Sahabat, Saya tidak mau terpaku atas istilah nasionalis berdasarkan pemilihan sesuatu yang hanya produk nasional namun penuh dengan kontroversi.
Namun saya ingat beberapa pendapat, pertama dari J. F. Kennedy yaitu "Jangan Tanya Apa Yang Negara Berikan Padamu, Tapi Tanyalah Apa Yang Kamu Berikan Bagi Negara". Jadi lebih kepada prestasi atau usaha yang kita berikan untuk mengharumkan negara kita (serta mensejahterakan rakyatnya). Seiring dengan perkembangan jaman dan teknologi dengan globalisasi saat ini maka pernah pula ada pendapat lainnya oleh Presiden AAPG pada acara IPA Luncheon Talk beberapa waktu yang lalu, tentang "Thinking Out Of The Box". Saya menafsirkannya adalah kita harus "keluar" dari paradigma lama untuk menganalisis semua permasalahan dari luarnya. Marilah kita berikan kontribusi dan prestasi kita dalam bidang apapun bagi harumnya nama Indonesia dan kesejahteraan rakyatnya, mulai saat ini juga, dari diri kita masing-masing serta dari hal yang paling kecil (keluarga dan pekerjaan kita). Salam buat semua. TAM --- "M. Fakhrur Razi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Pak Harto lebih nasionalis lho pak, lihat aja waktu > dia sakit kemaren, > dia gak berobat ke luar negeri tuh, tapi milih > berobat ke RSPP, rumah > sakit nasional dengan dokter nasional juga. > > > > Republika Jumat, 13 Mei 2005 > Resonansi > Ketika Pak Harto Sakit > By: zaim uchrowi > > Kualitas seseorang dapat dilihat dari hal sederhana > yang dilakukannya. > Itulah yang terjadi pada Pak Harto. Awal pekan, > mantan presiden ini > jatuh sakit. Sakitnya serius. Ia mengalami > perdarahan usus. Untuk > seseorang dengan usia 84 tahun, peluang sembuhnya > hanya 50 persen. Tapi, > di saat sakit seperti itulah kualitas pribadinya > justru mencuat. Seperti > biasanya bila sakit, Pak Harto tidak berobat ke luar > negeri. Ia akan > selalu berobat di Indonesia. Tempat berobat > langganannya adalah RSP > Pertamina. Di sanalah, pekan ini, Pak Harto dirawat. > > Kalau mau, Pak Harto bisa berobat ke manapun di > dunia ini yang dianggap > mempunyai kemampuan medis terbaik. Atau setidaknya > ke Singapura, seperti > yang banyak dilakukan tokoh dan pejabat Indonesia. > Termasuk oleh > presiden-presiden kita sebelum ini. Tapi, tidak. Ia > selalu mempercayakan > penanganan kesehatan dirinya pada putra-putra > bangsa. > > Di saat sakit seperti itu, ia menunjukkan > karakternya sebagai pemimpin. > Seorang pemimpin harus yakin dengan kemampuan > bangsanya sendiri. Seorang > pemimpin justru harus membangkitkan kemampuan bangsa > dengan > keyakinannya. Ia menunjukkan karakter > kepemimpinannya itu dengan langkah > nyata. Bukan dengan kata-kata. > > Sikap Pak Harto itu terasa langka di masa ini. > Kesungguhan untuk > mengoptimalkan potensi sendiri masih terasa lemah di > seluruh lini > bangsa. Termasuk pada para tokoh yang secara formal > menjadi pemimpinnya. > Kita semua seperti kental mewarisi mental bangsa > terjajah: Kagum pada > segala yang beratribut asing. > > Sebagian lagi bahkan mengidap penyakit feodal para > priyayi: Mau berkuasa > dan kaya tanpa harus bersusah payah. Mereka hanya > peduli soal > ''persenan'', dan tidak pada lainnya. Apalagi > menyangkut urusan nasib > bangsa. > > Lemahnya visi berbangsa tampak jelas dalam kehidupan > sehari-hari. Kita > acap menilai kehormatan diri dengan atribut material > yang sama sekali > tidak berbasis pada kekuatan bangsa sendiri. Atribut > itu dapat sekadar > berupa telepon genggam atau perabotan rumah. > > Banyak di antara kita mengharuskan diri menggunakan > telepon genggam > termahal. Bukan karena kita benar-benar memerlukan > fungsi HP itu, tapi > lebih karena menganggapnya sebagai simbol status. > Sebagian besar wakil > rakyat, yang katanya mencintai bangsa ini, memakai > jenis HP itu. > > Banyak pula di antara kita yang memilih mebel kursi > kulit impor gaya > Victoria, atau mebel impor lain. Dalam sebuah foto > di majalah beberapa > tahun lalu, seorang petinggi KPU terlihat berada di > rumah dengan kursi > macam itu. Sedangkan banyak petugas hukum seperti > polisi dan jaksa gemar > memakai kacamata sekelas Cartier. > > Banyak pejabat negara maupun BUMN tak merasa risi > memakai > atribut-atribut seperti itu, meskipun hampir seluruh > penghasilannya > berasal dari negara atau proyek-proyek negara. > > Sudah saatnya kita lebih menghargai diri (bangsa) > sendiri. Salah satunya > adalah dengan membatasi diri untuk tidak mudah > menghamburkan devisa > keluar. Pemerintah bisa memulainya, antara lain, > dengan mengharuskan > pengadaan barang buat negara hanya yang bermuatan > lokal (local content) > tertinggi, baik kendaraan, komputer, maupun barang > lainnya. > > Di bidang pertahanan misalnya, semestinya 3/4 bagian > dari puluhan > triliun anggaran digunakan buat menumbuhkan industri > pertahanan di dalam > negeri dibanding buat membeli peralatan dari luar. > Pak Juwono Sudarsono > tentu sangat paham, persoalan terpenting pertahanan > adalah sikap mental > baru kemudian peralatan. Bukan sebaliknya. > > Pak Harto jelas sakit. Tapi, dalam sakitnya ia > justru menunjukkan mental > yang sehat: Mental seorang pemimpin yang mencintai > dan percaya pada > bangsanya sendiri. > > > > -----Original Message----- > From: Sudana, Surya > [mailto:[EMAIL PROTECTED] > > Pak Rovicky ingkang minulyo, > > Apa iya Pak Harto lebih nasionalis ketimbang > pemimpin yg setelahnya > (karena tidak tahu bahasa Inggris), dan ternyata > membawa Indonesia ke > jaman "enak". > > Menurut saya kok gak ada hubungan antara kemampuan > berbahasa Inggris dg > nasionalisme. > Kalo pak Harto tidak pake bhs Inggris saya yakin itu > masalah protokoler > kepresidenan saja. Pak Harto tidak tahu bahasa > Inggris ?? Heee...rasanya > kok tidak masuk akal...apalagi seorang Suharto..yg > presiden, jendral, > ketua ini - itu dll yg kelasnya internasional. Konon > katanya alm. Bu > Tien juga wasis berbahasa Inggris...itu katanya > lho.. > Kalo sopir nya saja bisa bhs Inggris mosok si babe > Harto gak bisa ...opo > tumon ?? > > merdeka, > ss> > > --------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: > [EMAIL PROTECTED] > To subscribe, send email to: > [EMAIL PROTECTED] > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > IAGI-net Archive 1: > http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: > http://groups.yahoo.com/group/iagi > Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy > Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id > Komisi SDM/Pendidikan : Edy > Sunardi([EMAIL PROTECTED]) > Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) > Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) > Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] > atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi > Dahlius([EMAIL PROTECTED]) > Komisi Database Geologi : Aria A. > Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) > --------------------------------------------------------------------- > > __________________________________ Do you Yahoo!? Yahoo! Small Business - Try our new resources site! http://smallbusiness.yahoo.com/resources/ --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

