknya bagi masa depan anak-anak Indonesia. Berikan
teladan kepada bangsa ini untuk tidak malu memperbaiki
kesalahan.
Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal
Takar-Timbang-Ukur, Dep. Pendidikan tidak memiliki
supremasi sedikitpun terhadap Direktorat Metrologi
sebagai lembaga yang paling berwenang di Indonesia.
Mari kita ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat
Metrologi.
Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena
itu anak-anak kita harus dipersiapkan dengan benar.
Benar dalam arti landasannya, prosesnya, materinya
maupun arah pendidikannya. Mengejar ketertinggalan
dalam hal kualitas SDM negara tetangga saja sudah
merupakan upaya yang sangat berat.
Janganlah malah diperberat dengan pelajaran sampah
yang justru bakal menyesatkan. Didiklah anak-anak kita
untuk mengenal dan mengikuti aturan dan standar yang
berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan
hanya yang rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi korban
akibat pendidikan yang salah. Kita lihat yang nyata
saja, berapa banyak TKI diluar negeri yang berarti
harus mengikuti acuan yang berlaku secara
internasional.
Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan
pendidikan yang benar sebagai upaya mempersiapkan diri
menyongsong masa depannya yang akan penuh dengan
tantangan berat.
ACUAN MANA YANG BENAR ?
Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam
dunia tehnik, dan juga ensiklopedi ternama seperti
Britannica, Oxford, dll. (maaf, ini bukan promosi)
menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu
diragukan lagi.
Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi
semacam itu dapat dijumpai dengan mudah di-dalam buku
harian / diary/agenda yang biasanya diberikan oleh
toko atau produsen suatu produk sebagai sarana
promosi.
Salah satu konversi untuk satuan berat yang umum
dipakai SAH secara internasional adalah sistem
avoirdupois / avdp. (baca : averdupoiz).
1 ounce/ons/onza = 28,35 gram (bukan 100 g.)
1 pound = 453 gram (bukan 500 g.)
1 pound = 16 ounce (bukan 5 ons)
Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau seorang
apoteker meracik resep obat yang seharusnya hanya
diberi 28 gram, namun diberi 100 gram. Apakah
kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai
malapraktek ? Pelajarannya memang begitu, kalau murid
tidak mengerti, dihukum !!! Jadi, kalau malapraktik,
logikanya adalah tanggung jawab yang mengajarkan. (ini
hanya gambaran / ilustrasi salah satu akibat yang bisa
ditimbulkan, bukan kejadian sebenarnya, tetapi dalam
bidang lain banyak sekali terjadi).
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]),
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------