pak rovicky dan rekan-rekan -

mohon maaf, saya kok masih agak kurang setuju dengan kita terus
mengungkit-ungkit perihal brain drain ini. seperti email saya dulu, santai
sajalah, bukannya pesimis lho pak andang. saya setuju dengan pak koesoema,
kalau brain drain ini fenomena natural saja karena globalisasi, dan bukan
terus disetop hanya karena hitungan "current economy" yang kurang jelas.
hitung2an ekonomi seperti ini kadang2 malah salah kaprah, ingat saja
perhitungan "ekonomi" untuk menghalalkan sby menaikkan harga bbm.

mungkin sih maksudnya supaya gimana caranya renumerasi gge di indonesia
juga terkatrol naik, tapi kemungkinan malah dapet celakanya. saya percaya
dengan adam smith, bahwa sesuatu yang dikontrol naturally oleh market force
akan lebih baik untuk semua pihak. nah, fenomena brain drain ini jelas
tidak dikontrol siapa2, tapi hanya karena kekuatan tangan pasar saja. ini
justru bagus, karena kalau sudah diatur-atur, apalagi diatur oleh yang
namanya pemerintah indonesia, kita semua akan celaka tiga belas juta.

sikap bp migas dan pak awang pun saya sangat salut, membiarkan fenomena ini
sebagai fenomena natural dan tidak ikut cawe-cawe atau campur tangan. coba
saja kalau bp migas kegerahan karena dikomporin "perhitungan ekonomi brain
drain" yang menyimpulkan bahwa brain drain merugikan negara, terus dengan
kekuatan politik-nya membuat hukum atau aturan baru untuk melarang semua
kemungkinan brain drain (misalkan dengan kontrol imigrasi atau tidak boleh
keluar kerja dari psc kalau ke luar negeri, atau disuruh bayar fiskal
usd1000 untuk professional tki setiap pergi) dengan alasan merugikan
negara..... gimana coba? apalagi pak ketum iagi kita sudah mulai berkenan
turun gunung memberi petunjuk ttg soal ini, dan sudah mau ketemu dpr
lagi.....  ini worst case scenario lho...... mengingat kelakuan dpr dan
pemerintah yang diuraikan pak edison. ngeri ah mbayanginnya.

jadi, gimana kalau kita "case closed", boleh kan pak syafri?

salam -



                                                                                
                                   
                      Rovicky Dwi                                               
                                   
                      Putrohari                To:      [email protected]     
                                   
                      <[EMAIL PROTECTED]         cc:                            
                                     
                      om>                      Subject: Re: [iagi-net-l] Kemana 
mereka ?                           
                                                                                
                                   
                      12/05/2005 08:36                                          
                                   
                      AM                                                        
                                   
                      Please respond                                            
                                   
                      to iagi-net                                               
                                   
                                                                                
                                   
                                                                                
                                   



On 5/11/05, R.P. Koesoemadinata <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Saya kira exodus itu adalah akibat dari Globalisasi, dan tidak dapat
> dihindarkan, kecuali kalau Indonesia ingin menutup diri. Sumberdaya
manusia
> Indonesia, dan negara berkembang akan ramai2 pergi ke barat dn Amerika
> serikat dimana gajih lebih besar, dan orang Amerika dan Europa dll juga
akan
> ke negara berkembang juga untuk cari gajih/penghasilan yang lebih besar
dari
> di negaranya sendiri.

Menghilangkan sama sekali memang jelas tidak mungkin. Yang perlu
dilihat ulang adalah berhitung saja seberapa besar loss-gain yang ada.
- "real loss-gain" (current economy) akibat spent uang yg sudah
dibelanjakan, misal untuk mendidik sejak SD hingga lulus S2/S2/S3,
karena ada "invest" dari Indonesia.
- "potential loss-gain" (future/oportunity), apabila 'brain drainer'
ini dapat dikerjakan di dalam negeri.
Dari sini kita bisa melihat seberapa besar kerugian/keuntungan negara.

Tentusaja seperti artikel yg saya posting lainnya, menunjukkan adanya
"reversed braindrain" yg akhirnya mengembalikan keuntungan (gain) yg
terjadi di Thailand dan India. Tentu saja Indonesia tidak hanya
menyerahkan kejadian "brain-drain" sebagai sebuah natural fenomena
(globalisasi). Thailand dan India memiliki atau mempunyai sebuah
langkah khusus untuk mendapatkannya kembali. Dan berhasil.

Malesa sendiri awal tahun lalu sudah ada berusaha memanggil SDMnya,
namun sepertinya usaha ini belum berhasil baik. Masih banyak yg enggan
dan konon banyak yg kembali lagi ke LN.

> Saya kira adanya exodus ini sangat menguntungkan, lebih baik dari export
> TKW. Yang lebih dikhawatirkan sebetulnya dengan globalisasi ini akan
banyak
> sumberdaya asing yang masuk Indonesia dan mendesak lapangan kerja, tetapi
> kelihatannya apa yang terjadi adalah timbal balik.
> RPK

Globalisasi merupakan fenomena natural, bukan bikinan. Timbal balik
ini tentusaja akan terjadi. Tetapi belum tentu terjadi dengan
sendirinya, atau dengan kata lain, kita bisa saja "berusaha"
mempercepat proses itu segera terjadi.

Kalau disisi individu warga negara dan para profesional ini tentusaja
globalisasi bisa menjadi sebuah oportunity, oportunity untu
mendapatkan kesempatan sebagai expat, mendapatkan gaji besar,
pengalaman dll atau mudahnya mereka sekedar mengungkapkan bahwa
"braindrain is a big gain" ...:)

Bahkan seperti kata Oom Teguh, dimata individu2 ini, braindrain hanya
masalah survival saja :( ....
unfortunately its may be true
"emang kamu berani bayar brapa ?" ... upst ciloko !!

salam
RDP

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy
Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]),
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------







---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL 
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke