Merenung sedikit tentang hakekat sains��..untuk mencoba memahami kontroversi sekitar manusia Pygmi Flores, menambahkan tulisan terdahulu. Salah seorang Science Philosopher adalah Karl Popper (Denmark), yang pengikutnya dikenal sebagai kaum Popperian. Salah satu hakekat sains yang terkenal dari K.Popper adalah`falsification principle`. Prinsip ini menyatakan setiap teori harus diusahakan terus untuk disanggah atau disalahkan. Jika teori ini lolos dari usaha-usaha research untuk menyanggahnya, maka teori ini akan bertahan dan dianggap sudah mencapai kebenaran mutlak. Namun penganut prinsip ini berpendapat bahwa semua teori bagaimana kokohnya pun pada suatu waktu akan tumbang pula dengan penemuan-penemuan fakta baru. Disini dapat dikatakan bahwa sains tidak mungkin mencapai kebenaran absolut dan kebenaran sains hanya bersifat sementara, selama tidak ada fakta yang menyalahkannya atau menyanggahnya. Rasanya pernah disinggung oleh Pak Koesoemadinata beberapa tahun lalu
Setelah renaissance di Eropa, nampaknya sains dan engineering sebagai suatu "alat" untuk menemukan "kebenaran" hanya dibatasi pada pengamatan empiris objektif yang reduksionis, dan positivis. Kalau tidak salah Francis Bacon-lah sang penganjur empirisme, sementara Descartes dan Popper, juga menganut fallacy assumption, dan bahwa yang ada hanyalah the more probable explanation bukan the real truth itu sendiri. Hasil ilmupengetahuan/sains dan rekayasa/engineering sejak jaman renaissance ini adalah yg seperti kita lihat sekarang, kemajuan material yang demikian pesat jaman modern ini. Tetapi kelihatannya hanya sebatas itu nampaknya. Padahal di bukankah pada mulanya, di era Yunani dan era Islam, paradigma sains itu sendiri lebih luas, tidak hanya empiris positivis belaka? Yang jelas saat ini kita masih "lambat" sekali dalam memahami hakikat suatu kebenaran dari geosains seperti misalnya asal-usul manusia atau paleoantropologi. Kontroversi tentang hubungan manusia purba dengan manusia modern, the Great Ape men �lucy� dari east African rift valley yang melahirkan teori �out of Africa�, dll, sampai sekarang masih menimbulkan tanda tanya besar, where is the real truth?, sampai kontroversi yang kita hadapi sekarang dengan manusia Pygmi dari Flores. Masih berkutat dengan data/fakta empiris dan interpretasinya. Apapun yang mereka sebutkan misalnya tentang asal-usul manusia Pygmi dari Flores, kita terima sebagai proses untuk mencari suatu kebenaran ilmiah. Berbeda geosains yang tampaknya lambat sekali, sains fisika yang mendalami alamsemesta (galaxy/universe) mengalami kemajuan besar dalam decade terakhir ini, yang dicapai salah satunya dengan bantuan Hubble Space Teloscope dan kemajuan ilmu computer, tetapi ketika mereka ingin �mematerialisasikan� penemuan barunya, terbentur dalam kenyataannya bahwa paradigma sains yang ada sekarang tidak bisa memuaskan mereka. ����Paradoxically, today's physicists have become the mystics of the 21st century. They are creating a new paradigm or view of the universe which draws on the ancient wine of the Sufis. For them, material reality, the body, can no longer be described as a physical machine driven by mechanical laws, or instincts, or economics, but must be viewed as an energy system which moves in waves across empty space at the subatomic or particle level. 99.9% of all matter has no dimension, it is seemingly empty space. The body or physical form has no permanence or reality; at best it is an illusion of thought. The lessons drawn from this picture is that we are fields of intelligence that have taken on material forms as particles. We are quantum events in a sea of probability who have learned how to create mind and body and as particles of energy we have strayed away from our Divine Source-- a Reality beyond space and time, changeless and Eternal. This fundamental wisdom is captured in the Sufi work truth: haq. The truth is that we belong exclusively to Unity. As the Prophet said, "Wherever you turn, there is the face of Allah."����.. Sufism and New Physics, By Professor Arthur Kane Scott, physicists http://www.sufismjournal.org/science/science.html Salam Dr. Ade Kadarusman Tectonic/Structural Geology Group Dept. of Earth Sciences, Universiteit Utrecht Budapestlaan 4, 3508 TA, Utrecht The Netherlands On leave from: Puslit Geoteknologi-LIPI Bandung --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

