> Awang dan Sdr Teguh Pertam tama , salut untuk sdr. Teguh yang telah mempunyai niat yang sangat positip untuk menjunjung nama negara dengan niat menulis makalah.
Saya dari sejak dulu memang menyarankan sangat agar makalah makalah di PIT IAGI ditulius dan dibawakan dalam Bahas Inggris, sehingga para expatriate bisa tahu dan menghargai ahli dan asosiasi profesi Indonesia. Tapi sayang , masih banyak kendala yang harus dihadapi , yang menyebabkan hal tersebut belum terlaksana. Mungkin bisa dilaksanakan dengan sedikit "paksaan" , maksud saya ada "pengarahan" dari Komite Makalah untuk meng "haruskan" beberapa makalah dibawakan dalam Bahasa Inggris. Apa kriterianya ???? Mungkin salah satu adalah yang mempresentasikannya sudah cukup senior , topik makalahnya merupakan topik yang lagi "in",makalah mengetengahkan masalah yang bersifat regional dsb. Mungkin pelahan tetapi secara pasti , akan lebih banyak makalah yang dipresentasikan dalam Bhs Inggris. Si - Abah Bagus Pak Teguh, publikasikan saja secepat dan sebanyak mungkin. > Kebanyakan paper yang ditulis pun adalah "writing while studying". Jangan > kalah cepat. Soal mutu paper, nanti juga akan membaik sendiri atau akan > ada orang yang memperbaiki. Memang kita tahu bahwa di bawah sana itu > persis seperti yang kita tulis ? Tidak kan. > > Nah, jangan mau kalah, jangan terlambat, jangan sekedar jadi guide atau > asisten atau pembantu, atau telah puas sekedar jadi co-author, jadilah > tokoh intelektual juga yang setaraf dengan mereka. Hanya sulitnya, jurnal2 > ilmiah dan konvensi2 internasional pun pun banyak "mafianya", banyak > keberpihakannya. Ada jurnal2 ilmiah/konvensi2 internasional yang sulit > ditembus kalau tidak oleh golongan2 tertentu. > > Banyak sekali paper bagus di proceedings2 IAGI yang tak diakses secara > internasional. Terutama, hambatan bahasa penyebabnya. Orang2 LN itu > kebanyakan tak mengerti bahasa Indonesia. Maka, PIT IAGI nantinya harus > lebih go-international, pengumuman harus di jurnal2 internasional (bahkan > untuk memasang iklan ada PIT IAGI di jurnal seperti Explorer pun gak > gampang - Herman Darman bisa konfirmasi ?), dan kalau bisa paper ditulis > dalam bahasa Inggris, lalu kalau di ruang presentasi cukup banyak bulenya, > pakailah bahasa Inggris, biar mereka mengerti dan mereka akan meneruskan > ke rekan2nya bahwa PIT IAGI itu using english. Model2 joint convention > seperti IAGI-Geosea di Yogyakarta 2001 merupakan ide bagus untuk > go-international (walaupun Geosea-nya tak terasakan, minimal sudah mulai > kan). > > Kalau di Indonesia, menulis paper memang harus ada izin. Ditjen Migas yang > mengeluarkannya via BPMIGAS. Sekarang pun saya sedang memproses izin 113 > paper yang akan dipresentasikan di Konvensi IPA tahun ini. Saya tak > melihat bahwa prosedur izin paper adalah penghambat orang menulis paper. > Umumnya izin akan keluar, apalagi kalau untuk kepentingan akademik dan > kemajuan sains. Seingat saya, tulisan tentang Cepu di AAPG Explorer itu > tak pernah ada permintaan izinnya masuk ke BPMIGAS. Harusnya, KPS yang > bersangkutan, apabila terlibat di studi itu, mengajukan izin untuk > publikasi. > > Sekali lagi PUBLISH OR PERISH. > > salam, > awang > > > [EMAIL PROTECTED] wrote: > Kelihatannya kok kita selalu kalah cepat, dari berbagai diskusi yang saya > amati disini. Dari soal manusia Flores, > Cepu discovery, dan sekarang tentang East Java Basin. Mungkin pada > malu-malu publish paper ya ?? > > Karena itulah maka saya ngotot mempublish apa aja yang saya kerjakan di KL > sini, biarpun menurut saya kwalitas 'paper'nya > amat amburadul, karena saya tidak mau kalau kontribusi orang Indonesia > dalam Field Development di Malaysia, yang > katanya adalah 'the fastest field development plan' yang memecahkan > "Malaysian Record", hilang begitu saja. Kalau > ada istilahnya adalah 'writing paper while drilling' kali ya ?, karena > selama dua tahun disini saya drilled 50 lobang sendirian aja, > tapi saya coba untuk publish '3 papers', dua di Geological Society of > Malaysia dan satu di SPE (waktu itu di Perth). Karena saya > berpacu dengan waktu kontrak saya, soalnya kalau tidak pasti nggak ada > satu > namapun orang Indonesia yang diingat. Selesai > kontrak pasti hanya 'Thanks for your service' dan habis itu pasti "gone > with the wind".......... > Seperti kata pak Awang Publish or Perish............. > Saya hanya berpikir, walaupun amburadul, tapi nama orang Indonesia sudah > melekat di salah satu field yang kononnya memecahkan > record Malaysia. Mengenai sasaran atau tidak ? Hanya waktu yang akan > mengatakan, yang penting saya sudah berusaha. Walaupun > mungkin kontribusinya sangat kueciiil sekali, tapi paling tidak semoga > orang ingat, kalau Indonesia tidak hanya pembantu dan tukang bangunan. > > Mungkin ada baiknya untuk 'paper-paper' IAGI, terutama buat yang bekerja > dgn perusahaan asing, selalu dalam bahasa Inggris. Dan PIT IAGI, > 'flyer'nya di publikasikan di IPA bulletin, Jakarta post, kalau bisa malah > di AAPG Explorer. Biar banyak orang bule tahu, kalau ada PIT IAGI dan > IAGI-nya > sendiri. > > Salam, > > > > > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

