Mungkin yang lebih penting dan bisa dilakukan tiap individu adalah membuat dirinya certified secara de facto. Percuma punya gelar S-3 kalau kualitas kerjanya seperti TA (Technical Assistant).
Harus diakui bahwa dalam realitas kerja, jika dealing dengan white-man, ada standar ganda yang diterapkan ke kita. Hal ini akan susah berubah walaupun ada selembar kertas sertifikasi. Tapi dengan menunjukkan kualitas yang tinggi, hal tersebut bisa pupus. Percaya? Have a nice (long) weekend! > -----Original Message----- > From: [EMAIL PROTECTED] > [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Sent: Friday, June 03, 2005 4:22 PM > To: [email protected] > Cc: [email protected] > Subject: Re: [iagi-net-l] Kualitas Pendidikan Tinggi kita > [Re: register now !] > > Mungkin sudah saatnya pendidikan tinggi kita melakukan > benchmark/sertifikasi ke institusi pendidikan internasional > yang diakui internasional sehingga mutunya bisa diakui secara > internasional juga... > ini juga jadi problem di dunia kerja juga...mis di perusahaan > asing mungkin s1 kita juga dianggap bachelor sehingga posisi > yang ditempati juga posisi bachelor.. > > Tapi kalau ada sertifikasi internasional kan kita bisa > bilang..."eit entar dulu..sekolah kita udah disertifikasi > jadi enggak boleh sembarangan..." > Kayaknya seperti jurusan SBM di ITB sudah mulai mengarah > untuk sertifikasi seperti itu.....enggak tahu jurusan lain... > > Regards > > Kartiko-Samodro > Telp : 3852 > > > > > > Taufik Manan <[EMAIL PROTECTED]> > 03/06/2005 03:26 PM > Please respond to iagi-net > > > To: [email protected] > cc: > Subject: [iagi-net-l] Kualitas Pendidikan > Tinggi kita [Re: register now !] > > > Menurut artikel "The World's Top Universities" per 5 November > 2004 oleh The Times Higher Education Supplement, tidak ada > satupun Universitas / Institut dari Indonesia (UI, ITB, UGM, > ITS, UNPAD, dll) yang masuk ke dalam list tersebut. Jadi > wajar bila lulusan > S1 kita disamakan dengan Bachelor luar negri. > > Namun bila dibandingkan dengan Universitas / Institut lainnya > di Asia Tenggara, terdapat beberapa yang punya prestasi dalam > 200 besar di dunia, yaitu; > - National University of Singapore (rangking ke-18) > - Nanyang University (rangking ke-50) > - Malaya University (rangking ke-89) > - Sains Malaysia University (rangking ke-111) > > Begitulah potret buram kualitas pendidikan tinggi kita bila > dibandingkan dengan negara lainnya. Kalau dulu banyak > mahasiswa Malaysia yang belajar ke Indonesia sekarang > seharusnya banyak mahasiswa Indonesia yang belajar ke > Malaysia / Singapore. > > Kalau ahli G&G-nya sudah banyak yang pergi bekerja (brain > drain) ke Singapore dan Malaysia. Mungkin nanti yang masih di > Indonesia akan mengikutinya. > > Selamat berakhir pekan. > > Taufik Manan > lulusan perguruan tinggi Indonesia dan masih berminat ambil > studi lanjutan di luar negri. > > --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

