IAGI ? HAGI half day seminar

CEPU GIANT OIL FIELD : REVEALING THE MISTERY

(geological, technical, business, political)

Jakarta, 15 June 2005 ? Le Meridien


 

Panelists :

R.P Koesoemadinata

Rovicky Dwi Putrohari

Kurtubi

Kwik Kian Gie (absent)

Rizal Malarangeng (absent)

 

 

Moderator :

Andang Bachtiar

 

Notes/Quotes :

Martiono Hadianto

 

Participants : + 200

Media : + 15


 

Kontrak sumberdaya alam (migas) Indonesia di daerah Cepu dan Bojonegoro yang 
dikenal sebagai blok Cepu, melalui seminar setengah hari yang dilakukan  oleh 
IAGI-HAGI adalah ingin menguak berbagai perspektif, mulai besarnya cadangan 
minyak dan gas bumi sebagai entry poin dari semua permasalahan ini, aspek 
teknologi dan kemampuan penguasaannya, sisi bisnis dengan berbagai term yang 
memiliki kekhususan sangat special hingga pada gambaran tentang faktor politis 
yang mempengaruhi pada masalah bisnis minyak di blok Cepu.

 

Ketidakhadiran dua orang panelis, Kwik Kian Gie yang sedianya diharapkan dapat 
memberikan perspektif politik dan kebangsaan pada permasalahan Cepu akhirnya 
tidak dapat hadir, walau telah diusahakan oleh panitia hingga 15 menit jelang 
acara dimulai. Sementara Rizal Malarangeng yang pada kontak pertama memberikan 
sinyal akan hadir dalam seminar ini, akhirnya beberapa hari jelang gelaran 
seminar ini, ?beliau memiliki kesibukan lain?. Namun demikian kami merasa tak 
mengurangi bobot acara yang dihadiri banyak kaum kebumian migas Indonesia, dari 
berbagai kalangan, tua mau pun muda, dari pemerhati amatir hingga para pelaku 
sejarah Blok Cepu.

 

Konfirmasi ketidak hadiran Rizal Malarangeng sebagai juru bicara tim negosiasi 
yang kontroversial ini mengantarkan panitia untuk menemui Ketua Tim Negosiasi 
Cepu, Martiono Hadianto. Senin sore kami diterima dan berdiskusi panjang lebar, 
hasilnya adalah ?quotes? seperti yang kami sajikan dalam layar dalam ruang 
seminar (*.

 

Seminar setengah hari ini dibuka oleh ketua IAGI yang mengantarkan dalam 
bilingual dengan sebuah pertanyaan apakah benar yang disampaikan berbagai pihak 
bahwa cepu mengandung milyaran barel minyak, benarkah cepu giant field, atau 
bukan puluhan atau ratusan juta barel minyak yang berkelas big field, ataukah 
little giant, ataukah small ataukah hoax saja. Karena besaran cadangan adalah 
entry utama menuju pada perhitungan-perhitungan lanjut, maka IAGI-HAGI sebagai 
wadah para geoscientist (termasuk geoscientists migas) Indonesia mencoba untuk 
bersama-sama menguak misteri apa yang ada di kawasan hutan jati, Cepu. 
Menyingkap tabir yang selama ini banyak bersliweran di berbagai arena (media, 
perkumpulan, rumors, dll). Selain perspektif teknis dari berbagai unsur 
kebumian, seminar ini juga menghadirkan sisi pandang ekonomi makro (energi) 
yang menjadi basis tingginya nilai bisnis Cepu. Akhirnya, harapan memperoleh 
pandangan sisi politis dari ?ramainya cepu? tak dapat kita peroleh dari 
 panelis
 yang sedianya kami hadirkan, namun floor lah yang menjawab ini semua.

 



Panelis 1.

Koesoemadinata, R.P

(retired professor Geology ITB, ex. Humpuss Patragas/HPG advisor)

 

Memberikan gambaran tentang sejarah take over block dari Pertamina ke HPG, 
dilanjutkan dengan sejarah eksplorasi. Ratusan juta barel minyak telah 
diproduksikan dari lapangan-lapangan cepu hingga 1920, Kawengan adalah temuan 
1927 dan telah diproduksikan hingga 120 juta barel minyak.

 

Eksplorasi Belanda 1887  yang hampir saja menemukan lapangan raksasa Banyu 
Urip. Sayangnya pemboran-pemboran sumur dangkal di lapangan Tobo yang 
berdekatan dengan struktur Banyuurip, masih dalam teknologi dan konsep geologi 
yang ada kala itu belum mampu memecahkan misteri ini. Eksplorasi umumnya adalah 
geologi permukaan, bor dangkal hingga pemboran eksplorasi dalam, kalau pun 
logging juga masih sangat primitive, namun Biostratigraphy/ micro-paleontology 
telah extensive digunakan. Salah satu sumurnya Tobo-XXXV mencapai kedalaman 
2000 meter yang menemukan gas diatas BU.

 

1950-1960, sejarah BPM. dst

1965-1980, Lemigas, dst.

 

1987, Pertamina aktif berkegiatan eksplorasi dengan seismic 2 D dan ditemukan 
beberapa prospek migas. Tahun 1990 HPG mengambil alih dengan survey seismic 2D 
hingga dapat diidentifikasi 29 prospek migas, teridentifikasi 2 jenis prospek 
untuk yang dangkal dan dalam. Prospek dangkal ditangani sendiri oleh HPG, 
sementara prospek target dalam (Kujung Reefs) akan dikerjasamakan. 

 

Dsb dsb (gak sempet ngikuti , banyak mondar mandir?)

 

Konklusinya :

?         Struktur Banyuuripmemiliki potential 235 MMBO dan belasan TCF

?         The exploration history of the Cepu fields extends over more than a 
century

?         It is a story of geologic ideas, exploration concepts & plays,  
exploration technology, near hits & misses, circumstances & luck, business& 
politics, and intrigues

 

Final remarks nya adalah : OIL IS FOUND IN NEW AREAS USING OLD IDEAS

BUT OIL IS ALSO FOUND OLD AREAS USING NEW IDEAS? 

and new exploration technology!

That is the exploration history of the Cepu oil fields

 

 

Panelis 2

Rovicky Dwi Putrohari

 

Memberikan ilustrasi dari perbandingan sisi PSC Term di Indonesia dan Negara 
tetangga, profil produksi serta kaitannya dengan sumberdaya manusia kebumian 
dari kedua Negara bersebelahan ini dengan judul presentasi yang cukup 
mengagetkan : ARE YOU READY?

 

Dimulai dengan gambaran bahwa PSC term Indonesia yang tidak pada sisi 
?keberpihakan dilakukannya kegiatan eksplorasi suatu daerah?, dalam arti 
efektivitas suatu ruang/area memiliki frekuensi untuk dieksplor relative 
sedikit, karena sistem carved out yang berbasis persentase terhadap waktu 
mengakibatkan area menjadi ?kurang produktif?, karena ruang eksplorasi tertahan 
oleh term yang berbasis administratif. Berbeda dengan di Negara tetangga yang 
dalam fase post-exploration hanya dapat melakukan kegiatan fokus pada area 
produktif saja, sehingga ruang carved out-nya lebih sering untuk dapat 
dilakukan eksplorasi. Siklus eksplorasinya menjadi lebih cepat. 

 

Akibat dari hal tersebut adalah reserve dan production profile Negara sebelah 
relatif mengikuti kurva naik terus. Berbeda dengan Indonesia dimana sejak era 
80an hingga akhir 2000 produksinya menjadi plateau dan setelah itu menurun. Hal 
ini adalah korelasi dengan aktivitas eksplorasi suatu area yang tentunya banyak 
?tertahan? oleh term relinquishment area, sehingga kurang dapat dikembangkan 
dalam siklus-siklus eksplorasinya. Cepu sebenarnya adalah hasil dari akibat 2nd 
cycle yang dilakukan, nah? berapa banyak area-area tertahan di Indonesia yang 
tak sempat dilakukan eksplorasi lanjut seperti ini? Negeri ini kurang 
mendayagunakan lahan sumberdaya alamnya.

 

Kebutuhan atas sdm untuk pengelolaan terhadap 1000an barel oil per hari menjadi 
ilustrasi berikut yang disajikan RDP, banyaknya pengalaman dan keahlian 
rekan-rekan yang tersebar di berbagai perusahaan baik dalam  negeri mau pun 
overseas menunjukkan gambaran kesiapan tenaga/sumberdaya manusia Indonesia 
dalam melakukan pengelolaan lapangan-lapangan migas, baik besar mau pun kecil. 
Perusahaan seperti Kondur, Ekspan adalah contoh-contoh sukses dari pengelolaan 
ini oleh bangsa sendiri, walau semuanya membutuhkan masa pembelajaran, yang 
diiukuti dengan penurunan produksi, namun setelah itu akan diikuti dengan fase 
kenaikan produksi (The learning period, The production decline, The production 
increase, Maintain production).

 

Konklusi yang disampaikan oleh Rovicky adalah :

   Indonesian Professionals are capable to handle giant oil field.
   Production Sharing Contract is not about split but also term and schedule
   Don?t missed current oportunities for learning and high oil prices

 

Panelis-3

Kurtubi

 

Identifikasi atas permasalahan Cepu, dikelompokkan oleh Kurtubi menjadi 2 opsi, 
yakni (sebut saja) opsi nasionalis : Kontrak dengan ExxonMobil Tidak 
Diperpanjang, dengan Blok Cepu dikembalikan ke Pertamina tahun 2010, sehingga :

       -  Pendapatan negara (Pertamina, Pemerintah) menjadi maksimal ? 

       -  Pertamina harus mencari patner baru (CNOOC ?, atau ExxonMobil lagi 
?).  

       -  Baru bisa berproduksi sekitar 2013. 

 

Dampak yang mungkin terjadi adalah tertundanya berbagai peluang: 

1.  kesempatan negara memperoleh tambahan pendapatan secara significant, 
padahal tahun ini saja subsidi BBM akan bisa mencapai sekitar Rp90 trilyun 
sementara puluhan ribu gedung sekolah tidak mampu direhab/dibangun, 
infrastruktur kesehatan/sosial yang minim, jutaan rakyat terancam 
kelaparan/busung lapar.

 

2.  Multiplier effect dari SDA ini menjadi hilang, seperti: penciptaan lapangan 
kerja. Padahal tingkat pengangguran masih sangat tinggi

      

Apakah hal ini akan berdampak  pada realisasi investasi migas di Indonesia ?

 

Opsi kedua adalah : Opsi ?Pragmatis?: Kontrak ExxonMobil Diperpanjang.

dengan kontrak diperpanjang hingga 2030 dalam pola KKS, beberapa akibat yang 
mungkin adalah terjadinya :

         -  Pendapatan negara tidak maksimal karena harus berbagi dengan EM ?

         -  Pertamina tidak perlu mencari patner baru

         -  Bisa diproduksikan lebih awal. Berdampak:

 

1.  Negara memperoleh tambahan pendapatan lebih cepat guna membiayai program2 
yang sagat dibutuhkan rakyat segera. APBN akan sangat terbantu

 

2. Multiflier effect yang segera bisa dinikmati: peluang untuk menciptakan 
lapangan kerja  baru 

 

         -   Hubungan yang akan menjadi lebih baik dengan AS

         -   Ada kesempatan bagi Pertamina untuk melakukan aliansi strategis 

             dengan ExxonMobil di manca negara dan sektor hilir di dalam negeri.

         -   Akan berdampak posistif terhadap investasi migas di Indonesia.

 

Menjadi alternative sebagai usulan penyelesaian adalah opsi ketiga yang 
ditawarkan oleh DR. Kurtubi yakni : Nasional yang pragmatis

 

Kontrak Diperpanjang namun negara bisa memperoleh bagian yang optimal sehingga 
diperoleh :

 

?         Mencari penyelesaian yang win-win solution

?         Dalam batas2 perhitungan ekonomi yang wajar: mengusahakan semaksimal 
mungkin bagian untuk negara dengan memperhatikan kepentingan bisnis EM yang 
sudah secara historis sudah berada di Indonesia sejak tahun 1920 an.

?         Ingat: masih banyak rakyat yang miskin:

                     - lapar

                     - menganggur

                     - sakit

 

Dimana ini semua membutuhkan uang hari ini juga ! dan lebih dari itu adalah 
membawa kita menjadi bangsa yang lebih terhormat !

 

Floor :

 

1. R.O Hutapea (Mantan Staf Ahli Menteri/Advisor Partai Demokrat): 

- Pertamina tak boleh pegang uang sejak 78

- Pertamina Tak boleh investasi untuk high risk

 2. Sodik :

- ? fotokopi, material ?

- Pragmatis nasionalis

 3. Brahmantyo :

- Berapa sebenarnya besar cadangan

 4. Abdul Mutholib :

- JOB kan saja Cepu itu

 

5. Amir Balfas :

- be pragmatic

- sejarah perlu diluruskan, terutama penemuan.

- contoh kontrak di Malaysia adalah sangat baik

 

6. Zuhdi Pane

7. Agus Supriyadi :

8. Johny (BP Migas)

9. Hestu Bagyo : -

10. Faisal Yusra (Pertamina )

- Keseimbangan Hulu & Hilir

- Perlu langkah2...

11. Iband (Mantan Mobil Oil)

12. Yoyo Prabowo  (BP Migas)

13. Oki Trimusakti (SANTOS)

14. Yanto Sumantri (Mantan Ketua IAGI)

15. Djoko Batik (Medco) : perhatikan split

16. Kunto Wibisono (Pertamina) : 

17. M. Irfani (JOB Pertamina-Petrochina)

 

(maaf gak tercatat dengan baik, rekaman masih di bogor...

 

 

BEBERAPA POINT PENTING DARI PEMIKIRAN KWIK KIAN GIE

UNTUK PENGELOLAAN MIGAS BLOK CEPU

 

   Memiliki Cadangan Migas besar dan letaknya strategis
   Tempat pembelajaran bagi Pertamina untuk melakukan eksploitasi migas secara 
penuh
   Hingga kini (setelah 60 thn merdeka) kegiatan eksploitasi migas 92 % 
dikuasai Asing
   Dari hasil pembelajaran, Pertamina diharapkan menjadi perusahaan 
Multinasional
   Dapat melakukan kegiatan EP dimana saja, makanya diputuskan untuk mulai go 
to overseas.
   Mengacu pada sikap Bung Karno untuk membatasi eksploitasi sumber daya alam 
oleh pihak asing, sampai menunggu putra-putri Indonesia mampu
   Mengacu sikap Bung Hatta saat membacakan pleidooinya di pengadilan Den Haag 
pada 1932: Saya lebuh suka seluruh kepulauan Nusantara lenyap tenggelam di 
bawah laut dari pada dijajah oleh tuan-tuan sekalian

 

 

(* MARTIONO HADIANTO  QUOTES ON CEPU BLOCK

(in a meeting w/IAGI-HAGI 13 June 2005)

 

   The nego team acknowledges that Pertamina professionals might already have 
the technical capability to run Cepu Giant Oil Field on their own, but...
   As long as Pertamina management SYSTEM and POLITICS remain unchanged, the 
Pertamina professionals will not be able to implement their capability, and 
hence operation of Cepu by Pertamina is considered unrealistic
   What is meant by SYSTEM is: the PSO (Public Service Obligation), the 
bundling between upstream and downstream,  lack of merit-system implementation, 
etc
   Oil price escalation and condition of Indonesia? 
production-consumption-import-subsidy dictate the urgency of producing the Cepu 
200.000 BOPD ASAP (2008 by EMOI-PTM if PTM agrees to JV w/EMOI beyond 2010, 
instead of 2012 if operated solely by PTM)

 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke