> Antara lain ; kemudahan kredit dengan bunga rendah , kebijakan pajak bagi peralatan yang terpaksa diimport , dan salah satu kalau pajak ppn dapat dibebaskan akan meningkatkan daya asing perusahaaan konsultan. Jadi banyak kebijakan pereekonomian yang menyamaratakan perusahaan konsultan dengan perusahaan perdagangan biasa , ini yang perlu pengaturan khusus. Untuk menyelematkan uang hasil migas , salah satunya adalah dengan mewajibkan pembayaran dilakukan di Bank DN dan bukannya ditransfer ke LN.
Si Abah. Halo Abah, > > Lewat pengalaman 2 tahun terakhir, saya mesti setuju bahwa dari sisi > penguasaan methodology, proses pengerjaan, QC, dll, sebagian geoscientists > di republik tercinta ini jelas memiliki kemampuan teruji (via projects > yang > dikerjakan, via tulisan di peer review journal dll) yang sekelas dengan > para > kolega di dunia maju, yakni pada bidang spesialisasi masing-masing. Satu > dua > orang geoscientists kita bahkan mengajar melanglang buana ke negeri-negeri > barat maupun timur. Para geoscientists barat pemberi kursus ke tanah air > kita pun tidak selalu luar biasa. Seperti lazimnya dunia ilmu, termasuk > dalam ilmu silat, tak ada orang yang jago disemua bidang. Yang saya lihat > sejauh ini, para ahli ini umumnya (tidak selalu) datang dari barisan dunia > akademis. > > Yang nampaknya perlu sekali kita pertajam adalah soal-soal manajemen, > ketepatan waktu, penguasaan bahasa industri, keketatan penjagaan kualitas, > updating perkembangan ideas, last but not least penguasaan terus menerus > atas perkembangan softwares terkini terutama yang PC based yang terutama > bukan produk dari provider besar. > > Saya ingin tanya Abah, apa yang dimaksud Prof. Ong Hang Ling tentang > "kebijakan finansial khusus bagi perusahan konsultan DN" seperti terdapat > dalam tulisan abah dibawah ?. Mohon pencerahan. Terima kasih. > > batara > > > > -----Original Message----- > From: [EMAIL PROTECTED] > To: [email protected] > Date: Mon, 23 May 2005 08:33:33 +0700 (WIT) > Subject: Re: [iagi-net-l] Pemanfaatan Cost Recovery - analisis pakar FKDPM > >> > >> Hahahahahaha >> >> Ini baru berita , berita yang sangat kesiangan , kenapa begitu >> ???????? >> >> Si Abah , sudah sangat sering menanyakan kepada fihak fihak >> "terkait" >> (baik terkait karena tugas maupun terkait karena menikmati kondisi >> seperti ini): pertanyaannya sederhana : " BERAPA SIH SEBENARNYA >> PORSI >> YANG DINIKMATI OLEH STAKE HOLDERS HIDROKARBON DI INDONESIA?" >> Pernah saya lontarkan bahwa dari sekian milyard dollar "operating >> cost" unutk produksi "tidak sedikit" justru dinikmati oleh >> kontraktor >> dan konsultan yang berada diluar Indonesia (Singapura, Austalia dan >> negeri asal perusahaaan). >> PADAHAL banyak pekerjaan yang sebenarnya dapat dikerjakan didalam >> negeri, >> saya selalu mengatakan "sejarah operasi EP migas di Indonesia sudah >> sangat tua" apakah kita masih terus saja dalam taraf "belajar" ???? >> >> Saya selalu sependapat dengan Dr Ong HL (pemilik salah satu >> perusahaan >> konsultan , walaupun sering sering hanya menjadi agen perusahaan >> asing) >> bahwa perlu ada kebijakan finansial khusus bagi perusahan konsultan >> DN agar dapat berkembang. >> SDM ????? , saya kira saudah sangat memadai , baik untuk ilmu >> kebumian, >> engjinering , maupun IT . Sekartang persoalannya adalah kemauan para >> pro- >> fesionalnya dan bantuan positip . sekali lagi positip dari otoritras >> keuangan , perbank-an dsb. >> >> Persoalan lainnya , adalah kemampuan manajemen dan semangat untuk >> menegmbangkan perusahaan samapi mencapai tingkat internasional. >> >> ADB , semestinya harus lebih berkembang lagi perusahaannyaa , aku >> ber- >> harap lebih banyak lagi ADB - ADB lainnya. >> >> >> Si - Abah >> >> (Ndang , nyoba maen golep geura , nanti tahu enaknya) >> >> >> >> >> >> >> >> >> Ini sebuah tantangan atau challenge buat kita semua. Potensi dana yg >> > dapat dipakai oleh lembaga/institusi atau perusahaan dalam negeri >> > (milik nasional dengan TK Indonesia) sehingga akan meningkatkan >> > keenomonian dalam negeri. >> > >> > Ini salah satu antangan utk meningkatkan kemampuan perpikir ilmiah, >> > dan taktis (strategis) tentunya buat tenaga2 kerja ini. Walopun >> secara >> > teknis saya yakin GGE Indonesia mampun mengerjakannya, namun >> > perkembangan teknologi bagai lari "sprint". Namun perlu diingat bahwa >> > mencari migas tidak harus dengan "the latest technique". Pengalaman >> > saya di My menunjukkan bahwa teknologi yg diaplikasikan di di MY >> > bukanlah tg mutakhir. Justru di Indonesia kita jauuh lebih maju >> > penggunaan teknologinya. Namun justru ini yg saya duga bahwa dana >> Cost >> > Recovery Indonesia telah dipakai dan dimanfaatkan untuk mendanai >> > riset2 besar dan mahal di home country dari perusahaan2 tsb, atau >> > paling tidak sebagai ujicoba. Namun kita sendiri tidak lebih banyak >> > memperoleh hasilnya. >> > >> > Mungkin perlu berhati-hati dengan teknologi tepat guna, tapi juga >> > jangan sampai tertinggal perkembangannya. ataukah sistem "Cost >> > recovery" (CR) mungkin sudah saatnya ditinjau ulang ? Seperti yg >> > pernah saya tulis bahwa sistem CR ini bukan sistem yg buruk dan bukan >> > hanya soal finansial semata. Namun CR memerlukan sebuah badan >> > pengawasan yg tidak sederhana. >> > >> > Kalau pembagian split (85-15), Adakah yg tahu berapa rata-rata >> (dalam >> > %) CR dalam sebuah proyek ? Katakanlah untuk mengambil 20 barrel >> > minyak yg seharga 50$/bbl akan diperoleh nilai penjualan 1000$, >> berapa >> > average lifting cost, bera[a average cost recoverynya. Mungkin akan >> > berupa range yg sangat lebar. Tapi ini akan memberikan gambaran >> berapa >> > besar (%) CR dalam sebuah proyek. >> > >> > Salam >> > RDP >> > >> > On 5/23/05, Noor Syarifuddin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >> >> wah...wah genderang perang sudah ditabuh rupanya........:-) >> >> >> >> Tapi omong-omong "kita" siap nggak sih untuk menampung tumpahan >> semua >> >> kebutuhan riset itu kalau sampai BP Migas "bisa memaksa" untuk >> >> membelokan >> >> katakanlah sebagian saja dari TSA itu ke dalam negeri..... >> >> >> >> Yang saya maksud siap di sini adalah dalam segala-galanya....... >> >> termasuk >> >> hal-hal kecil......misalnya menyelesaikan pekerjaan sampai laporan >> >> selesai.....etc etc.... >> >> >> >> Kalau melihat arsip jaman tahun 80-an, saya pernah menemukan bahwa >> >> hubungan >> >> antara KPS dan lembaga riset dalam negeri termasuk PT sangat >> "bagus".... >> >> Saya menemukan banyak dokumentasi kerja sama penelitian dan >> >> macam-macamnya..... tapi seringkali penemuan saya juga berlanjut >> dengan >> >> penemuan dokumentasi korespondesi antara si pemberi proyek dan si >> >> penerima >> >> proyek.... dan isinya =sayang sekali= biasanya soal menagih laporan >> dan >> >> hasil akhir yang rupanya sudah jauh melewati dateline..... >> >> >> >> Tapi saya setuju bahwa tidak ada kata terlambat untuk >> memulainya...... >> >> tapi >> >> kita juga musti konsekuen dong untuk bebenah diri....he he he >> >> Mudah-mudahan group geosciencenya Kang Sigit yang di Patra Jasa bisa >> >> menangkap peluang ini dengan "sebaik-baiknya"...(dan dalam tempoh >> yang >> >> sesingkat-singkatnya...) >> >> >> >> >> >> salam, >> >> >> >> (lagi ngerjain TSAnya North Sea.....) >> >> >> >> >> >> >> >> ----- Original Message ----- >> >> From: "Ariadi Subandrio" <[EMAIL PROTECTED]> >> >> To: "IAGI NET" <[email protected]> >> >> Sent: Sunday, May 22, 2005 6:03 PM >> >> Subject: [iagi-net-l] Pemanfaatan Cost Recovery - analisis pakar >> FKDPM >> >> >> >> >> >> > Cost Recovery Banyak Diserap >> >> > KPS di Luar Negeri >> >> > >> >> > Kamis, 19 Mei 2005 >> >> > JAKARTA (Suara Karya): Di samping banyak digunakan di luar >> peruntukan, >> >> dana cost recovery yang seharusnya berputar dan dinikmati di dalam >> >> negeri >> >> juga tak sedikit pula terbang ke kantor pusat kontraktor migas asing >> >> (KPS). >> >> Itu bisa terjadi karena ketidakmampuan BP Migas melakukan komunikasi >> >> menyangkut kebutuhan teknis dan kebutuhan finansial. >> >> > >> >> > "Karena tidak mampu dan kurang pengetahuan dalam membaca serta >> >> menyinkronkan kebutuhan teknis dan finansial, otoritas kita (BP >> Migas) >> >> hanya >> >> setuju-setuju saja terhadap apa yang dikatakan KPS menyangkut teknis >> dan >> >> finansial ini. Karena itu, banyak pekerjaan yang didanai cost >> recovery >> >> dilakukan di luar negeri," kata anggota Dewan Pakar Forum Konsultasi >> >> Daerah >> >> Penghasil Migas (FKDPM) Dr Andang Bachtiar. >> >> > >> >> > Kepada Suara Karya di Jakarta, kemarin, pakar geologi itu >> >> menuturkan, >> >> banyak kegiatan yang sebenarnya bisa dilakukan di dalam negeri >> dengan >> >> harga >> >> dan ongkos lebih murah. Karena itu, apa yang dilakukan KPS di luar >> >> negeri >> >> dengan memanfaatkan dana cost recovery, pembiayaannya menjadi >> >> berlipat-lipat >> >> dan sangat mahal. Itu pula yang kemudian disebut dengan TAS >> (technical >> >> served abroad), yaitu pengerjaan proyek di dalam negeri yang >> sebenarnya >> >> termasuk cost recovery namun dilakukan di negara asal KPS. >> >> > >> >> > "Itu merugikan kita karena dana cost recovery kembali ke negara >> >> asal >> >> KPS," ujar Andang. Dengan kata lain, dana cost recovery menjadi >> tidak >> >> bermanfaat di dalam negeri. Indonesia akhirnya lebih banyak >> mengerjakan >> >> proyek-proyek "skrup" -- berskala kecil --, sementara proyek-proyek >> >> besar >> >> digarap di home office KPS. >> >> > >> >> > "Bisa saya katakan terjadi inefisiensi dan tidak efektif akibat >> >> rendahnya pengetahuan kita soal teknis serta finansial. Intinya, >> karena >> >> tidak paham atau tak mau capek, kita lantas setuju-setuju saja >> terhadap >> >> keputusan yang dibuat KPS," tutur Andang. >> >> > >> >> > Bentuk proyek yang dananya berkaitan dengan cost recovery dan >> >> dikerjakan di luar negeri adalah evaluasi lapangan minyak, survei, >> juga >> >> penelitian-penelitian lapangan. Nilanya bisa mencapai ratusan juta >> dolar >> >> AS. >> >> > >> >> > Meski sekarang ini sudah mulai mengalami perbaikan, tetapi BP >> Migas >> >> perlu hati-hati dan tidak mudah tergoda menyetujui segala yang >> merugikan >> >> kepentingan nasional. >> >> > >> >> > Memang, kata Andang, di dalam negeri sendiri masih ada >> >> perilaku-perilaku yang membuat cost recovery boros dan tidak tepat. >> >> Misalnya, cost recovery dirogoh untuk main golf atau pembangunan >> rumah >> >> sakit. >> >> > >> >> > Namun demikian, Andang tidak yakin bahwa dana cost recovery ini >> >> digelembungkan (mark up). Kemungkinan tentang itu, katanya, sangat >> kecil >> >> karena pengawasan sangat ketat. "Namun bila mark up kecil-kecilan, >> ya >> >> bisa >> >> saja. Tetapi itu tidak signifikan," katanya. >> >> > >> >> > Sementara itu, juru bicara PT Caltex Pacific Indonesia Harry >> >> Bustaman >> >> menolak tudingan bahwa KPS menerbangkan dana cost recovery ke negara >> >> asal >> >> mereka. Menurut dia, di Indonesia tidak mempunyai lembaga bisa >> >> mengejawantahkan hasil riset, evaluasi, serta survei tentang >> keberadaan >> >> migas. >> >> > >> >> > Menurut dia, kegiatan itu tidak masuk cost recovery karena >> >> dikerjakan >> >> sebelum penandatanganan kontrak dilakukan -- dan karena itu tidak >> ada >> >> pihak >> >> yang dirugikan. "Kalau sudah kontrak, baru bandrol cost recovery >> >> berjalan. >> >> Artinya, setelah itu tidak ada lagi riset karena sudah ada >> pembuktian >> >> bahwa >> >> migas ditemukan," ujar Harry. >> >> > >> >> > Tapi di lain pihak, Andang Bachtiar menampik pernyataan itu. >> >> Menurut >> >> dia, saat penandatanganan dilakukan, KPS baru di tingkat yakin >> tentang >> >> potensi migas. Jadi, saat penandatanganan kontrak, belum ada >> pembuktian >> >> bahwa keyakinan KPS sudah terwujud dalam kenyataan. >> >> > >> >> > Karena itu, kata Andang, setelah penandatanganan kontrak pun >> tetap >> >> dibutuhkan survei, analisis, juga riset lanjutan untuk membuktikan >> >> keyakinan >> >> KPS tentang potensi migas. (Sabpri) >> >> > >> > >> > --------------------------------------------------------------------- >> > To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] >> > To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] >> > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id >> > IAGI-net Archive 1: >> http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ >> > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi >> > Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy >> > Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id >> > Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) >> > Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) >> > Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) >> > Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau >> > [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) >> > Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) >> > --------------------------------------------------------------------- >> > >> > >> >> >> >> --------------------------------------------------------------------- >> To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] >> To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] >> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id >> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ >> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi >> Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy >> Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id >> Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) >> Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) >> Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) >> Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau >> [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) >> Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) >> --------------------------------------------------------------------- >> > > > > --------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] > To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy > Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id > Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) > Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) > Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) > Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau > [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) > Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) > --------------------------------------------------------------------- > > --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

