Cukup Menarik!

Saya sendiri di KL, Malesa merasakan selalu bekerja lebih awal
dibanding Jakarta. Sehingga Jakarta selalu ketinggalan satu jam dengan
Kuala Lumpur. Dan dalam satu jam tentunya akan buanyak sekali
keputusan-keputusan yg sudah dapat diambil, bisa saja keputusan2 itu
menjadikan Jakarta ketinggalan beberapa langkah dalam mengantisipasi.

RDP
=======================
Message: 1
  Date: Mon, 6 Jun 2005 22:37:23 +0700
  From: "Christovita Wiloto" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Bersiaplah utk Perubahan pembagian Waktu di Indonesia

Selama ini kita hidup di Indonesia dengan tiga pembagian wilayah waktu
- Waktu Indonesia Bagian Barat, Tengah dan Timur! Kita tidak
menyadari...karena kita berada di dalamnya. "Take it for Granted"!
Mungkin saatnya kita mengkaji Dampak Pembagian Wilayah Waktu tersebut.
Apakah cara pembagian waktu sekarang efektif dalam peta globalisasi
ekonomi dewasa ini? Atau perlu ditinjau alternatif lain misalnya 2
pembagian waktu saja...atau bahkan hanya satu? Sebuah wacana menarik
yang perlu dibahas terbuka. Sebuah topik yang belum pernah disentuh
dalam kehidupan kita sehari-hari!

Sumatera dan Jawa seharusnya dimajukan 1 jam, dan jika ini terjadi
akan meningkatkan produktifitas nasional:
 1.. Money market di Indonesia buka dan tutup bersamaan dengan pasar
uang internasional, dalam hal ini Singapore, Malaysia dll, sehingga
rupiah lebih dapat dikontrol. Sehingga Rupiah diharapkan dapat lebih
stabil.
 2.. Demikian juga Capital Market.
 3.. Menurut PLN, akan mengurangi penggunaan listrik secara nasional
 4.. Menurut pakar pariwisata, akan meningkatkan jumlah wisatawan manca negara
 5.. Meningkatkan produktifitas nasional
 6.. dll yang sangat positif bagi kita Bangsa Indonesia.
jadi bersiaplah utk berubah! Sambutlah era baru Indonesia yg lebih maju!

salam
christov
PERUBAHAN PEMBAGIAN WILAYAH WAKTU DI INDONESIA UNTUK KEPENTINGAN
EKONOMI NASIONAL

Indonesia Marketing Association bekerja sama dengan Institut Teknologi
Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) akan mengadakan Seminar Nasional
tentang "Dampak Pembagian Wilayah Waktu di Indonesia Terhadap Pola
Konsumsi Enerji & Kegiatan Perekonomian Indonesia" pada hari Rabu 8
Juni 2005 bertempat di Hotel JW Marriott.  Seminar nasional ini akan
dihadiri oleh Menteri Riset dan Teknologi Prof. Dr. Ir. Kusmayanto
Kadiman yang akan menjadi pembicara kunci.

Seperti halnya pada negara-negara lainnya maka sejauh mana manfaat dan
kerugian akibat pembagian wilayah waktu dan ketentuan penunjukan waktu
yang paling sesuai terhadap kepentingan nasional, menjadi sesuatu yang
menarik untuk diperhitungkan dan dicermati potensi serta manfaatnya
dalam rangka mendukung efisiensi bagi pertumbuhan perekonomian
Indonesia.   Singapore, Malaysia dan Philippine misalnya menetapkan
waktu yang sama dengan Hongkong, pada hal dari segi jarak mereka lebih
dekat ke Indonesia.  Negara Cina dengan luas tanahnya sebesar 9.6 juta
sq kilometer memiliki satu waktu saja yang sama dengan Hongkong dan
Singapore.  Pertimbangan yang dilakukan oleh negara-negara tersebut
adalah faktor ekonomi.

President Indonesia Marketing Association (IMA) Y.W. Junardy
menyatakan :"Oleh karenanya dibutuhkan pembahasan khusus mengenai
masalah ini yang diharapkan mampu menghimpun berbagai masukan dan
pendapat dari berbagai pihak, khususnya dari para akademisi dan
praktisi bisnis serta para pakar lainnya yang berasal dari berbagai
bidang seperti teknologi, politik, ekonomi, sosial, budaya serta
berbagai kalangan lainnya. Dengan demikian mereka dapat berperan
sesuai dengan bidangnya masing-masing, memberikan sumbangan pemikiran
mereka secara intensif terhadap wacana ini. Di samping itu studi dan
uji lapangan sangat diperlukan untuk membuktikan manfaat gagasan di
atas", demikian Junardy.

 "Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) didukung LPPM
Universitas Airlangga telah membentuk tim khusus untuk mengkaji
masalah pembagian wilayah waktu di Indonesia dengan segala dampaknya".
 Pada saatnya kami akan memberikan masukan kepada pemerintah.  Yang
pasti kita harus berani meninjau kembali pembagian wilayah waktu di
Indonesia.  Karena bisa saja mempengaruhi pola konsumsi enerji di
Indonesia.  Apalagi kita tahu Indonesia belakangan ini sedang
menghadapi masalah enerji, demikian Prof.Dr. Ir Mohammad Nuh, DEA
Rektor ITS.

Pembicara lain di seminar nasional tersebut antara lain para pengajar
dari ITS seperti Ir. Mochamad Ashari. M.Eng, Ph.D; Dr.Dr. Ir.A.Sonny
Nursutan Hotama, MM, MA; Kepala Badan Metereologi dan Geofisika
Nasional Dr. Gunawan Ibrahim; Salah satu dari 50 guru terbesar dunia
di bidang pemasaran Hermawan Kertajaya;  Direktur Utama Merpati,
Hotasi Nababan, MBA; Pakar sosiologi Prof. Dr. Hotman M. Siahaan;
Pakar ekonomi dan anggota DPR Dr. Drajad Wibowo serta Dr. Aviliani,
ekonom dan komisaris BRI.



-- 
Education can't stop natural disasters from occurring, 
but it can help people prepare for the possibilities ---

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL 
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke