Memang banyak fisikawan Indonesia yang amat berjasa, malah bisa
setingkat internasional. Misal: Johanes Surya, Prof. Herman Johannes,
Prof. Seno Sastro Amidjojo, Prof. Achmad Baiquni, Prof. R. Mugiono, dsb.
Juga segudang dosen fisika penekun ilmunya itu, masih hidup sekarang.
Kita juga punya banyak ahli geologi, biologi, kimia, yang malah terus
berkarya. 

Penghargaan memang umumnya lebih muncul bila sudah meninggal. Entah
kenapa, mungkin persaingan hidup ? Termasuk Prof. Hans ini. Lukisan,
terutama, saya rasakan, akan jauh berlipat harga lukisannya, bila
pelukisnya telah mininggal. Saya lihat, ada suatu energi yang amat
besar, sehingga mereka, peneliti itu, amat tekun, tanpa banyak
memikirkan balasan materi. Tentu banyak dengan kocek pribadi. Di lain
pihak, yang mengejar materipun, energi amat besar, dan tak pernah juga
puas dengan seberapapun materi telah di dapatkannnya. Mendapat segunung,
maka mau gunungan yang kedua, dst, tak berhenti.

Prof. Johannes, misalnya. Mengajar fisika/kimia di cikal-bakal ITB
(jaman Belanda-Jepang), lahirkan senjata (melawan Sekutu 1945-1949)oleh
pahlawan unsur Ganesha, sehingga Indoensia dapat merdeka pada
gonjang-ganjing 7 th: 1942-1949: Jepang masuk Indonesia, kalah sama
sekutu, lalu sekutu datang, dan KMB 1949, baru Indoensia di akui
internasional. Beliau lalu mendirikan UGM (1949), buka FIPA, di ikuti
assitennya Bpk-bpk: (mantan murid cumlaudenya) Achmad Baiquni, Seno, R.
Mugino, dll. Prof Seno dengan tenaga mataharinya. Prof Baiquni dengan
atomnya BATAN, prof Mugi dengan geofisikanya, dan mereka dengan
paper-paper tingkat internasional. Fisikawan, lebih kuasai ilmu dasar
alam, tingkat atom hingga Jagad, amat asik sendiri, tak banyak uang
dihasilkan, juga tak banyak berfikir apakah itu akan datang. Mereka
telah yakin akan untuk siapa harus kerja. Teknik, yang
mengaplikasikannya, barulah dapat banyak uang, segunung.... Asyikkk.

Penghormatan ke peneliti, penemu itu, memang perlu, untuk kita berkaca,
sehingga mendapatkan arah visi kita menjadi lebih baik. 


Salam,
Maryanto.
Cara hormati mereka, dengan singkatan nama-nama mereka di formula fisika
saya: SALAM, SDEKAH, SYUKUR, SALEH, ARIF....

-----Original Message-----
From: Awang Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Friday, June 10, 2005 12:32 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Fwd: [HAGI-Network] Fisikawan terbaik


Waktu masih duduk di SMA dulu, awal 1980an di Bandung, di Gramedia jalan
Merdeka saya membeli sebuah buku populer tentang fisika teori
"Berkenalan dengan Teori Relativitas Einstein", terbitan  akhir 1970-an,
penulisnya belum berusia 30 th, Hans J. Wospakrik namanya. Saya menyukai
tulisannya dan sejak itu selalu mencari-cari publikasinya yang baru
kalau ada. 
 
Kata orang, "orang baik selalu pergi duluan" Sayang, lagi-lagi "kita"
(ITB dan Depdiknas khususnya) tak tahu/tak mau tahu bahwa Indonesia bisa
mendunia dalam riset ilmu dasar kalau orang2 seperti Hans Wospakrik
mendapatkan penghargaan yang layak.
 
Kita mestinya tak hanya menerima ilmu dari luar, tetapi juga menemukan
dan mengembangkannya di sini serta mengumumkannya ke dunia. Hans dapat
berkontribusi untuk hal ini.
 
Ilmuwan yang baik adalah ilmuwan yang mumpuni di bidangnya dan juga
etika keilmuwanannya baik, serta etika pribadinya terpuji. Hans punya
ketiganya. Kita tidak suka ilmuwan yang jenius tetapi perbuatannya
tercela.
 
Namun, sudah terlambat ! Kehilangan yang besar ! Sisanya hanya terharu
membaca memorabilianya. 
 
salam,
awang 
 

Prasiddha Hestu Narendra <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Dari HAGI milist,
ini adalah salah satu contoh teladan mengabdikan diri terhadap negri ini



>Saya forwardkan dari milis tetangga.
>
>Beliau ini adalah salah seorang yang membuat saya senang untuk belajar 
>Fisika.
>
>Semoga bermanfaat dan bisa menjadi teladan bagi kita semua.
>
>=============
>Hari Ini Atma Jaya Anugerahkan Fisikawan Terbaik buat Hans J Wospakrik
>
>UNTUK merayakan hari lahirnya yang ke-45 atau Lustrum IX pada hari ini,

>1 Juni 2005, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta, 
>menganugerahkan tiga jenis penghargaan dan mendeklarasikan kelahiran 
>Penerbit Unika Atma Jaya. Ketiga jenis penghargaan itu adalah Fisikawan

>Terbaik, Penerjemah Terbaik Bidang Novel, serta Tokoh Pembela 
>Kemanusiaan dan Keadilan.
>
>DUA hal dari kegiatan penting ini menyangkut satu nama: almarhum Hans 
>Jacobus Wospakrik. Yang pertama adalah anugerah Fisikawan Terbaik. Yang

>kedua, peluncuran buku ilmiah populer, Dari Atomos Hingga Quark, yang 
>menandai kelahiran Penerbit Unika Atma Jaya. Opus posthumous Hans ini 
>diterbitkan bersama dengan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).
>
>Dewan Penimbang, yang antara lain, terdiri dari Dr Jorga Ibrahim 
>(Departemen Astronomi ITB), Dr Terry Mart (Jurusan Fisika, Fakultas 
>MIPA UI), dan Dr LT Handoko (LIPI) dalam keputusannya menyebut Hans 
>yang semasa hidupnya mengajar di Departemen Fisika ITB dianugerahi 
>sebagai Fisikawan Terbaik "atas pengabdian, konsistensi, dan 
>dedikasinya yang tinggi dalam penelitian di bidang fisika teori yang 
>memberi sumbangan berarti kepada komunitas fisika dunia berupa 
>metode-metode matematika untuk memahami fenomena fisika dalam partikel 
>elementer dan Relativitas Umum Einstein melalui publikasinya di 
>jurnal-jurnal internasional terkemuka, seperti Physical Review D, 
>Journal of Mathematical Physics, Modern Physics Letters A, dan 
>International Journal of Modern Physics A".
>
>Tentu saja komunitas fisika mengerti bahwa Physical Review D dan 
>Journal of Mathematical Physics adalah media terkemuka tempat sebagian 
>riset fisikawan pemenang Nobel dipublikasikan. Yang menarik, yang 
>justru mengapresiasi karya-karya penelitian berskala internasional dari

>seorang Hans (1951-2005) adalah sebuah perguruan tinggi di mana Hans 
>tidak pernah terlibat dalam kegiatan penelitian maupun mengajar, bukan 
>pemerintah atau Departemen Pendidikan Nasional yang struktural langsung

>membawahkan ITB tempat Hans sebagai pengajar dan peneliti.
>
>Dengan tujuh hasil penelitian yang menembus jurnal internasional 
>terkemuka, tiga hasil penelitian diterbitkan jurnal online yang 
>bersifat internasional, tak terhitung penelitiannya yang diterbitkan 
>jurnal dan prosiding dalam negeri, serta menghabiskan waktu sebagai 
>pegawai negeri mengajar dan membimbing mahasiswa di ITB, Dr Hans J 
>Wospakrik yang meninggal pada 11 Januari 2005 dihargai pemerintah hanya

>sampai golongan IV-A, lektor kepala!
>
>Barangkali ada yang salah dengan sistem merit versi pemerintah. Dr 
>Jorga Ibrahim ketika memberikan alasan betapa Hans layak mendapat 
>anugerah ini, mengutip fisikawan teori Prof Dr Ryu Sasaki dari Institut

>Fisika Teori Yukawa di Kyoto, Jepang, bahwa bila menggunakan 
>syarat-syarat di Jepang, Hans adalah satu dari sedikit ilmuwan di 
>Indonesia yang berhak mendapat gelar profesor.
>
>Komentar Sasaki ini, menurut Jorga, disampaikan ketika berkunjung di 
>ITB 17 tahun lalu. Setelah mengetahui publikasi Hans yang menembus 
>Physical Review D-padahal waktu itu Hans masih dengan gelar sarjana, 
>belum PhD-Sasaki geleng-geleng kepala mengetahui Hans hanya dihargai 
>pemerintah dengan golongan pangkat yang tidak memadai.
>
>Pihak Atma Jaya sendiri, menurut salah seorang pengurus yayasannya, 
>tertarik memberi penghargaan setelah membaca berita meninggal Hans di 
>koran. Di sana disebutkan reputasi fisikawan yang putra Papua ini 
>berkali-kali berhasil menembus jurnal fisika internasional terkemuka. 
>Untuk memperkuat laporan surat kabar itu, pihak Atma Jaya mengundang 
>beberapa fisikawan sebagai Dewan Penimbang.
>
>Dengan penghargaan Fisikawan Terbaik ini, Atma Jaya memotivasi 
>dosen-dosennya supaya giat dalam penelitian hingga hasil riset mereka 
>dapat diterbitkan jurnal bidang masing- masing yang reputasinya 
>mendunia, internasional. Momentumnya, ya, lustrum kesembilan inilah.
>
>FISIKAWAN Terbaik. Saya pikir predikat ini tidak melulu untuk prestasi 
>Hans sebagai akademikus, tapi juga sebagai seorang manusia dalam 
>interaksinya dengan sesama. Inilah yang ingin saya bagi kali ini. 
>Tentang keilmuwanan seorang Hans, saya tidak akan mengulangi apa yang 
>terungkap secara panjang lebar dalam Pengantar Editor bukunya, Dari 
>Atomos Hingga Quark, yang diluncurkan hari ini juga.
>
>Santun, ramah, dan penolong. Saya pikir inilah kesan yang dibawa setiap

>orang yang pernah berjumpa dengan Hans. Sikap ini tidak hanya 
>diperlihatkannya horisontal secara alami kepada rekan-rekannya sesama 
>pengajar, tetapi juga vertikal secara alami kepada 
>mahasiswa-mahasiswanya. Sebagian besar kawan-kawannya dan mahasiswanya 
>yang saya jumpai mengatakan belum pernah melihat Hans marah. 
>Paling-paling dia diam kalau ada yang tidak berkenan di hatinya. Diam 
>itu pun biasanya segera cair.
>
>Dalam pengenalan saya sejak dua puluh tahun yang lalu, citra santun, 
>ramah, dan penolong itulah yang terekam dan selalu terkenang. Itu 
>barangkali sebabnya, ketika menulis profilnya di harian ini dua tahun 
>lalu, kesan itu terbawa-bawa.
>
>Sebagai wartawan, tentu ada perasaan bersalah kalau kami hanya 
>memperlihatkan kebaikan-kebaikan seseorang dalam suatu penulisan 
>profil. Seolah-olah setiap orang adalah malaikat. Ada nasihat baik 
>tentang penulisan profil yang pernah saya dengar dari seorang wartawan 
>senior.
>
>Katanya, "Kalau seseorang itu Anda anggap layak jadi panutan, tulislah 
>80 persen mengenai kebaikan-kebaikannya, tapi sisakan 20 persen untuk 
>memperlihatkan bahwa orang itu manusia juga, ada sisi-sisi buruknya."
>
>Maka, ketika Karlina Supelli mengirimkan SMS bahwa ia sangat terkesan 
>dengan profil Hans yang terbit 5 September 2003 di harian ini, saya 
>langsung menjawab, "Apakah saya tidak berlebihan?" Karlina menjawab, 
>"Tidak, itu juga Hans yang saya kenal."
>
>Karlina adalah adik kelas Hans di ITB. Karlina di Departemen Astronomi,

>Hans di Departemen Fisika. Keduanya mendalami kosmologi. Keduanya 
>menulis skripsi dengan pembimbing yang sama: Dr Jorga Ibrahim. Keduanya

>lulus cum laude. Hans pada tahun 1976, Karlina pada tahun 1981.
>
>Beberapa hari setelah jenazah Hans dimakamkan di Jayapura, saya 
>berkunjung ke rumah keluarganya di Bandung. Istrinya, Regina 
>Wospakrik-Sorentau, bercerita bahwa profil itu pun sempat 
>menggelisahkan Hans. Ia membaca berulang-ulang.
>
>Kata Hans seperti dikutip istrinya, "Ma, apakah tulisan ini tidak akan 
>mengganggu teman-teman? Saya dilukiskan seperti bintang." Istrinya 
>menjawab, "Tidak. Saya kira Pak Salomo menulis apa adanya. Papa sendiri

>bagaimana melihatnya, apa ada yang salah ditulis di sana?" Respons 
>Hans, "Tidak ada yang salah, tapi bisa disalahartikan."
>
>Dalam kunjungan di Bandung itu saya mendapat banyak cerita tentang Hans

>dan keluarga, Hans dan mahasiswa, yang dituturkan orang yang paling 
>dekatnya dalam 24 tahun terakhir. Ketika studi di Universitas Durham, 
>Inggris, untuk mendapatkan PhD (1999-2002), Hans membawa istri dan 
>kedua anaknya. Beasiswa pas-pasan. Istri dan anak-anak harus bekerja.
>
>Sebagai seorang bidan, Regina mendaftar bekerja di rumah sakit. Willem 
>dan Marianette, kedua anaknya yang waktu itu masih SMP dan SMA, kalau 
>ada waktu luang mencari kerja sambilan. Lumayan juga penghasilan 
>mereka. Bisa menabung. Uang tabungan itulah yang mereka gunakan 
>merayakan kelulusan Hans sebagai PhD keliling Eropa daratan.
>
>Sekali peristiwa, Fitri Armalivia, mahasiswa bimbingannya, mendaftar 
>untuk mengikuti kuliah triwulan pendek di Universitas Durham. Perguruan

>tinggi itu memang punya program beasiswa mengundang mahasiswa dari 
>berbagai negeri selama beberapa minggu untuk berkunjung dan belajar. 
>Armalivia butuh rekomendasi. Orang yang tepat memberikan itu tentulah 
>Hans.
>
>Pendaftaran sudah dilakukan, tapi panggilan belum datang juga. 
>Armalivia menduga Hans belum menulis rekomendasi. Waktu itu Hans 
>disibukkan dengan memeriksa ujian. Suatu hari guru dan murid ini 
>berpapasan. Armalivia seperti menghindar. Hans semula tidak mengerti, 
>tapi akhirnya mafhum bahwa biang keladinya pastilah rekomendasi itu. Di

>rumah ia bercerita kepada istrinya, "Armalivia mungkin kecewa, tapi 
>saya akan 'kerjain' dia seolah-olah saya tidak menulis rekomendasi."
>
>Keesokan harinya ia langsung menulis surat-e ke Durham. Namun, setelah 
>itu Armalivia selalu duduk di belakang saban mengikuti kuliah-kuliahnya

>Hans. Untunglah, dalam tempo yang singkat sesudah Hans melayangkan 
>rekomendasinya, Durham memberi tahu bahwa Armalivia diterima mengikuti 
>program triwulan pendek itu.
>
>"Keusilan Pak Hans itu paling-paling segitu," kisah Regina. Hubungan 
>murid dan guru itu pulih kembali.
>
>Dengan seorang dosen senior, Hans pernah konflik. Yang senior 
>mendiamkannya setahun, entah karena apa. Tidak saling tegur sapa. 
>Ketika ada tanda-tanda hubungan membaik, justru Hans yang balik 
>mendiamkannya. "Setahun saya didiamkan, sekarang saya tambah setahun, 
>saya yang mendiamkannya," kata Hans seperti dikisahkan Dr Freddy P Zen,

>rekannya di Kelompok Keahlian Fisika Teori.
>
>SEBAGAI pegawai negeri, Hans memperlihatkan hubungan berbanding 
>langsung antara gaji dan kehidupan. Pada sebagian besar pegawai negeri,

>hubungan gaji dan kehidupan adalah berbanding terbalik sebab dengan 
>gaji kecil (gaji pokok pegawai dengan golongan tertinggi IV-E tidak 
>lebih dari Rp 4 juta), banyak pegawai negeri punya rumah lebih dari 
>satu, mobil lebih dari satu, deposito dalam orde miliar rupiah. Hans 
>selama hidupnya sebagai pegawai negeri tidak sempat memiliki rumah, 
>tidak pernah memiliki mobil, bahkan sepeda motor. Setiap tahun ia harus

>memperbarui kontrak rumahnya, ke kampus naik angkot. Tak jarang ia 
>pulang malam dari kampus jalan kaki setelah menempuh tujuh kilometer 
>sebab angkot menuju rumahnya sudah tidak beroperasi lagi. Dalam hal 
>ini, satu lagi predikat harus disematkan ke
>pundaknya: Pegawai Negeri Terbaik.
>
>Kebaikan-kebaikannya inilah yang menumbuhkan pilu ketika menyaksikan 
>bagaimana rumah sakit memperlakukan seorang fisikawan Indonesia yang 
>luar biasa ini di akhir hidupnya.
>
>Menurut penuturan istri dan keluarganya, karena kekurangan uang panjar,

>dua hari pertama Hans yang menderita leukemia itu tidak mendapatkan 
>obat dari rumah sakit tempat ia terakhir dirawat. Begitu ada uang 
>tambahan, barulah rumah sakit mulai memberikan obat. Beberapa jam 
>setelah itu Hans mengembuskan napasnya yang terakhir.
>
>Di kamar jenazah, tubuh Hans harus menunggu suntik formalin karena 
>keluarga harus pontang-panting mengumpulkan uang sebanyak Rp 1 juta. 
>Kartu kredit tidak berlaku di ruang jenazah itu. Dokter menunggu uang 
>terkumpul. Untung ada Karlina Supelli yang bertanya ke dokter, "Saya 
>punya beberapa dollar dan rupiah yang kalau dikumpulkan sekitar Rp 1 
>juta. Apakah ini dapat diterima?"
>
>Sang dokter langsung memungut uang itu dan formalin seketika 
>disuntikkan.
>
>===================================================================
>
>------ https://www.lists.uni-karlsruhe.de/warc/hagi.html ------


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI
Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1:
http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id) Komisi
Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id) Komisi Sertifikasi : M.
Suryowibowo(soeryo[at]bp.com) Komisi OTODA : Ridwan
Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi
Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke