Meskipun Si Abah teman dekat saya, tetap aja saya kurang sependapat kalau yang berisi beginian masuk ke iagi-net. Abah, pilihin yang lain aja deh, seperti info-nya kang Awang begitu tehhh. Basuki Puspo (jaman Bung Karno dimusuhi CGMI karena GMNI, jaman Suharto dimusuhi juga karena ex GMNI, wahhhh)
-----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, May 10, 2005 11:06 AM To: [email protected] Subject: [iagi-net-l] anak harto Rekan rekan Risalah ini sangat menarik , jangan jangan kita adalah salah satu dari mereka. Si Abah Anak Harto" Budiarto Shambazy BANYAK peristiwa yang terjadi belakangan ini, yang membuat banyak orang lagi-lagi tercenung dan terpaksa kembali merenung. Lagu top hit pekan lalu-dan mungkin akan tetap bertengger terus di urutan teratas minggu depan-adalah skandal suap dan korupsi di KPU. Penyidikan korupsi di KPU semakin hari semakin susah dicerna dengan akal sehat. Kita dibuat bego, bingung, penasaran, dipaksa menebak-nebak, dan seolah-olah seperti membaca buku cerita silat. Bencana seperti tidak pernah habis-habisnya. Kini giliran virus penyakit polio menebar mara bahaya bagi anak kita. Reformasi telah berusia tujuh tahun, presiden pun sudah berganti-ganti. Belakangan ini banyak orang yang mengatakan kepada saya, "Ah, mendingan zaman Soeharto." Kalau di zaman Soeharto, korupsi yang terjadi katanya hanya sekadar transaksi di bawah meja. Sejak zaman reformasi, sampai meja-mejanya sekalian diangkut dan dikorupsi. Pak Harto kini terbaring di rumah sakit untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun belakangan ini. Sekitar tujuh tahun yang lalu pada bulan yang sama, Mei 1998, Pak Harto mengundurkan diri dari jabatannya sebagai kepala negara. Dua tokoh yang menjenguk Pak Harto adalah mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin dan Wakil Ketua MPR AM Fatwa. Meskipun pernah menjadi korban politik Orde Baru, Bang Ali dan Fatwa telah memaafkan dosa-dosa Pak Harto. Benar kata pepatah bahwa hidup seperti roda yang terus berputar. Posisi politik Pak Harto dibandingkan dengan posisi politik Bang Ali dan Fatwa sudah terbalik 360 derajat. Seperti layaknya sebuah "kebetulan sejarah", kunjungan Bang Ali dan Fatwa mau tak mau mengingatkan orang tentang terjadinya sebuah sejarah penting di republik ini. Tanggal 5 Mei 2005 merupakan peringatan 25 tahun Pernyataan Keprihatinan/Petisi 50. Seperempat abad yang lalu, Bang Ali bersama 49 tokoh kawakan menerbitkan "Pernyataan Keprihatinan". Isinya mengkritik pidato Pak Harto yang diucapkannya dalam Rapat Pimpinan ABRI di Pekanbaru pada 27 Maret 1980 dan dalam kesempatan HUT Kopassandha di Cijantung, 16 April 1980. Kelompok Petisi 50 terdiri dari beragam tokoh dari berbagai latar belakang profesi. Jenderal-jenderal purnawirawan, selain Bang Ali yang ada di situ, misalnya, Jenderal Besar AH Nasution (mantan Kepala Staf Angkatan Bersenjata) atau Hoegeng (mantan Kepala Polri). Politisi-politisi kawakan juga banyak, seperti tokoh Islam Mohammad Natsir, tokoh nasionalis Manai Sophiaan, sampai perempuan pejuang kita, SK Trimurti. Beberapa bekas aktivis perjuangan mahasiswa juga ada, seperti Judilherry Justam (angkatan Malari) atau Bram Zakir (angkatan NKK/BKK). ISI "Pernyataan Keprihatinan" pada dasarnya ditujukan kepada kebiasaan Pak Harto yang tiap sebentar mengidentifikasikan dirinya Pancasila. Jadi yang menyerang Pak Harto seolah-olah menyerang Pancasila dan dianggap sebagai subversi yang ingin menggantikan kepemimpinan nasional. Pak Harto marah sampai- sampai anaknya Bang Ali pun dilarang meminjam uang ke bank. Siapa pun yang ingin Pak Harto hadir dalam pesta pernikahan anak mereka, pada acara terkait seluruh tokoh Petisi 50 dilarang datang. Ia melupakan sejarah bahwa Bung Karno yang menggali Pancasila. Ia memang haus kuasa dan bersikap tak demokratis karena semata-mata ingin membangun negara kita yang tercinta lewat Repelita. Pada edisi terakhir rubrik ini, saya menulis sebuah kalimat, "Meskipun kedua pemimpin (maksudnya Bung Karno dan Pak Harto) melakukan kesalahan-kesalahan, janganlah kita melupakan jasa mereka". Namun, jangan kita lupa kepada orang-orang di sekitar Pak Harto yang sejak awal ikut-ikutan menjerumuskan sekaligus memetik keuntungan. Orang-orang itu sampai sekarang masih saja berkeliaran. Dalam bahasa Inggris mereka disebut sebagai men for all seasons atau-dalam bahasa Indonesia-artinya para petualang musiman. Dalam bahasa politik populer mereka disebut sebagai "cognoscenti" atau kelompok "mahatahu" yang berkeliaran di sekitar pusat-pusat kekuasaan di Ibu Kota. Sampai sekarang mereka masih ada di sekeliling kita dengan menyembunyikan identitas sebagai pengurus partai politik, anggota parlemen, pakar dan ilmuwan, bankir dan wartawan, sampai para pejabat pemerintahan. Kelompok "cognoscenti" cuma mengenal istilah kekuasaan, kekayaan, dan orang-orang peliharaan. Mereka menjadi pusat perhatian, sangat menguasai ilmu "perngibulan", cepat menyabet kesempatan, dan secepat kilat kabur ke luar negeri untuk menghindari penangkapan. Mereka cepat berganti rupa, berpindah-pindah afiliasi politik, jago menjadi tukang tadah, dan lihai memindah-mindahkan kredit bermasalah. Di masa Orde Baru menjadi menteri, di masa awal reformasi menjadi anggota parlemen, belakangan ini menjadi pemuka etnis, dan sampai kini masih dicurigai terlibat berbagai skandal korupsi. Dalam dua kali pemilu tahun 1999 dan 2004 mereka mendanai sekaligus mengotaki partai-partai yang berganti-ganti nama dan ideologi. Dalam rangka menyelamatkan diri, mereka mampu tampil sebagai pengurus olahraga, pembina warung tegal, atau budayawan. Mereka tahu persis berapa banyak anggaran pembangunan yang bisa di-tilep, berapa harga mark-up proyek, dan berapa pula tarif menyogok aparat hukum. Mereka masih bisa menyelenggarakan korupsi berjemaah atau mabuk-mabukan sambil menembak orang yang tidak bersalah. Sebagian dari mereka sudah lama pergi ke alam baka ketika Pak Harto masih berkuasa. Sebagian lagi sampai sekarang masih berkiprah dan kadang kala Anda bisa melihat mereka di berbagai media massa. Selama sekitar 30 tahun, mereka dengan bangga mencatut diri sebagai "anak Harto" alias anak hasil didikan Pak Harto. Tatkala zaman berubah, mereka cepat-cepat ganti loyalitas kepada putrinya Bung Karno. Sekarang mereka ada bersama Pak Susilo Bambang Yudhoyono. Wah, ciloko! ( e-mail: [EMAIL PROTECTED] ) --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) --------------------------------------------------------------------- --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

